
Keanu segera berniat datang ke rumah Ara setelah mamanya pulang dari rumah sakit. Seharusnya ia datang menemui Ara kemarin malam, seperti yang dijanjikannya kepada Ara. Disebabkan kondisi mamanya yang belum begitu stabil membuat pria itu terulur waktunya untuk menemui Ara.
Pria itu sudah berpenampilan begitu rapih dan sopan. Mentalnya sudah sangat siap jika nanti ia akan di maki habis-habisan oleh keluarga Ara begitu dirinya mengakui sebagai orang yang telah menghamili Ara.
Tekadnya sudah bulat untuk menggantikan ayah dari janin yang di kandung Ara. Bahkan dirinya juga sudah menceritakan maksudnya tersebut kepada mamanya yang langsung mendapat restu dari mamanya itu. Demi kebahagiaan anaknya, mamanya Keanu rela anaknya menikah dengan seseorang yang benar-benar dicintainya, walau alur ceritanya harus begini.
Pria itu berjalan mengendarai mobilnya menuju rumah pujaan hatinya. Degup jantungnya sangatlah gugup mengingat inilah pengalaman pertamanya melamar seorang gadis. Saat ini di benaknya hanya ada nama Ara. Bahkan ia pun sepertinya sudah lupa dengan Zayn, seseorang yang seharusnya bertanggung jawab dalam hal ini.
Laju mobil miliknya berhenti tepat di depan pagar hitam menjulang tinggi kediaman keluarga Haris Rahardian. Dirinya kembali mengatur nafasnya agar rileks, sebelum akhirnya ia turun menyapa security yang bertugas menjaga rumah besar itu.
"Mau bertemu siapa?" Security itu langsung menyapa Keanu yang sudah berdiri berhadapan dengannya.
"Mau bertemu bapak Haris." Keanu menjawab yakin.
"Mohon maaf, Tuan hari ini tidak bisa di ganggu."
"Oh," Keanu mendapat tatapan dingin dari dua pria gagah yang berdiri di depannya. Seorang pria bertubuh tegap berpakaian preman juga menemani security itu.
"Bisa saya bertemu dengan Ara?" Keanu masih bersuara ramah, padahal sebenarnya ia risih mendapat tatapan aneh dari dua pria gagah tersebut.
"Tidak bisa!" Mereka sama-sama menjawab.
Keanu membulatkan matanya menatap dua pria itu. Nyalinya seketika menciut disaat seorang pria berpenampilan preman itu melangkah mendekatinya.
"Kamu sebenarnya siapa, hah?!" Preman itu langsung mencengkram krah baju Keanu, hingga membuat tubuh Keanu sedikit terangkat saking kuatnya cengkraman pria berotot besar itu.
__ADS_1
"S-saya Keanu."
Seketika preman itu melepas cengkramannya. Terlihat mereka berdua saling bertatapan, membuat Keanu semakin penasaran mengapa mereka begitu tak sopan menyambut tamu rumah ini.
"Lebih baik kamu pergi saja." Berganti security itu yang berucap.
"Saya ingin bertemu dengan Ara sekarang. Saya sudah terlanjur berjanji dengannya kemarin, cuma baru sempat sekarang saya datang." Keanu menjelaskan tujuannya datang ke rumah itu.
Kedua pria itu sama-sama menggelengkan kepalanya. Mereka sepertinya sedang mematuhi perintah dari majikannya. Karena tidak mungkin juga keluarga Ara akan mempunyai dua orang penjaga rumah yang galak seperti mereka, jika tidak sedang menjalankan titah dari majikannya.
"Saya mohon..." Untuk terakhir kalinya Keanu kembali memohon.
"Kamu cepat pergi! Sebelum saya memberimu pelajaran karena sudah mengusik ketenangan disini!" Preman itu lagi-lagi mengeluarkan kata-kata ancamannya sambil mengepalkan satu tangannya bersiap mendarat di wajah Keanu.
Mendapati sambutan seperti itu Keanu langsung berjalan mundur. Lebih baik ia menyelamatkan diri dulu dari pada harus mati konyol ditangan preman sialan itu.
