Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 142


__ADS_3

Suara bising dari musik yang terdengar sangat memekakkan telinga begitu mengganggu sapaan Zayn kepada Tommy. Sahabatnya itu memang menelponnya balik, cuma akibat suara bising orang yang sepertinya sedang berkaraoke ria itu sungguh membuat Zayn sangat merasa jengah.


"Lo sebenarnya lagi dimana, Tom?" Tanya Zayn, tentu sangat penasaran akan keberadaan sahabatnya itu.


"Hah? Suara lo nggak jelas, Zayn. Gue nggak dengar." sahutan Tommy tak kalah memekik.


"Ish!" Zayn memilih memutus panggilannya. Akan tetapi setelah itu ia segera mengirim pesan singkat kepada Tommy.


"Lo dimana?"


"Karaoke." Tommy membalasnya sangat singkat, tanpa mau menyebut nama tempat karaoke yang ditujunya itu.


"Jangan nekat, Tom!"


Sebuah pesan peringatan dari Zayn terkirim lagi kepada Tommy. Ia tentu sangat khawatir, takutnya Tommy akan bertindak diluar nalar setelah insiden patah hatinya itu.


"Woles, Bro. Gue mah baik baik saja." Tommy membalas lagi sambil dibubuhi stiker yang menggelikan darinya.


Zayn masih terdiam beberapa saat. Matanya seakan menerawang kemana sebenarnya Tommy berada. Seandainya saja malam ini bukanlah malam yang begitu spesial bagi dirinya dan Ara, tentu ia akan mencari dimana sahabatnya itu berada.


"Gimana, Mas?" Tanya Ara, yang memang sedari tadi menunggu dan tentu sangat kepo akan kabar bagaimana Tommy dan Sisil.


"Mending kamu nanya Sisil saja deh. Tommy kayaknya lagi have fun."


Lantas Zayn meletakkan kembali ponsel miliknya keatas nakas disampingnya. Ia merebahkan tubuhnya kembali sembari menarik tubuh Ara masuk kedalam pelukannya.


"Aku sih mau saja nanya langsung ke Sisil. Cuma aku takut entar Sisil bakal tambah sedih. Dia tuh cewek. Pasti jiwanya lebih rapuh ketimbang cowok." Ara berucap dalam posisinya yang turut memeluk erat pinggang suaminya.


Zayn mendengus berat. Diusapnya lengan istrinya itu begitu lembut, serta sesekali membubuhi kecupan hangatnya di sana.


Dalam beberapa saat suasana tiba-tiba menjadi hening. Kedua manusia itu sedang berkutat dengan pemikirannya masing masing. Rasa kepeduliannya terhadap nasib percintaan antara sahabatnya itu cukup menyita pikiran pasangan pengantin baru itu.


"Mas," Ara bersuara lagi, sambil mengangkat kepalanya menatap wajah suaminya.


"Iya, ada apa, Sayang?" Zayn mengelus pipi mulus istrinya.


"Tadi tuh Keanu kenapa sih? Kok tiba-tiba bikin gaduh diacara resepsi kita?"


Tentu kening Zayn seketika berkerut, pertanda tak senang ketika Ara mengajaknya membahas kejadian tadi siang yang menimpa Keanu.


"Sumpah, aku kepo banget deh, Mas. Coba tadi itu kita lagi nggak rame tamu."


"Trus kamu mau apa kalo misalnya nggak rame tamu? Mau bernostalgia ria sama Keanu?"


Dilihat dari nada bicaranya sangat kentara kalau Zayn sedang marah bercampur cemburu. Maka dari itu Ara memilih menekan jiwa keponya saja, dari pada harus membuat suaminya menjadi tidak enak hati dan pastinya nanti akan berefek dosa baginya.


Sekedar flashback.


Setelah tadi Keanu menghampiri Ara dan Zayn dengan jiwa yang sudah tertata rapi agar tetap terlihat tegar dan tenang dihadapan mereka, meski sebenarnya masih ada secuil rasa sesak yang tersembunyi dilubuk hatinya, Keanu mengulurkan tangannya begitu mantap.


