
"Mas."
Ara mendekat pada Zayn yang saat ini sedang memasang kemeja berwarna navy di tubuhnya.
"Mau kemana?" tanyanya sambil mengambil alih memasangkan kancing baju itu.
"Ke kantor," jawabnya singkat.
"Apakah sudah baik-baik saja, wajah kamu masih terlihat agak pucat, Mas." Ara masih berusaha mencegah suaminya itu untuk tidak ke kantor hari ini.
"Jam 8 aku ada meeting yang sangat penting, Sayang. Do'akan ya, semoga meeting ini berhasil."
Ara mengulas senyum manisnya sambil mengangguk kecil. Kali ini wanita itu memakaikan dasi yang berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan Zayn.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ara berucap sambil menggigit kecil bibir bawahnya, pertanda kalau ia sedang gamang.
Zayn tersenyum tipis. Memang ini yang sangat ditunggu-tunggu olehnya semalam. Semoga saja apa yang akan dibicarakannya itu sebuah kabar baik yang berkaitan dengan testpack itu. Sebab ditemukannya testpack didalam tempat sampah, cukup membuat pria itu berpikiran negatif terhadap Ara.
"Mau bicara apa?" Zayn menatap lekat tepat di netra Ara, tersirat ada sedikit keraguan dari sorot mata istrinya itu.
"Mmm, tapi... tapi aku mau kamu tunggu dulu sebentar." Lagi-lagi Ara berucap sambil menggigit bibir bawahnya.
"Tunggu? Memangnya kamu mau membicarakan tentang apa? Sepertinya kamu gugup sekali," Zayn menangkup pipi Ara dengan kedua tangannya.
"Itu..."
Belum sempat Ara melanjutkan perkataannya, ponsel milik Zayn berdering, membuat pria itu langsung menjawab panggilan telponnya yang rupanya dari Hanung.
"Iya, Nung. Iya, iya. Tiga puluh menit saya sampai." ujarnya singkat, lalu kemudian menyudahi obrolannya dan memasukkan ponsel itu kedalam saku bagian dalam jasnya.
"Sayang, aku harus buru-buru berangkat. Mr. Erick tiba-tiba memajukan jam meeting nya." Zayn mulai mengemasi beberapa barang penting yang akan dibawa untuk meeting pagi ini.
Ara terdiam, lebih tepatnya ia sedang bingung sendiri. Sebenarnya ia meminta Zayn untuk menunggunya sebentar karena ia ingin menguji testpack itu lagi, dengan ditemani Zayn. Meski tadi Inah memberinya ucapan selamat atas kehamilannya, rasanya Ara masih tak percaya jika tidak mencobanya sekali lagi.
Dan ia sangat yakin jika sikap dinginnya Zayn tadi mungkin karena kesalahpahaman tentang testpack yang terbuang ke tempat sampah. Dan Ara ingin menjelaskannya itu saat ini. Namun sepertinya harus tertunda karena Zayn yang memang harus berangkat ke kantor lebih awal pagi ini.
"Baiklah," Ara menyahut lesu.
"Apa sangat penting yang ingin kamu bicarakan itu?" Zayn mengacak lembut pucuk rambut Ara, semakin bertambah penasaran dengan wajah istrinya yang terlihat lesu.
"Ah, tidak." Lalu kemudian Ara mengulas senyumnya lagi.
"Ku kira dia akan bicara masalah testpack itu. Kalau dia bilang tidak penting, jadi hal apa yang lebih penting dari testpack itu?" Batin Zayn kembali meracau gelisah.
__ADS_1
"Mas, ayo sarapan dulu." sapaan Ara membuat Zayn tersadar akan pikiran randomnya itu.
"Aku makan di kantor aja, Hanung sudah siapkan. Maaf ya, aku harus cepat sampai kantor soalnya."
"Mm, baiklah." Ara meraih tangan kanan Zayn, lalu mencium punggung tangan itu dengan takdzim. Zayn pun kemudian mencium kening Ara, sebelum akhirnya mereka melenggang pergi dari kamarnya, hingga sampai Ara turut mengantarnya sampai teras depan rumah.
"Hati-hati, Mas." sapa Ara, disaat suaminya itu sudah bersiap melajukan mobilnya.
"Oh ya, Sayang. Aku nanti pulang telat ya, sudah terlanjur janji mau ketemu Tommy."
"Iya, Mas. Tapi jangan malam-malam ya, aku tunggu kamu, mau membicarakan tadi yang nggak jadi."
Zayn mengulas senyumnya sambil mengangguk kecil. Lalu setelah itu mobil hitam metallic itu melaju pergi.
*
Sebuah restoran favorit tempat dua sahabat yang berjanji bertemu sore ini terbilang sedikit ramai pengunjung. Zayn dan Tommy sudah berada di satu meja yang sama, dengan minuman dingin yang sudah tersaji didepannya, akan tetapi keduanya sama-sama terdiam dengan kekacauan pikirannya masing-masing.
