
"Apa?! Zayn?"
Ara tentu sangat kaget saat Ibunya itu menyebut nama seseorang yang sudah lama wanita itu mengubur nama itu dalam-dalam. Dia tidak salah sebut nama kan? Atau jangan-jangan ini cuma kebetulan namanya saja yang sama, pasti orangnya berbeda.
Narsih menyentuh lembut pundak anaknya itu, ia menganggukkan kepalanya lagi berusaha meyakinkannya karena sepertinya Ara masih tak percaya dengan ucapannya.
"Bos nya Hanung itu adalah Zayn, Nak Ara," jelas Narsih.
"Tadi dia datang kesini. Awalnya dia tidak tahu kalau Ziyyan adalah anaknya. Tapi setelah Ibu tinggal mencari kamu dibelakang, rupanya..."
"Cukup, Bu!" Ara langsung memotong pembicaraan Narsih.
Terlihat jelas dari wajahnya bahwa wanita itu masih terlihat kebingungan. Entah harus percaya atau tidak, yang pasti wanita itu sudah sangat malas untuk membahas seseorang yang sudah memberinya luka terpendam selama ini.
"Nak, nanti bicaralah baik-baik sama dia. Dia sudah datang kesini, dia juga langsung mengaku sama Ibu kalau dia ayahnya Ziyyan. Seberat apapun masalah kalian dulu, bicarakanlah sekarang. Singkirkan dulu ego kalian, ini juga demi kebaikan Ziyyan." Narsih berusaha menasehati Ara.
Dan Ara pun hanya tersenyum getir saat mendengarnya. "Ini tidak mudah, Bu. Ibu tidak pernah berada di posisi saya!" ujarnya lalu langsung masuk ke dalam kamarnya.
Narsih segera menyusul langkah Ara, karena ia merasa harus menasehati anaknya itu. Meskipun anaknya itu sudah tidak mau membahas tentang Zayn lagi, tapi dia tetap ayahnya Ziyyan.
Wanita paruh baya itu memilih duduk di tepi ranjang tidur Ara, terlihat Ara sudah mulai mengemasi beberapa barang miliknya dan juga milik Ziyyan. Terlihat sepertinya ia sudah terburu untuk segera kembali pulang. Entah apa karena memang sudah sangat rindu untuk pulang, atau bisa jadi karena ingin segera menghindar dari Zayn.
"Ibu kenapa tidak berkemas?"
Ara menghentikan kegiatannya sejenak, ia menoleh kepada Narsih yang termenung memandangi dirinya.
"Maafkan Ibu kalau ucapan Ibu menyinggungmu. Ibu cuma tidak mau melihat kamu dan Ziyyan terus-terusan bersandiwara dengan orang-orang tentang kalian yang sebenarnya. Tolong pikirkan dulu, temuilah dia dulu sebelum kita pergi," ucap Narsih kemudian.
Ara menghembus nafas beratnya. Ia duduk di sebelah Narsih, sedangkan dari tatapannya sudah sangat kentara kalau ia merasa sangat tidak suka membahas tentang Zayn lagi.
"Ibu paham yang kamu rasakan sekarang. Seandainya di antara kalian tidak ada Ziyyan, Ibu tidak akan memaksakan hal ini. Sekarang selain memikirkan kamu sendiri, kamu juga harus pikirkan bagaimana perasaannya Ziyyan, Nak."
Narsih mengucapkannya sambil terus terbayang wajah Ziyyan yang begitu bahagia karena kedatangan Ayahnya itu. Bahkan jika sebelumnya kondisi Ziyyan sedang sakit demam, justru sakitnya itu seakan sembuh dengan sendirinya karena kedatangan Zayn tadi.
"Dia datang kesini bukan mencariku, Bu. Ini hanya kebetulan saja. Selama ini kemana saja dia? Kenapa dia baru muncul sekarang?"
Mata Ara mulai berkaca-kaca namun ia masih berusaha menyekanya. Ia tidak mau menangisi lagi nasibnya itu, rasanya sudah cukup dulu ia menangis lama karena pria yang kini kembali hadir di kehidupannya.
Kali ini Narsih hanya bisa terdiam. Ia tak tahu lagi harus menasehatinya seperti apa pada perempuan yang terlanjur kecewa dengan seorang lelaki yang dulu sangat di harapkan kedatangannya. Mungkin kali ini anaknya itu telah benar-benar menutup pintu hatinya itu untuk Zayn. Rasa sakit hatinya yang terdahulu terlalu berat di rasakan olehnya, Hingga membuatnya seakan tak sudi lagi membuka pintu maafnya kepada Zayn.
Melihat Narsih yang sudah terdiam, Ara kembali melanjutkan mengemasi barang-barang berharga yang akan ia bawa pulang.
"Jangan terburu-buru dulu, kita tunggu Ziyyan datang." Narsih berucap kembali.
