Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 39


__ADS_3

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya mobil yang membawa Tommy, Zayn dan Ara sudah berada di halaman rumah Sisil. Kedatangan mereka di sambut oleh Sisil yang menunggunya berdiri di ambang pintu rumahnya.


Sebelumnya Ara memang memberitahu Sisil terlebih dahulu kalau mereka akan berkunjung ke rumahnya. Ia juga menanyai akan keberadaan tante Luvita, mamanya Sisil atau lebih tepatnya adik kandung dari mamanya Ara. Hal itu karena ia takut tante Luvita akan memberitahu mamanya tentang dirinya yang datang bersama dengan kekasihnya.


"Tumben kok baru nyampek, macet?"


Sisil menanyai mereka, yang seharusnya jarak tempuh dari rumah Zayn ke rumah Sisil hanya butuh waktu empat puluh menit perjalanan.


"Si Zayn nih masih minta mampir ke Mall." Tommy nyerocos sebal. Bagaimana tidak, selama perjalanan tadi dirinya terkesan sebagai obat nyamuk plus sopir bagi mereka.


Ara tertawa kecil melihat muka Tommy yang bertekuk. Berbeda dengan Sisil yang menatap Ara dengan seksama mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Perasaan tadi di kampus Ara gak pake baju gini deh." Sisil hanya bergumam.


"Om heru sama tante Luvi kapan datang?" Ara menanyai kedua orang tua Sisil yang sama-sama menjadi seorang pebisnis.


"Paling setengah jam lagi, Ra."


Mereka sama-sama menuju ruang tengah di rumah Sisil. Ara langsung menoleh ke arah Zayn. Pria itu langsung paham dengan kode itu, bahwa dirinya tidak boleh berlama-lama di rumah Sisil.


"Di minum yuk." Sisil menawari mereka setelah seorang ART rumahnya menyuguhkan jus jeruk lengkap dengan kudapan buat mereka.


"Sil, gue gak bisa lama-lama nih." Zayn berucap namun langsung mendapati pelototan dari Tommy dengan gumamnya yang tak jelas.


"Kok keburu amat?"


"Iya, soalnya masih mau--"


"Sil, gue ada yang mau di omongin sama lo." Tommy langsung menyela bicaranya Zayn. Ia sudah berniat kalau malam ini ia akan menyatakan perasaannya kepada Sisil.


Tommy menatap Zayn sambil mengedipkan matanya samar-samar, isyarat kalau ia hanya ingin bicara berdua saja dengan Sisil.


"Oke dah, gue keluar ke market depan bentar, mau beli rokok." Zayn pura-pura saja, padahal sebenarnya ia memang ingin pulang sebelum kedua orang tua Sisil curiga dengan dirinya yang terus-terusan menempel dengan Ara.


Akhirnya Zayn dan Ara keluar membiarkan mereka berdua berbicara. Gadis itu terus menggandeng lengan Zayn sampai tiba di depan gerbang rumah Sisil.


"Aku pulang ya." Zayn pamit.


"Kamu istirahat yang nyenyak, jangan begadang." Lanjutnya sambil membubuhi kecupan kecil di kening Ara.


"Masih pingin bareng." Ara merengek sambil tangan itu mulai melingkar erat di pinggang Zayn.


"Besok aku main ke kampus, kita kan ketemu lagi."


"Gak sabar nunggu besok." Ara membenamkan wajahnya di dada Zayn.

__ADS_1


Pria itu hanya tersenyum melihat kelakuan Ara yang sering manja akhir-akhir ini. Mungkin karena waktu perpisahan mereka yang semakin dekat, hingga membuat Zayn mudah baper karena kelakuan kekasihnya itu.


Entah mengapa Zayn merasakan dirinya saat ini sangat sensitif dan gampang menangis. Jika ia tidak gengsi, mungkin ia akan lebih parah manjanya di banding dengan kelakuan Ara malam ini.


Dan benar saja, malam ini lagi-lagi Zayn tak terasa menitikkan air matanya lagi.


Ara mendongakkan kepalanya. "Jangan nangis."


Zayn terkesiap, segera ia mengusap linangan air matanya yang entah sejak kapan mengalir.


"Kamu kalau ada apa-apa cerita dong sama aku, jangan malah nangis." Ara melerai pelukannya.


"Lagian kamu kok sering nangis sih, takut jauh dari aku lagi?"


Entahlah, Zayn sendiri juga tidak mengerti dengan dirinya yang saat ini. Bukan lagi menangis karena ketidak jujurannya kepada Ara, melainkan hal ini seperti-- Entahlah!


"Aku pulang yaa. " Zayn benar-benar pamit setelah taksi yang di pesannya sudah datang.


"Selamat malam pangeranku." Ara berucap sebelum kekasihnya itu masuk ke dalam taksi itu.


"Selamat malam juga, my love Aurora." Suara Zayn terdengar parau, seperti sedang menahan sesuatu yang entah untuk di ungkapkan.


