Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 93


__ADS_3

"Ara?"


"Kau bantu obati dia!" Kemudian Haris pergi begitu saja.


"Hah?"


Ara tertegun mendengar perintah papinya. Ia tetap bergeming saja meski pria yang berdiri didepannya itu kini sedang memandangnya dengan sendu.


"Ara," suara Zayn mulai menyapanya.


"Aku... i..." Zayn berhenti berucap setelah mendapatkan lirikan tajam darinya. Entah apa lagi yang harus ia lakukan setelah ini, lirikan matanya itu cukup membuat Zayn merasa semakin bersalah terhadapnya.


Tak lama setelah itu Ara pergi begitu saja. "Ra, tunggu! Kita harus bicara!" Pria itu berusaha meraih tangannya namun kalah cepat dengan langkah lebarnya.


"Iiissh... Auuuw..." Zayn meringis kesakitan ketika tangannya tak sengaja mengusap wajahnya dengan kasar.


Sorot matanya pun sempat kaget begitu ada bercak darah di tangannya yang keluar dari sudut bibirnya. Cuma ia tak mau peduli itu sekarang.


Ia melihat kemana wanita itu pergi menghindarinya, sepertinya ia pergi menuju kamarnya. Zayn berlari kecil berusaha menyusulnya sebelum wanita itu nanti mengunci diri di kamarnya itu.


Haris melihat apa yang Zayn lakukan sekarang, senyumnya mengembang tipis melihat pria itu sedang memperjuangkan cintanya kembali. Bahkan ia sempat mencegah Inah yang sedang membawa kotak obat untuk ia berikan kepada Zayn. Kemudian Haris meraih kotak obat itu dari Inah, senyumnya kini berubah lebar. Entah apa yang sedang direncanakannya dengan kotak obat tersebut.


"Ara."


Zayn berdiri menghadang di depan pintu kamar wanita itu.


"Pergi gak!" Akhirnya suara Ara muncul, meski hanya sebuah kata pengusiran.


Zayn menggeleng. "Aku gak akan pergi sebelum kamu dengerin aku dulu," ucapnya berusaha meyakinkan wanitanya itu.


Ara menatap jengah pada pria yang tak ingin di temuinya lagi. Ia sangat sebal, marah, kecewa, dan juga ingin memukulnya juga seperti yang Keanu lakukan tadi. Cuma semua rasa itu ia tahan lewat kepalan kedua tangannya yang mengepal erat.


"Beri aku waktu sepuluh menit untuk menjelaskan semuanya." Tangan Zayn berusaha menyentuh pundak Ara namun segera di tangkis olehnya.


"Oke. Lima menit, Ra." Zayn kembali memohon.


"PERGI !!" Hanya kata itu yang keluar lagi dari mulutnya.


Dada Ara sudah terasa membuncah ingin segera meluapkan rasa kecewanya selama ini kepada pria itu, cuma lagi-lagi ia menahannya. Ia tak mau menangis lagi nanti setelah menumpahkan segala rasa kecewanya, cukuplah ia terlalu sering menangisi pria itu dulu.


"Ara." Mata Zayn mulai berkaca di saat menyebut nama wanitanya itu. Sungguh ia sangat tak kuat lagi melihat sorot kebencian yang ia dapat dari tatapannya.


Melihat Zayn yang tak mau pergi akhirnya wanita itu yang memilih pergi. Sayangnya ketika ia berusaha menutup pintu kamarnya itu Zayn bergerak gesit sehingga ia bisa masuk ke kamar itu juga.


"KAU!!" Sorot mata Ara benar-benar marah melihat Zayn yang terus mengejarnya.


Ceklek.


Zayn mengunci pintu kamar itu, lalu kemudian memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya. Kalau sudah begini rasanya tidak mungkin Ara akan merebut kunci kamarnya itu darinya.

__ADS_1


"Ck!" Gadis itu berdecak kesal. Rasanya ia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi melihat kuncinya berada dalam saku celana pria itu.


"Maafkan aku, Ra."


Seketika suasana terasa hening. Zayn menatap kepada Ara yang telah membuang muka darinya.


"Maafkan aku yang telah mengecewakan kamu. Maafkan aku yang pengecut ini."


Seketika Zayn sudah menangis. Rasa penyesalan terdalamnya itu telah membuat air matanya terasa dangkal untuk kembali meluap.


"Aku memang tidak jujur sama kamu kalau aku pernah menodaimu. Tapi aku sama sekali gak ada niat untuk tidak bertanggung jawab sama kamu."


Wanita itu masih terdiam sambil memunggungi keberadaan Zayn.


"Apa kamu ingat ketika dulu aku mengajakmu menikah? Seandainya saat itu aku tidak terlalu pengecut untuk bilang sama kamu, mungkin..."


"SUDAH! CUKUP!"


Suara Ara terdengar lantang menyerukan Zayn untuk tidak melanjutkan perkataannya. Sedangkan tubuhnya masih terus membelakangi pria itu.


"Ara." Suara Zayn terdengar semakin dekat dibelakang wanita itu.


Posisi mereka berdiri hanya menyisakan beberapa centi saja. Sekali wanita itu berbalik badan, tentu akan mudah masuk ke dalam dekapan Zayn.


