
4 TAHUN KEMUDIAN
Pagi yang sangat cerah, udara di desa yang terkenal dengan agro wisata kebun teh itu tentu bertambah sejuk nan asri. Seperti rutinitas setiap harinya, pagi-pagi sekali wanita ayu beranak satu itu harus segera pergi ke rumah makan sederhana milik ibu angkatnya.
Setiap hari wanita itu harus mengayuh sepeda mini dari rumahnya yang terbilang lumayan jauh dengan rumah makan satu-satunya usaha milik ibu Narsih. Meski lelah, namun ia tetap senang melakukannya.
Ditambah lagi kini sudah ada anak yang menjadi tanggung jawabnya. Sebab tahun depan anak lelakinya itu sudah berusia empat tahun, dan tentunya ia harus rajin membantu pekerjaan ibu angkatnya itu agar bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk bisa menyekolahkan anaknya di playgroup yang berada di desa itu.
"Yeeiy... Kita sudah sampai." Ara menurunkan anaknya yang sedari tadi duduk berbonceng dibelakangnya.
Bocah kecil itu langsung berhambur masuk kedalam rumah makan tersebut. Sesaat kemudian ia keluar sambil menenteng mainan mobil-mobilan kesukaannya dengan wajah yang sangat ceria.
"Mainnya jangan jauh-jauh ya, disekitar sini saja," pesan Ara sambil mencium gemas pipi anaknya itu.
"Iya, Bunda," sahut bocah itu, sedang tangan dan matanya tetap fokus dengan mainan kesayangan yang dipegangnya.
Ara memandang sekilas pada anaknya itu sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam rumah makannya menemui ibu Narsih. Kedua tangannya sambil menenteng dua kantong kresek yang berisikan sayur dan juga bahan-bahan yang dibelinya di pasar sebelum ia ke rumah makan tadi.
"Ziyyan dimana, Nak?" sapa Narsih karena hanya melihat Ara masuk seorang diri.
"Langsung main diluar, Bu," sahut Ara sambil langsung meletakkan barang belanjaannya itu dan kemudian memulai membersihkan sayur-sayur yang akan diolahnya hari ini.
Narsih melongo kedepan melihat cucunya yang sangat senang memainkan mainan kesayangannya itu meski bermainnya hanya seorang diri. Lantas ia pun ikut tersenyum bahagia tiap kali melihat senyum Ziyyan terukir indah di wajah polosnya itu.
ZIYYAN. Dia adalah anak yang dilahirkan oleh Ara. Meski pada awalnya Ara sangat keberatan dengan nama tersebut, karena ejaannya hampir mirip dengan nama Zayn. Tapi ia tidak dapat menolak nama pemberian ibu Narsih.
"Ziyyan adalah sosok pelopor pemimpin yang kuat dan juga pekerja keras. Tentunya nanti akan banyak yang menyukainya, Nak," ucap Narsih tiga hari setelah Ara melahirkan saat itu.
Ibu Narsih sangat tahu kalau Ara tidak menyukai nama itu, terlihat jelas dari raut wajahnya yang mulai berkerut.
"Kalau kamu punya pilihan nama yang lain tidak apa-apa, Nak. Dia anak kamu. Kamu berhak memberinya nama yang bagus untuk anak kamu. Tadi itu hanya usulan dari ibu. Kamu boleh setuju, boleh tidak."
Ara menggelengkan kepalanya. Ia tak sampai hati untuk menolak pemberian nama itu dari orang yang sangat baik seperti Narsih.
"Nama yang bagus, Bu. Iya, aku setuju anakku diberi nama Ziyyan."
__ADS_1
Merekapun tersenyum bahagia menyambut kelahiran bayi laki-laki yang sangat tampan. Bahkan tak sedikit orang yang bilang bayi lelaki Ara itu tidak mirip dengan dirinya.
"Paling wajahnya mirip bapaknya ya, Bu."
"Iish, rugi sekali kamu. Sudah capek-capek mengandung, wajahnya gak ada mirip-miripnya sama kamu."
"Pasti bapaknya tampan kayak Ziyyan."
Begitulah macam-macam ucapan dari para tetangga Narsih yang menengok kepulangan Ara dan bayinya saat itu.
Dan ibu Narsih memang pandai menutupi semua masalah yang sebenarnya di alami oleh Ara dari tetangganya itu.
"Aiiish, sudah, sudah. Jangan menggodanya terus. Biar mirip siapapun, dia tetap cucuku." Narsih berusaha membela Ara dari godaan para tetangganya itu.
"Oh iya, Bu. Suaminya memangnya sudah dikabari kalau anaknya sudah lahir? Kapan pulangnya?"
Ara dan Narsih sama-sama saling tatap. Sebenarnya itu adalah ide Narsih yang mengatakan kalau suami Ara sedang merantau keluar pulau. Hanya demi menghindari omongan tak sedap dari tetangganya jika tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dengan Ara.
"Belum. Nanti kalau sudah ada sinyal mau dikabari. Tadi sudah ditelpon, tapi sinyalnya mungkin jelek." Narsih memulai dramanya lagi.
