Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 147


__ADS_3

Siang ini Ara memang sengaja berkunjung ke rumah Sisil. Sebelumnya tadi ia memang diantar oleh Zayn, sambil pria itu sekalian berangkat ke kantor.


Ara langsung masuk begitu saja ke kamar Sisil, sebab tadi setelah ia memberi kabar terlebih dahulu akan kedatangannya itu, Sisil menyuruhnya langsung masuk ke kamar. Memang semenjak ia dijodohkan dengan pria bernama Kenzo itu, Sisil lebih suka menyendiri di kamarnya. Bukan sebagai wujud protes akan penolakan perjodohan itu, melainkan memang sedang mager saja yang ia rasa.


"Eh, sudah datang?" Sisil terkesiap ketika Ara tiba tiba saja sudah duduk di tepian ranjang, sebab sedari Ara masuk ke kamar itu, Sisil memang sedang tengah fokus memandangi layar ponselnya.


"Mm, segitu fokusnya sampe nggak nyadar ada orang masuk," cebik Ara, sambil turut menyilakan kakinya agar duduknya bisa lebih santai.


"Lihatin apa, sih? Serius amat!" Ara mencoba meraih ponsel yang dipegang oleh Sisil, akan tetapi sahabatnya itu lebih gesit menghindar sampai tak berhasil dijangkau oleh Ara.


"Kepo!" satu jawaban singkat keluar begitu saja dari mulut Sisil.


"Habisnya gue datang kesini lo nggak ada semangat semangatnya. Kenapa sih?"


"Huft!" hanya helaan nafas berat Sisil menghembus begitu saja.


"Eh, kita udah lama loh nggak ngemall bareng. Keluar yuk, cari udara segar gitu."


Sebenarnya dibalik ajakan Ara keluar rumah semata hanya ingin menghibur suasana hati Sisil. Sebab sebelumnya ia memang sudah mendengar kabar dari Luvita, mamanya Sisil, agar bisa mengajak Sisil keluar rumah supaya tidak lagi mengurung diri didalam kamarnya.


"Males. Mager gue," celetuknya, sudah benar-benar tak bergairah sama sekali.


"Eh, gue udah terlanjur pamit nih sama pak suami. Masa nggak jadi."


"Ya lo terusin, berangkat ke Mall sendiri kan nggak papa. Gue males aja mau kemana-mana, takut ketemu orang." tepat di kalimat terakhirnya suara Sisil terdengar lebih pelan.


"Takut ketemu orang, takut ketemu orang! Namanya hidup di bumi tiap hari pasti ketemu orang lah, Ya kali lo hidup di planet Merkurius. Kebakar kebakar deh tubuh lo!"


"Eh, kenapa lo yang jadi sewot? Lagi dapet, Buk?"


"Tauk, ah!"

__ADS_1


"Mm, beneran lagi PMS nih orang,"


"Udah lah, nggak usah bahas bahas PMS. Gue langsung sumpek dengernya, pusing!"


"Eits, kenapa nih? Ada yang lama nggak dapat jatah atau gimana?" Seakan seru menggoda Ara yang terlihat badmood, Sisil menyeringai kepo.


"Apaan, sih. Orang belum menikah dilarang kepo." Ara balik mencebikkan bibirnya.


"Ya siapa tahu udah kangen belaian suami, tapi terhalang sama period, akhirnya bawaannya bawel bin rese kayak lo ini."


Ara memilih diam, ia sengaja tak mau meladeni godaan saudara sepupunya itu. Tujuannya kesini ingin menghibur Sisil, malah dirinya yang tak sengaja menjadi objek godaan Sisil.


Meski sebenarnya omongan Sisil tentang period itu cukup menyita pikirannya lagi. Mungkin setelah pulang dari sini ia akan mampir ke apotik dulu untuk memastikan kondisi tubuhnya yang sebenarnya.


"Sil, lo hutang penjelasan sama gue." ucapnya, setelah sekian detik sempat terdiam.


"Penjelasan tentang apa?" Sisil meraih ponselnya lagi, hanya menscrol layar ponselnya, tanpa berminat mau mencari apa yang menarik dari sana.


"Kenzo!" Ara melirik sekilas, menatap Sisil yang sempat berhenti sejenak memainkan ponselnya.


"Yakin lo nggak kenal sama sekali sama calon lo itu? Nggak pingin tahu gimana dia sebenarnya, bagaimana keluarganya, siapa tahu dia punya masa lalu yang nggak lo tahu dan itu nanti akan jadi boomerang sama kelanjutan hubungan lo sama dia."


"Hari ini nggak usah bahas dia lah, Ra. Mau bagaimana pun, sekarang gue cuma bisa pasrah."


"Pasrah?"


Sisil hanya mengangguk lemah.


"Trus, Tommy gimana? Apa kalian benar benar sudah saling ikhlas melepaskan?"


"Melepaskan apa? Gue sama Tommy tuh nggak pernah punya ikatan apa-apa diantara kita."

__ADS_1


"Tapi kalian saling mencintai kan?"


Ara sangat tahu jika Sisil dan Tommy sama sama memiliki rasa yang sama. Entah bagaimana ceritanya ikatan cinta itu tak pernah terjalin hingga sampai detik ini.


"Huft!" Lagi-lagi Sisil hanya bisa mendengus pasrah.


"Mungkin kemarin begitu, tapi sekarang beda, Ra. Tommy sepertinya sudah move on. Jadi gue harus bisa move on juga. Belajar menerima keadaan, mencoba menyenangkan hati mama papa selagi mampu, meski rasanya ini masih sulit dan butuh waktu untuk menerimanya."


"Duuuh, sholeha banget putrinya om Heru sama tante Luvi. Penurut perintah orangtua, seneng dengarnya."


Sisil hanya melirik entah kepada Ara, dan kembali menghela nafas beratnya, melonggarkan rasa sesak yang tiba-tiba bagai menyumpat dada.


"Yuk, ah! Katanya mau ngemall?" Kali ini Sisil beranjak turun dari kasurnya dan secepatnya melesat ke arah lemari pakaiannya.


"Jadi?"


"Sekalian ada yang mau gue beli," gadis itu mengganti pakaiannya begitu saja dihadapan Ara, karena sebelumnya mereka sudah terbiasa saling begitu.


"Tapi gue masih kepo deh, Sil, tentang yang lo bilang Tommy sudah move on. Lo tahu dari mana? Bukannya selama ini kerjaan lo cuma diem di kamar terus?"


"Coba lo lihat postingannya Bella," gadis itu menyahut sambil menyisir rambutnya di depan kaca rias.


Meski sebenarnya sangat malas mencari tahu sesuatu hal yang menyangkut dengan Bella, akan tetapi demi jiwa kekepoannya yang sudah meronta, Ara pun meneliti tiap postingan Bella melaui media sosialnya.


"Oh my God!" Decaknya tak percaya, setelah melihat beberapa foto Bella bersama dengan Tommy, yang diunggah langsung oleh Bella dua hari yang lalu.


"Emang dasar ya lelaki! Bikin pingin gue tonjok mukanya si Tommy." Umpatnya kesal, masih sambil memandangi sebuah foto yang terlihat sangat intim bagi versi Bella dan Tommy.


"Udah, sabar, Buk. Gue yang sakit hati santai, kenapa lo yang sewot? Kuy lah, beli pemmbalut yang banyak, biar nggak merembes kemana-mana. Haha..."


"Gue mau beli testpack, bukan pemmbalut."

__ADS_1


"What? Lo hamil lagi, Ra?"


*


__ADS_2