
Zayn segera kembali ke rumahnya setelah ia mengantar Ara pulang tadi. Setelah peristiwa semalam itu, tentu membuatnya semakin banyak pikiran. Di saat ia akan memulai kariernya di luar kota untuk bisa membantu biaya pengobatan ayahnya, tetapi kali ini ia di buat dilema sendiri karena perbuatan khilafnya semalam.
Acara wisudanya sudah kurang tiga minggu lagi. Dan setelah itu ia akan segera pergi ke Batam sesuai kesepakatannya dengan perusahaan yang telah merekrutnya untuk bekerja di sana. Bagaimana nasib Ara? Bagaimana jika kekasihnya itu nanti mengandung anaknya? Semua pertanyaan itu terus-terusan berkutat di benaknya.
Zayn sangat frustasi. Pria itu seperti orang ling lung yang berjalan memasuki rumahnya tanpa menyadari keberadaan Tommy yang menunggunya, duduk santai sambil menikmati kopi susu buatannya sendiri.
"Dari mana lo?" Tommy menyapanya yang membuat Zayn terhenyak kaget mendengar sapaannya.
"Udah tadi?" Zayn malah balik bertanya.
"Lumayan lah." Tommy kembali menyesap nikmat kopi buatannya hingga tandas.
Zayn duduk di depan Tommy, menuang air putih kemudian meminumnya hingga habis dua gelas.
"Habis nyangkul lo, kehausan banget." Tommy terkekeh melihat Zayn.
Zayn hanya meliriknya, pria itu sudah tak lagi bergairah meski sekedar ngobrol santai dengan Tommy. Pikirannya benar-benar penuh hari ini.
Zayn merogoh sakunya, mengeluarkan sebungkus rokok yang ia beli tadi sepulang mengantar Ara. Pria itu begitu nikmat menyesap rokok itu. Tentu dari kebiasaan buruknya itu, Tommy sudah bisa menduga kalau sahabatnya itu sedang banyak yang di pikirkan.
"Jadi berangkat kapan ke Batam?" Tommy menanyainya dan juga mulai mengambil sebatang rokok untuk ia hisap juga.
"Awas batuk-batuk lagi." Lagi-lagi Zayn tak menjawab pertanyaan Tommy, tentu hal ini sangat membuat Tommy menaruh curiga mendapati perubahan Zayn yang begitu kentara.
Uhuk..... uhuk.....
"Tuh kan?" Zayn baru terkekeh setelah melihat Tommy yang amat tak mahir merokok.
"Sialan!" Akhirnya Tommy memilih menyudahi merokoknya dan kemudian menengguk air putih yang memang tersedia di depannya.
"Zayn." Tommy sudah memasang wajah seriusnya.
"Hmm....."
"Gue tidur sini ya?"
"Silahkan." Zayn tak bisa menolak permintaan Tommy karena rumah yang di tempatinya itu memang milik neneknya Tommy.
Tommy berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah itu, terlihat pria itu mengambil ransel besar dari dalam mobilnya.
"Lo minggat dari rumah?" Zayn mengekori Tommy yang menuju ke kamarnya.
"Emang!" Tommy melempar ransel yang di bawanya ke atas ranjang tidur Zayn di ikuti hempasan tubuhnya yang ikut berbaring.
"Eh, tumben banget kamar lo wangi gini." Tommy mendengus di seluruh permukaan sprei tempat tidur Zayn.
__ADS_1
Zayn tak menggubrisnya, pria itu di sibukkan dengan merapihkan tatanan pakaiannya di lemarinya agar Tommy bisa meletakkan pakaiannya juga di sana.
"Sumpah, ini bau parfum cewek." Tommy berujar ketika ia mulai menemukan pusat aroma itu di bantal yang ia gunakan.
Zayn menoleh ke arah Tommy, dalam hati pria itu sudah di sibukkan dengan jawaban apa yang akan ia berikan jika Tommy mengusutnya nanti.
"Zayn, semalem lo bawa cewek kemari?" Ternyata Tommy masih mendengus di permukaan bantal itu.
"Kayak familiar gitu baunya," lanjutnya.
Zayn berjalan ke arah Tommy kemudian mengambil paksa bantal yang masih di peluknya. "Sini!" ucapnya sambil melucuti sarung bantal bekas bantal yang di pakai Ara semalam.
Tommy menatap curiga pada Zayn. Sahabatnya itu kali ini lebih banyak diam, seperti sedang menyimpan sesuatu yang begitu rahasia.
Tommy pasrah saja ketika Zayn juga menarik selimut yang tak sengaja di duduki olehnya, Pria itu ingin menghilangkan jejak Ara semalam yang bisa saja akan di ketahui oleh Tommy jika ia lalai.