Zayn yang sedang resah akan ketidak jujuran Ara, dan Tommy yang dibuat galau setelah kejadian one night itu.
"Kusut amat lo?" Zayn lebih dulu memulai bicaranya, merasa terusik dengan wajah muram dari sahabatnya itu.
"Frustasi gue." Tommy menyahut sambil menggaruk-garuk kepalanya, lebih tepatnya mengacak rambutnya.
Zayn menyeringai tipis, pasti ini masalah Sisil.
"Ini bukan masalah Sisil lagi," Tommy menyenderkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya di dada, dengan helaan nafas beratnya yang berhembus terulang-ulang.
"Gue benar-benar frustasi, Zayn. Huft!"
"Iya, frustasi tentang apa? Urusan kantor? Atau masalah didesak segera nikah sama nenek?"
Tommy hanya melirik sekilas pada Zayn. Sahabatnya itu hampir mengetahui semua masalah yang terjadi pada kehidupannya, kecuali satu hal ini.
"Kayaknya lo juga ada masalah." terka Tommy, sekenanya tapi tepat sasaran.
"Memang iya sih." Zayn ikut menghela nafas beratnya.
"Ada masalah sama istri?"
"Ara hamil lagi, Tom." Zayn menarik tubuhnya, turut menyenderkan punggungnya di kursi. Posisi kedua sahabat itu sudah sama, sama sama saling melipat tangan di dada.
"Beh!" Tommy bersuara sambil menepuk keras meja itu, lalu setelahnya mengulurkan tangannya kepada Zayn.
__ADS_1
"Selamat, Bro. Udah mau dua nih anaknya."
Zayn membalas uluran tangan Tommy sedikit tak bergairah, dan Tommy semakin penasaran akan ekspresi dari sahabatnya itu.
"Kenapa kayaknya lo nggak senang? Apa lo punya rencana nggak mau punya anak lagi, cukup Ziyyan?"
"Ara nggak jujur sama kehamilannya ini, Tom."
Setelah itu Zayn pun menceritakan semuanya kepada Tommy. Dari ia menerima testpack itu, hingga tentang percakapannya dengan Ara pagi tadi.
"Bisa jadi setelah ini Ara mau bilang sama lo. Itu menurut gue ya," ujar Tommy setelah menganalisa dari cerita sahabatnya itu.
"Semoga saja. Cuma gue masih nggak habis pikir saja, Tom, kenapa testpack itu harus ia buang? Itu yang bikin gue penasaran."
"Ya makanya habis ini lo tunggu saja apa yang katanya mau Ara bicarakan itu."
Zayn manggut manggut sendiri, mengambil sikap positif thinking sebelum semuanya dijelaskan oleh Ara.
"Sekarang giliran lo yang cerita. Lo frustasi kenapa?"
"Mm, gimana ya?"
Tommy tentu ragu mau menceritakan kejadian itu sama Zayn. Selain itu merupakan aib dirinya, tetapi ia juga butuh teman curhat untuk mencurahkan kegelisahannya itu. Ia ingat betul malam itu dirinya melakukannya tanpa pengaman apapun.
Tommy sudah mengikhlaskan masalah keperjakaannya yang terenggut oleh wanita yang dulu pernah ia benci, tapi pernah juga menjadi mantan pacar semasa SMA, walau cuma seminggu masa pacarannya. Kali ini yang menjadi puncak masalah pikirannya itu ialah merasa takut andai bibit unggulnya itu membuahkan hasil di rahim wanita itu. Dan kemudian datang kembali untuk memintanya pertanggung jawaban untuk menikahinya.
Oh, No!
Tommy menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa ia sadari. Bayangan tentang jika suatu saat ia harus menikahi wanita itu terus berkelibat dibenaknya. Dan itu rasanya sangat mustahil baginya.
"Tommy!" Zayn menegur Tommy yang hampir terlihat seperti orang tak waras, menggelengkan kepalanya sambil meracau kata No dan No.
"Gue.. gue udah nggak perjaka, Zayn," tutur Tommy, lengkap dengan ekspresinya yang dibuat sedih bin sendu.
Tentu Zayn sangat kaget mendengarnya, akan tetapi melihat raut Tommy yang frustasi begitu, lebih mirip seorang gadis yang sudah kehilangan keperrawanannya, Zayn pun tak kuat menahan tawa kecilnya.
"Sama siapa?" tanyanya kemudian.
Tommy melambaikan sebelah tangannya, isyarat mengajak Zayn mendekatkan telinga kepadanya. Setelah Tommy berbisik menyebutkan nama wanita yang berhasil mengambil keperjakaannya itu, spontan Zayn menarik badannya kebelakang, menatap sengit kepada sahabatnya itu. Lebih tepatnya sangat tak percaya walau sudah mendengar sendiri dari Tommy.
"Gila lo!"
Satu umpatan itu akhirnya keluar begitu saja dari Zayn kepada Tommy.
__ADS_1
*
Hai hai hai readersku, jangan lupa budayakan like setelah membaca ya.. Komentar dari kalian juga othor tunggu loh.