
"Itu tadi? Aaaaah....."
Ara menutup mulutnya dengan kedua tangannya disaat menyadari sesuatu yang disenggolnya tadi adalah benda keramat milik Zayn. Wanita itu sedari tadi belum juga beranjak dari depan cermin dikamar mandinya.
Sumpah! Demi hal apapun wanita itu kini merasa salah tingkah untuk keluar dari sana. Wajahnya sudah sangat merona, teringat kembali akan serangan ciuman yang dilakukan Zayn barusan. Bahkan wanita itu pun sempat merutuki dirinya sendiri yang juga ikut menyambut permainannya tadi. Sungguh, antara suara hati dan tubuh yang tak bisa diajak untuk kompromi.
Sesekali ia mengintip Zayn dari balik pintu itu, dilihatnya pria itu sedang melakukan gerakan push up begitu semangatnya, hingga membuat Ara kembali berpikir yang tidak tidak tentang mengapa pria itu melakukan hal tersebut malam malam begini.
"Duh! Kenapa dia push up malam malam begini? Apa dia? Aaaaahh......" Wanita itu lagi-lagi bermonolog dengan pikiran negatifnya.
Huft.... huft.... huft....
Alur nafas yang sebenarnya sudah diatur senormal mungkin, ternyata tak juga bisa menutupi suasana hatinya yang entah.
"Okey! Aku harus keluar dari sini. Aku harus bicara jujur ke dia kalo aku masih nggak siap. Tapi gimana ngomongnya?" Ara hanya bisa menatap langit langit kamar mandi itu sambil terus berpikir keras.
Jujur, meski hal ini bukanlah yang pertama buatnya, tetap ia merasa sangat tidak siap. Apalagi kejadian yang dulu itu terjadi disaat dirinya sedang dibawah pengaruh minuman keras alias sedang tidak sadar pernah melakukannya. Ia masih tak bisa membayangkan jika kejadian itu terulang disaat dirinya dalam keadaan sadar, yang pastinya akan menjadi pengalaman pertama baginya.
"Kalo aku nggak keluar, masa iya aku mau tidur di kamar mandi?" Lagi-lagi Ara mengintip Zayn kembali.
Setelah merasa yakin akan mengatakan ketidaksiapannya itu, perlahan Ara mulai melangkah keluar, dan bersamaan itu pula Zayn menoleh kepadanya.
"Sudah?" Tanyanya sambil menghentikan kegiatan push up nya.
"Ah eh...." Wanita itu malah langsung tak bisa berkata kata lagi, apalagi ketika melihat pria itu melepas kaosnya didepan mata tanpa ragu.
Ia kembali terdiam, tetap mematung didepan pintu kamar mandinya.
"Ka-kamu mau apa?" Tanyanya sangat gugup ketika mendapati Zayn melangkah mendekat kepadanya.
Yang ada pria itu hanya menyeringai, seakan begitu senang melihat raut Ara yang sangat tegang.
"Stop! Stop! Jangan mendekat!" Ucapnya sambil menutup wajahnya, merasa risih melihat Zayn bertelanjang dada dengan keringat yang nampak memenuhi tubuhnya.
"Hei, kamu kenapa?" Pria itu malah membuka tangan Ara yang dibuat untuk menutup wajahnya.
"Aaaaaarrrrg..... Dasar cowok mesum!" Umpatnya sambil memejamkan matanya rapat rapat ketika ternyata Zayn meletakkan tangan wanita itu menempel di dadanya.
Zayn hanya terkekeh, merasa sangat lucu melihat Ara yang bertingkah layaknya remaja yang baru bersentuhan pertama kali dengan cowok.
"Buka matanya!"
"Nggak mau!" Tolaknya tegas, dengan gelengan kepalanya berulang ulang.
"Kalo nggak mau buka, aku paksa ya?"
"Kamu jangan suka pemaksaan deh. Aku nggak suka!" ucapnya masih sambil memejamkan mata.
Lagi lagi Zayn hanya menyeringai, tiba tiba saja muncul ide untuk menggoda istrinya itu.
"Oke, kamu nggak mau nurut. Jadi jangan salahkan aku kalau......" Pria itu kini mendorong tubuh Ara hingga bersandar didinding.
"Oke. baik, baik!" Seketika Ara membuka matanya, dan tentu ia melihat kini dirinya sudah dikungkung oleh keberadaan Zayn yang menghimpit tubuhnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Zayn menarik dagu Ara, menuntunnya untuk saling bertatapan mata.