Pertama yang ia jabat tangannya adalah Zayn. Pria yang telah berhasil memiliki Ara, dan juga yang masih tetap bertahan menduduki tahta singgasana hati Ara, meski pernah dikecewakannya. Akan tetapi cinta diantara mereka memang terlanjur kuat untuk digoyahkan, bahkan sama sekali tak ada celah buatnya masuk sekedar hinggap sejenak di hati Ara.

__ADS_1


Kedua, pria itu tentu menjabat tangan Ara. Kali ini ia mengenggam tangan istri Zayn itu tidak begitu lama, tak seperti saat dirinya menyalami Zayn.


Seulas senyum kecil terukir buat mereka. Sembari mengucapkan kata selamat, lalu setelah itu Keanu segera pergi dari hadapan mereka. Ia sudah tak mau berlama-lama lagi berada di pesta yang seharusnya dirinya yang bersanding di sana.


Oh hati, kenapa masih merasa tak rela melepasnya bersanding bersama seseorang yang sudah menjadi pilihannya?


Keanu sangat tahu dan menyadari, bahwa apa yang sedang bergejolak dihatinya itu merupakan kesalahan yang bisa berakibat fatal jika tidak segera dihentikan cukup sampai disini. Yah, selepas keluar dari acara resepsi ini, ia sudah bertekad untuk move on. Bila mungkin ia sangat berharap jika ia segera dipertemukan saja dengan jodohnya di tempat ini juga.


Dan,


"Aduh!"


Umpatan kekesalan dari seorang gadis yang tak sengaja ia senggol lengannya akibat berjalan sambil melamun. Bukan tanpa sebab gadis itu berteriak kesal, sebab karena ulah Keanu itu juga membuat gaun yang dikenakan gadis berparas cantik itu menjadi basah dan kotor.


"Punya mata nggak sih?" Gadis itu masih memekik kesal, sembari mengusap bajunya yang telah kotor dengan tangan kosongnya.


"Iya, maaf... maaf..." Keanu berucap sambil menangkupkan kedua tangannya sebatas dada. Ingin sekali ia turut membantu membersihkannya juga, andai gaun yang sudah kotor itu bukan didaerah dad@ montok gadis remaja itu.


Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap pria yang sama sekali tidak berinisiatif apa-apa untuk membantunya, contoh kecilnya mengambilkan tissue atau sapu tangan buatnya. Akan tetapi tiba tiba mulutnya dibuat terperangah sendiri begitu menyadari siap pria yang menyenggolnya itu.


"OMG! Dia?"


Dag dug dag dug...


Tiba tiba denyut jantung gadis itu terasa berdetak melebihi yang seharusnya. Bagaimana ia tidak ternganga, pria yang sedang berdiri dihadapannya itu adalah seseorang yang pernah mengambil ciuman pertamanya.


Yah, gadis itu adalah Cinta, adik Zayn.


"Hei...." Keanu menjentikkan jarinya tepat didepan wajah Cinta yang masih tertegun tak percaya.


"Sorry, aku harus segera pulang," ujar Keanu, setelah merasa gadis itu tak lagi mempermasalahkan kejadian yang tak disengaja itu.


"Ah, i-iya."


Sebelah tangan Cinta terangkat sendiri, melambai begitu manja kepada Keanu. Akan tetapi setelah itu....


"Cincin aku?" suara pekikannya itu membuat Keanu kembali mengurungkan langkahnya dan tentu membalikkan tubuhnya lagi. Menatap Cinta yang sudah kepanikan sendiri karena baru menyadari jika cincin permata yang dulu pernah ia temukan di taman tiba-tiba terlepas dari jari manisnya.


"Ada apa?" Tanyanya heran bercampur penasaran.


"Cincin aku hilang." Lengkap dengan nada suara Cinta yang merengek khas gadis remaja pada seusianya.


"Bantu cariin dong, jangan cuma diem aja."


Meski tak menyahut, namun nyatanya Keanu turut membantu Cinta mencari cincinnya yang kemungkinan terjatuh tak jauh dari tempatnya berada.