Seketika Ara menoleh kepadanya. "Sekarang Ziyyan dibawa kemana sama dia?" Tanyanya seakan tak mau lagi menyebut nama Zayn.
"Ziyyan ikut Ayahnya, mencarimu tadi."
"Ck!" Decaknya kesal.
Seketika Ara menyudahi berkemasnya. Ia menenteng dua tas besar miliknya dan milik Ziyyan, lalu kemudian pergi keluar menuju mobilnya terparkir.
"Pak Rud!" Panggilnya kepada sopirnya yang sedang berbincang santai dengan tetangga sebelah rumahnya.
__ADS_1
"Oh iya, Neng." Rudy berlari kecil menghampirinya.
"Mau langsung pulang sekarang, Neng?" Tanya Rudy sambil membantu meletakkan barang bawaan Ara ke dalam mobilnya.
Ara tak menjawab apa-apa, ia malah langsung menghampiri Narsih yang masih berdiri termenung di teras rumahnya.
"Ibu, aku pergi menyusul Ziyyan. Ibu lekaslah berkemas juga," pamitnya sambil meraih tangan Narsih dan lalu menciumnya takdzim.
Narsih mengangguk pelan. "Tadi ayahnya Ziyyan bilang kamu bisa mencarinya di tempat proyeknya. Jangan pergi sendiri, Nak, Minta antar sama Rudy."
Ara hanya mengangguk, lantas ia langsung masuk ke mobilnya dan kemudian Rudy langsung melajukannya atas perintah Ara untuk menyusul Ziyyan ke tempat proyek di desa sebelah.
"Semoga Tuhan masih menjodohkan kalian untuk bersatu kembali. Semoga Tuhan membuka hati anakku agar bisa memaafkan Zayn dengan lapang dada." Lirih hati Narsih seiring kepergian Ara dari pandangannya.
"Kita mau kemana, Neng Ara?" Tanya Rudy di tengah perjalanan itu.
"Ke desa sebelah, Pak. Aku mau mengambil Ziyyan," katanya dengan raut yang seperti menahan amarah.
"Loh, memangnya Den Ziyyan lagi sama siapa, Neng?"
Ara tak menyahut, ia malah melengos ke samping kaca dengan tatapan yang sulit di artikan.
Wanita itu kembali termenung, apa yang di ucapkan oleh Ibu angkatnya itu terus saja terngiang di benaknya. Tentu ia juga tak mau mempertaruhkan perasaan anaknya itu, ia juga ingin melihat Ziyyan selalu tersenyum bahagia. Tapi mengapa harus berhubungan dengan pria itu lagi? Sedangkan hatinya itu terlalu sakit untuk bertemu kembali dengan seseorang yang menorehkan luka dan rasa kecewa yang teramat besar, yang masih ia rasa hingga saat ini.
"Ini sudah masuk di batas desa, Neng, trus kita mau kemana?" Rudy menanyainya lagi.
"Cari tempat proyek yang ada di desa ini, Pak. Jalannya lebih cepat lagi, aku nggak mau Ziyyan dibawa pergi sama orang yang tidak bertanggung jawab," perintahnya kemudian.
"Baik, Neng." Rudy menambah kecepatan laju mobilnya sesuai perintah anak majikannya itu.
Setelah bertanya-tanya kepada orang-orang penduduk desa tersebut, akhirnya Ara dan Rudy sudah sampai di tempat proyek yang di maksud. Ara langsung turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa, matanya celingukan ke sekitar untuk mencari keberadaan anaknya itu. Perasaannya sudah semakin dongkol terhadap Zayn, kenapa pria itu sampai hati membawa anaknya ke tempat proyek yang bisa berbahaya untuk anak kecil berada di sana.
Hingga tak sengaja ia menemui sosok Hanung yang kebetulan juga berada di lokasi tersebut. Ia berjalan menghampirinya, di ikuti juga oleh Rudy yang mengekor dibelakangnya.
"Mas Hanung." Ara menyapanya.
Hanung segera menoleh ke arah suara yang sudah tak asing lagi baginya. "Loh, Dek Ara kenapa bisa ke sini?" Tanyanya heran.
"Kamu?!!"
Kedua pria itu sama-sama saling tertegun, sebab sebelumnya mereka sudah sama-sama saling kenal.
Rudy memandang cermat ke arah sekitar proyek, ia baru tahu jika majikannya itu juga memiliki proyek di kampung asalnya. Sedangkan Hanung sudah mulai bertanya-tanya, kenapa sopir pribadi Pak Haris bisa datang bersama dengan Ara?
"Kalian saling kenal?" Ara menanyai mereka.
"Iya, Neng. Kita sering bertemu di kantor Tuan Haris," jelas Rudy.
Kening Ara mulai berkerut. "Maksudnya?"
