
"Aah, Bunda?"
Ziyyan langsung menyebut Bunda begitu tak sengaja ia melihat foto Bundanya itu terpasang di layar utama ponsel milik Zayn.
Sedangkan Zayn sendiri seketika langsung menoleh ke arah sekitar karena beranggapan kalau Ibu dari bocah itu sudah datang. Narsih pun demikian, ia di buat celingukan sendiri karena ucapan Ziyyan itu.
"Ada Bunda," ucap Ziyyan lagi sambil menunjuk ponsel Zayn yang sudah mati.
"Dimana bundamu, Ziyyan? Uti tidak melihat Bundamu datang." Bahkan kini Narsih memilih beranjak dari tempatnya, ia berjalan keluar rumahnya dan beralih ke belakang rumahnya. Siapa tahu tadi memang Ziyyan melihat bundanya benar-benar datang.
"Ayah sama Bunda."
Ziyyan terus saja menyentuh ponsel milik Zayn itu. Jari mungilnya terus mengetuk-ngetuk permukaan benda pipih itu hingga layarnya itu kembali menyala, dan ia pun semakin senang ketika foto Zayn dan Ara semasa kuliah dulu yang memang di jadikan sebagai wallpaper oleh Zayn kembali muncul di layar ponsel itu.
Zayn hanya terdiam saat mendengar bocah itu menyebut kata Bunda saat melihat foto Ara itu, mulutnya seakan terkunci dan tak bisa berkata apa-apa lagi begitu mengetahui bocah itu berulang-ulang menyebut kata Bunda.
Mungkinkah dia adalah anak Ara? Apakah dia adalah anakku?
Pria itu masih tertegun, tak semudah itu ia langsung percaya saat bocah itu menyebut kata bunda pada foto Ara. Ia ingin memastikannya lagi, makanya ia pun sengaja membuka galeri foto di ponselnya itu untuk mencari beberapa foto Ara yang masih tersimpan di ponselnya.
"Ini-- Bundanya Ziyyan?" Suara Zayn terdengar samar dan pelan saat menanyakan hal itu kepadanya.
Bocah itu mengangguk yakin, lalu kemudian ia berangsur turun dari pangkuan Zayn dan langsung berlari menuju salah satu kamar tidur dari rumah tersebut.
Duaaaarrr!!!!
Bagai terkena petir di siang hari saat Zayn mendengar bocah itu membenarkan apa yang ditanyakannya. Air matanya seketika tumpah begitu tahu bahwa bocah yang bernama Ziyyan itu adalah darah dagingnya yang selama ini ia cari.
Zayn berlari ke arah bocah itu tadi masuk ke kamar, ia menemukan Ziyyan sedang sibuk membongkar laci dari meja rias usang yang berada di dalam kamar tersebut.
Seketika pria itu menjatuhkan diri bersimpuh di lantai, tepat disamping bocah itu duduk. Ia meraih tubuh mungil Ziyyan dan mendekapnya dengan sangat erat sambil mata itu terus saja meneteskan air matanya.
"Anakku! Kamu anakku!" ucap Zayn dengan sendu.
Ziyyan hanya terdiam saja saat Zayn menciuminya dengan bertubi-tubi. Sorot mata kecil itu hanya bisa memandang kepada Zayn yang membuatnya bertanya-tanya kenapa ayahnya itu menangis.
"Ayah," sapa Ziyyan kemudian.
"Iya, Nak. Aku ayahmu," Sahut Zayn sambil tak bosan-bosannya ia menghujani pipi dan pucuk kepala Ziyyan dengan ciumannya.
__ADS_1
"Tunggu, Ayah." Bocah itu melepas dekapan Zayn, ia kembali sibuk mencari sesuatu yang belum ditemukannya di laci tersebut.
Dan seketika sorot mata itu langsung berbinar tatkala Ziyyan menemukan benda yang dicarinya itu.
"Ini punya Bunda," kata Ziyyan sambil menunjukkan sebuah ponsel kepada Zayn.
Zayn meraihnya, Dilihat dari bentuk dan cassingnya memang persis seperti milik Ara. Cuma sayangnya sepertinya ponsel itu sudah lama tidak di gunakan lagi, padahal kondisinya masih sangat baik.
"Ziyyan." Narsih datang menyusul mereka ke dalam kamar tersebut.
Wanita itu menatap heran kepada Zayn, "Kenapa pria ini tiba-tiba masuk ke kamar Ara? Kenapa sepertinya ia juga terlihat habis menangis? Dia sebenarnya siapa? Mengapa aku sepertinya tak asing dengan wajahnya?"
Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk di benaknya, di tambah lagi kini ia melihat sendiri pria itu mendekap tubuh Ziyyan lagi dengan begitu posesive.
"Ada apa, Nak? Apa yang sebenarnya terjadi?" Rasa penasaran Narsih semakin menjadi.
Zayn memandang sendu kepada Narsih, ia tak tahu harus menjelaskan semua itu dari mana.
"Dimana ibunya Ziyyan, Bu? Dimana Ara?"
Akhirnya satu pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ia ingin segera bertemu dengan gadisnya itu. Rasanya ia sudah tak punya waktu lagi untuk menjelaskan semua cerita kelamnya itu kepada Narsih. Ia hanya ingin bertemu dengan Ara hari ini juga.
