Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 117


__ADS_3

Zayn sudah kembali tiba di tempat proyeknya yang beberapa hari terakhir hanya diurus oleh asistennya, Hanung. Setibanya disana ia disambut bahagia oleh asistennya itu, sebab Hanung merasa jika pekerjaan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya akan kembali diurus oleh yang seharusnya berwenang.


Sayangnya sekembalinya Zayn kesana ternyata cukup membuat Hanung kewalahan. Sebab boss nya itu kini seakan mengerjakan proyeknya secara forsir. Usut punya usut ternyata Zayn demikian bukan karena dikejar target proyek tersebut, melainkan karena ia sudah terdesak oleh Haris dan Malik untuk segera melangsungkan pernikahannya dengan Ara dalam bulan ini juga.


Dan karena hal itulah yang membuat pria itu harus segera menyelesaikan proyeknya sebelum ia benar-benar menikah nanti, karena sebenarnya ia tak mau setelah menikah harus mengurus proyeknya lagi yang berada jauh di pedesaan ini yang membuatnya terpaksa berpisah lagi dengan Ara.


Selama beberapa hari pria itu mengurus proyeknya lagi, Hanung kerap kali melihat wajah stress dari aura Zayn. Bukan karena masalah proyeknya, bukan pula karena didesak segera menikah, akan tetapi karena tak kunjung mendapatkan tanda-tanda bahwa wanitanya itu benar-benar masih menginginkannya.


Meski ia sebenarnya tak menampik juga ingin menikah secepatnya, akan tetapi ia juga tak ingin pernikahannya itu didasari oleh rasa keterpaksaan. Dan kini ia harus mencari ide lagi agar supaya bisa memancing rasa cemburu Ara, seperti yang pernah ia tangkap rasa itu darinya saat ia bersama Cinta kemarin.


"Suntuk amat, Pak?"


Tetiba Hanung sudah duduk bersebelahan dengan Zayn sambil membawa dua botol kopi susu instans dan sebungkus rokok. Sengaja ia memberi boss nya itu rokok meski sebelumnya Zayn tak memintanya, karena yang ia tahu boss nya itu akan merokok sepuasnya bila sedang banyak pikiran seperti yang ia lihat sekarang.


"Terimakasih, Nung," balasnya sambil tersenyum ramah lalu membuka tutup botol kopi itu dan kemudian menengguknya sedikit.


"Buat apa?" Tanyanya sambil mengangkat sebungkus rokok itu ke arah Hanung.


"Siapa tahu anda butuh itu," kata Hanung sedikit merasa tak enak.


Zayn hanya tersenyum simpul lalu kemudian memasukkan bungkusan rokok itu kedalam saku jasnya. "Terimakasih," ucapnya singkat.


"Mmm, gimana masalah mengejar calon istri yang pernah hilang itu, Pak?" Tanya Hanung to the point plus tanpa sungkan lagi.


Pria itu sedang berusaha lebih mengakrabkan diri dengan boss nya semenjak ia tahu bahwa Ara, wanita yang pernah menjadi incarannya adalah mantan kekasih boss nya.


Zayn melirik sekilas pada pria yang entah sejak kapan sangat kepo dengan masalah percintaannya itu, yang ternyata sedang menunggu jawaban darinya. Ia pun lantas terkekeh karena baru menyadari rupanya asistennya itu bersikap baik barusan karena ada maunya.


"Mau tahu?" Zayn malah menggantung bicaranya.


Wajah Hanung sedikit mencelos melihat Zayn begitu. "Yaa... Kali aja butuh bantuanku gitu, Pak?" Tawarnya sambil nyengir kepedean.


Zayn memicingkan matanya sebentar. Pria itu terlihat berpikir sejenak, masih tetap memandangi Hanung yang cengengesan.


"Memang kau tahu masalahku apa?" Tanyanya penasaran.


