Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 138


__ADS_3

Kegiatan mandi yang seharusnya paling lama ditempuh kurang dari setengah jam, durasi itu bertambah ketika dua sejoli itu kembali mengulang kegiatan penyatuan raga di sana. Pria itu seperti tak peduli akan penolakan istrinya, sebab ia menilai penolakan itu hanya dari mulutnya saja, tidak dengan bahasa tubuhnya yang tak bisa berbohong bahwa dirinya tak bisa menghindar dan menghentikan tiap sentuhan lembut darinya.


Kini mereka berdua pun sudah keluar dari kamar mandi yang baru saja berubah tempat menjadi ruang panas. Ara duduk didepan cermin rias sambil ditemani Zayn yang berdiri dibelakangnya, membantu wanitanya mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Wajah wanita itu terlihat murung dengan mulut yang mengerucut. Apalagi jika bukan karena ulah suaminya itu. Meski tak menampik jika dirinya juga menikmati permainannya itu, akan tetapi ia tidak menyangka saja jika suaminya itu termasuk jenis makhluk yang selalu tidak puas, padahal baru semalam saja benda keramatnya itu sudah berhasil bercocok tanam sebanyak empat kali.


"Sayang," sapa Zayn sambil meletakkan hair dryer itu di meja rias.


Ara tak menyahut apa-apa. Tak peduli ia akan dianggap sedang ngambek atau apa pun. Ia hanya ingin segera tidur dengan nyenyak tanpa diganggu. Itu saja.


Zayn mendekatkan wajahnya, pipi mereka saling menempel. Lalu sekilas pria itu mencuri kecupan di pipi Ara.


"Aku capek, Mas." Wanita itu menggerakkan pundaknya dan seketika beranjak mendekat ke kasur.


Zayn menatapnya penuh rasa entah. Dilihatnya wanita itu merapikan sprei dan juga selimut di ranjang itu, sebelum akhirnya istrinya itu merebahkan tubuhnya di sana.


Sekelumit rasa sesal perlahan menghinggapinya. Andai ia tidak seganas itu tadi, mungkin kini Ara tidak sedang mode seperti ini. Pria itu mendesah pasrah. Ia pun turut melangkah mendekat, dan ikut membaringkan diri disamping istrinya yang berbaring memunggunginya.


"Maaf," ucapnya lembut, juga penuh rasa sesal. Jujur, ia mulai takut istrinya itu akan merasa jera dan tak mau diajak begituan lagi dalam beberapa waktu ke depan.


"Maafin aku." Lagi-lagi pria itu berucap pasrah. Sedang tangannya mulai melingkar erat di pinggang istrinya. Memeluknya dengan penuh kehangatan.


"Sayang," Zayn mengguncang pelan bahu Ara, kepalanya ikut melongo, menatap wajah istrinya yang rupanya sudah terpejam.


"Tidur lah, Mas. Apa kamu tidak capek?" Akhirnya Ara membalas ucapannya, namun dengan mata yang masih terpejam.


Mendengar istrinya yang membalas ucapannya, membuat senyum kecil itu kembali melengkung dari sudut bibir Zayn. Perlahan pria itu pun turut memejamkan matanya, mengistirahatkan diri yang sebenarnya juga merasa lelah bercampur nikmat.


Hingga keesokan harinya, Zayn sengaja bangun lebih pagi sebelum Ara terjaga. Tentu pria itu ingin menyiapkan segala keperluan di pagi harinya, seperti menyiapkan sarapan dan juga membereskan rumah. Sebelum istrinya itu benar benar terbangun tatanan seluruh isi apartemen itu sudah terlihat rapih. Sarapan pagi sudah tersedia dimeja makan, juga air hangat untuk istrinya pun juga sudah siap.


"Selamat pagi istriku," sapa Zayn sambil membuka sedikit kain gorden sehingga memantulkan cahaya terang dari balik celahnya.


Ara hanya menggeliat. Matanya masih tertutup rapat, dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.


Zayn mendekat. Pria itu duduk ditepi ranjangnya sambil mencermati istrinya yang masih enggan untuk bangun di pagi yang sudah beranjak siang. Perlahan tangannya terulur untuk merapihkan rambut istrinya dari keningnya, lalu kemudian memberinya kecupan hangat di kening mulusnya.


"Air hangatnya sudah aku siapkan. Sarapannya juga sudah siap. Ayo bangun." bisik Zayn, sambil tangannya mulai nakal lagi. Menyentuh dan juga mengusap lembut bibir ranum yang sudah menjadi candunya.


Ehhhhmmmmmm......


Lagi lagi wanita itu hanya menggeliat. Matanya sangat sulit untuk dibuka, tetapi sebenarnya ia mendengar apa yang dikatakan Zayn padanya. Tubuh yang terasa remuk itu yang membuat Ara seakan malas untuk terjaga.

__ADS_1


"Hmm, Ya sudah lah."


Bukannya pergi, pria itu malah ikut berbaring disebelah Ara dengan posisinya yang memeluk posesive.


"Mau apa, Mas?" Ara pun terpaksa bersuara, tetapi matanya masih saja terpejam.


"Mau makan kamu saja." Pria itu menyahut enteng.


"Jangan mulai deh," sahut Ara, dengan sedikit menggeser jaraknya.


"Sudah siang. Ayo bangun." Zayn menyila selimut yang menutupi tubuh Ara.


"Mager!" sahutnya lemas.


"Sini aku gendong. Aku bantu ke kamar mandinya." Zayn berucap dengan posisinya yang sudah siap membopong tubuh istrinya.


