Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 149


__ADS_3

Zayn melesat masuk begitu saja ke dalam kamar mandi, nyaris tidak menghiraukan apapun sesuatu yang berada di dalam sana. Tubuh yang terasa lelah bercampur keringat yang menempel membuatnya segera ingin mengguyur tubuhnya dengan bersih.


Berbeda dengan yang dirasa Ara. Wanita itu tentu merasa sedikit gelisah, rasa khawatir juga menyertai kalau saja Zayn akan menemukan testpack yang dibuangnya itu. Meski sebenarnya rasa takutnya lebih dominan karena masih belum sempat melihat bagaimana hasilnya.


Ara berjalan mondar mandir bak setrika yang lagi bekerja, berpikir keras mencari alasan yang tepat dan masuk akal andai nanti Zayn tidak sengaja menemukannya. Kalaupun hasilnya negatif itu tak jadi masalah, jika positif? Itulah yang saat ini ia kebingungan mencari jawabannya.


"Berpikir, Ra! Ayo dong otak jangan buntu gini," gumamnya seorang diri.


Sesekali mata Ara melirik ke arah kamar mandi, sesekali pula nafas itu berhembus berat tatkala mendapati Zayn masih belum selesai membersihkan diri. Bahkan kalau bisa ia pun berharap suaminya itu akan lebih lama berada didalam sana, hingga sampai ia menemukan jawaban yang tepat andai setelah ini Zayn mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Bodoh! Kenapa aku nggak lihat dulu sih hasilnya. Kalau begitu kan aku nggak jadi dilema begini," umpatnya penuh sesal.


"Uuuuggh...!!" Tak terasa sebelah kaki Ara turut menghentak, hanya rasa sesal yang kini memenuhi benaknya.


"Bunda kenapa?" Ziyyan yang sedari tadi tak luput memperhatikan Ara, bertanya keheranan.


"E-eh.. Bunda sakit perut. Mules!" Ara berkilah sekenanya.


"Ooh..." Ziyyan langsung percaya begitu saja, sambil kemudian melihat ke arah kamar mandi juga. Turut merasa tak tega melihat bundanya gelisah menunggu ayahnya keluar dari kamar mandi.


Selang beberapa menit kemudian, Zayn pun sudah terlihat keluar dari kamar mandi itu. Yang membuat Ara terhenyak kaget adalah ketika mendapati suaminya itu keluar sambil menenteng keranjang sampah ditangannya.


"Sayang, sampahnya mau dibawa kemana?" Tanyanya seketika.


"Mau aku buang," sahut Zayn, sambil terus melangkah menuju pintu keluar kamar.


"Sepertinya dia nggak tahu," gumam hati Ara. Kebetulan memang jenis keranjang sampah itu lengkap dengan tutup sampahnya.


Netra Ara terus menyorot pergerakan Zayn yang terhenti diambang pintu, begitu berpapasan dengan Inah yang rupanya memang ingin menemui mereka, pasti untuk mengajaknya makan malam bersama.


"Biar bibi saja yang buang, mas Zayn." Inah langsung meraih keranjang sampah itu dari tangan Zayn.

__ADS_1


Memang semenjak Ara menikah, Inah tak pernah lagi pergi membereskan kamar anak majikannya itu. Selain rasa sungkan karena adanya Zayn sebagai suami Ara, tentu juga Inah merasa takut segala hal privasi Ara dan Zayn akan terganggu. Sebab penghuni kamar itu bukan lagi seorang diri.


"Neng Ara sama mas Zayn sudah ditunggu tuan sama nyonya di bawah," ujar Inah, sebelum akhirnya ia pergi dari sana.


"Baik, Bi, sebentar lagi kita turun," sahut Zayn ramah.


Pria itu membalik badan menghadap istrinya yang sekilas terlihat gusar dari pandangannya.


"Sayang," sapa Zayn sambil melangkah mendekat kepada Ara dan Ziyyan yang terlihat enjoy duduk di atas ranjang.


