
"Kita sepakat? Deal!"
Zayn dan Cinta saling berjabat tangan pertanda kakak beradik itu saling menyepakati rencana yang telah mereka setujui. Selama perjalanan menuju Yokyakarta Zayn telah menceritakan terlebih dahulu keinginannya agar Cinta mau menjadi alat jika sewaktu-waktu dibutuhkan sebagai pemancing rasa cemburu Ara.
Sedangkan Cinta sendiri menyetujuinya karena Zayn berjanji akan membantu membujuk kedua orangtuanya agar mengijinkannya kuliah ditempat yang sama dengan Zayn kuliah dahulu.
Bukan tanpa alasan mengapa gadis itu begitu memaksa dan sangat menginginkan kuliah di sana, itu semua dikarenakan ia ingin menepati janjinya sendiri. Bertemu atau lebih tepatnya menemukan kembali cinta pertamanya yang tertinggal.
"Hei, Keanu! Aku bukan bocah! Tunggu saja lima tahun lagi. Aku akan mencarimu di sini!"
Ucapannya yang terlontar empat tahun silam itu terus saja diingat Cinta. Karena di saat itulah pertama kalinya ia bertemu dengan pria yang sampai sekarang dianggapnya sebagai pemilik cinta pertamanya. Padahal saat itu dirinya masih berusia empat belas tahun dan biasanya seusia itu hanya sekedar merasakan cinta monyet saja.
Entah mengapa sejak pertemuan tak sengaja itu Cinta masih saja mengingatnya. Rasa yang awalnya hanya dianggap sebagai rasa yang muncul karena faktor puberitas, ternyata tidak dengan yang dirasa Cinta. Gadis itu masih selalu terngiang akan wajah tampan pria yang layaknya artis K-pop saat itu, dan mungkin saja saat ini pria itu sudah berubah penampilannya atau bisa jadi semakin mempesona.
"Keanu, tunggu aku datang sayang." Lirihnya sambil menyebut nama pria yang tak mungkin ia lupa selamanya.
*Cerita awal Cinta bertemu dengan Keanu sudah ada di part 42 ya readers...
Oke lanjut...😉
Gadis itu kembali melamunkan pesona pria itu, binar matanya seakan begitu senang membayangkan tak lama lagi ia akan bertemu kembali dengannya. Akan tetapi tiba-tiba saja ia kembali diingatkan oleh peristiwa semalam yang menimpanya. Ia pun refleks mengapit lengan Zayn begitu erat dan seketika menyembunyikan wajahnya di ketiak kakaknya itu.
"Kenapa kau?" Zayn merasa heran dengan sikap Cinta yang demikian.
Cinta tetap memilih menyembunyikan wajahnya. Gadis itu tak berani mendongak, karena bisa saja kini pipinya sudah bersemu merah karena merasa malu akan kejadian semalam.
"Hei..." Zayn mengacak-acak kepala Cinta hingga membuat rambut gadis itu sedikit berantakan.
"Iiiih.... Abang!" Akhirnya Cinta pun keluar dari persembunyiannya. Sudah kebiasaan Cinta jika ia merasa sedang takut atau malu maka ia akan menyembunyikan wajahnya di ketiak kakaknya, atau pada orang yang sudah dipercayainya.
"Wajahmu kenapa?" Kekeh Zayn saat melihat pipi Cinta yang bersemu merah.
"Abang Zayn bau!" Ucap sekenanya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Suruh sapa cium ketiak?" Lantas mereka pun sama -sama tertawa riang.
Satu jam lagi mereka sudah akan tiba di rumah. Mereka memang sengaja pulang bersama menaiki mobil milik Zayn. Karena selain mereka bisa saling bercengkrama dengan lama, pria itu juga telah berniat akan membawa kedua orangtuanya ke Jakarta sepulangnya ia menyelesaikan proyeknya itu.
__ADS_1
"Abang," sapa Cinta sambil menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya.
"Hmm, ada apa?" Sebelah tangan Zayn mengusap lembut pucuk kepala adiknya yang begitu manja.
"Kenapa semalam Abang nggak cerita kalau Abang sudah bertemu anak Abang?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku kan pingin kenal juga Bang. Aku juga penasaran anak Abang tuh seperti siapa wajahnya?"
"Nanti pasti tau juga," jawab Zayn santai.
"Atau apa karena Abang masih belum baikan sama mantan Abang itu, trus dia ngelarang Abang bertemu sama anak abang, gitu? Makanya semalam Abang nggak kenalkan aku sama ponakanku." Cerocosnya penuh curiga.
"Bukan begitu, Cinta."
Belum sempat Zayn menjelaskan alasan kenapa ia tidak mengenalkan Cinta dengan Ziyyan, tiba-tiba saja ponsel Zayn berbunyi. Menandakan panggilan via video call dari Ara tertera dilayar ponselnya.
