
Drrrrrrrrrrtttt......
Drrrrrrrrrrrttt.....
Suara getaran ponsel yang terletak diatas nakas terus bergetar. Kendati si pemilik ponsel mengetahui jika sedari tadi ponselnya itu berbunyi, pertanda jika ada seseorang yang sedang menghubunginya, meski begitu orang tersebut masih abai.
Hingga pada akhirnya tidurnya yang benar benar telah terusik akibat suara ponselnya itu, membuatnya terpaksa membuka matanya yang sejatinya enggan terjaga.
Ia mengerjapkan matanya berulang ulang, sembari sebelah tangannya terulur untuk meraih ponselnya yang teronggok diatas nakas samping tempat tidurnya. Posisi tubuhnya masih tengkurap, begitu malasnya ia untuk bangun dipagi yang sudah beranjak siang ini.
Matanya memicing memandangi nama yang tertera dilayar ponselnya. Setelah mengetahui siapa yang menghubunginya itu, bukan malah menjawabnya, melainkan ia membiarkannya saja hingga panggilan itu tak lagi berbunyi dari ponselnya.
"Huft!"
Suara helaan nafasnya berhembus kasar. Seakan merasa bebas dari seseorang yang menelponnya itu. Walau sebenarnya kebebasannya itu terbilang sesaat, sebab setelah nanti ia kembali ke rumah tentu si penelpon itu akan kembali menerornya dengan segala macam pertanyaan yang kali ini sangat ingin ia hindari. Karena saat ini ia sudah tak bisa memasang alasan lagi kepadanya, sebab hati dan perasaannya telah benar benar kacau dan hancur tak terbentuk seiring kandasnya kisah cintanya kepada Sisil.
Yup. Dialah Tommy. Pria itu saat ini sedang mode malas pulang. Lebih tepatnya ingin menghindari teror dari neneknya yang selalu menuntutnya untuk segera menikah. Setelah kejadian pertunangan yang dijodohkan oleh neneknya kala itu kandas, semenjak itulah Tommy bertekad akan menikahi Sisil, bisa dibilang Tommy telah berjanji kepada neneknya itu bahwa ia tidak akan menikah kecuali dengan Sisil.
Kali ini sang nenek menuntut hal itu, sebab sebelumnya Tommy telah mengiming-iming neneknya bahwa ia akan menikah setelah Zayn menikah. Nyatanya takdir baik itu tidak berkenan pada diri Tommy. Nasib percintaannya harus benar benar kandas disaat sebelum ia memulai menjalin hubungan dengan gadis pujaannya itu.
Drrrrrrrttt.....
Drrrrrrttt.....
"Aah, Sial! Nenek maksa banget sih!" gerutunya kesal sendiri.
Ia meraih kembali ponselnya, lalu menggulir tombol hijau itu dengan malas, karena kali ini yang menghubunginya bukan neneknya, melainkan dari sekretaris dikantornya.
"Iya, Sa..," jawabnya, masih dengan posisi tubuh yang tak berubah.
"Hah? Siang ini? Baiklah."
"Huft!"
Untuk kesekian kalinya Tommy menghela nafasnya yang terasa berat. Lalu kemudian ia pun menyudahi sambungan telepon itu namun masih malas untuk terjaga. Padahal sekretarisnya itu baru saja memberi kabar bahwa siang ini dirinya ada jadwal meeting bersama klien penting dari luar pulau.
Meski sebenarnya hari ini ia benar benar tak bersemangat untuk kembali bekerja seperti sebelumnya, akan tetapi jika ia membatalkan meeting penting hari ini tentu nasib perusahaannya itu yang akan jadi taruhannya.
Akhirnya ia pun mulai membalik tubuhnya, telentang menghadap langit langit kamar yang mana baru ia menyadari bahwa saat ini dirinya tidak sedang bermalam di apartemen pribadinya.
__ADS_1
"Ini hotel?" Batinnya bertanya tanya sendiri.
Pikirannya pun kembali mengingat akan kejadian semalam. Mulai dari setelah ia menghadiri resepsi pernikahan Zayn, hingga pada saat pergi ke tempat karaoke. Setelah itu...
"What!!"
Tommy terhenyak sangat kaget. Spontan dirinya langsung duduk lalu kemudian meneliti seluruh tubuhnya sendiri. Hingga pada selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya itu ia buka.
"Astaga!"
Ia bergumam tak percaya. Mendapati tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Pria itu benar benar mengumpat sesal atas apa yang terjadi padanya semalam. Sebab hal ini terjadi bukan karena sedang tidak sadarkan diri atau sedang dalam pengaruh apapun. Melainkan free dan sama sama dalam kondisi sadar saat bercinta semalam.
Tommy menutupi tubuhnya itu dengan selimut, lalu kemudian beranjak turun guna memunguti pakaiannya yang teronggok dilantai, dan meneliti kesekitar kamar mencari keberadaan wanita yang menemani tidurnya semalam.
