
Haris sudah berada di rumahnya. Setelah siang tadi ia sadarkan diri, papinya Ara itu memaksa untuk di rawat di rumahnya saja dengan alasan sudah sangat jenuh berada di rumah sakit. Apalagi ketika dokter yang merawatnya berkata ia sudah dalam kondisi yang cukup stabil, makanya ia memaksa untuk melakukan perawatan di rumah saja dengan syarat harus tetap melakukan pemeriksaan secara rutin oleh Dokter Rima, dokter kepercayaan keluarga Rahardian.
Pria separuh abad itu membaringkan tubuhnya di ranjang besar di kamarnya dengan dibantu oleh Wisnu dan Viona, ia sudah merasa tenang kembali karena bisa menghirup udara segar di rumahnya.
"Aku tinggal keluar dulu, Mas." Viona langsung keluar dari kamarnya setelah suaminya itu berbaring santai di ranjangnya.
Haris mengangguk pelan, sedari tadi ia memandang istrinya itu seperti sedang menyimpan sesuatu darinya. Tatapan matanya itu terlihat sedikit resah ketika mengetahui dirinya telah sadarkan diri tadi.
"Saya juga pamit. Anda istirahatlah yang baik, Pak." Wisnu yang saat itu juga berada di kamarnya turut pamit pergi.
"Tunggu dulu!" Cegah Haris.
Wisnu mengurungkan langkahnya, ia kembali menatap kepada Haris yang sepertinya akan menanyainya banyak hal selama atasannya itu tidak sadarkan diri.
"Iya, Pak, apa ada yang perlu saya bantu?" Tanyanya kemudian.
Pria itu bukannya tidak ada info penting yang akan di sampaikannya kepada Haris, cuma ia ingin menunggu kesehatan Haris membaik dulu baru ia akan menyampaikan informasinya itu.
Semalam Hanung memberinya kabar kalau Zayn pergi begitu saja meninggalkan tanggung jawabnya di proyek karena hanya masalah mengejar wanita. Dan kabar itu jika di sampaikan saat ini kepada Haris, ia takut akan membuat atasannya itu kembali berpikir yang berat. Sebab kabar itu tentu akan mengecewakan bagi Haris yang sudah meminta Zayn untuk menjadi menantunya, dan kali ini yang ada Zayn malah mengejar wanita yang lain.
"Apa kau tahu apa yang istriku sembunyikan dariku?" Tanyanya serius.
Wisnu hanya menggeleng, karena ia memang tidak tahu menahu tentang maksud pertanyaan atasannya itu.
Haris menghembus nafas pelan, sepertinya ia masih belum puas dengan gelengan dari Wisnu itu.
"Setelah ini kau selidiki apa yang di rencanakan istriku. Aku yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Perintahnya kepada Wisnu.
"Baik, Pak!" Dan Wisnu langsung mengangguk patuh.
"Mm, apa suruhanmu itu memberi info lagi tentang Zayn?" Tanyanya lagi yang membuat raut wajah Wisnu langsung berubah resah.
Haris mengerutkan keningnya sambil terus menatap intens kepada Wisnu. Merasa sudah tertebak telah menyembunyikan sesuatu darinya, akhirnya Wisnu memilih untuk berterus terang saja.
"Sebenarnya ada, Pak." Wisnu masih terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Katakanlah! Jangan ada yang di tutupi lagi dariku."
"Semalam Hanung memberi kabar kalau Zayn pergi dari proyek. Bahkan meeting nya dengan Pak Agung ia serahkan begitu saja kepada Hanung."
"Kenapa bisa begitu?" Haris mulai mengerutkan keningnya.
"Mm, kata Hanung itu karena..." Wisnu terlihat ragu untuk menyampaikannya lagi. Pria itu tentu sangat takut kalau setelah mendengar kabar ini atasannya itu akan kembali down kesehatannya.
"Katakanlah! Aku tidak akan jantungan lagi." Haris berucap santai.
"Zayn pergi karena mengejar seorang perempuan. Hanung bilang perempuan itu katanya calon istri Zayn yang dulu hilang." Dengan sekali tarikan nafasnya akhirnya Wisnu mengutarakan semua info yang ia punya itu.
__ADS_1
Terlihat sedikit senyum kecil terukir dari sudut bibir Haris, dan hal itu tentu membuat Wisnu merasa heran. Kenapa Boss nya itu tidak marah atau kecewa setelah mendengarnya? Wisnu menjadi bingung sendiri setelah mendapati respon dari atasannya itu.
