Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 124


__ADS_3

"Sayang...."


Suara parau seorang pria terdengar jelas dari balik punggung Ara yang baru terlelap. Terasa hembusan nafasnya semakin mendekat menimbulkan rasa menggelitik diarea daun telinganya. Sedang lingkaran tangan pria tersebut mulai memeluk sempurna di perut wanita yang mulai terusik tidurnya.


"Bangun dong," suaranya lagi sambil mendengus nackal, menciumi punggung dan tengkuk Ara secara perlahan.


Ehhhhmmmm......


Ara hanya menggeliat geli tanpa bisa menolak perlakuan pria yang semalam telah resmi menjadi tunangannya.


"Kalo nggak bangun nanti aku makan loh ya?" Ucapnya lagi sambil tangannya mulai menjalar liar ke seluruh tubuh wanita yang masih sulit untuk sekedar membuka matanya kembali.


Sentuhannya itu sungguh mampu membuat Ara terlena hingga membuat alur nafasnya membuncah, seakan menuntut diperlakukan yang lebih dari itu. Perlahan pria itu meraih tangan Ara dan menciumnya lama. Setelahnya ia mulai mengabsen tangan hingga lengannya dengan kecupan hangatnya.


"Sayang, aku beneran sudah nggak kuat nih. Boleh ya?" Serunya dengan suara beratnya yang sudah tak kuat menahan libidonya.


Dan Ara hanya terdiam lagi. Entah mengapa ia begitu sulit untuk membuka matanya atau sekedar mengeluarkan suaranya, membalas ucapan pria yang sudah berhasil membalik tubuhnya hingga telentang.


Cup.


Diawali dengan ciuman hangat di pipinya. Lalu....


Cup.


Kedua pipinya sudah habis dicumbu olehnya.


"Bundaaaaaaa......."


Jleb!!


Ara seketika terkesiap dengan matanya yang terbuka sempurna. Deru nafasnya tersengal akibat terbangun oleh teriakan Ziyyan yang rupanya sudah berbaring di atas tubuhnya dengan jarak mukanya yang begitu dekat.


"Ziyyan!" kagetnya bercampur bingung sambil mengusap-usap matanya tak percaya.


Dan bocah itu hanya mengangguk tersenyum tanpa menggeser posisinya dari tubuh bundanya.


"Astaga!" Seketika wanita itu menepuk keningnya sendiri begitu menyadari bahwa tadi ia sedang bermimpi. Mimpi yang terasa seperti nyata, mimpi yang tak pernah ia sangka akan memimpikan Zayn di dalam tidur siangnya.


"Mm.... molor terruuuuus....." Tiba-tiba suara Sisil menyembul dari balik tubuh Ziyyan.


Ara mencoba mengangkat tubuhnya akan tetapi masih kesulitan karena Ziyyan masih belum mau pindah dari posisinya. Akhirnya Sisil membantu mengangkat tubuh Ziyyan memindahnya untuk duduk disebelah Ara.


"Eh, tumben amat lo dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun. Lagi mimpi indah, Buk?"


Ara masih bergeming. Tentu ia sangat ingat akan mimpinya yang memalukan itu. Bagaimana bisa ia memimpikan hal yang membuatnya masih merasakan desiran aneh itu, meski kini ia sudah terbangun.


"Ngelamunin apa sih calon pengantin ini?" Godanya lagi sambil menoel dagu Ara, membuat wanita itu kembali tersadar bahwa beberapa jam lagi dirinya akan resmi menjadi istri Zayn.


"Gue mau pipis!" ujarnya seketika.


Lalu ia pun terbirit-birit masuk ke kamar mandinya, padahal sebenarnya hanya ingin merenung saja.


"Iiiiiiih...... Kenapa aku mimpi gituan sih?"


Wanita itu ngoceh sendiri didepan kaca wastafel sambil mencuci muka mengusapnya sedikit kasar.


Huft.... Huft.... Huft....


Alur nafasnya ia atur senormal mungkin, sambil menatap wajahnya yang belum ia keringkan.

__ADS_1


"Sialan!" Umpatnya sendiri.


