
"Mereka sudah datang, Buk," seru Malik, ayah dari Zayn dan Cinta, saat melihat sebuah mobil milik putra sulungnya sudah masuk kedalam pelataran rumahnya.
Sudah tiga puluh menit lamanya Malik menunggu kedatangan kedua buah hatinya itu, yang sengaja mereka memberi kabar kepadanya hanya berselang satu jam yang lalu.
Tak lama setelah itu terlihat Rahayu, ibu Zayn dan Cinta, keluar dari dalam rumahnya dan berdiri disebelah suaminya untuk menyambut kedua buah hatinya yang sudah melangkah turun mendekatinya.
"Assalamu'alaikum Ayah, Ibu," ucap Zayn kepada kedua orangtuanya lalu kemudian mencium punggung tangan mereka sangat takdzim disusul kemudian oleh Cinta yang bersalaman juga.
"Masuklah," ajak Malik kepada mereka.
"Mmm... Dari aromanya sepertinya ibu lagi masak enak-enak ya, Bu?" Seru Cinta begitu mencium aroma masakan sedap menyeruak diruang keluarga rumah sederhana itu.
Dan Rahayu hanya menanggapi raut kegirangan Cinta dengan senyum hangatnya.
"Waah... Ibu masak banyak sekali!" Gadis itu langsung menarik kursi di meja makan itu dan langsung mendudukinya.
"Padahal kata abang dia nggak bermalam loh," ujarnya sambil mengambil sedikit masakan gudeg buatan ibunya.
"Benarkah, Zayn?" Rahayu langsung menoleh kepada Zayn yang berdiri beriringan dengannya.
"Iya, Bu. Maaf aku nggak bisa bermalam di sini karena harus segera sampai di proyek," jelasnya sambil merangkul pundak ibunya begitu kasih.
"Semenjak kerja mana ada kamu bermalam di sini semalam saja. Jadi aku sudah tidak heran kalau lihat kamu kesini pasti cuma mampir." Malik yang terlihat sudah duduk dikursi makan itu ikut bersuara.
Zayn dan Rahayu pun turut duduk juga di kursi makan itu, awalnya tatapan mereka sama sama tertuju kepada Cinta yang rupanya sudah mulai sarapan duluan akibat kelaparan setelah menempuh perjalanan jauh.
"Cinta, kamu tidak cuci tangan dulu?" Tegur Rahayu melihat Cinta yang makan layaknya gadis tiada anggunnya sama sekali.
"Nanggung dah, Bu. Ini sudah mau habis," ujarnya sambil terus memasukkan makanannya ke mulut.
Rahayu pun akhirnya hanya bisa mendengus pasrah melihat anak gadisnya yang masih belum bisa berperingai seperti gadis anggun lainnya.
"Kenapa tidak bermalam semalam ini saja, Nak? Ibu kangen, pingin dengar cerita banyak dari kamu." Wajah Rahayu terlihat sendu menatap putra tersayangnya.
Zayn hanya mengulas senyum kecilnya. "Setelah proyekku itu selesai aku langsung pulang kesini. Aku ingin mengajak Ayah sama Ibu ke Jakarta," ujarnya kemudian.
"Buat apa? Kami tidak butuh liburan. Kami hanya ingin melihat kamu menginap disini meski dua hari saja. Itu sudah cukup." Protes Rahayu.
Ia berkata demikian karena memang setelah Zayn memutuskan kuliah di ibu kota hingga sampai sekarang aktifitas pria itu selalu sibuk. Dari yang awalnya sibuk karena kuliah, setelah lulus pun dilanjutkan lagi sibuk karena bekerja.
"Kira-kira berapa lama lagi proyekmu itu selesai, Zayn?" Ayah Zayn bertanya.
"Do'akan saja biar lekas selesai dan tidak menemukan hambatan apapun," jawabnya yang kemudian diangguki kepala oleh Malik.
"Sebenarnya maksud aku ingin mengajak ayah ibu, karena aku ingin kalian melamarkan calon menantu kalian di sana." Akhirnya Zayn mengatakan keinginannya itu dengan begitu tenang.
Malik dan Rahayu tentu sangat kaget saat mendengarnya. Antara harus senang atau sedih mereka masih bingung. Sebab setelah mengetahui tentang masalalu Zayn itu mereka selalu diliputi rasa gelisah. Perasaan cemas yang jika sewaktu-waktu masalalu Zayn tiba-tiba datang lagi disaat pria itu sudah bahagia dengan yang lainnya.
Sedangkan Cinta, gadis itu seketika menyudahi sarapannya karena merasa takjub dengan kakaknya yang nekat ingin melamar wanitanya yang ia tahu kini hubungannya masih tidak membaik.
__ADS_1
"Ku mohon restui aku untuk melamar Ara, Yah, Bu. Aku sudah bertemu lagi dengan dia. Dan ini adalah foto anakku, cucu Ayah sama Ibu." Pria itu kemudian menunjukkan foto Ziyyan seorang diri dari ponselnya.
ZIYYAN😍
"Subhanallah... Gantengnya cucuku." Rahayu langsung meraih ponsel Zayn dan ia tiada hentinya memandangi wajah cucunya itu.
"Dia mirip kamu, Zayn," ujarnya kemudian.
"Ehem...." Suara dehaman Malik yang disengaja membuat Rahayu, Zayn dan juga Cinta tiba-tiba menoleh kepadanya.
"Terus bagaimana dengan rencana dari Pak Haris itu, Zayn?" Rupanya Malik masih memikirkan masalah permintaan Haris itu.
Zayn hanya tersenyum simpul, ia tak langsung menjawab pertanyaan ayahnya itu.