"Anda tidak marah, Pak?" Wisnu yang sedikit kepo mulai memberanikan diri menanyakan kondisi perasaan Haris saat ini.
"Tidak!" Haris menyahut singkat.
Bahkan raut senang itu begitu kentara di wajah Haris. Entah apa yang sedang di rencanakan oleh atasannya itu, Wisnu sudah tidak bisa menebaknya lagi.
Haris tentu sangat senang mendengar kabar Zayn pergi mengejar perempuan yang katanya calon istrinya yang hilang itu. Haris sangat yakin jika perempuan yang di maksud itu pasti adalah Ara. Mungkin di sana mereka sudah saling bertemu, makanya kali ini mungkin Zayn sedang memperjuangkan kembali untuk mengejar cintanya itu.
Masalah Zayn yang memilih pergi dan tidak bertanggung jawab lagi dengan proyek yang di tanganinya itu, Haris tidak terlalu mempedulikannya. Ia tak mau membuat Zayn merasa tertekan lagi karena sikap arogannya selama ini kepadanya, ia sangat ingin melihat sejauh mana pria itu akan memperjuangkan kembali untuk bisa mendapatkan cintanya itu lagi.
"Pak, ada satu hal lagi yang belum saya sampaikan." Wisnu berkata lagi.
Haris mengalihkan tatapannya kepada Wisnu, ia menunggu apa yang akan di katakannya lagi padanya.
"Rudy, sopir Bapak, kemarin juga ada di proyek kata Hanung."
Kali ini kening Haris berkerut lagi, pria itu terlihat berpikir keras setelah mendengar info dari asistennya itu.
"Kau hubungi Rudy sekarang! Tanyakan sekarang dia dimana. Kalau perlu kau video call dia." Perintahnya kemudian.
"Baik, Pak." Wisnu pun segera melaksanakan perintah dari Haris itu.
Ia melangkah sedikit menjauh dari Haris, agar nanti saat panggilannya di terima oleh Rudy, sopirnya itu tidak tahu kalau Haris juga mendengar percakapannya.
"Oh, iya Mas Wisnu. Ada apa menghubungi saya?"
"Sekarang kau dimana? Pak Haris sudah di perbolehkan pulang, dia menyuruhku menelpon bapak untuk menjemputnya pulang dari rumah sakit sekarang." Wisnu terpaksa berbohong.
Terlihat raut gelisah Rudy dari sana, bahkan kali ini Wisnu sudah bisa menebak kalau pria itu kini sedang berada di sebuah rest area.
"Kau sedang apa di sana? Kenapa kau bisa kelayapan sejauh itu tanpa memberi tahu Tuanmu dulu?" Wisnu langsung mencercanya.
"E-eh.. Sebenarnya saya... saya..." Rudy terlihat sangat gugup untuk berterus terang.
"Awas saja kau! Akan aku adukan perbuatanmu ini pada Pak Haris." Wisnu berpura-pura mengancamnya.
"Jangan, Mas Wisnu! Baiklah saya akan jujur, tapi tolong Mas Wisnu jangan adukan hal ini sama Tuan," ujarnya memohon.
Haris yang juga mendengarkan percakapan antara Wisnu dan Rudy itu mulai tersenyum simpul mendengarnya. Pasti ini juga bersangkutan dengan yang di sembunyikan Viona itu. Begitu lah dugaan sementara yang ada di benak Haris.
"Aku memang sedang ada di luar kota. Aku baru saja datang menjemput neng Ara. Tapi aku melakukan ini atas perintah nyonya Viona. Tolong jangan adukan ini sama tuan, Mas."
"Nyonya menyuruh begini karena merasa khawatir kalau Tuan tidak akan selamat lagi. Makanya nyonya menyuruhku menjemput neng Ara biar neng Ara bisa melihat kondisi tuan, sebelum terlambat," ujarnya lebih jelas.
Tentu Haris langsung kaget saat mendengarnya. "Viona! Kau menginginkanku segera mati apa?" Pria itu mulai mengeratkan rahang giginya. Ia tak habis pikir kalau istrinya itu bisa bertindak sejauh ini selama dirinya tidak sadarkan diri kemarin.
