Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 75


__ADS_3

Zayn masih menunggu kesadaran Haris di ruang perawatan VVIP yang berada di salah satu rumah sakit swasta ternama di ibu kota. Setelah tadi atasannya itu mengalami serangan jantung yang memang Haris mempunyai penyakit itu, Zayn langsung membawanya ke rumah sakit ini. Beruntung Zayn membawanya tepat waktu, sehingga membuat kondisi Haris masih bisa terselamatkan.


Pria itu hanya bisa duduk termenung di samping ranjang pasien Haris, sedangkan untuk menghubungi keluarganya Zayn tidak tahu. Wisnu, asisten pribadi Haris sudah berulang-ulang dihubungi, namun nyatanya masih tidak ada balasan panggilan lagi darinya. Mungkin bisa jadi asistennya itu sedang menghadiri meeting penting sebagai perwakilan Haris di sana.


Satu jam berlalu, akhirnya setelah selama itu ia menunggu kesadaran Haris, atasannya itu mulai menunjukkan tanda-tanda mulai sadarkan diri.


"Pak Haris," sapa Zayn sambil turut membantunya untuk meninggikan posisi tidurnya.


Haris hanya tersenyum kecil tanpa menyahut apa-apa.


"Mmm, biar saya panggilkan dokter dulu, Pak," ucap Zayn.


Tangan lelaki paruh baya itu mencegahnya untuk pergi. Zayn menoleh kepadanya, Lantas kemudian langsung duduk kembali sesuai arahan Haris kepadanya.


"Terimakasih sudah membawa saya kesini," ucap Haris dengan suaranya yang masih lemah. Dan Zayn hanya bisa mengangguk saja.


"Bisakah kau menunda sejenak resignmu itu?"


Zayn menatap atasannya itu dengan heran, ia pun masih menunggu kelanjutan bicara Haris mengenai maksud pertanyaannya itu.


"Selesaikan dulu proyek itu, lalu kau boleh mengajukan resign jika kau memang benar-benar ingin meninggalkan saya." Pernyataan Haris itu sungguh menyayat hati Zayn saat mendengarnya, apalagi di kalimat terakhirnya itu.


"Saya tidak bermaksud meninggalkan tanggung jawab saya, Pak. Saya mengajukan itu karena saya ingin mencari kekasih saya yang hilang. Beri saya waktu sebulan saja untuk mencarinya, Pak, setelah itu anda boleh melaporkan saya." Zayn berucap itu sambil menundukkan kepalanya.


Seakan terlepas sudah segala sesak di dada setelah ia berterus terang kepada atasannya itu. Dan yang ia lihat Haris menyunggingkan senyumnya kepadanya. Tidak ada raut wajah marah lagi darinya, senyum hangat itu tetap terukir kepadanya.


Perlahan Haris meraih tangan Zayn, ia menepuk punggung tangan itu berulang-ulang. "Kau carilah. Tapi masalah proyek itu tetap harus kau selesaikan dulu," ucapnya kemudian.


"Anda serius, Pak?" Seketika sorot mata Zayn berbinar saat mendengarnya.


Haris mengangguk pelan. "Aku juga pernah muda. Jadi aku tahu apa yang sedang kamu rasakan sekarang."


Antara bahagia dan sedih saat mendengar penuturan atasannya itu. Bahagia, karena ia sudah mendapat keringanan dari Haris untuk mencari keberadaan kekasihnya Aurora. Tetapi sedihnya karena jika ia masih harus mengurus proyek itu, tentu ini masih butuh waktu lama lagi untuk ia bisa mencari keberadaan Ara secara konsisten.


"Tapi jika kau tidak menemukan kekasihmu itu, maka kau harus terima tawaranku. Sebelum kau menyesalinya nanti."