Ara memandangi taksi yang membawa Zayn pergi hingga tidak terlihat lagi. Kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah Sisil, segera menuju ke kamar Sisil yang mana malam ini ia memutuskan untuk bermalam di rumah Sisil.


"Sil, gue serius suka sama lo."


"Gue tetap gak bisa terima. Lagian, bukannya lo tadi bilang minggu depan lo udah tunangan?"


"Emang, tapi itu sebatas perjodohan. Gue aja gak kenal sama siapa calon tunangan gue itu. Tapi yang pasti gue sih gak mau kenal dan gak mau tahu." Tommy mencoba meraih tangan Sisil yang ternyata gadis itu diam tanpa menolak ketika Tommy menggenggamnya.


"Di coba kenali dulu, jangan langsung vonis gak mau. Gue yakin, apa yang sudah di pilih oleh nenek lo itu pasti yang terbaik buat lo."


Sisil berkata begitu tenang, dan ia pun melepas genggaman tangan Tommy yang tak ia pungkiri sedikit membuatnya terasa terenyuh bercampur gemetar.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Gue mau lo nunggu gue, Sil. Secepatnya gue akan cari cara supaya pertunangan ini gagal."


"Itu terserah lo, tapi jangan bawa-bawa gue." Bibir Sisil sedikit gemetar ketika berucap itu.


Tommy menatap lekat netra Sisil. "Tidak adakah celah sedikit aja buat gue? Gue tetap akan berjuang untuk bisa bareng sama lo, gak pa-pa gue berjuang sendirian, gue gak akan bawa-bawa nama lo kalau nantinya pertunangan itu batal. Cuma, tolong beri gue kesempatan, biar perjuangan gue gak sia-sia."


Sisil terdiam, pria yang selama ini di kenalnya sebagai senior yang bar-bar, sering menggodanya dengan rayuan modusnya, ternyata malam ini bisa berkata begitu serius di depan Sisil. Yang tanpa Tommy ungkapkan perasaannya itu Sisil sudah tahu kalau pria itu menyukainya dari beberapa waktu kemarin.


"Tanggal 5 gue tunangan. Kalo lo datang, gue anggap lo memberi gue kesempatan."


"Meski gue ingin mencobanya, tapi itu mustahil. Gue gak mau jadi perusak hubungan orang. Mungkin inilah jalan yang terbaik di antara kita, berusaha melepas rasa dari hati yang mulai terpesona karena kehadiran lo yang ternyata bukan untuk gue." Ini hanya suara kecil hati Sisil.

__ADS_1


Sejenak mereka saling beradu tatapan mata. Linangan air mata itu sukses memecah dalam hati. Yah, mereka menangis. Menangis dalam diam, hingga bibir itu sulit berucap lagi ketika Tommy memilih hengkang dari rumah Sisil.


"Semoga lo bahagia, Tom," lirih hati Sisil ketika sudah mendengar deru mobil Tommy yang melaju pergi.


"Oh my god!"


Ara menutup mulutnya tak percaya menyaksikan dan mendengarkan sendiri pernyataan Tommy yang memang ia tidak tahu kalau pria itu memiliki rasa yang lebih terhadap Sisil.


"Ehem."


Ara terlonjak kaget ketika tiba-tiba Sisil sudah berdiri di depannya.


"Kenapa lo natap gue kayak gitu?" Gadis itu menanyai Sisil yang menatapnya begitu intens, dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Lo gak habis macem-macem kan sama kak Zayn?"


Kening Ara berkerut, "Macem-macem apa? Gak ngerti gue."


"Tiga kali gue lihat lo pulang kesini dengan baju yang udah beda setiap lo keluar lama sama kak Zayn."


Ara mulai berpikir, memang iya sih. Pertama saat ketahuan lagi dapet tamu bulanan, kedua saat ia pulang dari menginap di rumah Zayn, dan sekarang yang ketiga.


"Lo masih aman kan?" Sisil bersuara pelan.


"Aman!" Ara menyahut yakin.


Sisil hanya bisa bernafas lega mendengar pengakuan Ara. Lantas merekapun melangkah masuk ke kamar Sisil untuk merebahkan badan yang terasa capek karena aktifitasnya seharian.


"Sil, gue kasihan deh lihat Tommy tadi."


Mata Sisil membulat sempurna kepada Ara. "Lo nguping?" tanyanya sambil tangan itu melempar bantal ke arah Ara yang pada akhirnya terjadilah perang lempar bantal di antara mereka.


Gelak tawa terdengar riuh dari kamar Sisil. Hingga akhirnya Sisil menghentikan kegiatan konyol itu setelah Ara mengeluh pusing.


"Lo sakit?"


"Pala gue puyeng, Sil."


Huek.....huek.....


Ara berlari menuju kamar mandi setelah merasakan perutnya yang tiba-tiba bergejolak.


*


*

__ADS_1


Yuk, coment yang banyak supaya otor tambah semangat Up nya.😊


Jangan lupa like, vote, dan beri hadiah yang banyak juga😁


__ADS_2