Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 151


__ADS_3

Suasana pagi kembali menyapa. Setelah semalam Zayn nyaris tak bisa tidur nyenyak akibat pikirannya yang random, kali ini pria itu dibuat merasakan sesuatu yang sudah sangat lama hal itu tidak kambuh lagi.


Ia memang memiliki riwayat penyakit asam lambung, cuma kali ini yang ia rasa berbeda dari gejala asam lambungnya itu. Rasa mual yang bergejolak tiba tiba terjadi tanpa penyebab yang pasti.


Zayn bergerak sedikit sempoyongan ke arah kamar mandi. Kepalanya sedikit pening ditambah perutnya yang terus terusan merasa mual.


Huweek.... Huweeeek....


Akhirnya setelah berusaha ditahan sekuat diri, cairan itu keluar begitu saja dari kerongkongannya. Seakan tak habis untuk terkuras, dan itu terus saja terjadi tanpa jeda.


"Ya Allah, aku kenapa?" Lirihnya dalam hati sambil menatap diri dalam pantulan kaca wastafel. Peluh dingin dengan wajah yang memucat membuat pria itu semakin berpikir kemana-mana.


Huweeek...


Lagi lagi Zayn menguras habis isi perutnya yang sebenarnya masih kosong dalam pagi seperti ini. Hingga suara dirinya yang sedang muntah muntah itu, mencuri atensi wanita yang masih belum terjaga dikamar itu juga.


Ara mengerjap berulang-ulang. Semakin sadar ia semakin mendengar dengan jelas asal suara itu berasal dari dalam kamar mandi.


"Mas Zayn," ucapnya, ketika menyadari jika suaminya itu sudah tidak ada disebelahnya.


Segera ia menyila selimutnya, lalu kemudian ia menyusul kepada Zayn yang rupanya masih tetap muntah muntah.


"Mas," sapa Ara sambil memegangi kedua pundaknya dengan cengkraman tangannya yang memijit pelan.


"Mas kenapa? Aku telpon dokter Rima ya, Mas, biar bisa segera ditangani. Sepertinya asam lambung kamu kambuh lagi deh Mas.." ujar Ara, merasa sangat khawatir melihat Zayn yang semakin lemas dengan bibir yang memucat.


Zayn menggeleng pelan. "Aku baik baik saja," jawabnya, terdengar sedikit dingin kepada Ara.


"Baik baik gimana, kamu muntah muntah begini?" sungut Ara, sambil membantu mengelap wajah suaminya yang berkeringat dengan tangan kosongnya.


Zayn meraih tangan Ara yang bergerak lembut diwajahnya, menggenggamnya erat sambil menatap sendu pada netra istrinya itu. Sekilas senyum tipisnya terukir, merasa senang mendapati istrinya yang begitu perhatian dengan kondisinya saat ini. Akan tetapi bayangan tentang testpack semalam itu, membuat senyum itu memudar kembali.


"Aku ambilkan air minum hangat ya, Mas." Ara melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari Zayn.


Wanita itu segera turun menyusuri undakan tangga menuju ruang dapur. Di sana sudah ada Inah yang sudah stand by mengerjakan segala keperluan untuk sarapan pagi.


"Eh, neng Ara.." sapa Inah, begitu melihat anak majikannya itu berada di dapur itu juga.


"Pagi, bi Inah." Ara menyahut ramah.


"Mau buat minum apa, Neng, biar bibi saja yang buatkan," tawar Inah, begitu melihat Ara menuang air hangat dari termos kedalam gelas.


"Mau buat susu ya?" Inah yang sudah tahu jika Ara saat ini sedang mengandung, tentu sangat bersemangat ingin membantu menyiapkan segala apa yang mungkin di idamkan oleh ibu hamil.

__ADS_1


"Nggak, Bi. Ini buat mas Zayn."


"Ooh..."


Lalu setelah itu Ara pergi lagi, menemui Zayn dikamarnya.


"Sayang," sapa Ara, begitu melihat suaminya itu sudah meringkuk di kasur sambil mengenakan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.


"Air hangatnya diminum dulu." Ara menarik selimutnya, dan kemudian Zayn pun duduk dan meminum separuh dari isinya.


"Gimana sekarang, Mas, apa sudah mending atau masih ada yang nggak enak?"


"Hem..." Pria itu hanya menyahut dengan gumaman.


"Hari ini Mas nggak usah ke kantor ya? Istirahat saja di sini. Aku khawatir kamu kenapa-napa lagi."


Zayn hanya mendengus pelan. Meeting pentingnya pagi ini rasanya sangat sayang jika dibatalkan, takut berimbas pada bisnis proyek yang akan ditanganinya itu.