Wajah Zayn semakin gusar, tentu ia sudah sangat tak sabar. Ia pun berdiri sambil membawa tubuh kecil Ziyyan dalam dekapannya. Lalu kemudian keluar dari kamar itu dan melangkah mencari keberadaan Ara di seluruh ruang rumah tersebut. Dan Narsih hanya bisa mengekor dari belakang Zayn.
"Sebenarnya kamu siapa?" Narsih menahan lengan Zayn. Ia baru teringat kalau mereka belum mengenalkan namanya masing-masing.
"Saya Zayn, Bu. Saya ayahnya Ziyyan." Pria itu berucap dengan tegas.
Zayn??
Seketika Narsih langsung terperangah saat mendengarnya. Bahkan tubuh rentanya itu sudah terasa gemetar bercampur lemas sehingga membuatnya seakan tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar berdiri. ia tentu ingat nama itu, sebab dahulu Ara sempat bercerita kepadanya walau cuma sekali tentang pacarnya itu. Dan setelah itu Ara tak lagi mau membuka cerita masa lalunya itu lagi.
Narsih terduduk lemas di ruang tamu itu. Ia menatap lekat kepada Zayn yang terlihat amat gelisah menunggu kedatangan Ara pulang. Sebenarnya yang dirasa Narsih juga gelisah, karena seharusnya Ara sudah datang sedari tadi. Berbagai macam pikiran negatif pun mulai muncul di benaknya, Narsih merasa takut terjadi sesuatu hal yang buruk dengan anak angkatnya itu di luaran sana.
"Duduklah, Nak." ucap Narsih, karena sedari tadi ia hanya melihat Zayn berjalan mondar-mandir saja sambil tetap membawa Ziyyan dalam gendongannya.
"Bu, pasarnya di mana? Biar saya susul Ara kesana."
"Kalau dari sini memang lumayan jauh, Nak."
__ADS_1
Narsih begitu berantusias ketika mendengar Zayn yang berencana akan menyusul Ara, sebab perasaannya itu sudah teramat gelisah menanti Ara yang tak kunjung pulang.
"Iyyan ikut ayah." Bocah kecil itu kembali berucap.
Dari perkataannya sangat jelas kalau ia takut sosok ayahnya itu pergi lagi, makanya begitu mendengar ayahnya itu berencana pergi menyusul Ara bocah itu langsung mengusulkan diri untuk ikut serta.
"Boleh saya bawa Ziyyan, Bu?"
Narsih dibuat bingung sendiri. Antara tidak mengizinkannya, tapi ia keliru. Karena Zayn adalah ayahnya Ziyyan. Tapi jika mengizinkannya, ia takut kalau nanti Zayn membawa pergi Ziyyan dan tidak dibawa pulang kembali.
"Saya janji, saya akan menjaga Ziyyan. Atau kalau ibu masih ragu, ibu bisa menghubungi nomor telepon saya."
Zayn meraih dompetnya, ia mengambil selembar kartu tanda pengenal miliknya itu untuk ia berikan kepada Narsih.
"Maaf, Nak, kami tidak punya Handphone mau menghubungi kamu." Narsih mengembalikan kartu pengenal itu.
"Itu tadi yang di kamar Ziyyan punya Ara kan?"
Narsih mengangguk. "Tapi anak ibu sudah tidak mau menggunakan handphonenya itu lagi. Dari awal Ara tinggal di sini, handphone itu sudah tidak digunakan lagi."
Dari sinilah Zayn mulai paham, mengapa nomor telepon Ara itu selalu tidak aktif saat dahulu ia menghubunginya berulang-ulang. Ternyata Ara memang sengaja tidak mengaktifkannya lagi. Mungkin karena ia sengaja ingin menghindar dari siapa pun saat itu. Atau mungkin itu cara Ara menghilang dari dirinya?
"Aku memang tidak tahu sebesar apa rasa sakit hatimu karena tiada kabar dariku dahulu. Tapi izinkan aku untuk menebus kesalahanku itu Ara." lirih hati Zayn berucap.
"Iyyan ikut ayaaah..." Bocah itu malah menangis karena tak mau ditinggal oleh Zayn lagi.
"Iya, Sayang. Ziyyan ikut ayah." Zayn menghapus air mata Ziyyan. Terlihat senyum kecil itu mulai mengembang ketika mendengar ayahnya itu mengizinkannya untuk ikut.
"Ibu, saya akan bawa Ziyyan. Kalau ibu merasa takut saya akan membawa kabur Ziyyan, ibu bisa mencari saya di lahan proyek di desa sebelah."
Di izinkan atau tidak, Zayn tetap akan membawa anaknya itu ikut serta. Ia tak ingin melihat anaknya itu menangis lagi karenanya. Bahkan ia pun sudah tidak menunggu jawaban dari Narsih lagi. Pria itu langsung memasukkan Ziyyan ke dalam mobilnya, lalu secepatnya membawa anaknya itu pergi bersama untuk mencari keberadaan Ara yang tak kunjung pulang.
"Let's Go Ziyyan! Kita cari Bunda," ucap Zayn ditengah-tengah perjalanan menuju pasar.
"Ayok, Ayah!"
Bocah kecil itu juga bersemangat. Apalagi ini juga pengalaman pertamanya bisa menaiki mobil mewah. Binar mata itu begitu menyala gembira dari raut wajah Ziyyan. Dan Zayn, tak henti-hentinya mulutnya itu berucap syukur karena tuhan telah mempertemukannya dengan anaknya itu secepat ini.
*
__ADS_1