"Ayah, Ibu, Ara adalah anaknya bapak Haris. Jadi Ayah tidak perlu khawatir bagaimana dengan permintaan beliau. Beliau sendiri yang memintaku agar secepatnya membawa ayah ibu ke sana," jelasnya yang seketika mendapat sambutan senyum lega dari raut Malik dan juga istrinya.
"Kalau begitu, segera saja kita ke sana. Tidak perlu menunggu proyekmu selesai. Kalau besok bagaimana?"
"Hah?" Zayn langsung terperangah saat mendengar usulan dari ayahnya.
"Lebih cepat lebih baik." Rahayu terdengar semakin mendukung.
"Tidak bisa besok, Yah, Bu. Ini terlalu mendadak buatku. Apalagi--" Pria itu tak sampai hati untuk melanjutkan pembicaraannya. Rasanya tidak mungkin dia akan mengatakan kepada kedua orangtuanya jika hubungannya dengan Ara masih seperti ini.
"Oke! Sekarang kita makan dulu. Masalah abang Zayn kita lanjut lagi setelah makan. Bagaimana?" Tiba-tiba Cinta menyela obrolan mereka.
Drrrrrrt..... Drrrrrrt.....
Ponsel milik Zayn tiba-tiba berdering. Terpampang nama istri Boss yang sedang menghubunginya via video call.
"Maaf, aku jawab telpon dulu," ujarnya lalu kemudian memilih tempat yang sedikit menjauh dari tempat semula.
"Zayn." Viona langsung menyapanya saat panggilannya sudah dijawab oleh Zayn.
"Iya, Bu. Ada apa?" Tanyanya sedikit kikuk, sebab baru pertama inilah istri dari Haris itu menghubunginya.
"Kamu apakan cucuku? Kamu apakan Ziyyan, hah?" Tanyanya to the point.
"Ziyyan?" Zayn masih berpikir sejenak.
"Iya. Coba kau lihat wajahnya ini." Seketika Viona menunjukkan wajah cemberut cucunya itu kepada Zayn.
"Hei, Nak. Ziyyan kenapa begitu mukanya? Sedih?" Sapa Zayn, tapi hanya dapat lengosan wajah sebal dari anaknya itu.
"Dia bilang kalau kamu lagi berdua sama perempuan tadi. Apa benar, Zayn?"
Sebenarnya Viona tidak ingin menanggapi serius hal sepele yang diadukan Ziyyan padanya. Akan tetapi karena mendengar omongan Keanu kemarin membuat rasa percayanya itu sedikit goyah akan ketulusan Zayn kepada Ara.
__ADS_1
"Ooh.... Saya baru ingat, Bu." Seketika Zayn melambaikan tangan memanggil Cinta agar bisa bergabung dengan panggilan itu juga.
"Perkenalkan, ini Cinta adik saya. Mungkin tadi Ziyyan salah paham setelah melihat saya berdua sama adikku." Zayn memperlihatkan wajah Cinta kepada Viona.
"Ooh...." Viona pun akhirnya hanya mengangguk saja.
"Ziyyan, ini aunty Cinta, adiknya ayah. Kalian belum kenal kan?" Zayn kembali menyapa Ziyyan sembari mengenalkan Cinta kepadanya.
"Hai, Ziyyan! Cinta kembali menyapa bocah itu.
"Hei, Ziyyan. Dia itu rupanya aunty nya kamu. Ayo sekarang kamu tidak boleh cemberut gitu. Entar gantengnya hilang loh." Viona berusaha memberi pengertian tentang kesalahpahaman bocah itu.
"Nanti setelah ayah pulang, ayah kenalkan sama Ziyyan sama aunty Cinta juga. Mau kan?"
Ternyata ucapan Zayn itu mampu membuat raut Ziyyan sedikit terlihat riang kembali. Entah apa karena mendengar ingin dikenalkan, atau karena mendengar kata 'pulang'.
"Mmm, Zayn."
"Iya, Bu."
"Sekarang kamu lagi di rumahmu kan? Maksudku di rumah orangtuamu?"
Zayn hanya mengangguk singkat.
"Trus, kapan rencananya ayah ibumu ke sini?"
"Mm, mungkin dalam minggu ini, Bu. Itu kalau Ara--"
"Aiiih, kamu tidak perlu terlalu mempertimbangkan perasaannya lagi." Tiba-tiba saja Viona memotong bicaranya Zayn.
"Sekarang saja dia itu lagi nangis kejang-kejang di kamarnya. Dia pasti cemburu tadi." Viona berucap begitu karena memang ia melihat sendiri kondisi Ara yang demikian di kamarnya.
Setelah mendapati Ziyyan yang seperti sedang ngambek sebenarnya ia ingin menanyakan kepada Ara tentang apa yang terjadi dengan Ziyyan. Akan tetapi semua itu urung ia tanyakan setelah melihat Ara yang sedang menangis sesenggukan sambil membenamkan wajahnya dibantal.
Dan setelah mencari tahu yang sebenarnya kepada Zayn, dari situlah ia semakin yakin jika Ara sedang cemburu. Hanya saja masih tertutupi oleh rasa gengsinya yang menggunung.
"Ya sudah lah. Kalau begitu mami tutup dulu telponnya ya."
"Mami?" Tentu Zayn masih kaget mendengar ucapan dari Viona itu.
"Iya. Mulai sekarang kamu panggil aku mami!" Perintahnya kemudian.
"Itu i-itu--" Pria itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mau protes? Aku tidak terima protes apapun. Sekali aku suruh kamu panggil mami, kamu harus panggil mami."
"E-eh, baik, Mi." Kali Zayn hanya bisa pasrah dan menurut saja.
"Naaaaah.... begitu dong." Lalu kemudian tergurat senyum Viona dari seberang sana. Tak lama setelah itu sambungan telepon itu akhirnya mati juga.
__ADS_1
*