
Setelah kabar kehamilan Ara terdengar ke semua keluarganya, termasuk juga kepada keluarga Zayn, maka setelah itu pula seluruh isi rumah begitu protektif turut menjaga kandungan yang masih begitu riskan itu.
Tetapi sayangnya untuk masalah ngidam bukan Ara yang merasakan momen itu, melainkan Zayn. Dahulu semasa mengandung Ziyyan, Ara juga biasa-biasa saja, normal tanpa adanya ngidam seperti kebanyakan orang hamil lainnya. Rupanya setelah hal ini terjadi pada Zayn, Ara baru mengetahui jika syndrom cauvade itu pernah dirasakan oleh Zayn semasa dirinya mengandung Ziyyan.
Bahkan semenjak Ara sudah tahu kalau dirinya hamil, sejak saat itu pula dirinya sudah tidak pernah merasa terganggu lagi dengan bau keringat ataupun bau asap rokok. Makanya kali ini ia bisa merawat dan bahkan memenuhi semua ngidamnya Zayn, selagi hal itu bisa dituruti dan asal bukan hal yang aneh-aneh saja.
"Kenapa nggak dimakan, Mas?" sapa Ara yang saat ini sedang menemani Zayn yang semenjak merasakan kurang sehat memutuskan bekerja dari rumah saja.
"Sudah nggak mau," sahut pria itu sambil tetap serius menatap layar laptop yang menyala didepannya.
"Iish..!" Ara mencebik kesal.
Bagaimana Ara tidak akan kesal, pagi-pagi sekali Zayn sudah meracau ingin memakan salad buah yang isinya ada buah kiwi, jeruk, dan juga mangga yang sudah matang. Masalah membuat saladnya itu mudah, hanya untuk mencari buah yang disebutnya itu yang sedikit sulit. Beruntung Rudy berhasil mencari macam-macam buah itu di stand pasar buah, dan setelah sekarang tersedia Zayn malah bilang tidak mau. Kesal kan?
"Kenapa cemberut begitu?" Zayn menoleh kepada Ara, lalu sejenak menghentikan kegiatannya dihadapan laptopnya untuk memandangi wajah istrinya yang terlihat mulai bete.
"Jangan sering cemberut, nggak bagus loh buat debaynya." Usapan tangan Zayn mendarat di perut rata Ara, sebelah tangannya lagi mengusap lembut pipi Ara.
"Mas yang bikin kesal!" sungut Ara masih sangat bete.
"Aku? Kenapa memangnya?" tanyanya santai, sama sekali tidak merasa berbuat salah apa-apa.
"Ini contohnya." Wanita itu hanya menunjuk dengan dagunya ke arah semangkuk salad yang hanya tersentuh satu sendok saja.
Zayn mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ara, "Kamu mau?" tawarnya, sambil meraih mangkuk itu dan menyendokkan salad itu didepan bibir Ara yang sengaja ditutup rapat.
"Nggak mau!" sahutnya, sambil memalingkan wajah ke arah bawah balkon, karena kali ini mereka memang sedang berada di teras balkon kamar.
"Ya sudah." Zayn menyahut santai, lalu kemudian meletakkan kembali mangkuk itu diatas meja didepannya.
"Kenapa nggak dihabiskan sih, Mas? Kamu tuh nggak menghargai perjuangan pak Rudy yang mencari buah ini pagi-pagi buta tadi. Trus kalo nggak dimakan gini, siapa yang mau habisin coba? Mana buahnya asam semua. Mubadzir tau!" Akhirnya ocehan itu keluar juga dari Ara, teruntuk suaminya yang ngidamnya kadang suka nggak ketulungan.
Zayn sempat tertegun tadi ketika mendengarkan protes dari istrinya itu. Ia masih merasa ini bukan kesalahannya tidak mau menghabiskan salad buah itu, melainkan seleranya saja yang tiba-tiba saja tak mau sendiri. Jika itu dipaksakan, sudah pasti ia akan merasakan mual lagi dan akhirnya muntah-muntah lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku." Zayn meraih tangan Ara, membawanya ke dalam genggaman tangannya.
Ara hanya bisa mendengus pasrah mendengar perkataan maaf dari Zayn. Sebisa mungkin ia berusaha sabar untuk menghadapi suaminya yang sedang mengalami syndrom cauvade itu.
Lalu merekapun kemudian saling berpelukan, setelah tadi Ara mengulaskan senyum manisnya kepada Zayn.
"Mas," sapa Ara lagi, masih dengan posisinya yang berada dalam pelukan hangat suaminya.
"Iya, Sayang."