"Aku dan Bos bekerja di perusahaan Rahardian Group. Kebetulan Pak Rudy ini sopir pribadinya Pak Haris, jadi kita sering bertemu di situ." Hanung lebih memperjelas lagi, ia masih belum tahu kalau wanita yang berdiri di depannya itu adalah anak dari CEO nya.
Gemuruh di dada Ara sudah semakin menjadi. Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya setelah mendengar kenyataan ini. Rasa amarah yang semakin menjadi, frustasi, dan segala bentuk hal yang membuatnya sangat kecewa dengan kenyataan ini.
__ADS_1
Kenapa rasanya dunia ini terlalu sempit ia rasa? Dan bagaimana jadinya nanti jika kedua orangtuanya tahu bahwa lelaki yang telah membuatnya begini selama ini berada di sekitarnya? Padahal ia sudah berniat membuka lembaran baru di kehidupannya nanti, tanpa harus berhubungan dengannya lagi.
Tangan Ara mulai mengepal erat, tatapannya sudah sangat nanar di lihat. Ia pun tak lagi peduli dengan tatapan aneh dari Hanung yang memandangnya penuh heran.
"Dimana Zayn?" Tanya Ara dengan nada bicara syarat amarah.
"E-eh, Boss masih belum datang. Dari kemarin aku sudah menunggunya, tapi nggak tahu kenapa sampai sekarang masih belum sampai kesini, Dek," terangnya.
"Ck. Sial!!!" Umpat Ara kesal di ikuti hentakan kakinya sangat marah bercampur gelisah.
"Tolong hubungi dia, Mas." Ara meminta Hanung untuk menelpon Zayn.
Hanung segera menghubungi Zayn, namun tiada jawaban darinya. Di ulangnya lagi hingga beberapa kali, pria itu akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Telponnya aktif, tapi nggak di jawab, Dek."
Ara mengusap wajahnya kasar. Berbagai pikiran negatif mulai menghinggapinya, ia takut pria itu membawa pergi Ziyyan darinya.
Sedangkan Rudy hanya bisa terdiam dengan berbagai pertanyaan yang tak berani ia utarakan. Siapa sebenarnya Zayn? Pria itu tentu menaruh curiga dengan orang kepercayaan majikannya itu. Sebab dari apa yang ia lihat sekarang, Ara terlihat sangat gelisah.
"Neng Ara, sebenarnya kita kesini mau mencari Den Ziyyan apa Boss nya Mas Hanung?" Rudy mulai memberanikan diri bertanya.
"Dua-duanya!" Sahutnya sambil kembali melangkah menuju mobilnya.
"Hah?!" Mulut Hanung ternganga. Ia yang memang tidak tahu apa-apa dengan yang sebenarnya terjadi antara Bossnya, Ara dan Ziyyan, tentu merasa sangat kaget mendengarnya.
"Apa Boss Zayn membawa kabur Ziyyan?" batin Hanung bertanya-tanya.
Sedang keadaan di rumah Narsih....
Zayn datang sambil membawa tubuh mungil Ziyyan yang terlelap. Kedatangannya langsung di sambut hangat oleh Narsih. Pria itu segera masuk ke dalam salah satu bilik kamar untuk segera meletakkan Ziyyan yang tertidur pulas selama perjalanan pulang dari pasar.
"Maaf, Bu, kalau saya terlalu lama membawa Ziyyan keluar," ucapnya kemudian.
Narsih hanya mengangguk sambil tersenyum ramah. Ia memandang ke arah Ziyyan di ranjang, terlihat tampilan cucunya itu sudah berbeda. Pakaian yang terbilang lumayan mahal telah melekat di tubuhnya, beberapa paper bag yang berisi segala keperluan Ziyyan juga berada di sebelahnya, mungkin Zayn membawanya berbelanja tadi.
"Kamu sudah bertemu dengan Ara?" Tanya Narsih.
Zayn menggeleng lemah, kemudian pria itu menghela nafasnya pelan.
"Barusan dia datang, dia pergi menyusulmu ke tempat proyek," terang Narsih.
Mendengar itu seketika Zayn beranjak berdiri. Tentu ia ingin segera menyusul Ara kesana. Tak mau mengulur waktu lagi akhirnya Zayn segera pergi, setelah sebelumnya berpamitan dulu kepada Narsih.
Sebelumnya pria itu merogoh ponselnya dari saku celananya, bermaksud ingin menanyakan keberadaan Ara kepada Hanung. Matanya membulat sempurna setelah mengetahui adanya beberapa panggilan tak terjawab dari Hanung, dan kemudian Zayn langsung menghubungi ulang asistennya itu.
"Hanung, apa ada Ara mencariku di situ?" Tanyanya langsung, ketika sambungannya itu di jawab oleh Hanung.
"Ada, Pak."
*
Bersambung.
__ADS_1