Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 131


__ADS_3

"Boleh ya?" Hassrat pria itu sudah tak bisa tertahankan.


"Apaan sih? Nggak jelas banget deh!"


"Mau ini."


Cup.


Seketika Zayn mendaratkan kecupannya tepat di dada monthok milik Ara. Rasanya ingin sekali wanita itu menarik kepalanya dan tentu juga memberontak, akan tetapi tubuh dan logikanya lagi lagi tak mau sinkron. Hingga pria itu semakin leluasa menyisakan banyak bintang merah di dadanya, sedangkan wanita itu hanya bisa mendes@h tanpa bisa menolak perbuatannya itu.


Zayn sudah semakin liar, permainannya itu semakin menjadi disaat menyadari bahwa tiada kain penghalang apa apa sebagai pembungkus gunung kembar itu. Pria itu sedikit mere mas, memijit dengan lembut, juga menyesap rakus titik coklat sumber kehidupan bayi itu dengan begitu nikmat.


"Aaaahh....." Mulut wanitanya mendes@h lepas kontrol.


Antara tangan itu mencengkram kuat rambut Zayn, namun seperti ingin semakin menekannya hingga wajah pria itu benar benar telah terbenam di buah dad@nya.


Suara des@ahan Ara sangat membuat hassrat pria itu semakin liar. Andai saja tidak teringat bahwa wanitanya masih belum boleh disentuh, tentu Zayn sudah tidak akan menundanya lagi untuk menyemburkan benih cintanya itu kepada wanita yang sudah tidak menolak sentuhan darinya.


Blup.


"Aaaaah....." Desahnya dengan nafas tersengal-sengal.


Pria itu sudah melepas diri dari sesapan titik coklat yang sebenarnya masih terasa amat kurang, andai tak teringat waktu yang sudah semakin siang. Memperlihatkan benda kenyal yang terekpos didepan mata, menjulang padat serta begitu menantang untuk kembali dirasa.


Wajah Ara tentu sudah bersemu, ditambah merona disaat pria itu menatapnya tepat pada netranya yang mengartikan entah.


"Terimakasih istriku," ucapnya lembut, sambil perlahan merapikan kimono handuk yang digunakan Ara yang hampir terlepas separuhnya karena perbuatannya itu.


Ara masih bergeming dengan menundukkan kepalanya, tak tahu lagi harus berkata apa, wajahnya yang merona sudah bisa mewakili dirinya yang teramat malu kepada suaminya itu.


Perlahan Zayn membawa Ara masuk dalam pelukannya, menenggelamkan wajah wanitanya di dadanya, mengusap lembut pucuk kepalanya dan juga beberapa kali membubuhinya dengan kecupan kasihnya.


Mungkin dengan begini sedikit membantu wanitanya menyembunyikan wajah malunya itu darinya.


"Maaf, aku lancang lagi," serunya masih sambil mengusap kepala istrinya.


"Jangan bohong lagi," sahutnya samar, karena posisinya masih membenamkan wajahnya di dada bidang Zayn.


"Berbohong yang mana?" Refleks Zayn mengangkat wajah Ara, namun setelahnya wanita itu lagi lagi membenamkan wajahnya, terlalu malu untuk menampakkan wajahnya pada pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Kamu sudah ingkar janji barusan," sahutnya lagi.


"Ya makanya aku minta maaf." Pria itu langsung mengerti akan maksud perkataan Ara padanya.


"Kamu curang!" Umpatnya sambil memberanikan diri menatap kepada wajah Zayn.


"Tapi aku lihat kamu juga menikmatinya."


Aauuww!


Zayn merintih disaat cubitan kecil Ara mendarat di pinggangnya. Setelahnya pria itu hanya bisa tersenyum disaat samar-samar melihat wanitanya yang masih malu-malu menyembunyikan senyum kecilnya itu.


"Jadi nggak sabar nunggu minggu depan."

__ADS_1


Wanita itu seketika mengernyitkan dahinya.


"Periodnya bisa dipercepat nggak sih Sayang?" ujarnya langsung.


Aaauuww.....


Lagi lagi Ara mendaratkan cubitan kecilnya lagi, tapi kali ini suara kekehannya jelas terdengar darinya.


"Sejak kapan kamu jadi mesum gini?"


"Sejak jadi suami kamu lah." Pria itu berhasil mencuri ciuman di bibir wanitanya lagi.


Eemmph...


Ara berusaha terlepas dari ******* prianya, dengan sedikit memaksa.


"Ini yang terakhir," ucap Ara.


"Kok gitu? Nggak mau ah!" Kali ini Zayn sudah seperti bocah merajuk didepan Ara.


"Kamu sekali dikasih, entar malah tambah ngelunjak."


"Kan tadi cuma pemanasan Sayang, belum ke intinya." Mulut pria itu dibuat mengerucut didepan Ara.


"Mana janjinya? Katanya mau nunggu aku sampai benar-benar siap?"


Perkataan Ara otomatis membuat Zayn terdiam, akui ia benar benar khilaf sehingga lepas kendali. Akan tetapi ia masih tak menyangka saja jika istrinya itu mengungkit tentang janjinya semalam. Sedangkan tadi saja pria itu dapat menangkap jika Ara juga terbuai oleh sentuhannya.