Drrrrrt..... Drrrrrt.....


Bunyi ponsel milik Zayn tiba tiba memekik di pagi hari. Ada nama Hanung yang tertera dilayar ponselnya.


"Iya, Nung."


Perbincangan singkat itu kemudian berakhir. Akan tetapi Zayn masih menyorot entah pada layar ponselnya yang sudah mati. Terlintas ia ingin menghubungi Tommy saat ini juga, untuk menceritakan segala uneg-unegnya itu kepada sahabat sejatinya.


"Aku mandi dulu, Mas."


"Hem..." Lagi lagi Zayn menyahut hanya dengan gumaman.


Ara melangkah gontai menuju kamar mandi. Tentu ia sedikit merasa curiga akan perubahan sikap dingin suaminya itu. Sekilas ia mencuri pandang pada arah suaminya lagi sebelum akhirnya ia kemudian masuk kedalam kamar mandi.


"Dia kenapa dingin begitu sama aku?" batinnya terus bertanya-tanya. Ia pun teringat jika semalam Zayn merenung seorang diri di teras balkon cukup lama.


"Mmm, pasti dia lagi masuk angin." tebaknya, setelah meyakini jika yang terjadi pada Zayn pagi ini hanya karena masuk angin saja.


Tak mau berpikir rumit, ia pun segera melaksanakan kegiatannya dikamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin, hingga rasa segar itu menyeruak ke seluruh bagian tubuhnya.


"Astaga! Testpack itu?" Tiba tiba Ara teringat kembali akan dimana dan apakah ada seseorang yang akan menemukan keberadaan testpack itu.


Ia pun segera menyudahi kegiatan mandinya. Satu orang yang akan ia tuju setelah ini, yaitu Inah. ART itu semalam yang membuang isi sampah dari kamar mandi ini.


"Sayang, aku kebawah dulu ya, sebentar." pamitnya seketika. Bahkan Ara sudah melenggang saja sebelum Zayn menyahuti sapaannya.

__ADS_1


"Tom, nanti sore ketemu yuk?"


Pria itu saat ini sedang bertelponan dengan Tommy.


"Oke! Nanti gue kabari tempatnya." Zayn mengakhiri sambungan telponnya setelah membuat janji bertemu dengan Tommy sore nanti.


.


.


"Bik Inah," sapa Ara, sambil sedikit merapatkan tubuhnya kepada ART itu. Matanya celingukan ke sekitar, sebelum kemudian mengatakan apa yang menjadi tujuannya menemui Inah lagi.


"Mm, sampah yang semalam dari kamar, Bibi buang?" tanyanya, dengan suara dibuat sepelan mungkin.


"Iya, Neng. Kenapa? Apa ada yang mau neng Ara cari?"


Ara mengangguk berulang-ulang. "Iya, Bi."


"Mmm, pasti mau cari testpack yang nggak sengaja neng Ara buang itu kan?"


Deg.


"Kok? Aaaarrrgh......"


Ara mengerang dalam hati. Rasanya ingin mengumpat diri sendiri atas kecerobohan yang diperbuatnya itu.


"Selamat ya, neng Ara. Duh, jadi nggak sabar mau melihat rumah ini rame sama tangis debay." Inah berkata begitu sumringah.


"Jadi aku positif hamil beneran?" gumamnya tak percaya.


"Tuan Haris sama nyonya Viona pasti senang dengar kabar ini, Neng. Apalagi Ziyyan."


"Sssssttt.... Ngomongnya pelan-pelan, Bi." Ara celingukan lagi pada sekitar, beruntung obrolan pagi itu tidak ada siapa siapa lagi disekitar dapur itu.


Spontan Inah menutupi mulutnya sendiri, merasa bersalah karena telah membuat Ara sedikit resah. Inah pikir Ara merahasiakan kabar hamilnya itu agar menjadi surprise bagi keluarganya nanti. Bisa jadi Ara sedang merencanakan sebuah pesta kecil atau apalah itu, yang nantinya akan Ara ungkapkan kehamilannya itu disana. Ini hanya menurut Inah loh ya...


"Maafin bibi ya, neng Ara. Bibi kadang suka keceplosan." Inah mengatupkan kedua tangannya kepada Ara.


"Sekarang testpack itu dimana, Bi?" Ara langsung menanyai dimana benda itu Inah simpan.


"Ee.. Semalam pas nemu itu, bibi langsung kasih ke mas Zayn, Neng," aku Inah, sambil menundukkan pandangannya dari Ara yang saat ini sedang menatapnya dalam artian sulit diartikan.


"Hah?"

__ADS_1


*


__ADS_2