Tanpa berpikir lama Zayn langsung menggeser tanda hijau di ponselnya, seketika terlihat wajah Ziyyan di sana.
"Hallo Ayaaaah," Bocah itu melambaikan tangannya kepada Zayn sambil tersenyum begitu lebar.
"Hei, kamu sendirian saja?" Tanya Zayn karena hanya melihat anaknya seorang diri. Padahal sebenarnya ia juga ingin menanyai dimana Ara, hanya semua itu tertahan begitu ia teringat akan rencananya itu.
Bocah itu hanya mengangguk. Padahal kenyataannya didekatnya juga ada Ara yang menguping pembicaraan antara ayah dan anak itu.
Sudah dari semalam Ziyyan merengek kepada Ara agar ia mau menelpon Zayn, akan tetapi selalu ia alihkan dengan merayunya pada hal lain. Tetapi setelah siang ini anaknya itu menangis sambil mengamuk hingga tak bisa dirayu lagi, membuat ibu muda itu kewalahan dan mau tak mau akhirnya ia menghubungi Zayn juga.
"Kamu habis nangis?" Tanyanya lagi setelah memperhatikan mata Ziyyan yang sembab.
Bocah itu mengangguk lagi.
"Kenapa menangis, Nak? Ayah tidak suka ya lihat Ziyyan menangis atau ngambek nggak jelas. Kasihan uti, kasihan juga sama kakek nenek. Mereka pasti sedih lihat Ziyyan menangis. Ayo sekarang cerita sama ayah kenapa Ziyyan menangis?" Pesannya pada Ziyyan dan sengaja tidak menyebut kata bunda di obrolannya itu.
Sebisa mungkin Zayn tak akan menyebut bahkan menanyakan bagaimana Ara, selama wanita itu tak mau menerimanya kembali. Meski harus demikian, sungguh tak akan berpengaruh pada rasa cinta Zayn yang terlampau kuat kepada Ara.
"Iyyan kangen Ayah," sahutnya kemudian dengan raut wajah yang memelas.
__ADS_1
"Hai tampan." Tiba-tiba saja Cinta ikut menyapa Ziyyan.
Bocah itu hanya tercengang begitu melihat ada perempuan lain yang bergelayut manja dilengan Zayn. Sorot matanya terlihat kebingungan, ingin bertanya cuma ia tak paham harus berkata apa.
"Anak tampan namanya siapa?" Cinta kembali menyapanya.
Seketika Ziyyan berwajah cemberut, lalu ia pun menggeletakkan ponselnya begitu saja lantas memilih keluar dari kamarnya.
Ara yang memang sedari tadi juga berada di sana, tentu merasa heran dengan tingkah anaknya itu. Ia juga mendengar jika ada suara perempuan yang menyapanya, akan tetapi ia tak habis pikir dengan anaknya yang pergi dengan wajah kusutnya.
Wanita itu akhirnya mengambil ponselnya yang ditinggalkan begitu saja oleh Ziyyan dalam keadaan masih on. Ia pun dengan terpaksa turut melihat wajah perempuan muda yang sedang bergelayut di lengan Zayn sambil menyandarkan kepalanya begitu romantis.
Bahkan bukan itu juga, dengan sengaja Zayn mencium kening perempuan itu begitu lama, begitu mengetahui Ara tak segera mematikan ponselnya.
"Apa-apaan sih!!" Umpatnya kesal sambil membanting ponselnya di ranjang tanpa mematikannya terlebih dahulu.
Siapa perempuan itu? Kenapa mereka terlihat sangat romantis? Apa dia pacarnya?
Berbagai pertanyaan seketika menggoda pikiran Ara. Entah mengapa hatinya terasa sedikit sesak setelah menyaksikan adegan itu. Apalagi setelah tadi ia mendengar sendiri pria itu tak menyebut bahkan menanyainya lagi.
Kenapa rasanya ingin menangis saja?
Tanpa terasa tiba-tiba Ara meneteskan air matanya lagi. Dan sungguh, Ara tidak suka dengan rasa yang mengganggu hatinya ini lagi.
Sedangkan keadaan di seberang sana....
"Yes! Kita berhasil Bang."
Cinta begitu bersemangat begitu mengetahui ada aura cemburu yang dipancarkan dari wajah mantan kekasih kakaknya itu. Padahal sebelumnya mereka tidak berniat untuk melaksanakan misinya saat ini.
Sedangkan Zayn, pria itu hanya bisa mengulaskan senyum puasnya. Sebab ia juga merasakan sorot berbeda dari Ara tadi.
"Lain kali jika mendesak abang akan menghubungi kamu lagi. Jangan heran kalau nanti gaya bicara abang berbeda ya," serunya sambil mencium kembali kening adiknya itu.
"Siap Abangku!"
*
__ADS_1