
Seminggu sudah Zayn dan Ara melewati kisahnya secara LDR. Setelah Ara menjelaskan tentang ketidak hadirannya ketika acara wisuda kemarin kepada Zayn, kekasihnya itu dapat memahami kondisi Ara yang memang benar-benar tidak di sengaja olehnya.
Pria itu malah lebih sering menelpon Ara terlebih dahulu di sela-sela kesibukannya di kantor tempat ia bekerja saat ini. Tak lebih untuk menjaga-jaga ketika kemudian hari nanti Ara memberinya kabar bahwa dirinya sedang mengandung, meski sampai saat ini tidak ada tanda-tanda itu di lihat dari kondisi Ara yang ternyata sehat-sehat saja.
Berbalik dengan kondisi Zayn akhir-akhir ini. Dirinya masih saja selalu merasakan mual atau hal-hal aneh yang dirasakannya tiap pagi dan tentunya sangat mengganggu kondisi imun tubuhnya yang merasa tiba-tiba sangatlah ringkih.
Ditambah heran lagi ketika dokter menyatakannya dirinya dalam kondisi stabil atau tidak dalam vonis penyakit yang menakutkan. Makanya ketika memeriksakan diri beberapa hari lalu, Zayn hanya mendapatkan resep vitamin saja dari dokter yang memeriksanya.
*Zayn flashback on.
"Atau jangan-jangan istri bapak sedang mengandung?"
Pertanyaan dokter itu membuat Zayn terdiam. Aku masih belum beristri? Atau bisa jadi Ara memang sedang hamil, cuma masih belum menyadarinya?
Dokter perempuan itu malah tersenyum mendapati Zayn yang hanya terdiam saja.
"Kejadian seperti ini juga bisa di alami oleh suami, Pak. Ini yang di namakan sindrom couvade. Karena bapak gelisah dan merasa tidak tenang, maka hormon dan emosional bapak juga seperti yang di alami orang-orang yang sedang mengandung." Jelas sang dokter.
Zayn hanya manggut-manggut mengiyakan penjelasan sang dokter. Setelah mendapatkan resep vitamin dari dokter, Zayn segera keluar dari ruang periksa itu.
Rasanya belum puas jika ia tidak mengetahui langsung kondisi kekasihnya itu saat ini. Makanya ia telah berniat untuk kembali ke Jakarta Minggu lusa. Bertepatan dengan acara pertunangan Tommy, pria itu telah mengabari Ara akan kepulangannya walau hanya sehari saja.
*Zayn flashback off.
Suasana di kediaman Tommy amatlah ramai dengan hiasan bunga dan dekorasi yang sangat elite. Pria itu hari ini akan melangsungkan acara pertunangannya dengan seorang gadis yang sampai saat ini Tommy belum mengenalnya.
Sebesar apapun usaha pria itu untuk menolak perjodohan itu, ternyata tak mampu menggoyahkan keputusan neneknya yang tak bisa di ganggu gugat lagi.
Lima belas menit lagi acara pertunangannya akan di gelar, namun ternyata sosok pujaan hatinya yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Tommy terlihat sangat gelisah mendapati Sisil yang ternyata tidak memberinya kesempatan dan harapan sesuai permintaannya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Keadaan itu membuat perasaan Tommy semakin sedih tatkala sahabatnya pun, Zayn juga tidak datang. Padahal Zayn berencana datang, cuma ia akan memberinya surprise dengan tidak mengabari Tommy tentang kehadirannya.
Tommy terlihat begitu pasrah ketika acara pertunangannya itu sudah sampai pada moment tukar cincin. Pria itu nyaris bermimik datar ketika menyematkan cincin pada jari manis gadis yang tak kalah cantik di banding dengan Sisil.
Tak jauh berbeda dengan ekspresi tunangan Tommy, gadis itu lebih dingin memandang Tommy yang sudah di ketahuinya di kampus. Ternyata gadis yang dijodohkan dengan Tommy juga satu kampus dengannya. Mereka sama-sama memasang raut tak suka akan acara pertunangan hari ini.
