
Matahari pagi sudah mulai menampakkan sinarnya lewat celah-celah jendela di kamar Zayn. Pria itu tetap duduk termenung di atas sofa panjang sambil menselonjorkan kakinya di atas meja, menatap penuh sesal pada kekasihnya atas perbuatan terkutuknya semalam.
Setelah melakukan kenikmatan sesaat itu, Zayn tak bisa memejamkan matanya walau sedetikpun. Meski aktifitas semalam cukup membuat dirinya kelelahan dalam pengalaman pertamanya tersebut, namun penyesalan itu memang selalu datang di akhir.
Zayn mengusap wajahnya kasar, pria itu sangat merutuki perbuatannya semalam. Sudah tak terhitung berapa banyak rokok yang ia hisap, dan juga nampak beberapa kaleng minuman soft drink berserakan di atas mejanya itu yang sudah habis ia minum.
"Aaargh......"
Zayn mengerang sambil menjambak rambutnya sendiri. Pria itu tertunduk dalam sebuah kegundahan yang menyelimuti pikirannya.Apa yang harus ia katakan nanti pada Ara? Haruskah ia berterus terang saja atas perbuatannya itu? Atau hanya diam saja,seperti tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya?
Sesekali pria itu menengguk lagi minuman soft drink yang entah sudah kaleng ke berapa kalinya yang ia minum, meremas erat kaleng kosong itu hingga tak berbentuk lagi seperti semula.
PENGECUT!
Satu kata itu pantas ia sanding sekarang. Di saat tiba-tiba rasa takut untuk mengakuinya karena takut akan di benci oleh Ara, tapi tentunya ia akan bertanggung jawab kepada Ara tanpa harus berterus terang dengan apa yang terjadi. Itulah sumpahnya.
Sorot mata Zayn melihat pergerakan tubuh Ara yang menggeliat di atas ranjang miliknya, itu pertanda gadis itu sudah mulai terbangun dari tidur panjangnya semalam.
Zayn berjalan mendekati Ara dan duduk menatapnya di tepi ranjang gadis itu yang masih kesulitan membuka matanya.
"Pagi, Sayang," sapa Zayn sambil menyibak pelan rambut Ara yang menutupi wajah ayunya.
Ara membuka mata pelan. Samar-samar gadis itu melihat sosok Zayn yang tersenyum menyambutnya, yang mana semalam kekasihnya itu hadir di dalam mimpinya.
Ara mengerjapkan matanya berulang-ulang, lantaran baru menyadari kalau dirinya tidur bukan di kamarnya. Ia pun terbangun dan duduk, sedang matanya begitu cermat memandangi sekitar.
"Kok aku bisa tidur disini, Kak?"
Tanyanya yang benar-benar terlupa dengan kejadian semalam.
"Kamu benar-benar gak ingat?"
Zayn malah balik bertanya, sedang matanya terus menatap lekat pada Ara yang memiliki kecantikan yang natural meski tanpa riasan apapun di wajahnya.
Ara menggelengkan kepalanya. "Iish, kepalaku pusing!" ucapnya sambil mulai memijit kepalanya yang masih terasa pening.
Zayn meraih tangan Ara dengan lembut, merengkuh tubuh kekasihnya itu membawanya masuk dalam pelukannya yang erat.
Sejenak mereka sama-sama terdiam tanpa berucap, Zayn yang mulai dilema tentang harus berterus terang atau tidak, dan Ara yang mulai teringat sedikit tentang kejadian maboknya semalam.
Gadis itu melepas pelukan hangat dari kekasihnya, netra mereka saling bersirobok.
"Maaf," ucap Ara dengan wajah tertunduk.
Zayn meraih dagu Ara. "Aku juga minta maaf." Lagi-lagi pria itu terlalu pengecut untuk berterus terang kepada Ara.
__ADS_1
"Aku yang salah, Kak. Sebelumnya aku gak jujur sama kamu soal tempat pestanya Mira."
Zayn hanya terdiam. Lantas ia kembali membawa kekasihnya itu dalam pelukannya. Ara sudah mengakui ketidak jujurannya semalam, tapi mengapa dirinya sangat kelu untuk juga berterus terang pada Ara?
Ara sedikit terheran dengan perlakuan Zayn yang tak mau melepas pelukannya, Ia juga dapat merasakan hembusan nafas berat dari kekasihnya itu.
Sedangkan Zayn sudah tak bisa berkata apa-apa lagi selain membenamkan wajahnya dalam pelukan Ara, ia tak mau kekasihnya itu melihat dirinya yang mulai menitikkan air mata.
"Maafkan aku, maaf, Ara," lirih hatinya berkata.
"Kak." Ara melepas pelukan itu karena sudah sangat curiga dengan tingkah Zayn yang tidak seperti biasanya.
"Hey, kenapa kamu sedih?" Kedua tangan Ara membingkai wajah Zayn yang terlihat ada kesedihan di dalamnya.