"Iya, Mas." Sebisa mungkin Ara memasang senyum manisnya, meski terasa kentara pada Zayn kalau istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya, lagi-lagi sambil mengecek suhu tubuh istrinya.


"Aku baik-baik saja, Mas sayang." Ara meraih tangan Zayn, menggenggamnya begitu erat. Tentu dengan senyum lebarnya yang menyungging indah.


Zayn tak menyahut, pikirannya tentu merasa sedikit terganggu dengan goretan wajah Ara yang tak seperti biasanya.


"Ya sudah, aku lega kalau kamu baik-baik saja. Ayo, setelah ini kita turun. Sudah ditunggu mami papi, nggak enak kalau kelamaan nunggu kita."


Aktifitas di meja makan bagi sebagian orang kadangkala menjadi tempat obrolan hangat dan ajang saling sharing sesama keluarga. Tapi itu berbeda dengan keluarga Haris, kepala keluarga itu sangat tidak suka dalam waktunya makan ada obrolan, meskipun itu hanya sekedar obrolan ringan. Jika memang ada sesuatu hal yang harus dibicarakan, Haris lebih berkenan agar keluarganya itu saling mengobrol di ruang keluarga.


"Mami, Papi, Ara balik kamar dulu ya," pamit Ara, ketika mereka sudah selesai dengan kegiatan makan bersama.


"Kita bincang-bincang dulu sebentar. Memangnya sudah mengantuk?" Haris berusaha mencegahnya.


"Papi kayak nggak pernah jadi pengantin baru saja." Viona langsung menggodanya.


"Ah, tidak mengantuk kok. Apa-apaan sih papi mami nih.."


"Kita mau menemani Ziyyan main di kamarnya, Mi. Sudah terlanjur janji mau menemaninya main ular tangga," kali ini Zayn ikut menyahut.

__ADS_1


"Oh, begitu." Viona manggut-manggut sendiri.


"Zayn, papi mau bicara sebentar. Minta waktu sepuluh menit boleh kan, Ra?"


"Boleh lah. Mau ngobrol sampai pagi pun nggak pa-pa," sahut Ara sekenanya.


"Mm.. merajuk dia, Zayn," Lagi-lagi Haris tak letih untuk menggoda anaknya itu.


"Apaan sih, Papi! Yuk, Sayang, kita main di atas."


Ara pun kemudian menarik tangan Ziyyan, menggandengnya menuju kamar untuk melanjutkan permainan ular tangga yang sangat digemari oleh Ziyyan.


Sedangkan Zayn dan Haris terlibat obrolan serius seputar pekerjaannya di kantor. Tentu setelah mengemban tugas menjadi orang kesatu di perusahaannya itu, Zayn lebih banyak saling sharing dengan Haris, demi berkembangnya perusahaan yang ia kelola.


Tak terasa obrolan itu pun melampaui waktu. Hingga pada denting jam yang menunjukkan angka sepuluh, barulah menantu dan mertua itu mengakhiri obrolannya.


"Duh, saking serunya ngobrol sampai jam sepuluh. Maaf ya, Zayn," seru Haris. Senyumnya selalu merekah sebab merasa tak salah lagi memiliki menantu yang bisa diandalkan di perusahaannya itu.


"Tidak apa-apa, Pi." Zayn menyahut ramah.


"Kira-kira ini nanti Ara marah nggak, kamu kelamaan ngobrol sama papi?"


Tentu Zayn sedikit kikuk harus menjawab apa pertanyaan dari mertuanya itu.


Sesaat Haris menepuk pundak Zayn, lalu kemudian melenggang pergi lengkap dengan senyumannya yang merekah.


Zayn melirik jam dipergelangan tangannya, sudah lebih lima menit dari jam sepuluh malam. Pasti Ziyyan sudah tidur.


"Mas Zayn," Tiba tiba Inah menyapanya, tepat disaat pria itu sudah mau menaiki undakan tangga menuju kamarnya.


"Iya, Bi. Ada apa?" tanyanya, setelah melihat kegelisahan dari raut Inah.

__ADS_1


"Mm, anu, Mas."


*


__ADS_2