Ara tetap bergeming dengan posisinya, ia menatap keluar lewat kaca jendela kamarnya. Setitik air matanya kembali menetes di pipinya, dan Ara tak suka dengan kondisinya yang kembali menangis karena luka yang sama.


Seketika tangan Zayn telah melingkar sempurna di pinggang wanitanya. Ia memeluknya dari belakang sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher gadisnya sambil menangis terisak.


"lepaskan aku!" Sergahnya sambil terus berusaha terlepas, yang ada malah pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku, Ra."


Zayn tak henti-hentinya mengucap kata maaf itu dari mulutnya. Sebelum wanitanya itu tenang, ia tak mau menjelaskan penyebab kepergiannya yang sebenarnya. Karena rasanya semua itu akan percuma bila wanitanya itu tetap tak mau membuka hatinya untuk menerima penjelasan darinya.


"Lepaskan!!" Kali ini suara Ara terdengar sedikit gemetar.


Dan akhirnya air mata itu berhasil lolos keluar dari pelupuk mata Ara dengan sangat deras. Luka hatinya yang selama ini ia pendam sendiri menyeruak begitu saja dengan tangisannya yang memecah.


"KAMU KEJAM!"


"KAMU JAHAT!"


"KAMU TEGA!"


"AKU BENCI KAMU!!!"


Ara mengeluarkan semua yang ingin ia lontarkan kepada ayah dari anaknya itu. Ia menangis semakin histeris setelah mengeluarkan segala umpatan kemarahannya.


Zayn hanya terdiam saat mendengarnya, perlahan ia memutar tubuh wanita itu menghadap dengannya dan langsung membawanya masuk dalam pelukan eratnya.

__ADS_1


Ara memberontak lagi. Ia memukul berulang-ulang dada bidang Zayn, dan pria itu hanya pasrah saja di perlakukan seperti itu.


Ia menatap sendu pada wanitanya yang mengamuk memukuli dadanya sambil terus menangis. Hingga sampai tangan wanita itu terangkat ingin melayangkan tamparannya di wajahnya, ia tetap terlihat pasrah. Biarlah saat ini Ara menumpahkan segala kemarahannya itu padanya, selama hal itu membuatnya merasa puas, Zayn akan pasrah saja.


"Lakukan saja, Ra," ucap Zayn karena melihat tangan Ara hanya tertahan dan urung menamparnya.


Ara terdiam sambil menatap wajah Zayn yang Sudah terlihat lebam akibat pukulan Keanu tadi. Pria itu terlihat kuat dengan robekan kecil dari sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.


"Pukul saja aku! Tampar aku, Ra! Aku pantas menerima itu dari kamu."


Zayn meraih tangan Ara dan memukulkannya pada pipinya sendiri. Pria itu melakukannya berulang-ulang sambil terus menangis tiada henti.


Tok... tok... tok....


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar tersebut.


"Ara," ternyata itu suara Haris yang memanggil.


Zayn dan Ara sama-sama terdiam sambil mengusap bersih sisa air matanya yang menetes. Kini wanita itu terlihat kebingungan harus membuka bagaimana pintunya itu, sedangkan kuncinya masih di simpan oleh Zayn.


"Buka pintunya!" Perintahnya kemudian, tetap dengan suara dinginnya menyuruh pria itu membuka pintunya.


Zayn teringat kalau kunci kamar itu ia yang menyimpannya, makanya ia pun beranjak menuju pintu kamar itu.


Ceklek.


"Boleh papi masuk?" Tiba-tiba saja kepala Haris sudah menongol dari balik pintu itu.


Zayn dan Ara sama-sama terperanjat kaget. Sudah pasti Haris bisa masuk ke kamar itu karena kunci cadangan dari kamar anaknya itu ia yang memegangnya.


Haris mendekat kepada mereka, terlihat di tangannya sedang membawa sebuah kotak obat.


"Jangan pulang dulu, Zayn. Biar Ara membantu mengobati lukamu dulu," ujarnya sambil meletakkan kotak obat itu di atas nakas.


"Tidak, Pi!" Gadis itu langsung menolak.


Haris melirik sekilas pada putrinya, terlihat wajahnya sangat sebal dengan perintahnya itu. Cuma Haris tak peduli, ia menyimpan senyum liciknya dari dua orang yang baru saja menangis, terlihat dari mata mereka yang terlihat sangat sembab.


"Tidak usah, Pak. Biar nanti saya obati sendiri." Zayn juga menolak karena merasa tak enak sendiri kalau terlalu lama berada berdua di dalam kamar itu.


"Tidak bisa begitu. Kau dipukuli di rumah ini, sudah tentu kami yang harus bertanggung jawab."


"Kalau begitu Papi saja yang obati dia. Jangan menyuruhku!" Ara menatap sinis lagi kepada Zayn.


Haris tak peduli itu. Ia memilih keluar dari kamar putrinya itu. Lalu....


Ceklek.


Haris mengunci pintu kamar itu lagi dari luar.

__ADS_1


"Papiiiiii......" Tatapan Ara kembali nanar melihat perlakuan papinya yang di luar dugaan.


*


__ADS_2