
Setelah resepsi pernikahan Ara dan Zayn sukses digelar tanpa adanya hambatan apapun, kali ini pasangan pengantin baru itu memilih segera mengistirahatkan diri disebuah hotel yang sengaja telah disewa oleh Haris untuk mereka.
Ara segera memasuki kamar mandi untuk mengguyur badannya yang sudah lengket, sedangkan Zayn memilih berdiam diri di balkon kamar itu sambil memainkan ponselnya begitu serius. Kejadian siang tadi saat Sisil datang bersama calon tunangannya itu yang membuat Zayn sangat penasaran dengan bagaimana yang terjadi sebenarnya dengan nasib percintaan sahabatnya, Tommy.
Berulangkali pria itu mencoba menghubungi Tommy, akan tetapi tetap tidak dijawab, padahal masih aktif tersambung. Hingga sampai Ara sudah selesai dengan kegiatannya membersihkan diri dikamar mandi, rupanya Zayn masih begitu betah dan memaksakan diri menghubungi Tommy, karena rasa khawatir dan juga begitu pedulinya ia dengan sahabatnya itu.
"Nelpon siapa, Mas?"
Ara sudah berdiri saja dibalik punggung Zayn yang terlihat begitu serius, terlihat dari wajahnya yang kentara sedang gusar.
Zayn membalikkan tubuhnya menghadap Ara, masih dengan posisi handphone yang menempel ditelinga.
"Tommy," sahutnya singkat, begitu mendengar suara operator telepon yang mengatakan kalau nomor Tommy sedang berada diluar jangkauan.
Seketika raut wajah Ara berubah sendu dengan mata yang menerawang menatap langit jingga yang perlahan berubah menjadi gelap.
Menyadari istrinya sudah berwajah begitu, Zayn segera mengantongi ponselnya kedalam saku celananya. Kemudian segera membawa tubuh istrinya yang masih berbalut baju handuk kedalam pelukannya.
"Maafin aku ya," ujarnya sambil membubuhi kecupan singkatnya di kening Ara.
"Maaf buat apa, Mas?"
Ara melepas pelukan Zayn, ia menatap lekat pada suaminya yang tiba tiba mengatakan kata maaf, padahal sebelumnya tidak ada yang salah atau berbuat salah kepadanya.
"Karena aku sudah buat kamu sedih," ungkap Zayn dengan kedua telapak tangan yang menangkup pipi Ara.
"Aku nggak sedih kok."
Zayn sedikit tergelak dengan pengakuan istrinya itu. "Nah, trus itu tadi? Kamu lihat ke langit sambil sedih itu bukan karena aku cuekin kamu?"
Ara mengulas senyum tipisnya sambil meraih tangan Zayn dari wajahnya. "Tadi itu aku tiba tiba teringat Sisil, Mas."
Zayn sedikit terkekeh menyadari dirinya yang terlalu takut akan membuat Ara sedih dan kecewa kepadanya. Lebih lebih malam ini adalah malam pertama mereka setelah sah menjadi pasangan suami istri yang sudah resmi tercatat dihukum negara.
"Kamu aneh, Mas?" Tentu Ara berkata begitu karena baru saja ia melihat suaminya seperti ingin tertawa, padahal semenit yang lalu wajahnya terlihat sendu.
"Iiih.. Makin gemes deh." Pria itu malah melayangkan cubitan kecilnya di pipi Ara, membuat wanitanya semakin terheran-heran dengan kelakuannya yang manjanya melebihi dari Ziyyan.
"Sini aku peluk lagi."
"Mandi dulu, Mas." Ara memilih mundur perlahan, menghindari dipeluk Zayn.
Melihat Ara yang sepertinya memancing untuk menggodanya, membuat pria itu semakin mengikis jarak. Tetapi kali ini Ara masih berhasil lolos dan melesat pergi masuk kedalam kamarnya, diikuti oleh Zayn pula yang terus mengekor dan memaksa ingin memeluk Ara.
__ADS_1
"Mas mau mandi sekarang atau nggak usah tidur sama aku, mau?"
Nada ancaman itu terpaksa keluar dari mulut Ara, setelah merasa sedikit lelah terus-terusan menghindar dari Zayn yang ingin memeluknya. Bukan karena tak mau dipeluk, akan tetapi entah sejak kapan Ara begitu tak suka dengan bau keringat suaminya itu. Padahal sebenarnya Zayn bukanlah tipekal lelaki jorok atau yang mudah berbau asam.
"Hah?"
Zayn mematung di tempatnya dengan mulut yang terperangah tak percaya.
"Hmm, jadi sudah berani ngancem nih ceritanya?"
"Aku serius loh, Mas." Ara kembali melangkah mundur, setelah Zayn melangkahkan kakinya lagi berusaha mendekati istrinya yang berdiri memojok disudut kamarnya.
"Mas!" Wanita itu reflek sedikit meninggikan suaranya, membuat Zayn seketika tertegun dan mengurungkan langkahnya.
Pria itu menatap lekat kepada istrinya yang kali ini berwajah sangat serius. Meski sebenarnya ia merasa sedikit aneh dan yang pasti sedikit tersinggung dengan kelakuan Ara yang tak mau dipeluknya, pria itu pun akhirnya memilih mengalah dan secepatnya melenggang masuk kedalam kamar mandi dengan wajah yang sudah bertekuk masam.
