Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 23


__ADS_3

"Kak Zayn?"


Mata Ara tiba-tiba berkaca melihat pemandangan live itu meski dari kejauhan. Bendungan air mata itu seakan tak bisa ia tahan lagi untuk tak menetes. Hatinya terasa sangat sakit, melebihi sakitnya dari hal apapun yang menyakitkan. Beginikah rasanya cinta?


Meski sebisa mungkin ia sudah mencoba untuk tidak menangis, namun tetap saja tetesan air mata itu semakin deras mewakili perasaan hatinya yang amat terluka.


Sudah menjadi resiko bagi seseorang yang mencintai pujaan hatinya dalam diam, seperti Ara. Ia hanya bisa memendam rasa sakit itu sendiri, tak ada hak untuk bisa mengatakan bahwa dirinya sedang cemburu, karena ia tahu posisinya yang hanya sebatas pemuja rahasia.


Ara mengusap air matanya yang berhasil membasahi seluruh wajahnya saking derasnya air mata itu mengalir. Ia menghela nafas beratnya, mencoba membuang rasa sesak yang tak semudah itu akan hilang.


Ia pun tak pantas menyalahkan kenyataan yang tak sesuai harapannya. Juga tak pernah menyesal pernah mencintai Zayn meski pada akhirnya perasaan itu cukup ia simpan saja.


Lagi-lagi Ara menghela nafasnya, menghembusnya perlahan. Dan memang lebih baik ia pergi dari tempat itu, agar hatinya tak semakin terluka melihatnya.Ia pun berjalan gontai, kembali masuk ke dalam toilet cewek yang beberapa menit lalu ia baru keluar dari sana.


Kondisi toilet itu kebetulan sepi, seakan mendukung perasaan Ara yang butuh menyendiri. Ia pun memilih masuk kedalam ruangan paling ujung sendiri. Menutup pintu itu cukup keras, lalu ia duduk bersimpuh sambil menangis terisak sejadi-jadinya.


"Beginikah rasanya jatuh cinta Tuhan? Yang aku tahu jatuh cinta itu indah, tapi mengapa sesakit ini yang aku rasa? Jika memang ini karma dariMu karena telah mengabaikan seseorang yang tulus mencintaiku, aku mohon maaf tuhan. Jika ini juga teguran dariMu karena aku melanggar peringatan Papi, aku juga mohon maaf. Tapi bisakah Kau memberiku sedikit kesempatan untukku bisa mencintai orang lain selain dia, karena cinta ini sudah terlanjur dalam untukku keluarkan lagi."


Suara hati Ara berseru lewat isak tangisnya yang tak berhenti. Hingga akhirnya ia terpaksa harus menyudahi tangisannya itu ketika seseorang mengetuk pintu toiletnya yang ia kunci secara kasar.


Dok.... dok..... dok.... dok.....


"Keluar! Keluar gak!" Suara seorang perempuan begitu lantang menyuruh Ara untuk keluar.


Ceklek.


Ara membuka pintu itu perlahan, setelah ia mengusap air matanya terlebih dahulu.


"Lo gak pa-pa kan?" Cewek berperawakan sedikit tomboy, yang Ara tidak mengenalinya menyapanya dengan serius.


Ara menggelengkan kepalanya lemah.


"Karena cowok?" tanyanya lagi sambil memegang pundak Ara penuh perhatian.


Ara membalas ucapan itu hanya dengan senyum tipisnya.


"Ck!" Cewek itu berdecak mengejek pada Ara yang terlihat sangat cengeng melalui tatapan matanya pada Ara.


"Cuma di selingkuhin pacar sampe nangis kejer-kejer kayak gini?" ejeknya lagi, karena memang tadi ia cukup terganggu dengan suara tangisan Ara yang sedikit nyaring.


"Bukan." Ara menyahut sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Cewek itu menganga menatap Ara, "Lo hamil sama pacar lo?" tebaknya yang kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena tak sengaja mengeraskan suaranya.


"Tidak! Gue gak hamil!" Ara segera menyanggah tuduhan cewek itu, yang lantas cewek itu mengelus dadanya merasa lega.


Ara dan cewek asing itu sama-sama menuju wastafel sekedar membasuh tangannya sambil sekalian bercermin.


Ara sedikit membelalakkan matanya ketika menyadari matanya sangat sembab karena tangisannya itu. Sangat hancur, tak ada sisa riasan sedikit pun di wajah ayunya.


Berulang kali ia membasuh wajahnya, mencoba mengembalikan aura menyegarkan di wajahnya, meski kenyataannya matanya itu tak bisa berbohong menutupi kesedihan di hatinya.


Cewek asing di sampingnya itu lagi-lagi terkekeh. Ara meliriknya sekilas, sangat nyata kalau perempuan itu tidak senang dengan kondisi hancurnya saat ini.


"Gue Jessy, anak hukum semester 5." Ia mulai mengulurkan tangannya pada Ara dengan senyum bersahabat.


Ara membalas uluran tangan itu. "Aurora, Kak."


"Panggil Jessy aja, gak usah embel-embel kak."


