
Pagi sekali Keanu sudah berniat untuk mencari keberadaan Ara. Setelah terakhir ia berjumpa dengan Ara di rumah sakit kemarin, gadis itu sampai detik ini masih tidak dapat di hubungi.
Seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Keanu sengaja ia panggil untuk menggantikan dirinya menjaga mamanya yang masih di rawat di rumah sakit. Sedang papa Keanu sendiri seperti tak mau peduli lagi dengan mamanya Keanu karena kondisinya yang sakit-sakitan.
Pria itu melangkah cepat melewati tiap koridor rumah sakit, Bayangan tentang kondisi Ara kemarin membuatnya semakin bertambah gelisah. Ia sudah berada di lobi rumah sakit, akan tetapi langkah kakinya harus terhenti setelah dirinya menjumpai gadis yang ingin ia cari itu jatuh terkulai di antara pintu utama masuk ke rumah sakit.
Keanu berlari ke arah gadis pingsan yang sudah di kerumuni banyak orang di sekelilingnya. Ia menyerobot masuk lewat celah-celah orang yang saling bertanya tentang siapa gadis malang itu.
"Aurora!" Keanu langsung menjatuhkan diri, kemudian langsung membopong tubuh lemah gadis itu.
Beberapa perawat rumah sakit turut mengikuti langkah Keanu menuju ruang IGD. Pria itu membaringkan tubuh Ara di atas ranjang pasien, begitu sampai di dalam ruangan yang ia tuju.
Keanu menatap iba kepada Ara, gadis itu sangat pucat. Wajahnya begitu sembab mungkin karena terlalu sering menangis. Aura gadis itu begitu menandakan bahwa saat ini dirinya sedang sangat bersedih.
Seorang dokter telah datang untuk memeriksa kondisi Ara yang sebenarnya. Keanu harus keluar dari ruangan itu agar dokter dan perawat yang lainnya bisa maksimal memeriksa kondisi Ara.
Setelah menunggu beberapa menit, dokter itu keluar dengan raut wajah yang tak dapat di artikan lagi.
"Dokter, bagaimana keadaan Ara?" Cecar Keanu begitu dokter itu menghampirinya.
"Dia mengalami kram perut yang fatal akibat mengkonsumsi obat penghancur janin." Dokter itu menjelaskan penyebab Ara pingsan sambil menyerahkan obat yang di maksud dokter tersebut, karena salah seorang perawat menemukan obat itu di dalam tas kecil milik Ara.
Keanu memandang lekat obat milik Ara yang telah di pegangnya. Otaknya masih mencerna penjelasan dokter itu yang mulai paham bahwa saat ini Ara benar-benar sedang mengandung.
Tak terasa pria itu meremas geram obat yang berada dalam genggamannya. Sorot matanya langsung berubah nanar, menghadapi kenyataan Ara harus menderita seperti ini karena ulah Zayn yang tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
"Tapi anda tenang dulu, janin dalam kandungannya masih bisa di selamatkan." Dokter itu berucap sambil menepuk pelan pundak Keanu, lalu kemudian pergi meninggalkan Keanu yang terdiam tanpa ucapan apa-apa lagi.
Keanu masuk kembali ke dalam ruangan Ara yang sedang di rawat. Dilihatnya gadis itu ternyata masih belum sadarkan diri. Pria itu hanya bisa terduduk di samping Ara, sambil menggenggam erat tangan Ara.
"Kenapa lo harus nekat seperti ini, Ra? Kalaupun Zayn tidak mau bertanggung jawab, gue rela menanggungnya. Gue gak mau lihat lo menderita seperti ini lagi. Cepat sadar, Ra. Lupakan pria brengsek itu. Gue mau menanggungnya. Jangan seperti ini lagi my Queen, karena gue gak tega melihat lo harus seperti ini."
Keanu mencium lembut punggung tangan Ara. Tetesan air matanya mulai mengalir seiring dengan hatinya yang juga terluka melihat kondisi Ara yang sekarang.
Pria itu melihat perut Ara yang masih rata, tangannya terulur mengusapnya sambil tersenyum memandanginya.
"Anak hebat! Kamu anak yang kuat!" Ucapnya seakan mengajak bicara kepada janin yang berusaha di gugurkan oleh Ara, yang ternyata janin itu masih tumbuh kuat berada di dalam perut Ara.
Tiba-tiba ia teringat kepada Sisil, pria itu sudah berjanji akan memberi kabar padanya jika ia sudah menemukan Ara. Belum sempat ia menghubungi Sisil, panggilan masuk dari ART yang menjaga mamanya saat ini menghubunginya.
