Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 91


__ADS_3

Setelah mengistirahatkan tubuhnya sejenak di apartemennya, Zayn segera pergi lagi untuk kembali datang ke rumah Ara. Tetapi sebelumnya Zayn mampir dulu ke sebuah toko mainan terbesar yang cukup terkenal di kotanya, Ia berencana ingin membelikan Ziyyan beberapa mainan lagi.


Zayn masuk ke dalam toko mainan tersebut, matanya begitu jeli memilih beberapa mainan yang akan ia berikan kepada Ziyyan. Bayangan akan senyum bahagia Ziyyan ketika nanti menerima mainan itu terus saja membayang di benaknya. Hal itu membuatnya semakin bersemangat hingga tak sadar ternyata barang yang ia ambil telah penuh di keranjang trolinya.


Pria itu mengantre di barisan menuju kasir, karena kondisi toko saat itu lumayan cukup ramai membuatnya menunggu gilirannya cukup lama. Merasa sedikit jenuh ia pun memilih memainkan gawainya selagi menunggu gilirannya di kasir.


Zayn membuka aplikasi hijau tempat beberapa chat masuk, tangannya menggeser ke laman story di sana. Matanya tak sengaja melihat update story yang baru saja di unggah oleh sahabatnya, Tommy.


"Wellcome ponakan tercinta ๐Ÿ˜ Uncle Tommy sama Aunty Sisil sayang banget sama kamu."


Zayn terkekeh membaca unggahan story dari sahabatnya itu. Dilihat dari foto yang di posting oleh Tommy itu sepertinya ia sedang berbelanja beberapa mainan untuk ponakan yang di maksudnya itu.


"Lebay banget!" kekehnya sambil kemudian menghubungi sahabatnya itu.


"Buat ponakan apa calon anak?" Tanyanya setelah panggilannya di terima oleh Tommy.


Bha... haha... haha...


Sahabat yang di hubunginya itu malah tertawa lebar.


"Orang lagi gabut tuh ya kayak gue," Tommy menjawab sekenanya.


Zayn pun ikut tertawa renyah. Suasana hatinya kali ini benar-benar tengah senang. Apalagi setelah tadi waktu di apartemennya ia teringat akan rencana Haris yang ingin menjodohkannya dengan anaknya, Ara. Hatinya pun merasa sangat lega karena merasa telah mendapat lampu hijau dari papinya Ara.


Setelah Zayn tahu bahwa yang akan di jodohkan dengan dirinya adalah memang gadisnya yang telah lama tiada kabar, Zayn telah bertekad untuk tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Meski rasanya tak akan mudah lagi untuk membujuk hati Ara agar sudi memaafkannya atas perbuatannya di masa lalunya itu.


"Enak lo ya? Kerja di perusahaan sendiri bisa libur kerja sesuka hati!" Lagi-lagi Zayn menggoda sahabatnya itu.


"Istilah enak itu hanya pandangan orang saja, mereka gak tahu aja gue yang ngejalaninya sampe jungkir balik." Tommy menyangkal tudingan Zayn itu.


Bagaimana pun enaknya bekerja di perusahaan sendiri, tentu peranannya akan semakin berat. Harus memikul tanggung jawab penuh atas kesejahteraan pegawainya yang bekerja di sana. Belum lagi masalah attitude dan sebagainya, harus benar-benar menjadi contoh yang baik agar selalu di segani oleh karyawannya. Dan Tommy yang memang karakternya kebalikan dari Zayn, merasa sangat tertekan dengan amanah yang di embannya itu.


"Eh, lo lagi di mana? Kelamaan di proyek entar lo dapat jodoh orang kampung sana juga." Tommy balik menggoda Zayn dengan tawa kecilnya.


Sahabatnya itu tentu sudah ingin melihat Zayn menjalin sebuah hubungan lagi dengan perempuan lainnya. Karena merasa Ara telah benar-benar tidak ada kabarnya, ia pun menginginkan Zayn untuk bisa segera move on darinya.


"Gue udah di Jakarta," sahut Zayn sambil sedikit menggeser barisan antrenya.


"Tom, yang ini lucu nggak?"


Terdengar suara perempuan menyapa Tommy diseberang sana.


"Lo sama siapa, Tom?" Tanya Zayn sedikit kepo, karena merasa sudah tidak asing dengan pemilik suara itu.


"Gue lagi bareng Sisil." Nada suara Tommy sedikit berbisik. Ia pun menggeser jaraknya sedikit menjauh dari Sisil agar gadis itu tidak tahu kalau dirinya sedang bertelponan dengan Zayn. Bisa gawat kalau Sisil tahu Zayn sudah balik.


"Ooh..." Reaksi Zayn terdengar biasa-biasa saja.


