
"Wisnu?"
Meski sebenarnya malas mendapat telepon dari saudara jauhnya itu, tetapi tetap Hanung harus menjawabnya. Jika tidak menjawabnya, maka ia harus rela kehilangan bonus dari Wisnu.
"Iya," jawabnya tak bergairah.
Bagaimana? Ada perkembangan lain tidak?"
"Gak ada." Hanung menyahut singkat.
"Kau serius kerja nggak sih? Atau kau sudah tidak butuh bonus dariku lagi, hah?" Suara Wisnu terdengar sebal.
"Ya, seperti kemarin-kemarin itu lah. Bossku masih tidak ada tanda-tanda mau cari calon istri. Jangankan cari pacar, tugas dari Bossmu itu yang bikin Bossku jadi jomblo abadi."
"Harusnya kau pandai-pandai mengorek bagaimana masa lalu dia. Jangan malah menutup-nutupi dariku."
"Apa lagi yang mau aku korek darinya, Wisnu. Dia saja terkadang dingin sama aku. Cuma semalam dia...." Hanung kembali teringat tentang obrolan semalam dengan Zayn.
"Dia kenapa?" Suara Wisnu membuyarkan ingatan Hanung.
"Gak kenapa-napa. Aku cuma kena prank dari Bossku semalam."
"Prank bagaimana?" Wisnu mulai penasaran.
Kalau hal itu benar, berarti ada kemungkinan Zayn akan mulai terbuka dengan Hanung. Seseorang yang sengaja di pekerjakan olehnya, untuk menjadi mata-mata gerak-gerik Zayn. Tentunya jabatan sebagai asisten pribadi Zayn hanya tameng belaka. Nyatanya Hanung memang di pekerjakan sebagai mata-mata dari Haris, Owner sekaligus CEO Rahardian Group.
"Kepo banget sih kau!"
"Hanung! Kau harus ingat tugas awalmu hei?!"
Nyatanya panggilan itu sudah diputus terlebih dahulu oleh Hanung.
[Segera laporkan jika Zayn mulai mendekati perempuan manapun. Awas saja kalau kau sengaja tak jujur dariku]
Sebuah pesan singkat masuk buat Hanung dari Wisnu.
[Siap]
Hanung langsung membalas pesan itu.
"Aneh! Kenapa Pak Haris gitu amat sama Pak Boss Zayn. Jangan-jangan gosip itu memang benar, kalau sebenarnya Pak Haris mau Pak Boss menjadi menantunya. Cuma kenapa mesti harus aku yang jadi mata-mata. Kenapa gak langsung tanyakan saja sendiri sama orangnya?" Hanung mulai berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Kabar tentang Zayn yang di gadang-gadang menjadi calon menantu CEO nya itu, memang sudah bukan menjadi rahasia di kalangan pegawai yang bekerja di Rahardian Group. Tapi meski Zayn juga mendengar desas-desus itu, nyatanya tak membuatnya besar kepala dan juga terkesan cuek saja dengan gosip itu.
__ADS_1
"Om!"
Tiba-tiba dari arah belakang Hanung berdiri ada Ziyyan yang memanggilnya sambil menarik-narik kain celananya.
Hanung langsung menoleh sambil mengulas senyum termanisnya kepada Ziyyan yang memintanya untuk duduk jongkok.
"Iyan mau bisik-bisik," kata Ziyyan sambil sesekali bocah itu melirik kepada Ibunya yang hanya berdiri di ambang pintu sambil menatapnya.
Hanung mengangguk, lantas ia mendekatkan telinganya kepada Ziyyan.
"Kalau Om bertemu ayah, bilang Iyyan ya?" kata bocah itu, dan Hanung langsung mengangguk mengiyakan.
"Iyyan mau dibelikan mainan mobil-mobilan yang besar. Bilang ke Ayah ya, Om."
"Iya, nanti kalau Om bertemu pasti Om bilang. Trus Ziyyan sendiri mau apa dari Om?"
Bocah kecil itu menerawang menatap ke langit. Senyum kecilnya kembali terukir dari sudut bibirnya. Padahal kondisi tubuhnya masih belum stabil.
"Aku mau kue yang besar dari Om," ucapnya dengan semangat setelah cukup lama berpikir.
"Kue ulang tahun maksudnya?"