Hingga acara itu memasuki acara bincang-bincang dan santai, pasangan tunangan itu memilih saling menjauh. Tommy menghindar dari keramaian itu, begitu juga dengan tunangannya.
"Ehem! Cewek cakep kayak gitu malah di jauhin." Suara Zayn tiba-tiba terdengar dari balik punggung Tommy yang tengah melamun seorang diri.
Tommy berbalik, pria itu nyaris tak percaya sahabatnya itu benar-benar meluangkan waktunya untuk datang di acara pertunangannya yang sangat membosankan menurut Tommy.
"Cakep apaan? Gak lihat apa perawakannya tomboy gitu, gak ada lembut-lembutnya sama sekali. Cewek kayak gitu yang mau jadi ibu dari anak-anak gue? Beeee....." Cerocos Tommy sambil menengguk soft drink yang di pegangnya.
"Btw, selamat ya dah punya calon bini ternyata." Zayn malah menggoda Tommy yang jelas-jelas tak menyukai dengan perjodohan itu.
"Ehm, Tom. Gue balik dulu ya?" Pamit Zayn setelah kurang lebih sepuluh menitan ia disana.
"Keburu amat, mau kemana sih?"
"Biasalah."
"Yaelaaah.... baru nyadar gue kalo lo bela-belain datang kesini bukan buat gue. Dah kangen ya sama Ara?"
Zayn hanya tersenyum mendengar ucapan Tommy yang benar adanya. "Gue pamit ya? Salam buat bokap lo sama nenek. Salam kenal juga buat calon bini lo."
Tommy malah menimpuk pundak Zayn yang terus-terusan menggodanya.
"Eh, kok lo dah kurusan gitu, Zayn?" Tommy menanyai tentang fisik Zayn yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ya gini deh, nasib nahan rindu itu seperti ini."
"Hmmm, dasar yang udah lebay bin bucin." Tommy mencebikkan bibirnya kepada Zayn yang juga terkekeh menyadari ucapannya yang terdengar begitu lebay.
Tak lama kemudian Zayn benar-benar telah pergi, meninggalkan pesta pertunangan yang di gelar di rumah Tommy. Pergi melangkah untuk menemui kekasihnya di tempat yang telah di janjikan sebelumnya.
Senyum itu terus saja mengembang mengiringi langkahnya menemui sang pujaan hati. Sebelum sampai di tempat tujuan, pria itu mampir ke toko bunga terlebih dahulu untuk membelikan sebuket bunga lily putih, bunga kesukaan Ara.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Paling tidak masih ada sisa waktu selama delapan jam untuk dirinya berdua saja dengan kekasihnya itu. Zayn segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk menemui Ara yang sudah menunggu di taman kota.
Raut bahagia bercampur rindu berat begitu kentara pada Zayn dan Ara. Dua pasang sejoli itu langsung menghambur memeluk erat ketika mereka sudah sama-sama di pertemukan kembali dalam satu ruang dan nafas yang sama.
"Kangen," ucap Ara masih dalam pelukan posesivenya, memeluk erat tubuh Zayn yang sudah menjadi candu pengobat rasa rindunya.
Zayn tak menyahut apa-apa, pria itu terus-terusan menghujani pucuk kepala Ara dengan kecupan hangatnya.
"Hari ini kita mau kemana?" Zayn melerai pelukannya menatap wajah gadisnya yang benar-benar di rinduinya.
"Kemanapun aku ikut." Ara bersuara manja.
"Nanti kalo aku ajak ke rumah aja entar bilangnya bosen."
Ara hanya tersenyum. "Gak pa-pa, kamu pasti lelah kan? Nanti setelah istirahat sebentar, kita lanjut kencan di luar. Aku dah booking cafe loh, Kak."
Zayn mengangguk pasrah tentang kenyataan Ara yang sudah terlanjur membooking cafe demi untuk pertemuan mereka berdua.
Tak menunggu lama, pria itu membonceng kekasihnya menuju rumahnya. Untuk sekedar merebahkan tubuhnya yang benar-benar di rasa tak bisa di ajak kompromi lagi, menyadari kondisi tubuhnya yang sangat ringkih akhir-akhir ini.
*
__ADS_1