Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 130


__ADS_3

Bunyi suara burung berkicau sudah mulai berkurang, pertanda pagi sudah beranjak menjadi siang. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Sengaja hari ini Haris berangkat ke kantor setelah jam istirahat nanti, demi menghormati Narsih yang rencananya akan kembali pulang siang ini juga.


Mereka sudah berkumpul diruang keluarga sembari bercengkrama ramah. Namun tidak dengan pasangan pengantin baru itu. Mereka sedari pagi tidak keluar dari kamarnya, bahkan melewati sarapan paginya pula.


Sebenarnya tadi Viona sudah menyuruh Inah untuk memanggil Ara dan Zayn agar bergabung sarapan pagi bersama, akan tetapi setelah Inah iseng-iseng menceritakan kejadian semalam, maka Haris langsung mencegahnya untuk tidak usah mengganggu mereka. Keluarganya itu beranggapan kemungkinan pasangan pengantin baru itu kecapean dan bisa jadi mereka masih betah tak mau beranjak dari kasurnya.


Sedangkan Ziyyan, meski semalaman ia tidak bersama dengan Ara dan juga Zayn, sama sekali bocah itu tidak kebingungan keberadaan kedua orangtuanya. Sedari bangun tadi ia masih saja betah menempel dengan Narsih. Ia sudah pernah merasakan ditinggal pergi lama oleh ayahnya, makanya kali ini bocah itu begitu posesive terhadap Narsih. Takut ditinggal pergi lama oleh Narsih pula.


"Kenapa tidak naik pesawat aja sih, Bi? Biar tidak terburu-buru begini kan? Mana mereka juga masih belum bangun." Viona mendongak ke arah pintu kamar Ara yang masih tertutup rapat.


"Saya takut kalau naik pesawat." Aku Narsih.


"Paling tidak kalau naik pesawat kan tidak makan waktu, Bi."


Narsih tetap menggeleng, isyarat menolak usulan dari Viona.


Viona menghela nafas lagi, sedang matanya masih tertuju ke arah kamar Ara.


"Inah, bangunkan mereka. Kalo dibiarin sampai jam berapa mereka mau bangun." Inah langsung mengangguk dan mulai melangkah.


"Sudah, biarkan saja!" Cegah Haris, yang tentu langsung mengurungkan langkah Inah.


"Kemarin-kemarin kan mereka tidak akur, sekarang selagi mereka begitu, biarkanlah. Mereka lapar nanti bakal keluar juga," ucap Haris. Pria itu tentu sangat senang melihat Ara yang sudah mau menerima Zayn.


"Oh, ya sudah. Itu berarti hari ini Bik Narsih tidak boleh pulang. Tunggu sampai mereka sudah keluar kamar nanti."


"Hah? Tapi, Nyah?"


Viona sudah tidak menggubrisnya. Ia merasa kejadian ini merupakan kesempatannya untuk mencegah Narsih buru-buru pulang.


Sedang keadaan didalam kamar pengantin baru itu, dua pasang anak manusia itu masih betah terlelap dibalik selimut yang mereka gunakan. Sebenarnya subuh tadi pria itu sudah bangun, tetapi setelah melaksanakan dua rokaatnya pria itu memilih tidur lagi. Dan Ara, kebetulan subuh tadi tamu bulanannya terburu datang maka ia urung melaksanakan dua rokaat berjamaah dengan suaminya.


Pria itu masih betah membawa Ara dalam pelukannya, memandangi wajah cantik istrinya yang masih terlelap sambil berbantal lengannya. Beberapa menit yang lalu sebenarnya ia sudah terjaga, akan tetapi ia masih malas beranjak dari kasurnya karena merasa tidak mau membuang kesempatan memeluk Ara sepuasnya.


Perlahan wanita itu bergerak, pertanda sudah mulai terbangun juga. Tubuhnya menggeliat sembari merenggangkan ototnya, matanya mengerjap dan langsung terbuka lebar saat menyadari adanya seorang pria yang memandanginya dengan jarak yang begitu dekat sambil tersenyum manis kepadanya.


"Pagi istriku," sapa Zayn sambil membubuhi kecupan hangat di kening Ara.


Ara hanya bergeming, mulutnya terlalu kelu untuk sekedar membalas sapaan hangat dari suaminya itu.


"Ya ampun! Ini sudah jam berapa?" Wanita itu seketika terlonjak duduk, setelah menyadari semburat cahaya terang dari balik jendela kamarnya.


"Mau setengah sepuluh," jawab Zayn sambil melihat layar ponselnya yang teronggok di nakas sampingnya.


"Apa?" Buru-buru Ara akan beranjak turun dari ranjangnya, akan tetapi tangannya kembali dicegah oleh Zayn.


"Mau kemana?" Zayn masih dengan mode malasnya.


"Mandi."

__ADS_1


"Ikut."


"Hah?"


Ara menyorot tajam kepada pria yang memandanginya dengan kerlingan nakalnya. Belum sempat wanita itu memprotes, Zayn sudah keburu mengangkat tubuh Ara membawanya masuk kedalam kamar mandinya.


"Semalam kamu sudah janji tidak--"


"Iya, aku ingat." Zayn langsung menyela omongan Ara yang terus meracau meminta turun dari gendongannya.


"Tapi ini?" Sorot mata Ara sudah merasa was was.


"Aku nggak mungkin melakukannya sekarang. Sekalipun kamu mau, aku tetap nggak mau."