Antara akan mengangguk dan menggeleng, ekspresi Hanung saat ditanya oleh Zayn. Tidak mungkin ia berterus terang kepada boss nya itu jika ia tahu masalah percintaan Zayn dari Wisnu. Karena memang selama ini, selama ia tahu jika Ara adalah mantan kekasih Zayn, ia selalu mencari tahu perkembangan percintaan Ara dengan boss nya ini.


Hati Hanung sebenarnya sudah rela jika memang nanti Ara akan kembali bersama Zayn. Hanya sekarang jiwa keponya saja yang sedang menggelitiknya ingin mengusut sekaligus membantu agar Ara, wanita yang masih sulit ia lupakan itu, bisa merasakan kebahagiaannya kembali bersama orang yang benar-benar tulus dan begitu kuat mencintainya, seperti Zayn.


"Saya tahu kalau anda ayahnya Ziyyan. Saya tahu kalau anda seharusnya menikah dengan dek Ara. Cuma, maaf nih, Pak, kalau saya terkesan kepo." Hanung mengapitkan kedua telapak tangannya kepada Zayn.


"Kok kayaknya anda tidak bahagia? Seharusnya anda sudah sangat bahagia karena sudah bertemu lagi sama dek Ara?" Lanjutnya, yang masih belum bisa membuang kebiasaannya menyebut nama Ara dengan awalan 'Dek'.

__ADS_1


"Kalau begitu tolong bantu saya." Tetiba Zayn menepuk pundak Hanung sambil tersenyum aneh kepadanya.


"Nah, gitu dong. Jadinya kan saya turut andil nih dalam menyatukan kembali dua hati manusia yang masih nggak nyatu," selorohnya dengan senyum lebarnya.


"Bisa aja kau!" Zayn lagi-lagi terkekeh geli sendiri memandang sosok Hanung yang sudah berbeda setelah ditinggal olehnya.


"Sini kau," ajaknya yang kemudian Hanung mendekatkan telinganya ke arah Zayn, karena boss nya itu memilih berbicara pelan, takut rencananya itu didengar oleh readers😅


"Hah?" Hanung tercengang saat mendengar perkataan Zayn kepadanya.


Sedangkan Zayn hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya, pertanda ia sudah sangat yakin dengan rencananya itu.


"Tidak ada ide yang lain saja, Pak?" Tanyanya masih tak yakin dan merasa sedikit tak tega kepada Ara.


Zayn menggeleng singkat. "Katanya mau bantu?" Ujarnya. Lalu kemudian pergi begitu saja meninggalkan Hanung seorang diri yang masih kebingungan antara terus membantunya atau mundur saja.


"Tau gini mending aku nggak nawarin diri tadi." Hanung masih berpikir sendiri sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


*


Sudah hampir seminggu lamanya Zayn dan Ara benar-benar tidak saling bercakap. Rupanya keputusan Zayn untuk mendiami Ara itu sedikit membuahkan hasil adanya percikan api cemburu pada Ara.


Meski begitu komunikasi antara Zayn dan Ziyyan masih lancar. Pria itu hampir setiap saat menghubungi Ziyyan, dan tak pernah sekata pun ia menyapa bagaimana Ara, meski sering kali awal panggilannya itu dijawab oleh Ara sendiri.


Sebenarnya perasaan Ara sudah ada yang aneh dan muncul rasa yang entah tiap kali mendapati kenyataan Zayn yang tak pernah menanyakan bagaimana keadaannya walau sekali pun. Akan tetapi meski demikian, ia harus bisa bersikap wajar dan merasa tetap baik-baik saja meski hatinya terkadang merasa sedikit sesak melihat anaknya yang terkesan lebih membutuhkan ayahnya dari pada dirinya, ibunya.


Bisa saja ia mengabaikan panggilan Zayn itu, hanya saja jika bukan karena Ziyyan yang sewaktu-waktu bisa demam jika sudah tidak kuat menahan rindu kepada ayahnya, maka karena hal itulah yang membuatnya terpaksa membiarkan Zayn dan Ziyyan bercakap sepuas mereka.


Drrrrrt..... Drrrrrrt.....


