Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 56


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Tak terasa sudah lebih dari enam bulan Zayn bekerja di perusahaan yang sebelumnya ia kira milik Ridwan. Perusahaan tempat pria itu bekerja sebenarnya hanyalah perusahaan cabang, yang pusat dari perusahaan tersebut ada di Jakarta. Disini Ridwan hanya membantu mengelolanya saja.


Semenjak memutuskan bekerja di sana, semenjak itu pula Zayn seakan tidak bisa menemukan kebebasannya lagi. Berangkat pagi-pagi buta karena takut telat masuk kantor karena jarak kantor dari tempat kostnya lumayan jauh. Pulang kerjapun kadang selalu lewat dari jam kerjanya.


Belum lagi terkadang Ridwan menghubunginya secara mendadak disaat waktunya istirahat di kost nya. Pria tua itu terlampau sering memberinya pekerjaan yang seharusnya bukan dirinya yang berwenang di tugas tersebut. Apalah daya, dirinya yang sudah terlanjur terikat kontrak seumur hidup dengan perusahaan tersebut dan juga merasa banyak berhutang budi dengan Ridwan membuatnya mau-mau saja atas segala perintah Ridwan yang terlampau sering menyuruhnya bekerja diluar batas waktu yang tidak wajar.


Jangankan untuk sekedar menikmati weekend, untuk sekedar menghubungi keluarganya pun Zayn harus benar-benar menyempatkan waktunya di sela-sela jam istirahat kerjanya. Apalagi untuk mencari info tentang kabar Ara dari Tommy atau pun Sisil, pria itu seakan tidak punya waktu lagi untuk mengorek info tentang kekasihnya yang sudah tiada kabar lagi.


Hah! Hanya helaan nafas yang bisa ia keluarkan tiap kali Zayn merasa lelah dengan nasib hidupnya saat ini. Hanya bisa menahan rindu yang sudah menyesakkan dada terhadap orang-orang terkasihnya. Dan mengharapkan adanya keajaiban yang datang, hingga dirinya bisa terbebas dari ikatan kontrak kerjanya ini. Sehingga bisa kembali ke kehidupannya yang normal, tidak berada dibawah tekanan berat yang nyaris setara dengan seorang budak yang ia rasa.


Setiap hari disaat dirinya bekerja, banyak staf kantor lainnya yang menyuruhnya dengan semena-mena dan amat terkesan memang memanfaatkannya saja. Memberinya banyak tugas yang sebenarnya sudah melewati batas dirinya yang hanya seorang pegawai biasa. Beruntungnya, otaknya yang memang briliant sangat cekatan dalam menyelesaikan tugas yang bukan bagiannya itu dengan cepat.


Entah! Mereka berbuat demikian murni atas inisiatif sendiri karena sedang malas berpikir, atau mungkin memang ada perintah terselubung untuk memanfaatkan kecerdasannya semata. Zayn masih tak berani berpikir sejauh itu.


Akan tetapi dari semua yang di alami Zayn seakan memang ada yang sengaja menyuruhnya. Mungkin dari seseorang yang iri melihat dirinya begitu mudah bisa masuk bergabung dengan perusahaan tersebut. Dan Semoga saja memang karena demikian. Karena kalau bukan ulah dari orang yang iri terhadapnya, sudah pasti pria itu patut mencurigai maksud di balik mudahnya dirinya diterima bekerja di perusahaan ini.


"Ha... ha.... ha.... ha...."


Terdengar gelak tawa senang dari ruang kerja Ridwan. Pria tua itu sedang menerima sebuah panggilan masuk dari seseorang yang amat ia segani.


"Baik, Pak. Saya akan atur jadwalnya lagi."


"Kita lihat saja, sampai kapan dia bisa bertahan bekerja demikian. Ingat, Ridwan! Kalau kau dengar dia sampai mengeluh capek, kau jangan sungkan-sungkan ungkit bantuanmu itu."


"Baik, Pak."


"Dan kamu terus laporkan bagaimana kinerjanya. Kalau tidak ada peningkatan, kau tidak usah ragu mendepaknya menjadi OB saja." Terdengar tawa mengejek dari seseorang yang menelpon Ridwan itu.


"Sebenarnya begini, Pak."

__ADS_1


Ridwan melaporkan semua hasil kinerja Zayn selama ini kepada orang tersebut. Yang dari inti laporan tersebut bahwa Zayn adalah seseorang yang sangat bertalenta dan mampu bekerjasama secara profesional, jujur dan bertanggung jawab.