"Ingin mengeluh, tapi ini sudah jalannya. Andai aku saja yang mengalami semua ini, pasti saat ini aku yang dimanja," ucap Ara dengan kalimatnya yang terdengar ambigu.
"Kamu ngomong apa sih, aku nggak paham." Zayn melepas pelukannya, kali ini ia membiarkan istrinya itu berbaring di kursi panjang yang mereka duduki dengan berbantalkan paha Zayn.
"Seharusnya yang merasakan ngidam itu aku, bukan kamu. Kalau begitu kan nanti aku bisa manja-manja sama kamu, diturutin semua ngidam aku, ini mah terbalik." racau Ara, setelah merasa hal ini sedikit tak adil baginya. Dirinya yang hamil ingin dimanja-manja oleh suami, malah dirinya yang sering memanjakan suaminya.
"Posisi begini nih tidak termasuk memanjakan istri?" Zayn bertanya terheran-heran, dengan tadi dirinya yang memeluk dan kali ini seperti ini, itu masih bukan termasuk memanjakannya? Terus yang seperti apa contohnya?
Zayn menoleh fokus kepada laptopnya lagi, bukan untuk melanjutkan pekerjaannya, melainkan untuk mematikan laptop tersebut.
"Sayang," Zayn menarik pinggang Ara, lalu dagunya ia tumpu di pundak Ara.
"Ada apa, Mas? Mau sesuatu lagi?" Ara menyahut sedikit malas.
"He-eh." Zayn mencium gemas pundak Ara, semakin dibiarkan ciuman itu menjalar hingga ke ceruk leher Ara.
"Geli, Mas." Ara menggeliat tak kuat menahan rasa geli, efek suaminya yang mulai merusuh disiang hari.
"Kita....." Zayn sengaja menggantung perkataannya. Kali ini tangannya itu meraba nakal punggung istrinya sambil sedikit memainkan resleting belakang baju yang dikenakan Ara.
"Iih, Mas. Tangannya kondisikan ya?" Ara berucap sambil sedikit tergelak sendiri mendapati suaminya yang sudah memasang kode disiang bolong begini.
"Ayuk..?" tatapan mata Zayn mulai mengerling nakal.
__ADS_1
"Ayuk apa?" Ara berpura-pura tidak memahaminya.
"Itu... Begituan." Zayn melancarkan aksinya lagi lewat mengendus manja didaerah ceruk leher Ara. Sebelah tangannya sudah mendarat di area paha mulus istrinya itu.
Mendapati reaksi Ara yang hanya terdiam, maka Zayn pun tak mau membuang waktu lagi. Ia segera berdiri dan kemudian mengangkat tubuh istrinya dalam gendongannya.
"Kamu sudah baik-baik saja? Nggak pusing atau mual?" tanya Ara, disaat dirinya masih berada dalam gendongan Zayn.
"Gejala itu cuma pagi hari, tapi kadang bisa datang kapan saja sih. Kenapa, Yang?"
"Nggak pa-pa. Aku cuma takut kamu entar nggak kuat."
Reaksi Zayn langsung tergelak mendengar perkataan Ara yang seperti sedang meragukannya. Bibirnya tersenyum tipis, merasa tertantang untuk menaklukkan istrinya setelah ini.
"Kamu menantangku, Yang?"
Ara hanya terkekeh, menjadi malu sendiri telah berani meremehkan Zayn dengan perkataannya itu.
Perlahan Zayn meletakkan tubuh Ara diatas kasur. Pria itu turut naik ke atas kasur itu dengan posisinya yang sudah mengungkung diatas tubuh Ara. Ciuman hangatnya mendarat merata hampir diseluruh wajah Ara. Bibir ranumnya pun tak luput disesap dan dilumat rakus oleh Zayn.
Permainan yang masih termasuk pemanasan sebelum lanjut ke ritual berikutnya, terus terjadi hingga sampai mereka merasakan sesuatu itu harus disalurkan dengan penyatuan raganya.
"Aku akan pelan-pelan, Sayang. Kamu rileks aja dan cukup nikmati, ini nggak akan menyakiti debaynya kok," ucap Zayn, dengan suara beratnya, begitu junior miliknya itu sudah akan ia masukkan ke dalam lubang kenikmatan.
Ara hanya mengangguk pelan, pastinya tersipu malu. Lalu setelah itu Zayn pun menyeringai puas, begitu mendapati istrinya yang sudah berwajah merona berada dibawah kungkungannya.
Blep. Aaaah.....
Dah, lanjutkan sendiri ya readersku😅
Maaf ✌
*
__ADS_1