"Kamu kayak ketakutan," lanjutnya sambil mencuri kesempatan mencium bibir Ara walau sekilas.
Ara masih terdiam, dengan deru nafas yang membuncah. "Coba katakan, apa yang kamu sembunyikan dariku?" Zayn masih menatap netra istrinya begitu dekat.
__ADS_1
"Aku... Aku nggak siap," ujarnya dengan suara terbata bata.
Kening Zayn malah berkerut, masih tak begitu paham dengan maksud perkataan Ara.
"Jangan meminta itu, aku masih nggak siap melakukannya."
"Ooh...." Zayn menggeser tubuhnya mundur, kembali memandang intens kepada Ara yang sudah tertunduk.
"Dengar!" Pria itu mengangkat dagu Ara lagi. "Aku nggak akan meminta atau memaksa, selagi kamu masih nggak siap. Maaf kalau tadi aku lepas kendali." Ibu jarinya terulur mengusap lembut bibir bawah Ara.
Ara hanya terdiam, akan tetapi hembusan nafasnya keluar begitu lega setelah mendengar ucapan dari Zayn. Semoga saja pria itu tidak mengingkari janjinya sendiri, bathinnya mulai berdo'a.
"Sekarang aku mau mandi. Kamu jangan tidur dulu. Setelah ini temani aku kedapur. Aku lapar." Lalu kemudian Zayn pergi masuk kekamar mandi tanpa mau menoleh lagi kepada Ara.
Ceklek.
Pintu kamar mandi itu telah tertutup rapat, akan tetapi Zayn masih berdiam diri sambil menyender ke pintu itu. Ia kembali terngiang akan wajah tegang Ara yang rupanya karena perbuatannya itu yang memancing ketidaknyamanan padanya.
Mungkin ia harus kembali bersabar, menunggu wanita itu sampai benar benar mau membuka hatinya. Demi langgengnya sebuah hubungan, apa salahnya sedikit mengalah?
Tok tok...
Suara ketukan pintu membuatnya tersadar, tetapi ia memilih tidak menyahutinya, hanya menunggu apa yang mungkin akan disampaikan oleh seseorang yang mengetuk pintu itu.
"Aku tunggu di dapur," sapa Ara.
"Iya," sahut Zayn lalu kemudian beranjak menuju shower untuk mengguyur tubuhnya.
Setelah tadi berusaha melakukan gerakan push up yang rupanya tak begitu berhasil menidurkan juniornya, kini cara ampuh lainnya yaitu mengguyur tubuhnya dengan air dingin ditengah malam yang tentu terasa sangat dingin.
Setelah cukup lama Zayn melakukan kegiatannya dikamar mandi, ia pun segera menuju dapur menemui Ara yang sudah menunggunya di sana.
Terlihat wanita itu hanya berdiri melamun, tanpa melakukan kegiatan apa-apa selain hanya memandangi kompor didepannya.
"Kamu mau masak apa?" Tanyanya tiba-tiba, cukup membuat Ara terhenyak kaget dan seketika menoleh kepadanya.
"Kamu mau makan apa?" Ara bertanya balik.
"Mie instan saja."
"Serius?" Ara membalikkan tubuhnya, dan Zayn hanya mengangguk.
Meski sebenarnya pria itu tidak terlalu suka memakan mie instan, akan tetapi terpaksa ia memintanya. Demi tidak mau merepotkan Ara, harus memasak ditengah malam begini.
Dengan cekatan Ara memulai memasaknya. Ini hanya mie instan, tentu sangat mudah baginya. Sedangkan Zayn masih terus memandanginya tanpa mau menggeser posisinya dari belakang Ara.
"Sayang," sapanya ragu-ragu.
Ara hanya bergeming, tetapi sedang menunggu apa yang akan dikatakan Zayn padanya.
"Kalo cuma begini boleh kan?" Tanyanya sambil langsung melingkarkan pelukannya di pinggang Ara yang sedang meracik masakannya.
Wanita itu tak menyahut apa apa, pun ia juga tak menolak dibegitukan oleh Zayn. Merasa tiada penolakan, pria itu semakin mengeratkan pelukannya sambil menopangkan dagunya dipundak Ara. Senyumnya terukir tipis, mungkin ia memang harus perlahan untuk bisa meraih hati wanitanya itu.
"Sini aku yang bawa." Tangan Zayn terulur untuk membawa semangkuk mie instan yang sudah siap santap.
Lalu kemudian mereka duduk bersama dimeja makan, tepatnya Ara hanya menemani Zayn yang begitu lahapnya menyantap masakan siap saji itu.