Ternyata Haris masih mengharapkan ia menerima tawarannya. Ada alasan terselubung mengapa Haris menyuruh Zayn untuk tetap melanjutkan proyeknya itu, sebab ia sudah tahu jika putrinya itu juga berada di sana. Ia ingin pria itu menemukan sendiri keberadaan Ara, seperti yang Zayn katakan ingin mencari keberadaannya.


Haris sudah merasa senang mendengar kesungguhan darinya. Padahal dirinya sudah menawarinya untuk menjodohkannya dengan anaknya sendiri, yang Zayn memang belum tahu siapa sebenarnya Haris. Namun nyatanya pria itu masih sangat setia dengan kekasihnya. Hingga membuatnya berani menolak permintaannya itu, meski harus dengan berbagai ancaman yang sebenarnya tidak pernah akan terjadi. Seandainya saja Zayn tahu kalau atasannya itu adalah papinya Ara, mungkin pria itu akan langsung menyetujuinya.

__ADS_1


Akan tetapi semua ini adalah permainan Haris, hanya pria itu yang bisa menghentikan permainan yang ia ciptakan sendiri.


Diam-diam Haris merasa semakin yakin dengan keputusannya itu, untuk menyatukan cinta mereka kembali yang telah lama terpisah. Dalam ikatan pernikahan yang tidak diketahui oleh Ara dan Zayn, ataupun Viona.


Yah, Haris telah merencanakan hal itu jauh-jauh hari sebelumnya. Hanya saja ia sengaja membuatnya menjadi seperti ini untuk menguji ketulusan Zayn kepada anaknya itu, dan juga bertujuan untuk dijadikan pelajaran penting kepada Ara agar ia tak lagi membangkang kemauannya jika suatu saat nanti ia sudah kembali lagi ke rumahnya.


Meski sebenarnya Haris sudah mengetahui keberadaannya Ara, tidak serta merta membuatnya membuang anaknya itu begitu saja.


Terbukti ketika dahulu putrinya itu melahirkan anaknya empat tahun yang lalu, ia yang menanggung segala biayanya. Karena saat itu putrinya itu mengalami komplikasi ketika melahirkan, hingga mengharuskan untuk menjalani operasi Caesar dan masih harus menjalani perawatan intensif di sebabkan Ara tidak sadarkan diri hingga beberapa hari di ruang ICU.


Akan tetapi semua yang dilakukannya itu Ara tidak mengetahuinya. Karena Narsih sudah bersepakat melalui Rudy adiknya, untuk tidak mengatakan hal itu kepada Ara. Saat itu Narsih mengatakan jika ia harus mecari pinjaman kepada orang lain untuk biayanya itu, dan Ara mempercayai itu.


Saat ini mungkin Haris sudah mulai merasa lelah dengan egonya itu, ia ingin anaknya itu bisa segera kembali ke rumahnya. Namun entah mengapa lidahnya masih terlalu kelu untuk berterus terang mengenai hal itu kepada Ara maupun Zayn. Hingga membuat keadaan seperti terkesan Haris telah benar-benar membuang dan tidak peduli lagi kepada Ara, padahal sebenarnya tidaklah demikian.


Ceklek.


Pintu kamar itu terbuka, terlihat Wisnu dan juga seorang wanita paruh baya namun berpenampilan layaknya sosialita turut masuk ke dalam ruangan Haris di rawat.


"Mas Haris." Viona mendekat kepada Haris dengan tatapannya yang sendu.


Wanita itu langsung menghambur memeluk tubuh Haris begitu erat. Dan ternyata karena kejadian inilah membuatnya kembali harmonis setelah beberapa tahun belakangan ini selalu bersikap dingin di karenakan terusirnya Ara saat itu.


Mereka pun saling berjabat tangan, sedangkan tatapan Viona sendiri mulai berkerut karena merasa seperti ia tak asing lagi dengannya.


Setelah merasa sudah ada pihak keluarga yang menemani atasannya itu, akhirnya Zayn memilih pamit pergi. Namun langkah itu kembali tertahan disaat Haris mencegahnya lagi.