Namun kali ini tatapan Tommy di buat kaget ketika mengetahui adanya bercak darah yang menempel di permukaan sprei itu begitu Zayn menarik selimut itu tadi.
Mata Tommy membulat sempurna. Dengan penemuan ini sudah tentu kalau semalam Zayn membawa pulang seorang perempuan ke rumahnya.
Tommy segera membuka sprei itu. Sekilas mencermati noda darah itu yang tidak mungkin itu bekas darah nyamuk. Segera Tommy menggulung acak kemudian melempar kasar ke arah Zayn.
"Nih sekalian cuci, dah kotor!" kata Tommy sok bercanda, padahal dalam hatinya ia semakin kepo dengan kejadian semalam yang mungkin telah terjadi sesuatu dengan Zayn yang ia tak tahu.
Zayn hanya memungut sprei yang teronggoh di lantai itu kemudian memasukkannya ke dalam bak cucian kotor.
"Zayn."
"Ada yang ingin lo ceritain ke gue gak?"
Zayn menatap sekilas pada Tommy yang masih duduk santai di atas ranjang miliknya.
"Gak!" Jawabnya singkat. Pria itu melanjutkan kembali menata pakaiannya yang belum rapih.
"Lo masih aman kan?"
Lagi-lagi Zayn tak menggubris omongan Tommy padanya.
"Lo masih perjaka kan?"
Zayn langsung menoleh ke arah Tommy yang menatapnya begitu lekat. Pertanyaan Tommy itu begitu tepat dan membuat denyut jantung Zayn terasa berhenti berdetak.
"Sialan lo!" Pria itu melempar Tommy dengan sprei bersih yang ia ambil dari dalam lemarinya. Berpura-pura menanggapi pertanyaan Tommy adalah sekedar tuduhan saja kepadanya.
"Yaaa kali aja semalam lo habis unboxing anak gadis," celetuk Tommy sesuai kecurigaannya.
__ADS_1
Zayn seketika terdiam. Tetapi ia tidak mungkin mengakui apa yang terjadi semalam kepada Tommy. Sedangkan Tommy sudah memasang sprei itu di ranjang yang akan ia gunakan juga selama ia memilih kabur dari rumahnya.
"Lo kenapa bawa pakaian sebanyak gini, lo beneran minggat dari rumah?"
"Yo'i!" Tommy kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. Efek maboknya semalam membuatnya benar-benar merasa lelah dan ingin menambah tidur siang, menikmati masa santai menjelang kelulusan sebelum akhirnya ia akan di sibukkan dengan dunia bisnis warisan dari orangtuanya.
"Kabur tuh bukan kesini, ini sama aja lo masuk kandang sendiri." Zayn ikut duduk di sebelah Tommy yang sedang berbaring.
"Gue stress, Zayn." Tommy terlihat menerawang ke atas.
Zayn melirik ke arah Tommy menunggu ucapan selanjutnya, sambil kembali menyesap rokok yang tersedia juga di kamar itu.
"Lo pasti lagi stress juga kan?"
Lagi-lagi Zayn hanya melirik tanpa ada jawaban apa-apa darinya.
"Lo kenapa kabur?" Zayn mengalihkan kecurigaan Tommy padanya.
"Masa depan gue di renggut paksa sama nenek gue."
Tommy menghembus nafas beratnya.
"Nenek gue jodohin gue sama cewek yang nggak gue mau," ujarnya dengan malas.
Zayn di buat terkekeh mendengar pengakuan Tommy padanya. Bagaimana tidak, saat ini sahabatnya itu terlihat begitu lucu dengan ekspresi sendunya yang seperti di buat-buat.
"Ah, Sialan lo! Mang gak ada rasa ibanya sama nasib masa depan gue." Umpatnya kesal sambil menimpuk tubuh Zayn dengan bantal.
"Kenapa gak lo terima aja sih?"
"Trus nasib gue sama Sisil gimana coba?"
"Kenapa gak lo bilang aja sama nenek kalo lo udah punya calon sendiri?"
Tommy hanya terdiam, bagaimana mungkin ia membantah keinginan neneknya yang begitu tulus mengasuhnya setelah sepeninggalan mamanya semenjak ia SMA dulu. Sebesar apapun keinginannya untuk menolak, tak bisa menggagalkan rencana perjodohan itu yang rencananya akan berlangsung seminggu setelah ia wisuda nanti.
Zayn menepuk pelan pundak Tommy mencoba memberinya support, walau kenyataan dirinya juga sedang banyak permasalahan yang lebih berat dari apa yang di hadapi Tommy saat ini.
*
*
Terimakasih buat Reader's yang sudah memberi like buat Love Of Aurora yang jauh dari kata sempurna🙏
Komentar dukungan kalian sangat berarti buat otor☺
__ADS_1
Jangan pernah ninggalin Love Of Aurora yaaah....😘