
Sesuai dugaan, setelah Zayn dan Ara mengajak Ziyyan agar mau ikut mereka ke tempat proyek itu, rupanya bocah itu tetap menolak meski sudah dirayu dengan macam macam umpan rayuan oleh kedua orangtuanya.
Meski sebenarnya Zayn dan Ara merasa sangat heran mengapa putranya itu berubah demikian, terkesan tak begitu peduli dengan keberadaan mereka lagi, akan tetapi sama sekali tak ada raut wajah yang menandakan adanya keterpaksaan atau rasa tertekan dari air muka Ziyyan.
Bocah itu tetap berwajah ceria dan begitu aktif, layaknya bocah pada seusianya. Apalagi perhatian dan kasih sayang dari Haris dan Viona, juga dari seluruh penghuni rumah itu lah yang membuat Ziyyan tiada merasa kekurangan kasih sayang, meski kini kedua orangtuanya akan pergi untuk beberapa hari kedepan.
Karena waktu yang sudah mepet untuk segera sampai ditempat tujuan, dan juga dituntut untuk segera menyelesaikan proyeknya sebelum hari-H resepsi tiba, akhirnya Zayn dan Ara pun memutuskan pergi meski sebenarnya terasa berat hati meninggalkan putranya itu.
Mereka pergi menggunakan pesawat petang ini, dan itu akan menyingkat waktu mereka untuk segera sampai ditempat tujuan. Hingga satu jam kemudian pesawat mereka pun telah melandas di bandara tempat tujuan.
"Selamat datang kembali Boss, dek Ara," sapa Hanung ketika pasangan pengantin baru itu sudah masuk ke mobil dan duduk dibangku penumpang.
"Kita bertemu lagi mas Hanung." sahut Ara dengan wajah bahagianya. Lalu kemudian mereka pun saling melempar senyum ramah.
Berbeda dengan Zayn yang langsung berwajah masam. Apalagi jika bukan karena sapaan Ara kepada Hanung yang terdengar amat mengganggu baginya.
"Sayang," sapa Zayn, mencoba mengalihkan istrinya agar tidak berbincang lagi dengan Hanung.
"Iya, Mas," sahutnya santai.
Zayn hanya menggeleng, tentu dengan mulut yang mengerucut sebal. "Mas! Mas! Terus apa bedanya aku sama dia," gumamnya sambil melirik tajam ke arah Hanung yang serius mengemudi.
"Kamu mau ngomong apa?" Wanita itu menangkup dagu Zayn dengan sebelah tangannya.
"Tidak jadi. Nanti saja dikamar." ujarnya dengan nada yang terdengar manja ditelinga Hanung.
"Eheeem........."
Hanung sengaja berdeham sedikit keras. Tentu ia merasa sedikit ternodai penglihatannya setelah melihat boss nya itu bergelayut manja dilengan Ara dan terlihat sedang mengendus-endus nakal diarea buah dad@ istrinya.
Zayn tak peduli sindiran itu. Pria itu malah semakin asyik merebahkan dirinya dipangkuan Ara, berbantalkan paha sang istri.
"Yaelaaaah.... Gini nih yang bikin aku pingin cepat cepat kawin juga." tutur Hanung ceplas ceplos, melihat kelakuan boss nya yang seakan sengaja berbuat seperti itu didepannya.
"Mas," Ara langsung menarik kepala Zayn, agar suaminya itu tidak seperti itu didepan asistennya.
Bukannya menurut, yang ada Zayn malah melingkarkan tangannya diperut rata istrinya, juga sedikit membubuhi kecupan nakalnya disana.
"Iiiih.... Geli, Mas." Wanita itu sedikit menggeliat. Selain benar benar geli, sebenarnya ia sangat risih suaminya itu demikian ditempat yang tidak semestinya berbuat begituan.
Zayn masih betah tak menyahut. Sengaja ia memilih bungkam, tetapi tidak dengan perlakuannya yang memancing rasa gelanyar ditubuh Ara.
