Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 80


__ADS_3

"Sebenarnya aku sudah memiliki anak."


Deg.


Semua mata menyorot tajam kepada Zayn, termasuk sang ibunda yang tak sengaja sampai menjatuhkan gelas yang sedang di pegangnya karena begitu shocknya mendengar Zayn berkata begitu.


"Apa maksudmu Zayn!!"


Malik masih berusaha bersabar, meski sebenarnya kemarahannya itu nampak terlihat nyata dari tangannya yang mengepal erat.


"Benarkah yang kau katakan itu, Nak?"


Kini beralih Rahayu yang menanyainya, sedang dari matanya terlihat bendungan air yang masih coba ia tahan.


Zayn menganggukkan kepalanya perlahan. Memang saat ini ia masih belum menemukan dimana sekarang anaknya itu berada. Hanya ia memiliki firasat yang kuat jika anaknya itu ada dan mungkin sekarang sedang mencarinya.


BRAAKK!!!


Tangan Malik memukul keras meja itu, matanya sudah mulai nanar melihat Zayn yang hanya terdiam.


"JELASKAN ZAYN!!!" Malik lebih meninggikan suaranya.


"Aku pernah menghamili pacarku." Zayn mulai berkata, sedang kepalanya tertunduk tak berani menatap kepada kedua orangtuanya yang menatapnya penuh amarah.


Mendengarnya, Rahayu langsung menangis histeris. Wanita paruh baya itu langsung dibawa Cinta menuju kamarnya karena melihat kondisinya yang mulai gemetar akibat terlalu shock mendengar yang baru saja di dengarnya.


"Lanjutkan, Zayn!"


Sebenarnya Malik juga lebih shock saat mendengarnya, rahangnya mengeras ingin memukul atau menonjok anaknya itu. Hanya ia mencoba lebih bersabar sebelum ia mendengarkan semuanya itu dari Zayn.


"Saat kuliah dulu aku pernah punya pacar. Tak lama setelah itu aku--"


Zayn tak dapat meneruskan perkataannya lagi. Pria itu mulai menangis mengingat betapa pengecutnya ia dahulu, sehingga membuat kekasihnya itu menghilang sampai sekarang.

__ADS_1


"Sekarang dimana anakmu itu?"


Nada bicara Malik berangsur mereda, rasanya ia tak peduli lagi bagaimana cerita masa lalu putranya itu. Yang sangat ingin ia ketahui sekarang adalah keberadaan anak Zayn.


Lagi-lagi Zayn hanya menggelengkan kepalanya. Pria itu sungguh akan merasa sangat bersalah dan tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika ia tidak bisa menemukan keberadaan anaknya nanti.


"Hilang?" Malik menatap lekat kepada Zayn.


"Keluarganya dulu mengusir Ara saat tahu dia hamil." Perlahan pria itu memberanikan diri menatap kepada ayahnya.


Terlihat helaan nafas Malik yang berhembus berulang-ulang. Ayahnya Zayn itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mendengar ternyata anak yang diceritakan Zayn itu masih belum tahu keberadaannya.


"Maafkan aku, Ayah."


Seketika Zayn bersimpuh di kaki Malik. Sungguh ia sangat menyesal telah melukai hati kedua orangtuanya dengan perbuatan khilafnya yang baru berani ia ungkapkan sekarang. Pria itu menangis sejadi-jadinya, dan Malik hanya membiarkannya saja sampai Zayn menghentikan sendiri tangis penyesalannya itu.


"Nak, bangunlah."


Rahayu tiba-tiba datang sambil mencoba mengangkat tubuh Zayn yang bersimpuh di kaki Malik.


"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?"


Rahayu melepas dekapannya, ia mengusap lembut air mata di pipi Zayn.


"Aku ingin mencarinya, Bu. Aku ingin bertanggung jawab."


Rahayu mengangguk mendengar pengakuan Zayn. "Iya, kamu cari anakmu itu, Nak," ucapnya kemudian.


"Apa kau sudah mengatakan hal ini juga dengan pak Haris?" Malik kembali bersuara.


Zayn menggelengkan kepalanya lagi.


"Ck! laki-laki pengecut! Seharusnya dari awal kamu berterus terang sama beliau. Jangan malah jadi laki-laki pengecut yang tak berani berterus terang. Apa kehilangan pacarmu itu dulu tidak cukup jadi pelajaran karena sikap pengecutmu itu, hah?"

__ADS_1


Tangan Malik terangkat ingin menampar wajah Zayn, beruntung saja ia masih bisa menahannya. Karena melihat istrinya yang menangis tersedu sambil menggelengkan kepalanya agar tidak bertindak kasar dengan Zayn.