Tak butuh waktu lama mie itu telah habis dilahap oleh Zayn. Pria itu beranjak ingin meletakkan mangkuk kotornya akan tetapi dicegah oleh Ara yang langsung mengambil mangkuk itu dari tangan Zayn.
__ADS_1
Pria itu membiarkannya saja, mungkin dengan ini wanitanya itu tengah mulai belajar membuka hatinya. Hingga sampai Ara kembali lagi sambil membawa segelas air minum ditangannya.
"Maaf, minumnya lupa," ujarnya sambil menyodorkannya kepada Zayn.
Zayn meraihnya, lalu langsung meminumnya hingga tandas. "Terimakasih istriku," serunya yang cukup membuat perasaan Ara kembali meremang, bagai terbawa terpaan semilir angin yang berhembus disekitarnya.
"Eh, neng Ara." Tetiba muncul Inah yang juga datang ke dapur.
Zayn dan Ara sama sama menoleh kepada Inah yang sudah menuju ke arah dispenser.
"Bibi kehabisan air minum di kamar," ujarnya sambil mengisi air kedalam botol yang dipegangnya.
Zayn dan Ara sama sama tak menyahut, hanya saling menunggu Inah selesai dengan kegiatannya.
"Bibi langsung balik kamar dulu Neng, Mas," pamitnya, begitu sudah selesai mengisi penuh botolnya.
"Iya, Bi." Zayn yang menyahut.
"Kalian juga harus kembali ke kamar, segera tidur. Masih ada besok dan besok, sudah sah juga kok." Goda Inah, benar benar sudah tidak sungkan lagi kepada anak dan menantu majikannya.
Zayn dan Ara tentu dibuat terperangah sekaligus bercampur malu dan juga kesal, karena telah dianggap sudah melakukan hal yang tidak tidak oleh Inah.
Tentu Inah berani menggodanya demikian karena memang melihat rambut Zayn yang basah. Makanya otak Inah langsung menjurus ke hal yang begituan.
Setelah Inah sudah benar benar pergi, mereka pun juga turut pergi. Kembali menuju ke kamar pengantin.
"Sayang." Zayn mencegah tangan Ara sebelum ia turut masuk kedalam kamar tersebut.
Wanita itu menoleh. "Kita tidur sekasur ya? Aku janji nggak bakalan aneh-aneh lagi." Jarinya terangkat membentuk huruf V.
Ara hanya mendengus, mau menolak tapi ia malas ribut lagi. Tidak menolak, ia masih sedikit ragu, takut Zayn akan mencuri kesempatan lagi.
"Aku janji." Zayn menatapnya begitu sendu.
"Awas ya, kalo nggak tepat janji!" Ucapnya kemudian, lalu masuk begitu saja disusul Zayn yang mengikutinya dibelakang.
"YES!!!"
Dalam hati pria itu bersorak senang, tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan terus berusaha membuat wanita itu akan secepatnya menerimanya hingga kemudian tak mau terpisah jauh darinya.
Ara mulai menempati tempatnya di kasurnya, Zayn turut merebahkan diri disebelahnya. Terlihat jelas jika wanita itu masih kesulitan memejamkan matanya, dan Zayn hanya menatapnya begitu saja.
"Tidurlah," seru Zayn.
"Belum mengantuk," ujarnya singkat.
"Boleh aku membantumu biar lekas tertidur?" Tawarnya dengan tatapan yang mulai aneh lagi menurut Ara.
"Kemarilah...." Lalu Zayn menarik tubuh Ara, membawanya masuk kedalam pelukannya.
"Kamu?" Tentu Ara merasa was-was lagi kepada Zayn.
"Diamlah..." Zayn semakin mengeratkan pelukannya.
"Pejamkan matamu, tidurlah," ujarnya sambil membubuhi kecupan hangat di pucuk kepala wanitanya, lalu juga turut memejamkan matanya.
Ara masih terjaga, meski sebenarnya ia sudah merasa yakin jika Zayn akan menepati janjinya itu. Hingga sampai terdengar dengkuran halus dari pria yang masih memeluknya itu, baru itulah Ara bisa memejamkan matanya dan memasuki alam mimpinya lagi hingga sampai esok menjelang.
*Bersambung.
__ADS_1
Hai Readersku... Maaf nih kemarin nggak bisa update. Biasalah, RL othor kembali sibuk. Tetapi semoga saja kalian masih setia bersama LOVE OF AURORA hingga sampai end nanti.
Jangan lupa dukungannya ya readers... Komentar dari kalian adalah penyemangatku😘