Zayn tahu kalau sahabatnya itu sedang dalam masa perjuangan untuk meluluhkan hati Sisil. Entah mengapa sekian tahun lamanya mereka sudah saling dekat mereka masih belum ada hubungan pasti, alias HTS ( Hubungan Tanpa Status๐Ÿ˜).


Merasa sudah sedikit aman dari jangkauan Sisil, Tommy pun kembali melanjutkan obrolannya dengan Zayn. Saking serunya mereka saling mengobrol membuat Tommy tak terasa sudah semakin jauh dengan Sisil.

__ADS_1


Dan gadis itu yang sedari tadi begitu fokus memilih mainan yang akan ia hadiahkan untuk menyambut kedatangan anaknya Ara itu, baru tersadar kalau ternyata dirinya dan Tommy sudah terpisah tempat.


Sisil yang sudah merasa tak sabar ingin segera berjumpa lagi dengan Ara dan juga anaknya itu, ia pun segera mengambil barisan antrean di kasir. Masalah Tommy nanti ia akan menghubunginya lagi setelah ia selesai dengan antreannya itu.


"Tom, gue udah dulu ya."


Zayn terpaksa menyudahi obrolannya dengan Tommy karena sudah masuk gilirannya di kasir.


Pria itu terlihat bersemangat mengeluarkan beberapa belanjaan mainannya itu dari dalam keranjang trolinya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang menyorotnya tajam tak jauh darinya berada.


Sisil menatap geram kepada pria yang selama ini memang di incarnya. Kedua tangannya mengepal erat seakan tak tahan lagi ingin segera melayangkan tamparan tersadisnya pada wajah pria yang telah merusak masa depan sepupunya, Aurora.


Kemudian Sisil berjalan maju menyerobot lewat celah barisan antrean di kasir itu, ia tak lagi peduli lontaran umpatan kesal dari beberapa orang yang telah dulu mengantre di sana.


Sisil menepuk pelan bahu pria yang ia yakini adalah Zayn. Setelah pria itu menoleh....


PLAAKK!!!


Tamparan keras Sisil telah benar-benar mendarat di pipi Zayn.


Zayn yang memang tidak siap akan menerima tamparan itu membuat tubuhnya sedikit doyong karena perbuatan Sisil itu.


"Dasar bi@dab!!"


"PLAAAKKK!!!"


Lagi-lagi tamparan itu melayang sempurna di pipi Zayn yang memerah akibat kerasnya tamparan itu.


Semua sorot mata yang berada di sana seketika menjurus kepada mereka yang terkesan seperti adegan ceweknya memergoki cowoknya sedang selingkuh, begitulah menurut sebagian orang-orang yang mulai kepo dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Sisil sudah tidak dapat berucap apa-apa lagi. Sorot matanya sudah jelas mengatakan bahwa ia begitu membenci pria yang ia temui saat ini.


"Sil, gue bisa jelasin semuanya." Mata Zayn memandang risih kepada sebagian orang yang mengabadikan kejadian ini dengan sengaja merekamnya.


"Kenapa? Lo malu kalo gue ngebongkar perbuatan busuk lo di sini, hah?!!" Emosi Sisil semakin menjadi.


Zayn hanya menggeleng, ia hanya ingin mengajak Sisil menjauh dari tempat yang tiba-tiba ramai karena ulah gadis itu tadi. Tangan Zayn meraih tangan Sisil, ingin mengajaknya segera pergi dari sana. Namun ternyata Sisil langsung menghempas kasar tangan Zayn itu.


"Eh, dengerin semuanya! Cowok ini adalah cowok brengsek yang udah hamilin sepupu gue tapi dia malah kabur dari tanggung jawabnya!" Sisil sengaja mengumbar aib masa lalu Zayn itu di depan semua orang yang merekam perbuatan mereka.


"Cih!! Sekarang lo berani muncul lagi! Kenapa gak sekalian lo ngumpet di liang kubur aja biar lo selesai sama tanggung jawab lo!!"


"Sisil !!"


Tommy yang baru tahu dengan yang terjadi itu, ia langsung menarik tangan Sisil menjauh dari tempat itu. Zayn juga mengikuti kemana Tommy membawa Sisil pergi, ia tak peduli dengan kode dari tangan Tommy untuk tidak mengikutinya pergi.


Saat ini mereka sudah sampai di area parkir toko tersebut. Merasa sudah sedikit aman di sana, Tommy pun melepas cengkraman tangannya dari tangan Sisil.


Gadis itu cemberut mendapat perlakuan kasar dari Tommy. Sedangkan Tommy sendiri kembali menatap sebal kepada Zayn yang terus mengikuti mereka pergi.