Bahkan tak di pungkiri pula oleh Ridwan, berkat keahlian Zayn perusahaan yang di kelolanya itu mengalami kemajuan yang amat pesat. Zayn yang memang sering disuruh untuk menghadiri rapat yang semestinya bukan Zayn yang harus hadir di rapat tersebut, secara tidak langsung membuat Zayn bertambah pengalaman. Bahkan karena kelihaiannya itu Zayn telah berhasil memenangkan tender proyek besar, yang telah lama diperebutkan oleh beberapa perusahaan lainnya.


"Benarkah yang kau katakan itu, Ridwan?" Seseorang dari seberang sana menanyai Ridwan, masih tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Ridwan.


"Benar, Pak." Ridwan menjawab yakin.


"Ck!! Ku kira kau sendiri yang berhasil memenangkan proyek itu." Terdengar nada kecewa dari orang itu.


"Bukan, Pak. Saya mohon maaf telah lancang menyuruh dia menggantikan rapat itu. Sebenarnya saat itu saya bisa hadir. Cuma sesuai perintah Bapak, bukannya saya disuruh memberinya tugas berat untuk dia?" Ridwan membuat pembelaan dirinya.


Terlihat mereka saling terdiam sejenak. Lalu kemudian, "Kau kirim dia bekerja disini. Aku ingin tahu sendiri bagaimana kemampuan dia bekerja disini." Perintah orang tersebut.


"Baik, Pak." Sahut Ridwan yang kemudian percakapannya berakhir sampai disitu.


Ridwan duduk termenung cukup lama memikirkan cara agar Zayn tak mencurigai tentang dirinya yang diminta bekerja di perusahaan pusat.


"Panggil Zayn kesini." Seru Ridwan kepada sekretarisnya melalui panggilan singkatnya.


"Baik, Pak." Sang sekretaris segera memanggil Zayn, yang tak lama kemudian Zayn datang dan segera masuk ke dalam ruang kerja Ridwan.


"Duduklah." Perintah Ridwan kepada Zayn.


Zayn hanya menurut. Dalam hati sebenarnya ia sudah bisa menebak pasti akan ada pekerjaan berat lagi untuknya.


"Segera kemasi barang-barangmu hari ini juga."


Zayn terperangah mendengarnya. Di pecatkah? Secepat itu tuhan mengabulkan do'anya? Ini berarti dirinya akan segera bebas dari perusahaan ini? Diam-diam dirinya menyimpan senyum bahagia di sudut hatinya yang terdalam.


"Besok kamu pindah tugas kerja di perusahaan pusat."

__ADS_1


Jleb.


Zayn menelan ludah pias. Ini bukan kabar baik. Bekerja di perusahaan cabang saja sudah sangat tertekan, apalagi di perusahaan pusat? Lama-lama bisa gila!


Sekali lagi, Zayn hanya mengangguk pasrah ketika asisten pribadi Ridwan menyodorkan sebuah berkas dirinya yang harus di bawanya besok ke Jakarta.


Hah.... Lagi-lagi hanya bisa menghela nafas pasrah ketika dirinya sudah melangkah keluar dari ruang dingin Ridwan.


Ia berjalan gontai menuju meja kerjanya untuk segera mengemasi beberapa barang miliknya. Setelah itu ia harus segera menuju tempat kostnya untuk mengemasi lagi barang-barangnya yang di sana. Karena besok pagi dirinya harus sudah tiba di kantor pusat sebelum jam kerja tiba.


.


.


"Rencana apalagi ini Tuhan?"


"Tolong kuatkan aku."


"Aku rela begini semata demi membantu pengobatan Ayah."


"Dan juga demi masa depannya bersama seseorang yang hingga kini bertahta di kerajaan hatiku, Aurora."


"Aku kembali Ara, tunggulah aku mengunjungimu besok."


Semua lirih itu berbisik di hati Zayn. Dirinya kini sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta. Satu-satunya penyemangat hidupnya adalah segera menemui kekasihnya yang telah lama dirindukan.


Senyum itu kembali terukir ketika bayangan senyum hangat Ara melintas di benaknya. Seakan membuatnya terlupa akan rintangan yang siap menghadangnya.


Sedang dari tempat yang berbeda.....


Seseorang tersenyum devil menunggu kehadiran Zayn di perusahaan yang dipimpinnya. Seakan sudah banyak rencana terselubung yang siap ia berikan kepada Zayn agar ia semakin tertekan. Yang sudah tidak sabar untuk melancarkan aksinya itu setelah Zayn resmi bergabung di Rahardian Group.

__ADS_1


*


__ADS_2