Zayn tak menyahut, ia hanya mengulas senyumnya pada Ara yang mana kekasihnya itu juga membalas senyuman itu.
"Aku buatin kamu susu hangat ya? Biar pusingnya reda."
Zayn beranjak menuju dapur, membuatkan Ara segelas susu hangat di campur madu. Dan gadis itu tetap mencermati pergerakan Zayn yang begitu lihai menyajikan minuman itu.
"Kak." Ara memanggil Zayn tetap dari kamar itu.
"Hmm....." Zayn menyahut tanpa menoleh kepada Ara.
Gadis itu berniat untuk turun dari ranjang tersebut, ia menyilakan selimut yang menutupi tubuhnya,kemudian turun perlahan karena merasa masih pusing.
Ara menjerit pelan, membuat Zayn yang sudah selesai membuatkannya susu hangat segera menghampiri Ara.
"Kenapa? Kalau pusing mending jangan turun?" Zayn menanyainya panik.
Ara hanya menggeleng, padahal dalam hati ia curiga dengan keadaan intimnya yang terasa perih untuk di gerakkan.
"Sini aku bantu."
Tangan Zayn menggamit pundak Ara, membantunya berjalan keluar dari kamarnya.
"Aku mau ke toilet," ucap Ara sambil sedikit meringis merasakan perih yang semakin terasa berpusat dari s3lan9k4ngan kakinya.
Zayn dapat melihat bagaimana Ara berjalan tertatih, ia tidak tega melihatnya. Karena dirinya lah semua penderitaan itu bermula, dirinya lah yang telah tega merenggut mahkota suci milik Ara, tanpa setahunya.
"Eh, Kak." Ara terkesiap melihat aksi Zayn yang tiba-tiba menggendong tubuhnya mengantarnya masuk kedalam toilet.
Zayn tak peduli gadis itu memintanya untuk turun, ia hanya tak tega melihat Ara kesakitan karena ulahnya itu.
"Bisa turunkan disini?" Ara berucap ketika Zayn juga ikut masuk kedalam toilet itu.
__ADS_1
Zayn menurunkan tubuh Ara sangat pelan, ia tak mau mendengar Ara kembali merintih kesakitan.
"Kamu jangan mesum ya ngintip aku diam-diam."
Zayn tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian pria itu keluar, membiarkan Ara untuk membersihkan tubuhnya dengan tenang.
Setelah itu, Ara masih terdiam memandang dirinya di cermin. Ia meneliti seluruh tubuhnya yang tidak di temukan tanda-tanda atau jejak apapun yang mencurigakan. Baju yang ia kenakan semalam masih lengkap menempel sempurna di tubuhnya.
Apa yang harus ia curigakan lagi? Semalam tidak terjadi apa-apa kan? Tapi mengapa mahkotaku perih? Bathin Ara sudah di penuhi berbagai macam pertanyaan yang tak bisa ia temui jawabannya.
"Iiiih........"
Ara tertunduk malu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah ia teringat akan mimpinya semalam, mimpi sedang 'making love' dengan Zayn yang terasa seperti nyata.
"Mesum banget nih otak," umpatnya sambil kembali menatap dirinya di cermin.
"Ara sayang." Zayn memanggil Ara dari luar pintu kamar mandi.
"Ehm, iya." Ara menyahut dari dalam.
"Aku mau pesan makanan, kamu mau sarapan apa biar aku pesankan."
Ara mengintip Zayn dari pintu toiletnya, ia melihat kekasihnya itu sedang sibuk menggulir layar ponselnya mencari menu yang dirasa cocok dengan selera Ara.
"Kak." Gadis itu menongolkan kepalanya sedikit.
Zayn menoleh. "Mau sarapan apa?" Tanyanya.
"Aku mau sarapan masakan kamu aja." Ara berucap sambil tersenyum tersipu, membayangkan dirinya sedang berumah tangga dengan Zayn. Berkhayal dikit gak pa-pa kan?
Zayn tersenyum tipis. Setelah ini ia akan melakukan apapun yang di minta oleh Ara selama ia mampu. Ia akan mewujudkan tanggung jawabnya itu melalui janjinya yang tak akan meninggalkan Ara meski dalam kondisi apapun.
"Kamu masih gak mau mandi? Apa jangan-jangan nunggu aku yang bantu mandi ya?
Zayn menanyai Ara yang masih terus mengintip dirinya dari pintu toilet itu.
Seketika Ara menutup pintu itu. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri mengingat khayalannya yang mulai buyar.
"Sayang, aku tinggal ke market depan ya?" Zayn menyapa Ara lagi.
"Iya, Sayangku." Ara menyahut sambil kembali larut dalam khayalannya membina rumah tangga bersama Zayn.
*
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR DUKUNGANNYA YAA......
__ADS_1
Salam sayang buat Readers semua😘