Ara melirik heran kepada Zayn. "Kamu bilang tadi datang bulan kan?" ucapnya lagi, yang seketika membuat Ara menarik nafas lega.


"Jangan-jangan kamu sudah membayangkan itu ya?" Godanya, sambil perlahan menurunkan tubuh Ara disamping bak mandi.


Tentu Ara menjadi salah tingkah digoda demikian, wanita itu hanya bisa memalingkan wajahnya sampai terlupa tidak lagi mengusir Zayn dari kamar mandi itu.


"Ayo mandi," ajaknya enteng, bahkan sudah bertelanjang dada saja.


"Aaah! Nggak mau!" Tangan wanita itu langsung menutup matanya.


"Kamu masih nggak percaya sama aku?" Zayn membuka paksa tangan Ara yang menutupi wajahnya.


"Dasar mesum!"


"Mesum sama istri sendiri nggak papa."


"Ayolah Sayang." Zayn memepet tubuh Ara, membuatnya kesulitan bergerak.


"Aku lagi period loh?" Ara berusaha menegaskan, pikirnya tak mungkin pria itu mau melihat kotoran tamu bulanannya itu.


"Sudah tahu," sahutnya santai, seakan tak peduli wajah merengut wanitanya itu padanya.


"Aku nanti gosok punggungmu ya?"


"Iiiish.... mesum amat sih kamu! Nggak mau!" Tolaknya sambil memberanikan diri mendorong mundur tubuh Zayn dari hadapannya.


"Ya sudah, aku nggak akan maksa. Tadi itu aku cuma menawari kamu." Pria itu mulai masuk ke bilik shower, lalu tanpa malu pria itu langsung mengguyur tubuhnya, tentu dalam keadaan telan jang bulat.


"Ya ampuuuuuun....."


Lagi-lagi Ara hanya bisa tertunduk, merutuki diri mengapa bisa memiliki suami yang mesum sepertinya.


"Sayang, kenapa belum mandi juga? Nunggu aku?" Tiba-tiba Zayn menyembulkan wajahnya dari balik ruang kaca yang menjadi penghalang antara tempat shower dan bak mandi.


"Aku nggak mungkin ngintip. Cepat mandilah. Semakin lama kita nggak keluar kamar, mereka tambah berpikir yang tidak-tidak sama kita," ujarnya lalu kembali masuk ke bilik itu lagi.

__ADS_1


Ara mendengus pasrah. Mungkin maksud Zayn mengajaknya mandi bersama agar bisa menghemat waktu. Akhirnya ia pun menuruti usulan dari Zayn, merasa sangat yakin jika suaminya itu tidak akan meminta haknya disaat dirinya sedang berhalangan.


Dan secepatnya pula Ara juga mulai membersihkan badannya, tentu di tempat yang berbeda dengan Zayn. Padahal sebenarnya tubuh polosnya itu masih bisa terlihat oleh Zayn dari balik kaca itu, yang kini membuat pria itu kesulitan menelan salivanya, menahan hassrat yang kembali bertandang dibenaknya.


Merasa takut tak bisa mengendalikan diri lagi, akhirnya Zayn mempercepat mandinya dan setelah itu langsung keluar dari sana tanpa mau menoleh kepada Ara yang sudah tentu sangat menggodanya.


Beberapa menit menunggu akhirnya Ara juga keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan kimono handuk saja. Sedangkan Zayn sendiri sudah berpakaian lengkap, tetapi masih belum sempat mengeringkan rambutnya.


"Sayang," sapa Zayn, posisinya kini sedang duduk didepan kaca rias.


Ara hanya menoleh sekilas, lantas wanita itu kembali fokus mengambil baju yg akan dikenakannya.


"Boleh minta tolong nggak?"


"Apa?" Wanita itu menyahut malas.


"Tolong bantu keringkan rambutku," ujarnya sok manja.


"Tunggu sebentar, aku mau pakai baju dulu." Ara hanya mendengus kesal, tapi entah mengapa ia tidak bisa menolak permintaan sepele dari Zayn.


"Tidak usah ganti baju."


Sejenak Ara menghentikan langkahnya, kembali heran akan ucapan suaminya itu.


"Maksud aku, kamu ganti bajunya nanti setelah selesai mengeringkan rambutku."


Ara menurut begitu saja, pikirnya setelah itu selesai Zayn akan langsung keluar dari kamarnya. Sama sekali tidak mencurigai bahwa ada modus dibalik permintaan suaminya itu.


Perlahan Ara pun mulai mengeringkan rambut Zayn dengan handuk kecil yang dipegangnya. Sebenarnya sudah ada hairdryer, akan tetapi pria itu beralasan jika menggunakannya akan membuat rambutnya menjadi tak sehat.


Mereka yang sudah saling berhadapan itu, semakin menyulitkan Zayn untuk tidak menahan godaan gunung kembar yang bergetar dari balik sana, sembari tangan Ara yang bergerak lincah mengeringkan rambut Zayn.


"Sayang." Suara Zayn sudah terdengar berat.


"Hmm." Ara menyahut malas.


"Aku mau."


"Mau apa?" Tanyanya sambil menghentikan kegiatannya dan beralih menatap kepada Zayn.


"Boleh ya?" Hasssrat pria itu sudah tak bisa tertahankan.


"Apaan sih? Nggak jelas banget deh!"


"Mau ini."


Cup.


*

__ADS_1


__ADS_2