Narsih hanya bisa mengangguk meladeni omongan tetangganya itu.
Hingga beberapa tahun kemudian, sampai bayi Ziyyan telah tumbuh menjadi balita yang cerdas dan aktif, para tetangga yang kepo masih terus menanyai kapan ayah Ziyyan akan pulang. Dan Narsih tetap menjadi garda paling depan, saat pertanyaan itu sudah tak bisa dijawab lagi oleh Ara.
"Nak," sapa Narsih karena sedari tadi hanya melihat Ara yang sedang termenung.
"Hmm, i-iya, Bu," jawabnya gelagapan.
"Mikirin apa sih?" Narsih mengusap punggung Ara penuh kasih.
"Tidak, Bu. Aku tadi cuma mikir harus cari kerja tambahan diluar biar tahun depan Ziyyan bisa sekolah, Bu."
Narsih hanya bisa menghela nafasnya tiap kali mendengar Ara ingin bekerja diluar. Memang jika hanya mengandalkan penghasilan dari rumah makannya itu masih terbilang pas-pasan. Karena memang akhir-akhir ini pemasukan dari rumah makannya itu sangat sepi.
"Tidak usah terburu-buru, Nak, Ibu masih ada tabungan kalau cuma buat menyekolahkan Ziyyan. Pokoknya kamu tetap bersama menemani ibu saja, ibu sudah senang sekali, Nak." Narsih membawa Ara dalam pelukannya, sedang matanya sudah mulai mengembun takut ditinggal pergi oleh Ara yang telah di anggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Ara menyambut pelukan Narsih dengan begitu erat. Sesaat merekapun terbawa dalam tangis bahagia karena merasa sama-sama dipertemukan oleh orang yang baik. Narsih yang sangat merindukan seorang anak tentu sangat bahagia ketika menerima kehadiran Ara dahulu. Sedangkan Ara, apa jadinya ia jika tidak ditolong oleh orang baik seperti Narsih.
"Bunda sama Uti kenapa menangis?" Tiba-tiba saja Ziyyan sudah berdiri diantara mereka yang saling berpelukan.
Uti, Ziyyan biasa memanggil Narsih dengan sebutan itu. Eyang putri adalah panggilan lengkapnya. Hanya karena lidah kecilnya yang tak mau ribet, makanya ia menyingkatnya dengan sebutan Uti.
Ara dan Narsih sama-sama menoleh ke arah bocah tampan berusia tiga tahun itu. Mereka sama-sama mengulas senyum ketika melihat sosok Ziyyan yang memandangnya dengan heran.
"Sini gendong uti ya?" Narsih mengangkat tubuh Ziyyan kemudian menggendongnya.
"Aduuh, cucu uti sudah tambah sehat. Rasanya uti sudah hampir tidak kuat lagi menggendong cucu tampan uti." Sesekali Narsih mencubit gemas pipi Ziyyan yang lantas bocah itu tertawa geli karena ulah Narsih itu.
Ara hanya bisa ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar nyata dari raut wajah Ziyyan. Lantas ia pun kembali menyibukkan diri lagi di dapur itu setelah melihat Ziyyan dibawa keluar oleh Narsih untuk bermain bersama.
*
Sedang keadaan siang ini di Rahardian Group.
Seorang pria berpenampilan modis dengan setelan jas yang membalut indah ditubuh semampainya itu, berjalan melangkah cepat menuju ruang CEO. Karena asistennya itu memberi kabar bahwa dirinya di panggil untuk menemui atasannya itu.
"Silahkan masuk, Pak."
Seorang sekretaris wanita membukakan pintu ruangan CEO itu. Zayn langsung masuk ke ruangan tersebut dan disambut dengan tatapan dingin dari atasannya itu.
"Kau urus proyek ini!" Ucapnya sambil melempar berkas itu ke atas mejanya dengan kasar.
Zayn hanya bisa memungutnya tanpa berani protes, meski perlakuan atasannya itu terlalu sering tak sopan terhadapnya.
"Secepatnya kau urus. Bila perlu besok kau sudah ada di sana." Haris langsung pergi meninggalkan ruangannya disaat Zayn masih belum selesai memeriksa dan membaca berkas yang sudah ada di tangannya itu.
Dan lagi-lagi Zayn tak dapat menolaknya. Atasannya itu sudah terlampau sering menyuruhnya untuk mengurus proyeknya yang ada diluar kota ataupun diluar pulau. Meski pada akhirnya Zayn selalu berhasil menangani proyek yang diberikannya dengan cepat dan aman.
Entahlah. Mungkin karena keberhasilannya itu membuat atasannya semakin semena-mena terhadapnya. Menolak pun tak bisa. Jika menyetujui perintahnya, yang ada hingga detik ini pria itu tidak mempunyai kesempatan waktu untuk mencari keberadaan kekasihnya yang sampai kini masih dicari keberadaannya.
Sama sekali, tak ada sehari pun ia terlepas dari genggaman Rahardian Group.
__ADS_1
*