"Iya, Bi. Tolong bibi panggilkan dokter dulu, aku mau kesana." Wajah Keanu langsung berubah gelisah di saat ART nya memberi kabar mamanya yang muntah-muntah lagi.
Keanu memandang Ara sekilas. Pria itu sebenarnya tak tega meninggalkan Ara seorang diri, tapi kondisi mamanya itu jauh lebih penting. Akhirnya dengan berat hati Keanu melangkah pergi meninggalkan Ara yang ia yakini masih tak sadarkan diri.
Ara membuka matanya perlahan disaat Keanu sudah benar-benar keluar. Sedari tadi gadis itu sudah sadar, ia pun juga mendengar ucapan Keanu yang mau bertanggung jawab menggantikan Zayn yang menghilang tanpa kabar.
Setetes buliran bening kembali mengalir dari pelupuk mata Ara. Ia sangat terharu mendengar perkataan Keanu tadi. Ia pun mengusap perut yang masih berisi janin itu, kemudian tersenyum getir begitu mendapati kenyataan calon anaknya itu ternyata sangat kuat. Meski sudah berusaha untuk membuangnya, nyatanya janin yang tak di inginkan itu tetap bersemayam di rahimnya.
Ara menoleh ke arah sekitar. Kondisi yang sedang sepi membuatnya bebas untuk melarikan diri dari rumah sakit itu. Langkahnya sangat cepat, sedang matanya begitu awas memandangi sekitar takut-takut Keanu akan menemuinya lagi.
Sebuah mobil taksi kebetulan berada di depan pintu rumah sakit. Ia berlari kecil sambil menahan perutnya yang masih sedikit nyeri. Dan kemudian langsung masuk ke dalam mobil tersebut yang segera melaju pergi setelah Ara mengajak sopir taksi itu untuk cepat-cepat pergi.
__ADS_1
Ara kembali termenung. Usahanya untuk membuang janin yang tak berdosa itu sudah gagal.
"Maafkan aku yang pernah ingin membuangmu. Ternyata kamu sangat kuat ya, semoga kamu nanti bisa menjadi penguat hidupku, disaat semua orang mungkin akan membenci perbuatan yang telah ku perbuat, hingga membuatmu hadir di dunia yang tak lagi indah ku rasa." Ara mengusap pelan perut ratanya, rasa sesal memang selalu dirasa di belakang.
Mungkin ini sudah menjadi jalan hidupnya nanti, membiarkan janin ini tetap tumbuh di rahimnya, sampai kemudian semua orang atau keluarganya akan tahu sendiri dengan kehamilan Ara nanti. Yang mana gadis itu telah bertekad akan menyembunyikannya dari keluarganya, sampai pada kehamilan itu sudah tidak dapat di sembunyikannya lagi.
Mobil taksi yang membawanya berjalan ke arah rumahnya. Ara akan pulang. Entah siap atau tidak dengan segala pertanyaan dari kedua orangtuanya, ia harus tetap siap. Siap dengan segala resiko yang akan di dapatinya jika suatu saat nanti kedua orangtuanya telah mengetahui tentang kehamilannya.
Sebuah panggilan masuk berbunyi dari ponsel Ara. Keanu, nama pria itu tertera di layar ponsel miliknya.
"Ra, lo dimana?" Keanu langsung menanyai keberadaan Ara begitu panggilan darinya di jawab oleh Ara.
"Gue pulang, Ken. Ini gue udah sampe di depan rumah." Ara menjawab yang sebenarnya.
"Gue mohon sama lo, Ra, lo jangan nekat lagi." Suara Keanu terdengar sangat gelisah.
"Ngomong apaan sih, Ken. Gue gak kenapa-napa, lo gak usah panik gitu deh." Ara mengalihkan bicaranya, pura-pura tak paham akan maksud omongan Keanu padanya.
"Udah ya, Ken. Gue mau masuk ke rumah dulu, mau segera istirahat." Ara membuka pintu taksi itu yang sudah berhenti sedari tadi di depan rumahnya.
"Oke, Ra. Lo istirahat yang baik. Apapun masalah lo, gue minta lo jangan berbuat nekat lagi. Entar malam gue ke rumah lo ya?"
Ara hanya tersenyum sendiri mendengar ucapan Keanu yang begitu mengkhawatirkan keadaannya. Gadis itu tak menjawab apapun pada Keanu, ia sudah memutuskan akan menanggung sendiri resiko yang akan ia hadapi nanti. Yang tentunya tak akan melibatkan Keanu dalam permasalahan hidupnya, meski pria itu berkata ingin menanggung perbuatan yang seharusnya tidak di tanggung olehnya.
*
__ADS_1