Ara tersenyum mengiyakan permintaan Jessy.


"Oh ya, sorry ya kalo gue tadi ganggu acara patah hati lo." Jessy memulai obrolannya.


"Di putusin pacar?" Jessy masih kepo pada Ara.


Ara meliriknya lagi. "Kepo!" ujarnya kemudian di ikuti tawa renyah mereka yang mengembang.


"Uuh... Ganteng banget ya mereka. Gemes deh gue pingin cubit pipinya Keanu."


Dua orang cewek asing tiba-tiba masuk ke toilet dengan obrolan mereka yang sangat senang.


"Tetep kalah sama gantengnya kak Zayn."


"Oke, kita taruhan! Siapa yang bisa ngedapetin hatinya Keanu atau kak Zayn duluan, maka harus traktir makan siang dua bulan di kantin. Setuju?"


"Setuju! Siapa takut?"


"Kalian saksinya ya?" Dua cewek itu menunjuk pada Ara dan Jessy, sebagai saksi dari taruhan mereka memperebutkan Zayn dan Keanu.


Ara hanya bengong tak percaya menyaksikan itu, ia pun tetap tak bisa berkata apa-apa sampai kedua cewek itu keluar dan juga Jessy yang pamit keluar.


"Keanu? Zayn?"

__ADS_1


Hatinya bergumam menyebut dua nama cowok yang akhir-akhir ini menyita pikirannya. Keanu, seseorang yang setia menunggu jawaban cinta darinya. Zayn, seseorang yang telah membuatnya patah hati namun tetap tak bisa membencinya.


Ara keluar tergesa-gesa dari toilet itu, tentunya ia ingin mencari keberadaan Keanu. Tak butuh waktu lama, akhirnya Ara menemukan Keanu, tapi pria itu sedang terlibat diskusi serius dengan Zayn.


Ia pun mengatur ritme nafasnya yang selalu membuncah tiap kali melihat Zayn. Matanya tetap menyorot tajam pada kedua cowok yang menjadi bahan pertaruhan dua cewek asing tadi.


"Salahkah yang aku lakukan ini? Salahkah aku yang mulai rakus ingin memiliki Keanu, meski hati ini begitu nyata masih mencintai Zayn?Bukankah ini lebih baik, dari pada aku selalu terluka melihat Zayn dengan cewek lain."


Ara melangkahkan kakinya tanpa ragu lagi menuju keberadaan Keanu dan Zayn. Yach, gadis itu telah bertekad ingin mencoba hubungan baru bersama Keanu. Ia tak peduli lagi dengan suara hati kecilnya yang berbisik untuk jangan. Jangan menjalin hubungan yang tanpa perasaan, jangan jadikan Keanu sebagai pelarian cintanya.


Ara telah benar-benar menutup bisikan hatinya itu. Ia hanya ingin mencoba bahagia dengan caranya. Menagih janji Keanu yang akan selalu membuatnya bahagia.


"Keanu," sapanya sambil menepuk pelan punggung Keanu.


Keanu berbalik menoleh. "Hai, My Queen." Pria itu menyambut Ara dengan senyum hangatnya. Gadis itu juga menatap pada Zayn yang juga tersenyum padanya.


"Sorry ya, Kak." Keanu merasa tak enak pada Zayn karena diskusi antara mereka terganggu karena kedatangan Ara.


"Gak pa-pa," sahut Zayn dengan mode santainya.


"Ada apa?" Keanu kembali fokus pada Ara. Pasti gadis ini sedang ingin menyampaikan sesuatu padanya. Karena sebelumnya gadis ini tak pernah berinisiatif mencarinya, selalu Keanu dulu yang mencari keberadaannya.


"Ehm--"


Ara mulai ragu untuk mengatakan maksud kedatangannya. Di tambah ketika ia mendapati tatapan dingin dari Zayn padanya.


"Apa mau ngobrol di tempat lain?" Keanu menawarinya sambil memegang kedua pundak Ara. Ia bisa melihat ada sesuatu yang serius yang akan dikatakan Ara padanya.


Ara langsung menggeleng. "Tidak, disini saja."


"Okey, ada apa? Ada yang ingin dibicarakan?"


"Iya." Ara mengangguk yakin.


Lagi-lagi ia menyempatkan diri menatap Zayn yang juga menatapnya tanpa jeda. Entah mengapa tiba-tiba muncul rasa ingin tahunya lagi tentang perasaan Zayn padanya. Tatapan itu yang membuat hatinya kembali goyah. Tatapan mata Zayn sama sekali tidak berpaling pada yang lain, kecuali tetap menatap dirinya penuh harap.


"Aku mengharapkan tatapan itu menjadi milikku. Bahkan aku sudah tidak peduli hatiku sendiri yang telah ku korbankan demi mendapatkan perhatianmu. Apakah yang aku lakukan salah? Tidak! Dalam permainan cinta tidak ada yang salah, termasuk aku yang sudah terlanjur di butakan oleh cintamu."


"Gue mau jadi pacar lo."


*

__ADS_1


__ADS_2