Tentu ia teramat malu karena telah bermimpi seperti tadi. Padahal itu hanya kembang tidur saja, apalagi jika hal itu menjadi nyata nanti?


Sementara diluar sana orang-orang rumahnya sedari pagi disibukkan dengan persiapan akad nikahnya hari ini. Kemudian ia melirik ke arah jam yang memang bertengger di dinding kamar mandinya.


"Huh, dua jam lagi," gumamnya dengan raut yang tiba-tiba gelisah tak karuan.


Tok tok tok.....


Dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu kamar mandinya, "Ara." Sisil memanggilnya.


"Hmm..." Ara hanya berdeham sedikit dikeraskan, tanpa ia mau membuka pintunya.


"Eh, buruan gih!" pekik Sisil, masih dengan ketukan tangannya yang terus berbunyi.


"Iya bentar lagi." Lalu kemudian Ara mengambil tissue dan mengusap wajahnya hingga kering.


"Lama amat sih, Ra?" Giliran Viona yang menyapanya begitu wanita itu menyembulkan mukanya dari balik pintu kamar mandinya.


"Eh, Mami." Wanita itu akhirnya keluar dan dibuat kaget oleh keberadaan dua orang perempuan yang tak dikenalnya tersenyum kepadanya.


"Pasti masih belum mandi?" Viona menebaknya yang kemudian hanya dapat respon nyengir dari putrinya itu.


"Adduuuuuh.... gimana sih Sayang? Akadnya dua jam lagi, kamunya masih kayak gini?" Viona memandang heran kepada Ara yang sepertinya tidak terlalu berantusias dengan pernikahan yang sangat mendadak ini.


"Cuma nikah siri aja kan, Mi." Wanita itu malah beranjak duduk ditepi ranjangnya sambil memainkan ponselnya.


"Eh, biarpun nikah siri tapi ini juga sah menurut agama dan dihadapan Tuhan. Kamu cepat bersih-bersih sana!" Viona menarik tangan Ara, yang mana ibu muda itu masih tak mau beranjak dari duduknya.


"Kenapa jadi Mami yang semangat sekali?" ujarnya tanpa mempedulikan tatapan Viona yang berubah entah.


Wanita itu hanya melirik lalu kembali fokus dengan ponselnya kembali.


"Plis deh jangan kayak anak kecil lagi." Tetiba Viona mengambil paksa ponsel yang dimainkan Ara.


Wanita itu hanya terdiam, kali ini ia tak bisa membantah lagi setelah melihat ada sorot mata yang mengembun dari Viona.


"Hari ini adalah hari spesial kamu. Nanti ada beberapa kawan bisnis papi yang sengaja diundang. Mami mohon, Nak." Viona tak melanjutkan bicaranya lagi. Sepertinya ia memang sengaja tak mau membicarakan hal yang sengaja ia pendam, hal yang menyangkut dengan kondisi perusahaannya yang sempat goyah akibat skandal video itu.


"Baiklah." Akhirnya Ara menyahut malas.


Dalam hati sebenarnya ia merasa masih tak siap dengan pernikahan ini. Andai saja hal ini tidak terlalu mendadak mungkin ia masih bisa mengkondisikan perasaannya yang masih ada sedikit keraguan dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Jangan lama-lama mandinya ya? Mereka butuh waktu untuk merias kamu," seru Viona saat Ara akan masuk lagi ke kamar mandinya.


"Maksudnya?" Wanita itu menoleh heran kepada maminya.


"Mereka ini MUA yang akan merias kamu."


"Apa?" Tentu Ara langsung kaget mendengarnya, karena ia mengira acara pernikahannya hanya digelar sederhana tanpa mengundang MUA.


Lalu tak lama setelah itu datanglah Wisnu yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Ara sambil membawa gaun pengantin yang rupanya sudah dipesan oleh Haris jauh-jauh hari. Tepatnya disaat Haris memiliki rencana akan menikahkan Ara dengan Zayn, sehari sebelum ia jatuh sakit beberapa waktu lalu.


"Itu--" Ara menunjuk gaun pengantin yang sudah berada di atas ranjangnya.