Huft, Ara sudah dapat bernafas lega. Ia pun segera duduk didepan kaca rias untuk mengeringkan rambutnya.
Sekilas ia menoleh ke arah kamar mandi itu, masih tak ada tanda tanda suaminya itu memulai mandinya. Entah apa yang masih dilakukannya didalam sana, dan tentu itu membuat Ara merasa tak enak hati karena baru kali ini ia berani menolak dan juga mengancam suaminya itu.
Selang sekitar dua puluh menit kemudian, Zayn sudah selesai dari mandinya. Pria itu segera melangkah menuju ranjang, menghiraukan Ara yang sengaja menunggunya di balkon.
"Mas," Ara mencoba menyapanya, kali ini ia sudah duduk di tepi ranjang, tepat dimana saat ini Zayn berbaring.
"Kamu ngambek?"
Zayn hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu capek ya?"
Zayn melirik sengit kepada istrinya. Disini ia semakin tak paham dengan tingkah dan maksud perkataan Ara.
Ngambek? Pastilah... Tapi itu harus segera dibuang jauh jauh dari egonya. Rasanya seperti bocah kecil saja jika harus benar benar memakai mode ngambek hanya karena menolak dipeluk.
Capek? Hellooow... Sudah menggelar resepsi seharian, pasti merasa capek bin penat dong? Kenapa musti harus bertanya Capek? Memang Ara tidak merasa capek juga apa?
Melihat Zayn yang hanya membungkam mulut, Ara pun memilih mengitari ranjang dan segera membaringkan tubuhnya juga disamping suaminya berbaring.
"Padahal kalo misalnya jawab nggak capek aku mau ngajakin itu-itu. Ya udah!"
Ocehan Ara terdengar sangat jelas mendarat di telinga Zayn, membuat pria itu lagi-lagi terperangah sendiri atas kekonyolannya yang begitu tak peka dengan kode dari istrinya itu.
"Aku nggak capek kok, Sayang. Ayuuuk?"
__ADS_1
Pria itu segera mengunci tubuh istrinya dengan pelukan posesivenya. Akan tetapi kali ini sepertinya ia dihadapkan dengan masalah lagi dengan wajah istrinya yang kembali memasang aura sendu.
"Sayang," Zayn menepuk pelan pipi Ara, yang mana kali ini istrinya itu terlihat sedang melamunkan sesuatu.
"Mas," Wanita itu membalikkan tubuhnya, saling berhadapan dengan Zayn.
"Aku masih penasaran sama gimana ceritanya Sisil dan Tommy. Kamu coba telpon lagi deh, Mas. Sapa tahu setelah ini Tommy mau jawab."
"Iya, nanti setelah itu-itunya aku telpon Tommy lagi." Zayn mulai menyosor ceruk leher Ara.
"Sekarang, Mas!"
"Iya, ini aku sudah mulai, Sayang. Kamu tinggal menikmatinya saja." Pria itu semakin melancarkan aksinya lewat membuka tali pengikat piyama yang melekat ditubuh istrinya.
"Maksudku, kamu telpon Tommy sekarang. Bukan malah ini." Ara menangkis pelan tangan Zayn yang sudah mendarat mengelus-elus perut ratanya.
"Hah?"
"Iya, Mas. Udah cepet telpon sana."
Ara beranjak duduk sambil meraih handphone milik Zayn dari atas nakas samping tempat tidurnya, lalu kemudian menyodorkannya kepada Zayn tanpa rasa bersalah, karena telah membuat suaminya harus menahan hasssratnya dan juga tentu harus menahan rasa jengkelnya.
"Harus telpon sekarang juga ya?" Zayn masih mencoba menego, merasa kasihan sendiri terhadap juniornya yang terasa sesak dari sangkarnya.
Ara hanya mengangguk yakin.
"Kita itu-itu dulu yuk, setelah ini telpon Tommy."
Sungguh Zayn sudah tak kuat harus menahan sesuatu yang semakin mengeras didalam sana. Sorot matanya sudah sangat nanar, terpancar begitu berat akibat menahan libidonya yang membuncah.
"Iiih... Ya sudah, aku saja yang telpon Tommy."
Ara benar benar tak mempedulikan wajah penuh hassrat pria yang kini menuntunnya untuk kembali merebahkan diri. Wanita itu terlalu fokus berusaha menelpon Tommy melalui ponsel milik Zayn.
Satu panggilan darinya masih tidak dijawab oleh Tommy, sedang kali ini Zayn sudah berhasil melepas piyama yang dikenakan Ara, menyisakan kain penutup gunung kembar yang menjulang menantang.
Dua panggilan kepada Tommy masih belum terjawab juga. Kali ini Zayn sudah berhasil melepas kain penghalang gunung kembar itu. Begitu pria itu sudah mencondongkan wajahnya mendekat ke pusara gunung kembar itu untuk menyesapnya nikmat, tiba tiba....
"Hallo, Tom?"
Wadoh!
Zayn hanya bisa menepuk keningnya sendiri begitu Ara seketika menyodorkan ponselnya yang rupanya kali ini panggilannya terjawab oleh Tommy.
__ADS_1
*