Ziyyan langsung mengangguk. Dalam sekejap mereka berdua mulai bisa akrab, terlihat dari canda tawa yang sesekali terlontar dari mereka. Sehingga membuat Hanung terlupa lagi dengan tugas awalnya, yaitu menyewa sebuah motor kepada Narsih.
[Pesankan saya tiket pesawat ke Jakarta malam ini]
Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk dari Zayn. Beruntung saat itu Hanung sedang online.
"Bapak mau ke Jakarta?" Hanung langsung menelpon Zayn, karena merasa heran saja.
"Hmm..." Zayn menyahut bergumam.
"Apa saya perlu ikut?"
"Tidak usah. Sementara kau tangani proyek di sini selagi saya tidak ada. Jangan malah sibuk merayu gadis desa." Perkataan Zayn seakan mengena dengan apa yang tengah dilakukan asistennya itu. Membuat Hanung hanya bisa menelan salivanya sendiri dan terdiam saat mendengarnya.
"Kau masih belum menemukan motornya?"
"Sudah, Pak."
"Kalau begitu cepat kau ke sini."
"Iya, Pak." Hanung segera menyudahi panggilannya. Lantas ia pun segera berpamitan dengan Narsih dan juga kepada ibunya Ziyyan, wanita yang menjadi incarannya saat ini.
__ADS_1
"Besok-besok Om boleh main kesini lagi kan?" Tanyanya kepada Ziyyan sebelum ia benar-benar pergi.
Ziyyan mengangguk setuju. Bermain bersama Hanung tadi cukup membuat dirinya lupa sejenak dengan sosok ayah yang selalu ditanyakan sebelumnya.
Lambaian tangan kecil Ziyyan turut mengiringi kepergian Hanung. Sedang dari arah belakangnya, seorang pemuda desa mengikutinya sambil menaiki motor yang telah disewa oleh Hanung.
***
Pagi sudah menjelang. Setelah semalam Zayn sudah tiba di Jakarta, hari ini ia harus kembali berangkat ke kantornya untuk menemui Haris. Karena memang kedatangannya itu atas perintah Haris untuk menemuinya secepatnya.
Entahlah, Hal penting apa lagi yang akan disampaikan oleh atasannya itu. Biasanya ia hanya cukup menghubunginya lewat telepon jika Zayn sedang mengerjakan proyek diluar kota, tapi lain halnya dengan saat ini. Setelah kemarin sore Wisnu, asisten pribadi Haris menghubunginya. Menyuruhnya untuk segera menemui Haris secara empat mata.
Zayn sudah berada di ruang kerja Haris. Ia langsung disambut senyuman aneh dari atasannya itu. Meski perasaannya sebenarnya telah curiga, namun ia harus pandai menutupi suasana hatinya itu dari Haris.
"Bagaimana proyeknya?" Sapanya sambil menuntun Zayn untuk duduk berhadapan dengannya.
"Lancar, Pak. Team yang bekerja di sana sangat tekun dan ulet. Kemungkinan proyek ini akan segera selesai sebelum tenggang waktu."
Haris hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan dari Zayn. Pria itu tak pernah salah pilih telah menjadikan Zayn sebagai partnernya. Terbukti selama ini Zayn tak pernah mengecewakan dengan tugas yang selama ini dikerjakannya.
"Kau tak mau mencari calon istri?" Haris langsung menanyai hal yang sebenarnya sudah lama ia ingin tanyakan. Dan mungkin saat inilah waktu yang tepat dirinya menggencarkan misi awalnya.
Zayn terperangah sejenak mendengar pertanyaan dari Haris. Ada apa ini? Tak biasanya Haris sesantai ini menanyakan hal pribadinya? Biasanya ia terkesan cuek dan tak mau tahu dengan hal pribadi Zayn selama ini.
"Atau kau sudah punya calonnya?" Selidik Haris.
Zayn mengerutkan keningnya sambil memberanikan diri menatap kepada Haris. Terlihat dari tatapannya Haris menunggu jawaban darinya.
"Atau begini saja..." Haris berdiri sambil membelakangi Zayn, menatap keluar jendela yang mengarah ke luar pemandangan jalan raya.
" Kau menikahlah dengan anakku."
Deg.
.
.
*
Yuk, komentar yang banyak dong....
Author lagi galau akut nih😄
__ADS_1
Jangan lupa Like juga yaa....