
Ini masih hari minggu. Seharusnya ini menjadi hari bersantai bagi seorang pekerja karyawan dari kesibukannya di kantor. Akan tetapi siang ini Zayn harus datang berkunjung ke sebuah restoran yang telah disebut oleh Wisnu, asisten pribadi dari CEO Rahardian Group.
Pria itu melangkah di temani oleh seorang pegawai restoran tersebut menuju ruang VVIP dari restoran ternama di pusat ibu kota. Setelah sampai di depan pintu ruang yang dituju, Zayn langsung masuk ke ruangan yang terbilang privacy itu.
Wisnu langsung mengarahkannya untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan seorang lelaki paruh baya namun terlihat sangat karismatik, yang menatapnya dingin dan tajam.
Tanpa banyak bicara Wisnu langsung menyodorkan sebuah map ke hadapan Zayn. Tak luput Wisnu juga memberinya bulpoint di atas map tersebut.
"Ada apa ini?" Zayn hanya bertanya-tanya dalam hati. Meski rasa curiga sudah memenuhi benaknya, pria itu membuka map yang diberikan oleh Wisnu padanya.
"Silahkan tandatangani." Wisnu berkata singkat.
"Apa ini? Surat pernyataan jabatan sebagai Chief Operations Officer ( COO ) yang akan diembankan kepadaku? Ini tidak mimpi kan?" Hal ini tentu hanya suara hati Zayn yang tak berani ia ungkapkan.
Zayn masih tak percaya dengan apa yang telah tertulis di surat pernyataan itu. Dirinya yang masih tergolong sangat baru bergabung dengan Rahardian Group, sekarang malah di angkat jabatannya sebagai orang kedua yang berpengaruh di Rahardian Group.
COO adalah posisi paling tepat di bawah CEO atau yang turut mengambil andil tugas tertentu dan melaporkannya langsung kepada CEO. Intinya COO adalah merupakan sebuah posisi yang membantu CEO dalam pengambilan keputusan didalam suatu perusahaan besar seperti Rahardian Group.
"Kenapa harus saya yang menjabat ini?" Zayn akhirnya berani bertanya. Ia menatap kepada Wisnu yang mana kemudian Wisnu beralih menatap kepada lelaki yang hanya terdiam memandang Zayn yang berwajah sangat bingung.
"Saya sudah menunjuk kamu. Saya paling tidak suka ada karyawan saya yang membantah keputusan saya." Lelaki yang sedari tadi hanya terdiam itu akhirnya bersuara dengan arti yang penuh penekanan dan sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Ini namanya pemaksaan! Bagaimana kalau seandainya aku tidak bisa menghasilkan yang terbaik?" Protes Zayn dalam hati. Zayn dan lelaki itu saling pandang cukup lama.
"Dia CEO kita, Zayn. Bapak Haris Rahardian." Wisnu memperjelas identitas lelaki yang duduk berhadapan dengan Zayn itu.
Seketika pandangan Zayn berubah pias. Tentu ia sangat segan dan juga takut untuk membantah terhadap keputusan yang telah di putuskan langsung oleh pemilik perusahaan tempat ia mengais rizki saat ini.
__ADS_1
Siapa juga yang tidak tergiur dengan jabatan itu. Zayn yakin tentu banyak orang dari karyawan lamanya yang menginginkan jabatan itu. Hanya saja Zayn sendiri masih merasa kurang percaya diri dengan jabatan tersebut.
Dengan perasaan yang masih penuh tanda tanya, akhirnya Zayn menandatangani keputusan bermaterai itu. Dirinya tak mau mengambil resiko akan di pecat dari perusahaan tempatnya bekerja jika ia berani membantah keputusan sang pemilik perusahaan tersebut.
Haris tersenyum devil menatap Zayn yang langsung menurut dengan sekali gertakannya. Tanpa banyak bicara Haris langsung keluar dari ruangan tersebut begitu tujuannya tercapai. Di ikuti oleh Wisnu yang sebelumnya menyodorkan sebuah credit card kepada Zayn.