Mendapati seluruh ruang dari kamar hotel itu benar benar kosong kecuali hanya dirinya, Tommy pun tak mau ambil pusing lagi. Sebab ia sangat tahu siapa dan bagaimana tabiat wanita yang ia kencani semalam.
Merasa waktu sudah mepet untuk menemui klien pentingnya itu, Tommy pun segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa penat.
"Astaga!" Pekiknya shock, begitu mengetahui banyaknya kissmark pada dada bidangnya, ulah wanita liar itu semalam.
.
.
Ara dan Zayn sudah berada didalam mobil yang membawanya pulang. Selama perjalanan itu Zayn menyuruh Ara untuk menggunakan masker saja, paling tidak itu akan sedikit membantu Ara agar tak lagi uring uringan disaat tak sengaja mencium aroma keringat Zayn.
Beruntungnya Ara langsung menyetujui usulan suaminya itu, sebab dengan menggunakan masker itu rupanya benar benar bisa membantunya menahan gejolak tubuhnya yang datang tiba tiba.
"Sudah baikan belum?" Tanya Zayn, saat istrinya itu lebih tenang berada dalam dekapannya.
"Hem.." Ara hanya mengagguk diikuti dehaman lemahnya.
"Kita periksa saja ya?" ajaknya lagi, itu pun mungkin sudah menjadi ajakan yang kesepuluh dari Zayn pada Ara.
Wanita itu menggeleng lagi, tetap pada pendiriannya yang tak mau diajak periksa karena merasa dirinya sudah baik baik saja.
Zayn hanya bisa menghela nafasnya, tentu sedikit merasa lega melihat kondisi istrinya yang tak menunjukkan tanda tanda demam atau sejenisnya, meski tadi pagi istrinya itu sudah memuntahkan hampir seluruh dari isi perutnya.
"Aku pingin cepat sampai rumah, kangen Ziyyan." selorohnya sendu.
__ADS_1
Entah mengapa semenjak saat dirinya menikah dengan Zayn, putranya itu terlihat lebih mandiri. Saking mandirinya sampai sampai Ziyyan seakan tak mau lagi bareng atau bermanja ria bersama kedua orangtuanya.
"Iya, aku juga kangen sama Ziyyan. Rasanya sudah lama ya Ziyyan kayak menjauh sama kita. Kira kira itu karena apa ya, Yang?"
Zayn mengusap lembut pucuk kepala Ara, berada diposisi seperti ini membuat wanita itu semakin merasa nyaman dan tenang.
"Awalnya itu gara gara kamu." Ara menyahut sambil sedikit membubuhi cubitan manja dipinggang Zayn.
"Duh! Kok bisa gara gara aku?"
"Karena kamu itu sarang virusnya. Masa kamu lupa?" Kali ini Ara mengangkat tubuhnya, memilih duduk bersandar disandaran kursinya.
"Jangan ngadi ngadi deh, Sayang. Masa suami sendiri dikatain sarang virus." Zayn jadi gemes sendiri dengan istilah yang dilontarkan istrinya itu.
"Nih.. Nih... Nih..."
Ara menunjuk gemas dilehernya sendiri yang sudah banyak tanda bintang kemerlipan, ulah suaminya semalam.
Zayn tergelak sendiri. Sedetik kemudian pria itu pun terkekeh sambil mengacak lembut pucuk kepala istrinya begitu gemas.
"Ziyyan... Ziyyan..." ucapnya gemas, begitu Zayn sudah bisa mengontrol kekehnya yang memekik.
Tak lama setelah itu mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di kediaman Haris. Yah, setelah menikah Zayn resmi tinggal dirumah itu. Meski sebenarnya ini sedikit bertentangan dengan suara hatinya yang sebenarnya merasa canggung kumpul serumah dengan mertuanya, akan tetapi setelah menimbang dan memikirkan permintaan kedua mertuanya itu, ia pun memilih menyetujuinya saja. Menikah dengan anak tunggal seperti Ara sudah pasti dirinya yang harus turut kumpul bersama keluarga dari istrinya.
Begitu kaki itu sudah melangkah masuk ke rumah itu, Ara langsung masuk begitu saja. Mencari keberadaan Ziyyan menjadi tujuan langkahnya. Seakan tak peduli lagi akan keberadaan Zayn yang masih sedikit kikuk berada dan tinggal dirumah besar itu.
"Ara sakit, Zayn?" sapa Viona, saat mengetahui Ara yang datang mengenakan masker.
"Tadi pagi Ara muntah muntah, Mi. Tapi sekarang sudah baikan kok."
"Sudah dibawa periksa?"
Zayn menggeleng singkat. "Ara nggak mau, Mi."
Sejenak Viona hanya terdiam sambil memandangi Ara yang sudah terlihat bersenda gurau dengan Ziyyan ditaman samping rumahnya.
"Jangan jangan itu pertanda Ara sudah isi lagi, Zayn." tebak Viona, sekenanya.
"Hah?"
__ADS_1
*