Ponsel Ara masih aktif ketika ia hubungi, tapi mengapa gadis itu tak mau menjawab panggilannya. Bahkan pesan darinya pun masih tak terbaca oleh Ara. Hal ini membuat pria itu semakin gelisah. Dirinya yang mengetahui kenekatan Ara kemarin untuk menggugurkan kandungannya itu, semakin merasa takut. Takut kalau gadis itu akan berbuat hal lebih nekat lagi dari pada kemarin.
"Kenapa kamu masih belum pergi juga, hah?!" Preman itu menggedor kaca mobil Keanu dengan kasar.
Keanu hanya membuka sedikit kacanya, takut kalau preman itu melayangkan tinjunya di wajahnya nanti. "Sebentar bang, ini saya lagi nelpon Ara," jelasnya sambil meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Aah, cepat pergi kataku! Ara tidak mungkin menjawab telepon kau!" Bentak preman itu.
Keanu menghentikan kegiatan menelponnya. Beralih ia menatap heran kepada preman yang masih berdiri memandangnya.
__ADS_1
"Ara tidak kenapa-napa kan bang? Sekarang sebenarnya dia dimana? Saya telpon gak pernah di angkat."
"Gak usah banyak tanya kau!" Preman itu akan memasukkan tangannya ke arah Keanu, tapi beruntunglah Keanu sigap untuk lekas menutup kacanya. Kalau tidak, bisa di pastikan wajah Keanu akan memar terkena tinju tangan kekar preman itu.
Akhirnya Keanu memilih pergi saja dari situ. Ia masih bisa kembali lagi besok. Laju mobilnya berjalan begitu lambat, sebab ia masih penasaran dengan adanya preman yang menjaga rumah Ara. Ia melirik pergerakan preman itu dari kaca spion mobilnya, terlihat preman itu sedang menghubungi seseorang dengan sangat serius yang lantas kemudian masuk ke dalam rumah Ara.
Keanu kembali menepikan mobilnya tak jauh dari rumah Ara. Pikirannya mulai penasaran tentang apa yang telah terjadi dengan keluarga Ara saat ini. Ia pun mulai menghubungi Sisil, siapa tahu gadis itu bisa menjelaskan dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Hallo." Sisil menjawab lemah.
"Sil, gue nelpon Ara kenapa gak pernah di jawab ya? Lo tau gak sekarang Ara dimana? Gue dari tadi nungguin dia didepan rumahnya, cuma dilarang sama security nya." Keanu mengucapkannya dengan satu tarikan nafasnya.
"Ara sudah pergi Ken." Suara Sisil mulai parau.
"Maksud lo?"
"Sekarang kita semua gak tau Ara pergi kemana, dia diusir sama papinya Ken..." Sisil mulai terisak lagi.
Keanu hanya terdiam mendengar perkataan Sisil. Tangannya sudah mengepal erat menahan segala amarahnya kepada Zayn. Iyah, semua ini terjadi karena pria pecundang itu.
Setitik buliran air bening mulai menetes dari pelupuk mata Keanu. Pria itu sungguh sangat menyesal karena telah lambat datang menemui Ara. Andai saja dirinya kemarin malam datang menemuinya, mungkin gadis pujaan hatinya itu masih bisa ia miliki lagi. Masih bisa menemaninya, dalam suka duka yang dirasa olehnya.
Rasa sesak begitu menyumbat alur nafasnya. Sakit dihatinya seakan tak bisa terobati lagi, hingga sampai ia bisa menemukan Ara kembali. Sesekali tangannya menghantam kemudinya, menumpahkan seluruh lara dihatinya lewat kepalan tangannya yang mulai memar.
Keanu benar-benar kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri. Kecewa dengan keadaan yang seakan tak pernah merestuinya untuk bisa bersama dengan Ara. Kecewa dengan takdir yang telah memisahkan dirinya jauh dengan sang pujaan hatinya.
__ADS_1
"My Queen Aurora, Dimanakah sekarang kau berada?"
*