Malik pun terdiam, ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil menyebutkan beberapa lafadz istighfar yang keluar dari mulutnya. Lalu setelah itu ia menatap kepada Zayn. Dilihatnya anak sulungnya itu sepertinya telah sangat menyesali perbuatannya itu.


Lantas ia pun meraih pundak Zayn, menuntunnya untuk duduk di kursi kembali. Sebesar apapun rasa kecewa yang ia rasakan sekarang, toh tidak mungkin akan kembali lagi seperti semula.


Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Apa yang pernah di perbuat anaknya itu adalah bagian dari masa lalunya yang mau tidak mau harus ia terima kenyataannya. Dan satu-satunya jalan damai saat ini adalah memaafkan perbuatan Zayn terdahulu itu.


"Kau carilah anakmu. Jika sudah kau temukan bawa dia kesini, kami yang akan merawatnya. Dan masalah permintaan pak Haris kau tetap harus menerimanya. Aku tidak mau kita di cap sebagai orang yang tidak tahu diri oleh beliau."


Perkataan Malik itu sungguh semakin membuat Zayn dilema. Dari awal ia memang tidak mau dengan permintaan dari Haris, di sisi lain ayahnya menyetujui rencana dari Haris. Sungguh ia mulai bingung sendiri. Antara ingin menolak tetapi takut mengecewakan hati kedua orangtuanya lagi, yang telah sudi memaafkannya dengan perbuatan masa lalunya itu.


"Bagaimana, Zayn?" Malik kembali menanyainya.


Perlahan pria itu akhirnya menganggukkan kepala dengan berat. Sungguh ia sama sekali tak berniat untuk meninggalkan Ara selamanya, meski suatu saat terpaksa harus menikahi orang lain. Sebab hatinya itu seutuhnya masih tetap milik gadisnya itu, hingga akhir nafas penghabisannya. Dan ini adalah sumpah janjinya yang tetap tersemat dalam hatinya.


"Aku pamit Ayah, Ibu," ucap Zayn kemudian.


"Jangan pergi dulu, Nak. Bermalam lah disini." Pinta Rahayu.


Ia tak mau anaknya itu pergi dengan keadaan yang seperti ini. Ia sangat tahu bahwa apa yang dirasakan Zayn saat ini sedang tidak baik-baik saja. Makanya ia melarangnya pergi karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi diluar sana. Apalagi kondisi tubuh Zayn juga baru membaik.


Dan Malik kembali terdiam tanpa berucap lagi. Ayahnya Zayn itu kemudian pergi begitu saja, masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya itu rapat-rapat. Terlihat sekilas ada bendungan air mata yang coba ia tahan sebelum Malik memutuskan mengurung diri di dalam kamarnya.


Zayn tetap dengan keputusannya di awal yang hanya berniat mampir pulang untuk sekedar beristirahat sebentar. Meski ibunya itu telah berulang-ulang melarangnya pergi saat ini, tak membuat surut niat Zayn yang sudah membulat.


Bahkan masakan yang sedianya telah di persiapkan untuk makan bersama tidak tersentuh sama sekali, karena memang selera makan itu telah sirna akibat pengakuan darinya yang membuat seluruh keluarga merasa kecewa karenanya.


Akhirnya Zayn tetap pergi. Pergi dengan perasaan yang sedikit menjadi lega karena telah mengakui perbuatannya yang terdahulu. Bayangan untuk segera sampai di tempat proyeknya itu sudah nampak didepan mata. Pria itu tak akan membuang-buang waktunya lagi untuk segera menyelesaikan proyeknya itu, agar dapat secepatnya bisa mencari keberadaan Ara dan juga anaknya.


Sedangkan Cinta, gadis itu sedari tadi hanya bisa menyaksikan tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia hanya termangu seorang diri menatap abangnya yang perlahan benar-benar telah pergi dari rumah itu.


Selama perjalanan menuju tempat proyeknya berada, pria itu kembali teringat dengan mimpinya. Senyum bocah kecil itu tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Sungguh dapat membantu mengobati rindunya terhadap anaknya yang bisa saja juga seumuran dengannya.

__ADS_1


Ada sedikit getaran yang tiba-tiba terasa aneh di diri Zayn, merasakan rindu yang teramat untuk segera menemui bocah kecil itu. Entah mengapa itu bisa terjadi, yang pasti tiba-tiba saja Zayn sudah menepikan mobilnya di depan toko mainan. Pria itu berniat akan membelikan mainan untuk bocah itu, sesuai dengan janjinya yang pernah terucap di awal ia bertemu dengan bocah itu sebelumnya.


*


__ADS_2