"Eh, tidak!" Seketika mata Ara terbuka lebar. Tentu ia langsung tak enak begitu mendengar kata akan membantunya ke kamar mandi. Kejadian semalam yang panas itu membuatnya terbayang bayang lagi.


Zayn tersenyum begitu sumringah. Ia bisa melihat jika istrinya itu tak berkenan dibantu, makanya ia membiarkan saja begitu wanita itu sudah melangkah masuk kedalam kamar mandinya.


Setelah selesai dengan kegiatannya dikamar mandi, Ara segera merias dirinya. Tiba disaat ia menyadari jika dirinya tidak membawa baju ganti, ia pun mulai kebingungan sendiri.


"Mau pake kemeja aku?" Tawar Zayn.


"Nanti dari sini kita mampir ke Mall. Beli pakaian kamu, sekalian beli oleh-oleh buat Ziyyan." Zayn memberikan kemejanya kepada Ara, kemudian wanita itu langsung menerimanya setelah merasa setuju dengan usulan Zayn.


Tak lama setelah itu mereka pun menuju meja makan untuk sarapan pagi yang sebenarnya sudah lewat dari jamnya. Mereka sarapan dengan begitu lahap diselingi percakapan yang menyampaikan bahwa Zayn akan kembali ke proyeknya sore nanti.


"Kamu ikut ya?" Ajak Zayn. Pria itu tentu sangat ingin membawa Ara juga ke tempat dimana ia bertugas sekarang. Sebagai suami yang ingin menunaikan kewajibannya, menanggung segala nafkahnya, juga yang pasti tak ingin berpisah jauh darinya dan juga Ziyyan.


"Kita bawa Ziyyan juga. Kita jalani rumah tangga ini dengan yang sebenarnya. Kamu dan Ziyyan sudah menjadi tanggung jawabku," seru Zayn, membuat Ara berpikir sejenak.


"Baiklah," jawabnya kemudian. Setelah merasa apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar adanya.


"Terimakasih, Sayang," ujarnya sambil mengusap lembut punggung tangan Ara.


"Mas sayang," sapa Ara membuat Zayn seketika tergelak saat mendengar sebutan dari istrinya itu.


"Iiiih.... kok malah ketawa sih? Nggak suka sama panggilan sayangku?"


"Oke... oke..." Pria itu berusaha menahan tawanya. "Ada apa?" Tanyanya setelah bisa mengontrol tawanya.

__ADS_1


"Mas sayang harus janji sama aku."


"Janji? Janji apa?"


"Setelah aku ikut kamu kesana, itunya cuma seminggu sekali." Pada Kalimat terakhirnya itu, Ara sengaja memelankan suaranya karena masih malu.


Pria itu berkerut kening. Tentu ia paham betul apa yang dimaksud istrinya itu. Akan tetapi ia tak ingin memprotesnya. Lihat saja nanti, siapa yang tidak bisa menahan jika sentuhan nakalnya itu kembali membuai.


"Mas kok diem?" Rupanya Ara menunggu jawaban dari Zayn.


Bukan karena ia tak mau melayani suaminya dengan memberinya jatah hanya seminggu sekali. Akan tetapi kali ini tubuhnya itu benar benar terasa remuk dan mungkin membutuhkan waktu istirahat sejenak agar bisa kembali fit.


Drrrrt..... Drrrrrt......


"Telpon dari rumah." Pria itu lekas menjawab panggilan masuk di ponselnya, merasa beruntung tidak perlu menjawab atau menyepakati janji yang dipinta oleh istrinya.


"Hallo kesayangan ayah," sapanya begitu mengetahui yang menghubunginya adalah Ziyyan.


"Ayaaaah...." Bocah itu turut menyapa, lengkap dengan senyumnya yang khas.


"Ziyyan, anak bunda yang ganteng." Ara pun ikut menyapa.


Bocah itu hanya tersenyum lebar, sambil melambai lambaikan tangannya.


"Bunda sakit lagi?" Tanya seketika. Membuat Ara dan juga Zayn saling bertatapan, tanda tak mengerti maksud pertanyaannya.


"Bunda alergi lagi?"


Seketika sorot mata Ara membulat. Ia pun mulai paham dengan maksud dari Ziyyan.


"Ini semua gara gara ayah kamu," sergahnya sambil langsung menutupi lehernya yang hampir penuh dengan tanda kissmark. Dan kemudian wanita itu pun kembali masuk ke dalam kamar, guna memoles lehernya dengan bedak foundation, barangkali bisa membantu menyamarkan tanda merah itu.


Zayn yang melihatnya hanya terkekeh. Mungkin lain kali ia harus menghindari daerah kesukaannya itu agar tidak membuat Ziyyan menyangka bundanya sedang sakit alergi.


Tapi, tunggu dulu....


Jangan-jangan setelah ini Ziyyan tidak mau diajak ikut serta, karena menganggap bundanya memiliki penyakit yang menular seperti yang pernah dikatakannya beberapa saat yang lalu.


Aaah.... Entahlah. Antara harus senang atau sedih rasanya Zayn sudah tidak bisa membayangkan lagi. Tak munafik jika Zayn menginginkan waktu hanya berdua saja dengan istrinya dalam waktu yang tidak terukur. Akan tetapi ia tentu merasa sedih jika harus meninggalkan anaknya itu hanya demi kepuasannya semata.


"Ziyyan, setelah ini ayah bunda pulang. Tunggu kita ya?"

__ADS_1


"Baik, Ayah."


*


__ADS_2