
Zayn telah sampai kembali dirumahnya tepat pukul sembilan malam. Selepas ia bertemu dengan Tommy tadi, diperjalanan pulang ia dihadapi dengan kemacetan jalanan ibu kota.
Pria itu lekas melangkah menuju lantai atas, kamar Ziyyan menjadi tujuan langkahnya saat ini. Setelah ia menemukan anaknya itu rupanya sudah tertidur pulas, maka ia pun memilih keluar dari kamar itu setelah sebelumnya mencium penuh kasih pada bocah lelaki yang dua bulan mendatang sudah genap berusia lima tahun.
Zayn meneruskan langkahnya menuju kamarnya. Selama diperjalanan tadi, ia ingat pesan Ara yang akan menunggunya pulang. Maka ia pun berharap kalau istrinya itu benar benar sedang menunggunya saat ini.
Ceklek.
Pintu kamar itu mulai terbuka lebar, terdapat Ara yang memang sedang menunggu dirinya sambil berdiri tak jauh dari pintu itu.
"Baru pulang, Mas?" sapanya lembut, sambil meraih tangan kanan Zayn untuk menyalaminya takdzim.
"Iya, jalanannya macet. Maaf ya.." Pria itu mengusap lembut pada pipi Ara.
Setelah itu Ara pun membantu Zayn melepas dasi juga kemeja yang dipakainya.
"Kenapa belum tidur?" Tentu ini hanya pertanyaan jebakan dari Zayn, ia ingin istrinya itu menepati ucapannya tadi sebelum ia berangkat ke kantor.
"Sudah ku bilang tadi, aku mau menunggu kamu, karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu, Mas."
Zayn tersenyum tipis. Dilihat dari kesungguhan Ara menunggunya pulang sepertinya ini memang sesuatu yang begitu penting, mungkin.
"Bicaralah, aku mau mendengarkannya sekarang." Zayn mengikis jaraknya kepada Ara dengan tubuh yang sudah bertelanjang dada. Reaksi wanita itu kini sudah tidak seperti sebelumnya, terlihat baik baik saja meski saat ini tubuh Zayn sedang sedikit berkeringat.
"Mas bersih bersih dulu," Ara mendorong pelan dada Zayn.
"Aku sudah siapkan air hangatnya." Wanita itu kemudian melenggang pergi sambil membawa pakaian Zayn, kemudian menaruhnya pada keranjang pakaian kotor.
"Sayang," sapa Ara lagi, karena hanya melihat Zayn yang belum bergerak dari tempatnya.
Zayn sedikit terkesiap, karena ia memang sedang terbawa oleh pikirannya yang teramat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh istrinya itu.
"Kamu ini lagi ngelamun apa sih? Meeting nya nggak lancar ya, Mas?" Ara berucap sambil menarik lengan Zayn, menggiringnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Lancar kok, Sayang. Malah minggu depan sudah teken kontrak sama Mr. Erick." Zayn menyahut bersemangat.
"Syukurlah, suami aku memang is the best." Ara mencapit pipi Zayn begitu gemas.
__ADS_1
"Kamu sepertinya happy sekali malam ini. Jadi penasaran apa yang mau kamu ceritakan itu." Zayn melingkarkan tangannya di pinggang Ara, sedikit memberi sentuhan nakal dipunggung istrinya itu.
"Jangan penasaran dulu, Mas. Takut entar mengecewakan." Ara melepas tangan Zayn dari pinggangnya, menatap lekat pada suaminya, sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi itu.
"Mengecewakan?" gumam Zayn, kembali rasa resah menghantui benaknya.
"Huft!"
Tarikan nafas beratnya berhembus kasar. Pria itu lekas melaksanakan kegiatannya dikamar mandi itu, agar segera bisa mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Ara setelah ini.
Sedang keadaan diluar kamar mandi itu, Ara sudah terlihat gusar. Tangannya sedikit lancang mengacak-acak isi tas kerja Zayn, mencoba mencari keberadaan testpack itu, tetapi hasilnya nihil.
Kemudian ia pun mencoba mencari di keranjang pakaian kotor, siapa tahu benda itu tadi disimpan disaku baju Zayn, akan tetapi juga nihil. Benda penguji kehamilan itu tak tahu lagi disimpan dimana oleh Zayn, membuat Ara kewalahan sendiri mencarinya.
Tak lama kemudian akhirnya Zayn sudah keluar dari kamar mandi dan mendekat ke arah Ara yang sedang menyiapkan pakaian ganti buatnya.