"Mas Hanung," sapa Ara pada pria yang terlihat gelisah dengan sebelah tangan yang terus terusan mengusap tengkuknya, entah kenapa dia itu.
"Iya, dek Ara," sahutnya sambil melirik wanita itu dari kaca spion depan.
__ADS_1
"Kita mampir kerumah ibu Narsih dulu, bisa nggak?"
"Besok saja." Tiba tiba Zayn bersuara. Menolak usulan Ara kepada Hanung.
"Aku ingin segera sampai. Mau langsung bobok sambil mimik--" Tangan nakal Zayn mendarat tanpa malu tepat diarea titik coklat gundukan kembar milik istrinya itu.
Ara terhenyak sambil seketika menangkis tangan suaminya. Tentu ia tak habis pikir suaminya itu akan lebih mesum sekarang.
"Hadduuuuh..... Si Boss eeeeiyy.... AC.. AC... Duh... Panas eeeiiy...." Hanung yang tak sengaja melihat perbuatan boss nya lewat pantulan kaca spion itu, langsung meracau bagitu saja.
"Diam lah, Nung. Tugasmu hanya nyetir." Protes Zayn, merasa benar sendiri meski telah berbuat hal tak senonoh didepannya.
Entahlah. Mengapa pria itu merasa sensi kepada Hanung. Bisa jadi cemburu, karena hanya sebuah panggilan dari Ara yang tak ada bedanya antara dirinya dengan asistennya itu.
Setelah sekitar hampir satu jam perjalanan darat, mereka pun kini telah sampai didepan sebuah villa, tempat yang memang sudah ditempati oleh Zayn selama menangani proyeknya itu.
Dan Hanung terpaksa harus berpindah tempat dari sana, menyewa villa yang tak begitu jauh dari villa yang ditempati Zayn dan Ara.
Semua barang bawaan pasangan pengantin baru itu telah berada didalam kamar. Secepatnya pria itu membersihkan badannya karena merasa peluhnya sudah sangat lengket. Sedangkan Ara memilih menunggu suaminya itu selesai dengan kegiatan mandinya sambil menikmati indahnya panorama malam khas pedesaan dari teras samping kamar tidurnya.
Udara pedesaan yang dingin nan sejuk mulai menusuk ke tulang belulang. Dulu ia sudah terbiasa dengan hawa yang seperti itu, akan tetapi setelah beberapa bulan saja dirinya kembali ke Jakarta, membuatnya harus kembali beradaptasi dengan cuaca dingin khas pedesaan.
"Dingin ya?"
Sebuah tangan tiba tiba melingkar erat dipinggang sekzinya. Zayn memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
"Didalam aku sudah siapkan air hangat untukmu." tutur Zayn, dan wanita itu kini merubah posisinya saling berhadapan dengannya.
"Seharusnya aku yang melayanimu seperti itu. Ini malah kesannya aku yang tak pandai mengurus suami." ucap Ara.
"Tak apa. Aku sama sekali tak keberatan melakukannya. Mulai sekarang menyiapkan air hangat untukmu sudah menjadi tugasku. Tugasmu hanya melayaniku."
Kerlingan mata itu membuat Ara melepas diri dari pelukan suaminya. Ia sangat paham dengan kata "melayani" yang dimaksud suaminya itu, makanya ia memilih beranjak dari sana dengan wajah merona yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Secepatnya wanita itu menyambar handuk yang sudah disiapkan oleh Zayn, lalu kemudian segera masuk kedalam kamar mandi tanpa berani menoleh kepada suaminya yang ikut melangkah dibelakangnya.
BRAK!
Suara pintu kamar mandi yang ditutup sedikit keras.
Ceklek.
Gantian kini pintu itu juga dikunci oleh Ara.
"Sayang, mandinya jangan lama lama ya? Takut masuk angin entar." sapa Zayn dari balik pintu kamar mandi yang terkunci rapat.