"Terimalah. Besok datanglah ke kantor dengan penampilan yang selayaknya." Ucap Wisnu yang kemudian langsung hengkang menyusul Haris dibelakangnya.
"Apa lagi ini?" Zayn hanya menatap credit card yang teronggoh di meja tersebut tanpa berani menyentuhnya.
"Ini mukjizat apa cobaan?" Zayn memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
Dirinya yang memang butuh biaya yang sangat banyak untuk pengobatan ayahnya itu, merasa hal ini adalah rezeki yang amat besar. Mengingat upah kerja yang akan ia terima jauh lebih besar dibanding hanya karyawan biasa.
Akan tetapi hal ini juga sangat mengganjal di hatinya. Seorang CEO menunjuknya langsung untuk mempercayainya sebagai kaki tangannya dalam mengambil keputusan yang akan berpengaruh fatal jika ia salah dalam mengambil keputusan.
Zayn mengambil credit card itu. Lagi-lagi pikirannya kembali bertanya-tanya atas dasar apa gerangan Wisnu memberi kartu tersebut. Ia tahu jika Wisnu menyuruhnya untuk membeli beberapa pakaian layak yang di pakai oleh seorang COO. Cuma bukankah ini sangat berlebihan menurutnya?
Yang pasti ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan yang harus ia jalani besok dan seterusnya.
Zayn menghela nafas beratnya. Kemudian ia pun memilih keluar dari ruangan itu. Tujuan utamanya sekarang hanya satu. Yaitu kembali ke rumah Tommy. Karena ada banyak hal lain lagi yang ingin ia bincangkan dengan sahabatnya itu.
*
Sedang di tempat yang lain....
Haris dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia menaiki mobilnya yang di kemudikan oleh Rudi. Sedangkan Wisnu turut serta duduk di samping sopir itu.
__ADS_1
"Wisnu, kamu buat pengumuman lowongan menjadi sekretaris buat Zayn. Kalau perlu beri dia wanita penggoda. Aku ingin tahu seberapa kuat dia menghadapi wanita penggoda di depannya." Haris mencengkram kuat lewat kepalan tangannya.
"Kali ini anak itu tak akan lolos lagi!" Haris bergumam lirih yang membuat Wisnu seketika menoleh ke arahnya duduk.
"Bapak baik-baik saja?" Wisnu menanyainya cemas ketika tak sengaja melihat Haris memegang dada kirinya. Sedangkan wajah Haris sendiri juga terlihat pucat.
"Tidak kenapa-napa." Sahutnya singkat. Padahal yang dirasa saat ini dada kirinya terasa amat nyeri, hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bernafas.
Rudi menyadari jika majikannya itu kemungkinan sedang kambuh penyakitnya. Makanya ia menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai ke rumah. Karena ia sangat tahu Haris tak pernah membawa obatnya kemana-mana.
Setelah kepergian Ara saat itu, Haris sudah memiliki penyakit lemah jantung. Hal itu di picu karena terlalu stress dengan apa yang menimpa anak semata wayangnya itu.
Dan kini dirinya sudah di pertemukan dengan siapa kekasih anaknya itu. Makanya ia berniat memberinya pelajaran lewat menerimanya bergabung dengan Rahardian Group.
Apalagi sekarang dengan jabatan baru yang diemban oleh Zayn, Haris bisa leluasa menyiksa pria itu dengan tekanan luar biasa yang akan diberikannya lewat beberapa tugas berat darinya.
Dari sinilah ia dapat menilainya nanti. Apakah Zayn bisa menjalankan semua perintahnya, atau malah menghancurkan perusahaan miliknya.
Yang pasti Haris sudah memegang beberapa point penting jika saja nanti Zayn menyangkal lagi dengan keinginannya. Ia pastikan, Zayn tak akan bisa terlepas lagi dari jerat yang sudah ia ikat di diri Zayn.
*
Jangan lupa like dan komentar dukungannya yaa....
Semoga kalian masih setia dengan Love Of Aurora ๐
See you next part๐ค
__ADS_1