__ADS_1
Melihat tatapan Haris yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja makanya Wisnu menyudahi panggilannya itu. Ia segera mendekat lagi kepada Haris. Akan tetapi tak lama setelah itu terlihat dari raut atasannya itu sepertinya sudah tidak begitu marah setelah mendengar sendiri pengakuan dari Rudy.
"Pak." Wisnu menyapanya, namun Haris tetap tak bergeming apa-apa. Atasannya itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang amat genting.
"Ck! Dasar Viona!" Umpatnya kemudian, setelah teringat akan obrolannya dengan Viona yang mengatakan bahwa ia juga punya calon sendiri untuk Ara, sesaat sebelum dirinya tidak sadarkan diri kemarin.
"Ternyata kau benar-benar menentang perjodohan itu. Baiklah, kita lihat saja nanti. Pilihan siapa yang akan di pilih oleh Ara." Haris masih bergumam sendiri dengan senyum devil yang terpasang di wajahnya.
"Mas, kamu belum istirahat juga?"
Tiba-tiba Viona masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia melirik tajam kepada asisten suaminya itu, pasti karena laporan darinya itu membuat Haris tidak jadi mengistirahatkan diri.
"Pak, Bu, saya permisi. Karena masih ada beberapa urusan di kantor yang belum saya selesaikan." Pamit Wisnu, karena merasa tidak enak sendiri setelah mendapat tatapan sinis dari Viona padanya.
Dan akhirnya Wisnu pun segera keluar dari kamar itu setelah mendapat anggukan setuju dari Haris dan juga Viona.
"Mas, dokter kan sudah bilang kalau Mas harus banyak istirahat dulu. Jadi biarlah urusan kantor biar Wisnu dulu yang handle. Mas jangan terlalu banyak mikir dulu," seru Viona sambil menyelimuti tubuh suaminya sebatas dadanya saja.
"Aku sudah bosan terus-terusan rebahan saja, aku ingin duduk di luar." Haris mulai menyibakkan selimut yang semula di pasang oleh Viona.
"Mas," Viona berusaha mencegahnya.
Setelah terlibat saling perang dingin di antara mereka beberapa tahun lamanya, tentu kali ini Viona tidak akan membuat suaminya merasa terabaikan lagi karenanya. Makanya kali ini ia begitu protektif menjaga Haris, demi kesehatannya juga.
"Kenapa sayang? Aku sudah tidak kenapa-napa kok. Lihat lah! " Haris bergerak gerak sembari merenggangkan otot-otot tangannya.
"Kemarin aku hanya kritis biasa, itu tidak akan mudah membuatku mati. Jadi kau tenang saja." Haris sedikit menyindir kepada Viona.
"Iish, Mas Haris ini bicara apa sih!" Yang di sindir malah tidak merasakan apa-apa.
"Sudah lah, aku mau duduk santai di luar. Aku mau menunggu Ara datang," ujarnya lagi sambil sedikit melirik pada Viona.
"Hah? Dari mana Mas Haris tahu kalau Ara akan pulang?" Viona hanya terdiam mematung dengan mulut yang mulai terperangah.
"Kau tidak mau menunggunya juga? Bukannya kamu yang menyuruh Rudy menjemput Ara pulang?" Haris sudah mulai beranjak dari tempatnya.
Di susul kemudian Viona juga mengejar di sampingnya. "Mas tidak marah aku menyuruh Rudy menjemput Ara?"
Haris menggeleng saja, lantas tangannya itu terulur untuk membawa Viona masuk dalam rangkulan hangatnya.
"Untuk apa aku marah? Itu malah semakin memudahkanku untuk menjodohkan Ara dengan pilihanku itu," serunya kemudian.
Terpasang raut tak suka Viona saat mendengarnya. Ternyata Haris masih kekeuh dengan keputusannya itu, "Mm, aku juga sudah siapkan calon yang lebih cocok untuk Ara. Lihat saja nanti! Kau pasti akan menyesal kalau nanti Ara memilih calon dariku itu." Viona bergumam sendiri.
Viona berusaha terlihat baik-baik saja kepada Haris. Ia pun turut mengiringi langkah suaminya itu untuk pergi menunggu kedatangan putri semata wayangnya di ruang tamunya. Terlihat nyata raut kebahagiaan terpancar jelas dari kedua orang tua itu. Rasa rindu yang selama ini hanya terpendam akan segera terbayarkan setelah ini.
*
__ADS_1