"Mas nggak mau makan dulu? Pasti tadi nggak sempat makan kan?" Ara segera mengalihkan diri yang lagi panik, mencoba mengulur waktu karena masih kebingungan mencari alasan yang tepat tentang testpack yang tak sengaja ia buang itu.
"Aku masih sedikit kenyang, tadi sempat sarapan bareng Tommy." Kali ini Zayn sudah rapih dengan pakaian santai yang dikenakannya. Kaos tipis berbahan lembut dengan celana pendek diatas lutut, menjadi pakaian ternyamannya saat menjelang tidur.
"Oh, ya, kamu mau bicara apa?" Zayn sengaja menarik tubuh Ara, mendekapnya sambil memangkunya penuh manja.
"Tapi tentang apa dulu nih?"
"Janji dulu." Ara mengangkat jari kelingkingnya, dan Zayn pun terpaksa menautkan jari kelingkingnya juga, meski saat ini rasa penasarannya sangat mendominasi setelah mendengar kata jangan marah.
"Mm... Aku, aku ingin kamu temani aku ke kamar mandi sekarang." ucap Ara, berusaha setenang mungkin dengan kondisi hati yang tak karuan.
"Hah?" Tentu Zayn terperangah heran, apa maksudnya ini?
Ara turun dari pangkuan Zayn, lalu menarik tangan suaminya, menuntunnya kembali masuk kedalam kamar mandi.
"Ini ada apa, Sayang? Kamu ketakutan berada sendiri dikamar mandi?" tanya Zayn, setelah hanya mendapati Ara yang rupanya langsung pipis sesampainya dikamar mandi itu.
Ara tak menyahut. Ia segera menemui Zayn setelah selesai dengan kegiatan pipisnya.
Dan kali ini tatapan Zayn dibuat sedikit geli, begitu mendapati Ara membawa sebagian air seninya kedalam sebuah wadah kecil.
__ADS_1
"Itu buat apa?" Zayn menunjuk sedikit jijik.
Ara tak menyahut lagi. Lekas ia merogoh saku celananya, mengeluarkan testpack yang masih baru untuk di uji coba pada air seni milik Ara.
Kali ini Zayn sudah paham meski tanpa dijelaskan lagi oleh Ara. Ia turut mencermati kerja benda itu, sebagaimana Ara yang menunggu hasil itu dengan wajah yang teramat gusar.
Perlahan Zayn pun mendekap mesra Ara, mencoba memberinya ketenangan. Tehnik Ara mengajak Zayn melihatnya langsung, sudah cukup menjadi penjelasan dari penemuan testpack yang terbuang itu.
"Aku nggak mau lihat hasilnya, Mas," ucap Ara sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Zayn.
"Mas saja yang lihat hasilnya, aku takut."
Buru-buru Zayn mengangkat testpack itu, sorot matanya seketika berbinar begitu mengetahui hasil dari alat penguji kehamilan itu.
"Sayang," Zayn mengguncang pelan lengan Ara.
Wanita itu mendongak sedikit, lalu melirik sekilas pada benda pipih putih yang ditunjukkan kepadanya.
"Haa?"
"Kamu positif hamil, Sayang." Zayn merengkuh tubuh Ara kedalam pelukan eratnya. Menciumi keningnya begitu hangat, bahkan tak terasa sampai mengangkat tubuh Ara dalam pelukannya, saking bahagianya saat ini.
Ara menyunggingkan senyum tipisnya, meski awalnya ia tak siap hamil lagi, tetapi setelah melihat reaksi Zayn yang begitu senang tentu ia turut senang.
"Pokoknya kita harus jaga kandungan ini, jangan sampai kenapa-napa. Aku bahagia sekali, Sayang. Terimakasih ya, sudah memberiku hadiah terindah di pernikahan ini." Zayn menghujani wajah Ara dengan kecupan mesranya.
"Aku minta maaf, Mas, sudah buat kamu berpikir yang tidak tidak atas kecerobohanku." ucap Ara, mengingatkan kembali akan perihal penemuan testpack itu.
"Sebenarnya aku nggak berniat membuangnya, aku nggak sengaja. Aku..."
"Sssttt..."
Zayn menyematkan jari telunjuknya di bibir Ara, membuatnya terhenti untuk meneruskan perkataannya.
"Jangan bahas itu lagi." Lalu kemudian Zayn turut mengeluarkan testpack dari Inah itu dari dalam saku celpennya.
Ara tersenyum lebar. Merasa sangat lega karena suaminya tak mau menuntutnya untuk menjelaskan kronologi testpack ditempat sampah.
__ADS_1
Lalu mereka pun saling berpelukan lagi, mencurahkan segala rasa bahagia yang mereka rasa dalam dekapan kasih yang begitu erat.
*