Dering ponsel Ara kembali berbunyi. Wanita yang sebenarnya sudah hampir terlelap dalam tidur siangnya itu terpaksa harus beranjak dari tempat pembaringannya karena lagi-lagi itu panggilan telepon dari Zayn.


"Huft!" Ara mendengus jengah. Karena dalam hari ini saja pria itu sudah menelpon Ziyyan ketiga kalinya.


"Tau gini mending aku belikan Ziyyan hape juga," gerutunya sendiri sambil melangkah lebar mencari keberadaan anaknya itu.


"Ziyyan." Panggilnya setelah berada dilantai pertama rumahnya, dan rupanya anaknya itu tidak berada di sana.


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di rumah besarnya itu, hingga kemudian ia mendengar gelak tawa Ziyyan yang berarah dari taman belakang rumahnya.


Ara kembali melangkah lebar menuju bocah itu berada, sedang dering panggilan dari Zayn itu masih terus berbunyi di ponselnya.


"Ziyyan," sapanya dengan nafas sedikit ngos-ngosan.

__ADS_1


Bocah yang sedang bercanda dengan Viona itu menoleh kepada bundanya.


"Nih, ayahmu nelpon."


Ponselnya ia berikan kepada Ziyyan, sebelumnya ia membantu menggeser tombol hijau itu untuk Ziyyan. Dan seperti biasa, ia memilih tetap berdiri sedikit menjauh dari bocah itu karena sebenarnya ia juga ingin tahu apa saja yang akan mereka obrolkan.


"Assalamu alaikum, Ziyyan," sapa Zayn saat panggilan videonya sudah terjawab oleh anaknya.


"Wa'alaikum salam, Ayah," sahut bocah itu begitu sumringah.


"Assalamu'alaikum anak tampan."


Deg.


Seketika Ara menoleh kepada Ziyyan saat mendengar ada suara seorang perempuan yang juga menyapa Ziyyan.


"Wa'alaikum salam aunty cantik." Rupanya bocah itu juga tersenyum lebar kepada gadis muda yang sekelibat Ara tengok begitu manja kepada Zayn.


"Siapa sih dia?" Tentu Ara sangat penasaran, karena ini sudah kedua kalinya gadis muda itu ikut nimbrung obrolan antara Zayn dan Ziyyan.


"Sayang, bundanya mana?" Suara gadis muda itu menanyakan keberadaan Ara.


"Ada." Ziyyan menyahut sambil melirik ke arah bundanya yang berdiri tak jauh darinya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Mm, Ziyyan bisa pindah tempat nggak? Soalnya ada yang aunty mau katakan sama Ziyyan. Bisa?" Lagi-lagi hanya terdengar suara gadis itu yang dominan.


Seketika bocah itu menoleh kepada bundanya. Maksud hati ia ingin meminta ijin, akan tetapi melihat tatapan Ara yang sudah melotot pertanda tak boleh beranjak dari tempatnya, membuat bocah itu terpaksa menuruti perintah bundanya itu.


"Memangnya kamu mau bicara apa sama Ziyyan?" Kini terdengar suara Zayn yang menyapa gadis itu begitu lembut dan terdengar sangat memanjakannya.


"Mmm, ada deh." Lantas terdengar suara kekehan dari Zayn dan gadis itu.


"Ziyyan." Kini tangan Ara sudah menjulur kepada Ziyyan, tentu ia meminta ponselnya itu kepadanya.


Dengan menurut bocah itu memberikannya kepada Ara, lalu....


"Kamu siapa?" Tanyanya ketus kepada gadis muda yang rupanya kini sedang berbaring beralaskan dada bidang Zayn.


Gadis muda itu tak menjawabnya. Ia malah tersenyum puas saat melihat wajah Ara yang kusut karenanya.


Sedangkan Viona, wanita paruh baya itu sedari tadi hanya bisa menahan tawa gelinya saat melihat Ara sudah terbakar cemburu kepada adik kandung Zayn sendiri.


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2