"Trus aku harus menunggunya sampai kapan?"


"Hei..." Pria itu menarik lagi tubuh wanitanya, semakin mengeratkan pelukannya.


"Jawab dulu," katanya lagi.


"Sudah lah, aku mau pake baju. Perutku lapar," ujarnya terkesan sengaja tak mau menjawab pertanyaan Zayn.


Wanita itu beranjak menuju kamar mandi untuk memakai bajunya. Meninggalkan Zayn yang sudah kepalang menahan hassratnya yang sempat terpancing tadi.


Ara masih terdiam, ia memilih tak segera keluar dari kamar mandinya meski pakaiannya sudah lengkap di badannya. Pikirannya lagi-lagi menerawang jauh, teringat akan pesan singkat dari Keanu beberapa hari yang lalu.


"Aku rasa Keanu tidak mungkin berbohong. Tapi bagaimana aku bisa membuktikannya sebelum semuanya terlanjur?" Monolognya sambil kembali melihat dadanya yang sudah banyak berhiaskan bintang-bintang oleh ulah suaminya itu.


Rasa cemas itu masih ada. Bahkan semakin terasa bimbang disetiap pria itu memberinya sentuhan nikmat, yang bahkan kali ini ia tidak bisa menolak sentuhannya itu.


"Sayang."


Suara Zayn memanggil diiringi ketukan di daun pintunya.


"Ada Ziyyan nih," serunya yang tak lama setelah itu Ara keluar juga dari sana.


"Bunda," sapa bocah itu dan langsung berhambur merangkul kepada Ara yang sudah menjongkok menyamai tingginya dengan Ziyyan.


"Bunda kangen Ziyyan." Ara mencium gemas pipi anaknya.

__ADS_1


"Nanti malam tidur sama bunda ya?" Pintanya sambil melirik tajam kepada Zayn.


"Mmmm....." Bocah itu hanya berdeham panjang seperti sedang berpikir.


"Pokoknya Ziyyan nanti malam harus tidur sama bunda." Ara sudah memaksa, bukan lagi meminta.


"Bunda sakit?" Bocah itu malah bertanya diluar ekspektasi.


"Tidak." Ara mengangkat tubuh Ziyyan, membawanya duduk diatas ranjangnya.


"Bunda alergi?" Tanyanya lagi yang sukses membuat Ara berkerut kening.


Sedangkan Zayn langsung terkekeh, karena ia sudah mengerti dengan maksud Ziyyan yang tak lepas pandangannya ke arah dada Ara.


Sekilas Ara melirik kepada Zayn, masih belum paham dengan dua lelaki yang membuatnya terheran-heran.


"Bunda memang sedang alergi, Sayang. Makanya nanti malam Ziyyan jangan tidur sama bunda dulu, biar tidak tertular," seloroh Zayn, sudah tak peduli bagaimana ekspresi Ara saat dirinya berkata demikian.


"Apaan sih? Orang aku sehat begini dituduh punya alergi." Wanita itu beranjak menuju kaca riasnya untuk bercermin.


"Tuh kan, bunda sakit alergi," cicit Ziyyan saat bundanya mulai tersadar akan maksud tuduhan Ziyyan tadi.


"Oh my God! Zaaaaaaaaayn........" gumamnya sedikit sebal, tentu dengan tatapan tajamnya kepada Zayn yang masih terkekeh seorang diri.


"Nggak lucu!" Umpatnya semakin kesal, sedang tangannya langsung menyambar beberapa barang make up nya yang bisa dibuat untuk menyamarkan bekas cuppang itu.


"Aku tunggu dibawah ya," seru Zayn sambil mulai menggandeng tangan Ziyyan.


Ara tak menyahut, ia terlalu fokus dengan kegiatannya.


"Jangan lama-lama, entar malam bakal nambah juga kok bintangnya," goda Zayn dengan sengaja sedikit berbisik kepada Ara.


"Cih! Jangan harap!"


"Yakin?" Pria itu menaik-naikan alisnya.


"Ayo Ayah." Seruan Ziyyan terpaksa menghentikan godaan Zayn kepada Ara.


"Let's go, Ziyyan!" Zayn sudah membawa Ziyyan keluar dari kamar.


"Ziyyan mau nggak tidur sama ayah bunda?" Tanya Zayn saat ia sudah menapaki satu persatu undakan tangga menuju lantai bawah.


"Nggak mau," tolaknya langsung.


"Loh, kenapa?"


Meski sebenarnya ia juga butuh waktu berdua dengan Ara, tentu ia juga merasa heran akan sikap anaknya yang berubah enggan bila diajak tidur bersama, tak seperti dulu yang begitu menginginkan dirinya bisa tidur berkumpul dengan kedua orangtuanya.


"Ziyyan nggak pingin tidur bareng-bareng lagi?"


"Bunda alergi. Iyyan takut ketularan." Akunya polos.


Ya ampun! Niatnya gurau malah bocah itu percaya. Salah nggak sih kalau Zayn senang dengan kenyataan itu?

__ADS_1


*


__ADS_2