"Ini gaun yang akan kamu pakai setelah ini." Viona menjawab sambil mendorong tubuh Ara agar segera masuk ke kamar mandi dan lekas membersihkan badannya.


"Huft......"

__ADS_1


Viona hanya bisa menghela nafas lega begitu Ara sudah masuk dan ia pun akhirnya memilih keluar meninggalkan dua orang MUA yang telah disewanya.


"Ziyyan," sapa Viona saat bocah itu turut keluar dan digandeng tangan olehnya.


"Iya, Nenek."


"Bunda sama ayah sebentar lagi kan menikah, jadi setelah ini Ziyyan nggak boleh tidur sama bunda ayah lagi."


"Memang kenapa, Nek? Iyyan kan pingin tidur bareng ayah sama bunda?" Tanyanya polos.


"Eeeh... nggak boleh lagi." Sisil turut menyahut.


"Ziyyan ingin punya adek nggak?" Dan bocah itu langsung mengangguk senang.


"Kalau begitu biarkan ayah bundamu tidur berdua saja. Ziyyan harus berani tidur sendiri, belajar jadi anak mandiri. Entar adeknya nggak jadi loh?"


"Kamu bicara apa sih, Sil? Dia masih kecil loh?" Viona menyenggol lengan Sisil dan ternyata ponakannya itu hanya nyengir saja.


"Iya, aunty Sisil. Iyyan harus mandiri, biar Iyyan punya adek." Bocah itu meloncat kegirangan, karena bayangannya kembali teringat dengan Nabil, temannya di kampung, yang sering berkata jika ingin punya adik harus menjadi anak yang mandiri dan tidak rewel lagi dengan ayah ibunya.


Sementara suasana di apartemen Zayn.....


"Ciyyeeeee.... yang udah mau nikah aja. Cakep banget, Pak!" Goda Tommy yang menemani Zayn merapikan baju pasangan pengantin pria yang beberapa jam lalu Wisnu mengantarnya.


"Sumpah! Gue gugup banget!" ujarnya masih tetap memandangi wajahnya didepan cermin.


Tommy mendekat lalu kemudian menepuk pelan lengan sahabatnya itu sambil tersenyum semangat.


"Biasalah, namanya juga mau ijab kabul. Semua pria pasti ngerasain yang sama kayak lo."


"Trus lo sendiri kapan mau nyusul?"


"Nggak akan lama lagi," sahut Tommy sangat yakin. Karena setelah ini ia memang akan menagih jawaban cintanya dari Sisil, yang telah berjanji akan memberinya jawaban setelah masalah Ara dan Zayn selesai.


"Bang, udah selesai belum? Kalo udah ayok buruan berangkat." Tiba-tiba Cinta menyapa dua sahabat itu dari balik pintu kamar Zayn.


"Yuk!" Sekali lagi Tommy menepuk pundak Zayn.


"Bismillah," ucap Zayn seiring dengan langkahnya yang keluar dan kemudian segera berangkat bersama keluarga dan juga sahabatnya, Tommy, ke kediaman calon pengantin wanitanya.


.


.


"Oh my God.... Cantik banget lo, Ra."


Sisil tak kalah takjub begitu menyaksikan Ara yang sudah berubah anggun dengan balutan gaun kebaya modern yang melekat indah ditubuhnya. Apalagi kali ini wanita itu memakai kain penutup kepala alias hijab.


"Tapi ini berat banget, Sil. Gerah lagi!" Ara masih setia memandang pantulan dirinya di cermin riasnya.


"Itu karena lo masih belum terbiasa pake hijab. Sumpah! Lo cantik bangeeeeeett!" Saking senangnya sampai Sisil tak terasa menghentakkan kakinya layaknya anak kecil kegirangan.


Haris memang sengaja memesan gaun pengantin berhijab, karena ia merasa acara ijab kabul adalah acara yang paling sakral. Suatu sumpah dan janji yang akan tersematkan dihadapan Tuhan.



Queen Aurora Rahardian


Maaf kalo visualnya kurang cocok sama selera readers...😁🙏

__ADS_1


__ADS_2