"Udah gue tolongin biar aman, nih anak masih ngejar juga. Haddeeuuuh..." Tommy menggerutu kesal pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Niat hati Tommy ingin membantu menjelaskan kejadian yang sebenarnya itu kepada Sisil, dan sengaja memisahkan keduanya agar tidak menjadi tranding topic yang bisa memicu citra baik keduanya. Apalagi tadi Sisil bertindak yang demikian kepada Zayn, apa jadinya jika ia tidak berinisiatif untuk segera memisahkan mereka.


Di tambah lagi saat ia melihat reaksi Zayn yang terkesan pasrah saja di perlakukan seperti itu oleh Sisil, membuatnya semakin merasa iba atas kejadian memalukan yang menimpa sahabatnya itu.


"Sil!" Zayn kembali menyapanya.


Sisil menoleh dengan tatapan tak puas ingin kembali menampar pria yang sudah berdiri di belakangnya itu.


"Gue akan jelasin semuanya. Plis, lo dengerin gue dulu." Wajah Zayn benar-benar serius ingin meluruskan kesalah pahaman ini.


"Ck! Udah terlambat, Zayn!"


Bahkan gadis itu sudah tidak respect lagi menyebut nama Zayn tanpa embel-embel 'kak' lagi, seperti dulu ia biasa memanggilnya dengan panggilan kak Zayn.


Zayn menatap sendu kepada Sisil. Ia mulai di hantui rasa gelisah lagi. Kali ini ia sedang menghadapi Sisil sudah bereaksi seperti ini, apalagi jika nanti ia sudah bertemu dengan Ara?


"Lebih baik lo gak usah ganggu hidup Ara lagi! Dia memang sudah kembali, tapi dia kembali kesini untuk menikah dengan orang lain. Gue pastiin itu bukan lo orangnya!"


Sisil berucap sambil menunjuk tepat ke arah wajah Zayn. Lalu setelah itu ia memilih masuk ke dalam mobil yang ia tumpangi dan menutup pintu mobilnya dengan sangat kasar.


BRAAKK!!


Tommy terkesiap menyaksikan perbuatan Sisil, gadis lembutnya yang berubah garang seperti sekarang. Sekilas ia menoleh kepada Zayn, tangannya terulur untuk menepuk pelan bahu sahabatnya itu sebagai penyemangat untuk ia tak pantang menyerah memperjuangkan Ara yang telah kembali.


"Lo yang sabar, Zayn. Gue akan bantu jelasin apa yang sebenarnya terjadi sama Sisil. Kalo perlu gue juga akan bantu jelasin juga sama keluarganya Ara," ucap Tommy kemudian, dan setelah itu secepatnya menyusul Sisil masuk ke dalam mobilnya.


Zayn hanya tersenyum getir menanggapinya, dalam hati ia telah berjanji akan menyelesaikan masalahnya ini dengan sekuat tenaganya sendiri. Ia tak mau melibatkan orang lain lagi dalam masalahnya ini, sekalipun tawaran bantuan itu datang dari sahabatnya, Tommy.


Pernyataan Sisil yang terakhir tadi cukup membuat perasaannya sedikit resah. Jika sebelumnya ia sudah merasa lega karena mendapat dukungan dari Haris, akan tetapi di sisi lain tak bisa di pungkiri perasaannya sangat khawatir dengan perjodohan yang di tawarkan oleh Haris itu sekarang.


"Jangan-jangan mereka sengaja mempermainkanku lagi? Seperti sebelumnya mereka sengaja menindas dan menekanku di Rahardian Group?" Pria itu mulai berkutat dengan pikiran negatif yang tiba-tiba muncul di benaknya.


Aaaarrrgh...


Zayn hanya bisa meringis ketika tangannya tak sengaja menyentuh pipinya yang masih terasa sangat panas dan perih akibat tamparan dari Sisil tadi.


Ia pun berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir di area itu. Ia berencana akan membelikan mainan buat Ziyyan di toko mainan yang lainnya, karena rasanya sudah tidak mungkin ia masuk kembali ke tempat itu.


Apapun yang akan terjadi setelah ini ia tetap akan menemui Ara. Meski harus menerima tamparan bahkan pukulan atau apapun itu, ia sudah siap menerimanya.


*


Hai hai Readersku....


Gimana gimana? Pastinya udah nungguin scene Ara bertemu dengan Zayn kan?


Author janji di part berikutnya mereka sudah akan Author pertemukan, asal.......


Author minta dukungan semangatnya dari kalian dong...


Caranya tentu Like yaa.... Jangan lupa komentarnya juga. Vote, rating, atau kasi bunga mawar dan kopinya juga boleh ๐Ÿ˜

__ADS_1


Iiissh, kesannya Author lagi maksa malak readers aja๐Ÿ˜… Tapi, gak pa-pa kan?


Yuk ah, mana nih komentarnya....


__ADS_2