"Kok bisa hilang? Gimana ceritanya?" Tanya Keanu, ia pun sebenarnya merasa was-was takutnya hilangnya cincin gadis itu karena disenggol olehnya tadi.


"Emang cincinnya longgar sih dijari aku," terang Cinta sambil masih begitu fokus mencari keberadaan cincin yang sudah menjadi kesayangannya.


"Kalo nggak ketemu gimana?"

__ADS_1


"Ya harus ketemu lah."


"Cincin dari pacar ya?" Goda Keanu. Entah mengapa meski ia masih belum mengenal gadis itu rasanya cukup asyik jika bisa mengobrol bersamanya.


"Iih, bukan! Pacar aja aku nggak punya." gerutu Cinta dengan mulutnya yang mengerucut.


Tak dinyana rupanya Keanu yang berhasil menemukan cincin permata itu. Ia tersenyum kecut. Sepintas bayangan tentang cincin permatanya yang dulu hilang tiba-tiba kembali teringat lagi.


"Sudah ketemu ya?" Cinta sangat berantusias ketika cincin itu sudah berada digenggaman Keanu.


Keanu hanya mengangguk singkat. Semakin dicermati cincin tersebut, kenapa rasanya sudah sangat familiar menurutnya?


Tanpa disangka sebelumnya, tiba-tiba dengan lancangnya Cinta mengulurkan tangannya. Berharap Keanu mau menyematkannya di jari manisnya.


Melihat aksi konyol gadis itu, rupanya cukup menyita sebagian para tamu undangan yang tak sengaja sedari tadi menyaksikan tingkah mereka, yang sebagian dari mereka beranggapan bahwa adegan itu adalah seorang pemuda yang sedang melamar wanitanya.


"Ciye ciye.... Terima! Terima! Terima!"


Suara cuitan yang menyaksikan kejadian diluar prasangka itu cukup gaduh, membuat sepasang pengantin yang hanya bisa berdiri menatap dari kejauhan hanya bisa penasaran saja, tanpa bisa mendekat atau pun menyaksikan.


Cinta semakin memanfaatkan kesempatan. Baginya kapan lagi coba bisa berlakon layaknya drama romantis dari drakor yang sering ia tonton itu. Apalagi pria yang berdiri didepannya itu sungguh memiliki wajah yang tak kalah tampan dari aktor Korea.


Merasa sudah mati kutu, dan lebih baik mengikuti permainan yang sudah terlanjur kepalang, akhirnya Keanu menyematkan cincin itu dijari manis Cinta dengan wajah datarnya.


"Ciyeeeeee..... Cuit cuit..."


Sorakan kebahagiaan sekaligus tepukan tangan yang terdengar ramai, mewakili hati dan perasaan Cinta yang sedang berbunga bunga. Namun tidak dengan apa yang sedang dirasa oleh Keanu saat ini.


Setelah selesai menyematkan cincin itu, Keanu pun segera pergi dengan langkah cepatnya. Tersenyum geli sendiri atas apa yang terjadi barusan.


Flasback off.


"Sayang," Ara mencondongkan wajahnya, mencuri sedikit ciuman singkat di bibir Zayn.


Zayn melirik nakal. Ia tahu jika saat ini istrinya itu sedang berusaha menebus kesalahannya karena telah mengungkit nama Keanu. Tapi ia pura-pura merajuk saja, mungkin setelah ini Ara akan kembali menciumnya.


Cup.


Benar saja. Ciuman wanita itu kali ini mendarat di pipi Zayn. Bukan hanya disitu saja, kali ini Ara lebih agresif menghujani seluruh wajah Zayn dengan ciuman nackalnya.


"Maafin aku," tutur Ara, disaat melihat Zayn yang masih betah bergeming.


"Sayang,"


"Mas,"


"Beneran nih gak mau lanjut?"


Zayn hanya melirik lagi.


"Aku minta jatah empat ronde." ucapnya kemudian sambil mengerling nakal.

__ADS_1


"Gila!"


*


__ADS_2