"Kau pikir-pikir lagi tawaranku itu. Bila perlu bicarakan hal ini juga dengan orang tuamu." Tutur Haris sebelum Zayn mengizinkan pria itu untuk pergi.


Zayn hanya membeku, pria itu tak tahu lagi harus menanggapi bagaimana lagi dengan permintaan Haris itu.


Akhirnya Zayn benar-benar telah bisa keluar dari ruangan Haris dirawat. Pria itu berjalan gontai menyusuri tiap koridor rumah sakit menuju mobilnya terparkir. Satu hal yang menjadi tujuannya saat ini, yaitu pergi ke rumah Sisil.


Dering ponselnya seketika berbunyi, tertera nama Hanung di sana.


"Iya, Nung," ucap Zayn setelah menjawab telpon dari Hanung.


"Pak, Ziyyan sakit lagi." Suara Hanung terdengar sangat panik di sana.


"Apa hubungannya denganku, hah?" sarkas Zayn merasa kabar tentang Ziyyan bukan menjadi urusannya.

__ADS_1


"Tapi Ziyyan mengigau terus, Pak, dia terus-terusan memanggil anda."


"Ck! Kau ada-ada saja!" Zayn sungguh merasa kesal dengan laporan yang menurutnya tak penting dari asistennya itu.


"Kau urus sendiri lah! Masalah anak kecil saja kau harus menghubungiku. Kepalaku sudah pusing, Nung!"


"Tapi Pak...."


Tut... tut.... tut....


Zayn segera memutus panggilan dari asistennya itu. Karena memang tiba-tiba saja kepalanya terasa pening mendengar laporan yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya. Masalah dari Haris saja masih belum beres, sekarang malah di tambah masalah bocah kecil yang sebenarnya bukan urusannya.


Tiba-tiba saja jantung Zayn berdebar tak keruan, membuat pria itu harus menghentikan langkahnya karena merasa aneh dengan kondisi tubuhnya.


"Ada apa ini?" Pria itu mulai menerawang jauh, takutnya ada sesuatu hal yang terjadi dengan keluarganya di sana.


Sebelah tangannya tetap memegang dada kirinya yang masih berdebar tak karuan, hingga membuatnya membalikkan tubuhnya menghadap ke dinding karena merasa menjadi pusat perhatian orang-orang yang kebetulan lewat di lorong rumah sakit ini.


Seorang gadis muda terlihat berjalan tergesa-gesa di belakangnya. Dia adalah Sisil. Yah, gadis itu sengaja datang kesana untuk mengunjungi pamannya, Haris.


Lagi-lagi mereka masih belum ditakdirkan untuk bertemu saat ini. Zayn yang kebetulan sedang menghadap ke dinding, tentu tidak akan diketahui oleh Sisil.


Pria itu kembali melangkahkan kakinya setelah merasa debaran di dadanya sudah berangsur membaik. Ia kembali ke tujuan awalnya, yaitu pergi ke rumah Sisil.


*


Hai readers...


Mohon maaf ya jika Author sering membuat kalian geregetan dengan cerita ini. Bukan maksud Author membuat kalian begitu, cuma jika Author langsung mempertemukan Zayn dengan Ara tentunya novel ini akan tamat dong...


Jadi bersabarlah readers...


Cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu juga kok. Yang jadi pertanyaannya, apakah Ara akan memaafkan Zayn nanti jika mereka sudah saling bertemu lagi?


Yuk ah, gimana masukannya readersku...


Satu hal lagi, do'akan Author sehat terus ya... Beberapa hari ini Author sedang kurang enak badan. Tapi Author tetap usahakan untuk bisa update kok. Demi kalian...😄


Semoga kalian readersku semua juga selalu sehat yaa😊

__ADS_1


Salam sayang dari Author MAY.s😘


__ADS_2