Tak ada sahutan apa apa dari Ara. Entah sedang apa wanita itu didalam sana.
__ADS_1
Dan Zayn hanya bisa terkekeh sendiri mendapati istrinya yang masih canggung kepadanya. Sampai mengunci pintu itu, mungkin merasa sedikit takut Zayn akan menyusulnya kesana.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Ara sudah selesai dengan kegiatannya. Wanita itu mengusap dad@ lega setelah mendapati suaminya yang sudah terlelap terlebih dahulu. Itu artinya malam ini ia akan lolos dari serangan suaminya itu.
Ara sudah selesai dengan kegiatan rutin yang ia lakukan sebelum menjelang tidur malam. Merawat kulit wajah dan tubuhnya dengan lotion yang bisa membuat kulitnya tetap lembut dan juga wangi. Setelah itu ia pun segera merebahkan diri disamping suaminya yang menurutnya sudah sangat terlelap.
Akan tetapi....
Hap.
Tiba tiba pria itu mengunci tubuh Ara dengan pelukan posesive nya. Membuat Ara kembali membuka mata lebar, setelah tadi ia berusaha untuk terpejam.
"Kamu belum tidur?" Sapanya terheran heran.
"Nggak bisa tidur sebelum menghukum kamu."
"Menghukum? Aku punya salah apa sama kamu?"
"Banyak! Salah satunya kamu tetap memanggilku 'mas', kamu tahu kan aku keberatan dengan panggilan itu."
Ara hanya bergeming. Ia sudah merasa was was duluan dengan gelagat suaminya yang meresahkan.
"Salah keduanya apa?"
"Kenapa tadi kamu mengunci pintu kamar mandi? Sengaja? Biar aku nahan pipis, hem...?" Tentu itu hanya alasannya saja agar bisa melancarkan aksi modusnya.
"Maaf, aku beneran nggak tahu kalo kamu mau pipis. Aku kira kamu bakal--" Ara terlalu malu untuk melanjutkan perkataannya.
"Bakal apa?" Zayn semakin mengikis jaraknya. Membuat wanita itu menyadari jika ada sesuatu yang mengeras dibawah sana.
"Katanya mau pipis. Sudah sana!" Ara berusaha mendorongnya dengan menekan dada bidangnya yang perlahan mulai menindih gundukan kembar miliknya.
"Nggak jadi. Aku mau keluarinnya didalam ini saja."
Tanpa permisi Zayn langsung menghisap bibir ranum istrinya, sebelum mendapat protes lagi darinya. Pria itu semakin memperdalam pagutannya dengan lidah yang bergerilya nakal didalam sana.
Tak hanya itu, sebelah tangannya juga beraksi didaerah inti milik wanitanya. Ia sudah hafal wanitanya itu tak akan bisa menolak ajakannya jika ia memainkan jari jarinya disana.
Errrangan dan juga dessa han sukses keluar menggoda dari mulut wanitanya yang mulai terbuai oleh sentuhan lembut darinya. Hingga sampai pada wanitanya itu mengeluarkan pelepasannya yang pertama kali, Zayn semakin menambah aksinya yang terbilang cukup pandai dalam memuaskan has rat istrinya.
Hingga sampai pada pria itu mulai memasukkan juniornya ke arah belahan surgawinya, dan juga memompanya dengan gerakan lembut yang perlahan semakin cepat dan bertambah cepat.
Aaaaaaarrhhhh.......
Cairan bibit unggulnya kembali tertanam didalam sana. Membuat wanita itu menggelinjang seketika, efek pelepasannya yang juga terasa begitu nikmat.
__ADS_1
Peluh hangat mulai bercucuran dari tubuh mereka. Zayn dengan wajah sumringahnya, dan Ara dengan wajah malunya karena teringat kembali dengan janji yang ia buat sendiri, namun ia juga yang tak bisa menahannya.
*