
Setelah mengantar Sisil ke rumah Ara, Tommy langsung pergi dari sana. Meski tadi Sisil sempat menawarinya untuk ikut masuk bersamanya, namun pria itu beralasan ada suatu pekerjaan yang mendesak di kantornya. Padahal tidaklah demikian, ia hanya ingin segera pergi menemui Zayn untuk memberinya kabar tentang kepulangan Ara kembali.
Tommy sudah sampai di basemen apartemen Zayn. Segera ia turun dari mobilnya untuk segera menuju ke apartemen sahabatnya itu. Setelah sebelumnya tadi ia telah mengabarinya terlebih dahulu kalau ia akan berkunjung ke apartemennya.
Ceklek.
Pintu kamar Zayn terbuka lebar, setelah tadi Tommy menekan bel nya berulang-ulang.
"Woiy... Muka lo kenapa, Zayn?" Tommy langsung kaget begitu melihat wajah Zayn yang lebam.
"Ssstt.... Jangan keras-keras ngomongnya." Zayn malah menyuruhnya memelankan suaranya.
Tommy celingukan tak paham. "Iya lo kenapa? Siapa yang bikin lo kayak gini?" Suara Tommy ikut pelan.
"Masuklah!" Zayn memilih tak menjawabnya.
Tommy pun akhirnya turut masuk, ia dibuat kaget dengan ruang tamu Zayn yang banyak mainan yang ada di situ.
"Mainannya siapa nih?" Tanyanya sambil memegang salah satu mainan yang teronggok di lantai.
"Punya anak gue," jawabnya.
"Anak lo? Tunggu... tunggu..."
Tommy berjalan ke dekat Zayn yang sedang mengambil minuman dingin untuk dirinya.
"Jadi benar Ara udah balik?" Tanyanya lagi.
Zayn hanya mengangguk santai. Lalu ia menyodorkan sekaleng minuman dingin itu kepada Tommy.
Tommy meraihnya, lantas ia pun segera meminumnya hingga tandas. "Lo udah ketemu sama dia?"
Zayn mengangguk lagi. Lalu ia beranjak untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamunya diikuti Tommy pula yang mengekor dibelakangnya.
Sejenak mereka kembali terdiam. Terlihat jelas dari wajah Zayn bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang mungkin teramat berat baginya. Dan Tommy hanya memandang heran kepada sahabatnya itu, tentang siapa yang telah membuat wajahnya bisa lebam seperti itu.
"Zayn, kalo lo udah ketemu sama Ara, berarti lo udah ketemu sama anak lo kan?"
"Dia tidur di kamar," sahutnya sambil menikmati minuman dingin yang di pegangnya.
"Di kamar!"
Tak sengaja suara Tommy kembali meninggi karena saking senangnya ingin tahu seperti apa kini anak sahabatnya itu.
"Sssttt.... Suaranya pelan-pelan, Tom! Nanti dia bisa bangun lagi!"
Sedari tadi Zayn memang bersusah payah untuk menidurkan Ziyyan. Sebab tadi bocah itu terus merengek menyebut Bundanya, mungkin karena masih belum terbiasa tidur tanpa ditemani oleh bundanya.
"Gue cuma mau ngintip wajahnya doang. Apa wajahnya dia mirip lo, apa mirip Ara?" Tommy langsung melangkah menuju kamar Zayn.
__ADS_1
"Mirip gue lah." Zayn menimpalinya, ia pun turut mengikuti Tommy yang masuk begitu saja ke kamarnya.
Terlihat bocah kecil sedang tidur begitu nyenyak di ranjang milik Zayn itu, dan Tommy hanya bisa tersenyum gemas melihat anak sahabatnya yang ternyata sudah besar.
"Iya, wajahnya mirip lo banget Zayn," ucapnya sambil terus memandangi wajahnya dengan lekat.
"Udah lihatnya kan? Ayo keluar! Penuh perjuangan gue habis nidurin dia tadi." Zayn menarik keluar tangan Tommy.
"Ya elaaah... Dasar bapak baru!" Tommy terkekeh melihat tingkah Zayn yang seakan begitu posesiv terhadap anaknya.
"Eh, lo habis di tonjok siapa sih? Penasaran gue!" Tommy kembali menanyainya, setelah mereka sudah kembali berada di ruang tamu.
"Keanu." Zayn menyahut santai, lain halnya dengan reaksi Tommy yang matanya langsung membulat sempurna ketika Zayn menyebut dalang dari lebamnya wajahnya itu.
"Keanu yang nonjokin lo?" Tommy masih belum percaya begitu saja.
Zayn mengangguk yakin, tapi kali ini Tommy yang terdiam. Ia masih berpikir bagaimana ia akan memberitahukan kepada Zayn tentang rencana keluarga Ara yang akan menjodohkannya dengan Keanu.
"Eh, Sisil gimana, Tom?" Zayn malah penasaran bagaimana dengan kabar Sisil setelah tadi gadis itu menamparnya.
"Dia tetap gak suka sama lo, meski gue udah ceritakan semuanya ke dia."
Zayn hanya manggut-manggut saat mendengar ucapan Tommy. Baginya bagaimana pun Sisil membencinya, itu tidak terlalu masalah. Kali ini ia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Ara saja. Terima atau tidak terima oleh Ara, Zayn akan berusaha untuk memperbaikinya lagi. Apalagi di antara mereka kini sudah ada Ziyyan, yang bisa menjadi alasan terkuat demi hubungan di antara mereka.
"Zayn, gue dengar dari Sisil kalo kepulangan Ara itu karena keluarganya berencana akan menikahkan dia dengan orang pilihan keluarganya."
"Lo gak kaget?"
Zayn hanya menggeleng. Untuk apa ia harus kaget, bukankah Haris memang telah memilihnya sebagai calon suami Ara?
"Keluarganya mau jodohkan Ara sama Keanu, lo gak kaget?"
"APA!" Kali ini Zayn benar-benar kaget.
"Ayaaaaah......"
Terdengar suara Ziyyan yang memanggil dari dalam kamarnya. Bocah itu terbangun mungkin karena ucapan Zayn yang tak sengaja meninggi.
Zayn langsung menghampirinya, tak lama setelah itu ia keluar dari kamarnya sambil mendekap tubuh anaknya itu.
"Hai... Anak tampan." Tommy langsung menyapanya ketika Zayn membawanya duduk bersama mereka.
Ziyyan hanya memandang heran kepada Tommy tanpa menyahut apa-apa.
"Ziyyan, dia Om Tommy teman ayah."
Zayn menunjuk kepada Tommy yang sedang tersenyum memandangi Ziyyan.
"Dia bukan Om jahat kan, Yah?"
__ADS_1
Zayn terhenyak mendengar pertanyaan anaknya itu, akan tetapi ia segera teringat akan maksud pertanyaan Ziyyan. Ia rasa bocah itu sedikit trauma dengan yang dilihatnya tadi, saat Keanu memukulinya didepan mata kepalanya sendiri.
"Bukan, Om Tommy orang baik." Zayn berucap sambil mengelus lembut pucuk kepala anaknya itu.
Lalu kemudian Tommy mengulurkan tangannya kepadanya. "Sini kenalan dulu sama Om. Namamu siapa?"
"Iyyan." Bocah itu membalas uluran tangan Tommy.
"Ayah, Bunda dimana?"
Zayn terlihat kebingungan lagi. Saat bersamanya Ziyyan selalu menanyai keberadaan bundanya, begitu juga sebaliknya.
"Ayok, sebentar lagi Om antar kamu ke Bunda ya?"
Zayn langsung memberi isyarat jangan kepada Tommy. Dan sahabatnya itu tentu kembali terheran-heran.
Satu jam yang lalu sebelum kedatangan Tommy ke apartemennya, Zayn menerima telepon dari Haris. Di situ Haris menyuruhnya untuk tidak segera mengantar Ziyyan kembali. Bahkan Haris pun berterus terang akan maksud perintahnya itu kepada Zayn. Ia ingin Ara yang menyusulnya sendiri menjemput Ziyyan ke sana, jika merasa sudah tak tahan berpisah lama-lama dengan Ziyyan.
Sebenarnya Zayn agak keberatan dengan perintah Haris itu. Ia takut akan semakin di cap sebagai lelaki pembohong yang telah berjanji akan membawa Ziyyan hanya semalam saja kepada Ara. Akan tetapi ia juga ingin hubungannya dengan Ara segera membaik, paling tidak sudah mendapatkan maafnya saja sudah cukup. Makanya ia pun hanya bisa menyetujui saja kehendak Haris itu. Siapa tahu nanti Ara benar-benar menyusulnya ke apartemennya.
"Mm, bagaimana kalau ayah ajak Ziyyan bermain di taman?" Zayn sedang mengalihkan topik pembicaraan agar anaknya tak lagi menanyai Ara.
Dan Ziyyan pun mengangguk senang.
"Kalau begitu ayah mandi dulu ya? Ziyyan sama Om Tommy dulu. Mau?"
"Iya, Yah."
Setelah melihat Zayn telah benar-benar pergi ke kamar mandi Tommy segera melancarkan aksinya. Sedari tadi ia juga berpikir bagaimana caranya agar Zayn dan Ara bisa bersatu lagi. Jika saat ini mungkin ada peghalangnya yaitu Keanu, kenapa tak coba ia manfaatkan bocah itu demi kebaikan hubungan Zayn dan Ara?
"Ziyyan, kamu ingin ayah sama bunda bareng terus kan?"
Ziyyan langsung mengangguk senang.
"Sini Om bisikin."
Dan bocah itu langsung menurut, ia pun mencondongkan tubuhnya kepada Tommy dan mendengarkan semua yang Tommy bisikkan padanya.
"Gimana? Ziyyan paham gak apa yang Om Tommy bilang?" Tanyanya setelah Tommy selesai berbisik kepadanya.
"Iya Om," bocah itu menyimpulkan senyum kecilnya kepada Tommy.
Tommy pun menyeringai licik. "Kalo gitu kita tos dulu yuk?"
TOS!
Kedua tangan mereka saling menepuk pertanda telah saling sepakat. Entah apa yang Tommy bisikkan kepada bocah itu, hanya mereka berdua yang tahu.
*
__ADS_1