
Mobil yang di kendarai Zayn sudah terparkir di depan bangunan rumah sederhana berwarna biru muda. Terlihat seorang wanita yang ia ketahui sebagai neneknya Ziyyan muncul dari dalam rumah sederhana itu. Perlahan wanita itu melangkah mendekatinya, nampak wanita itu kaget melihat kedatangannya yang sama sekali ia tidak menduganya.
"Dari mana kamu tahu alamat Ibu?" Narsih menanyainya penasaran.
"Tadi saya mampir di rumah makan milik Ibu, cuma tutup. Jadi saya bertanya ke orang-orang sekitar tentang alamat Ibu. Maaf, jika kedatangan saya mengganggu Ibu." Zayn menjelaskannya.
Zayn memang sengaja tidak menanyakan alamat rumah Narsih kepada Hanung, sebab ia tak mau asistennya itu tahu dengan apa yang di lakukannya sekarang.
Narsih tersenyum setelah mendengar penjelasan dari orang yang selama ini ditunggu kedatangannya oleh cucunya, Ziyyan. Lalu kemudian ia mempersilahkan pria itu masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan duduk, Nak," ucapnya mempersilahkan Zayn masuk ke rumahnya.
Zayn hanya mengangguk ramah. Terlihat di sekitar ruang tamu itu terdapat beberapa mainan baru yang sedikit berserakan di sana.
"Beginilah keadaan rumah Ibu, selalu gak pernah rapi sama mainannya Ziyyan. Ini semua Mas Hanung yang belikan," tuturnya sambil menata mainan itu ke tempatnya semula.
Zayn tersenyum getir saat mendengarnya. Ternyata asistennya itu sudah lumayan sering berkunjung ke rumah ini, rupanya ia terlihat sedikit bersantai selama tidak ada dirinya.
"Awas saja kalau sampai aku dengar ada yang tidak beres di proyek!" Kecamnya, mengumpat kesal pada Hanung yang di anggap telah bermalas-malasan selama ditinggal olehnya.
"Mm, Ziyyan kemana, Bu?"
Zayn sudah tak sabar ingin menemui bocah kecil itu. Bayangan wajah gembira Ziyyan karena kedatangannya tiba-tiba saja melintas indah di benaknya.
"Tunggu sebentar ya, Nak."
Setelah itu Narsih mulai masuk kedalam sebuah bilik kamar tidur. Lalu tak lama kemudian Narsih membawa Ziyyan keluar dari kamar tersebut sambil ia gendong.
"Ayah!" pekik Ziyyan kegirangan.
Ziyyan berangsur turun dari gendongan Narsih. Tubuh panasnya tak lagi ia pedulikan, bocah kecil itu berlari ke arah Zayn berada. Dan tanpa di sadari oleh Zayn, pria itu tiba-tiba saja merentangkan kedua tangannya menyambut Ziyyan untuk masuk ke dalam dekapannya.
Zayn dan Ziyyan masih saling berpelukan erat. Rasanya tak ada yang ingin melepas pelukan itu dari mereka. Entah terbawa perasaan apa, Zayn pun menghujani pipi mungil Ziyyan dengan kecupan hangatnya.
Dan Narsih hanya bisa menyaksikannya dengan perasaan yang penuh haru. Air matanya tak terasa menetes saking bahagianya melihat aura Ziyyan yang begitu merasa senang dengan kehadiran pria yang di anggap ayahnya itu.
"Ayah jangan pergi lagi."
__ADS_1
Ziyyan berucap kepada Zayn, masih dengan jarak wajah yang begitu dekat. Pria itu hanya bisa tersenyum saja, sungguh rasanya sangat tak tega menghancurkan kegembiraan yang dirasakan Ziyyan saat ini jika ia tidak mengiyakan permintaannya itu.
"Oh iya, Om-- Maksudnya aku-- Punya oleh-oleh banyak buat Ziyyan."
Zayn masih sangat canggung jika harus ikut-ikutan bilang ayah. Sedangkan wajah Ziyyan sudah sedikit cemberut mendengar kata Om tadi. Tapi semua itu hanya sepintas, karena kemudian wajahnya kembali senang saat di gendong keluar oleh Zayn menuju mobilnya berada.
"Taraaaaa......"
Bagasi mobil itu telah terbuka lebar, terlihat sebuah mainan mobil-mobilan dan juga mainan motor-motoran yang cukup di naiki oleh bocah seusianya. Beberapa mainan lainnya yang berukuran lebih kecil juga ada. Semua itu Zayn beli tadi, seandainya bagasi mobilnya masih muat menampung mungkin akan lebih banyak lagi yang akan di belinya untuk ia berikan kepada Ziyyan.
Ziyyan mulai menaiki mainan mobil-mobilannya itu dengan begitu gembira. Rasa sakit yang di alaminya seakan sembuh begitu saja bersamaan dengan kedatangan Zayn. Pria itu tak mau membuang moment bahagia seperti ini, makanya ia mengambil beberapa gambar Ziyyan melalui ponselnya tanpa setahu bocah itu.
"Hati-hati, Ziyyan. Pelan-pelan mainnya." Narsih berucap.
"Ayah, dorongin mobilnya Iyyan." Titahnya, dan Zayn langsung menuruti saja kemauannya itu.
Terlihat Zayn dan Ziyyan bermain begitu gembira riang. Bahkan Zayn pun sampai tak lagi mempedulikan tatapan penasaran dari orang-orang yang kebetulan juga lewat di depan rumah itu saking serunya mereka bermain.
"Eh, mungkin itu ayahnya Ziyyan. Lihat wajahnya saja mirip."
"Iya. Tapi ayahnya Ziyyan itu kok baru muncul sekarang sih."
"Iya tuh. Padahal sudah sukses, masa selama ini tega biarin anaknya hidup di desa terpencil kayak disini."
"Jangan-jangan?"
"Ayahnya itu berencana menjemput Ziyyan!"
Empat orang ibu-ibu muda yang masih menjadi tetangga dekat Narsih membicarakan kedatangan Zayn. Mereka mulai berasumsi sendiri melihat kedatangan Zayn yang mereka yakini adalah ayah kandung Ziyyan, karena kemiripan wajah yang Zayn dan Ziyyan miliki.
Seandainya saja ada Narsih, mungkin para mamah muda itu akan langsung menanyainya. Sayangnya saat mereka bergosip itu Narsih sedang masuk ke rumahnya guna membuatkan kopi panas untuk Zayn.
"Aduh, capek, Yan!"
Zayn menyudahi bermainnya itu, terlihat Ziyyan berangsur turun dari mainan yang ia naiki. Mereka pun kembali masuk ke dalam rumahnya, lalu kemudian duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu itu. Sedang Ziyyan masih tetap tak mau turun dari pangkuan Zayn, bocah itu terlihat sangat nyaman berada dekat dengan pria yang di akuinya sebagai ayahnya.
Mata Zayn menyapu bersih ke seluruh ruang tamu sederhana itu, nampak tak satu pun ada foto yang terpajang di sana. Sedangkan dirinya sudah mulai penasaran dengan ibunya Ziyyan.
__ADS_1
"Ibumu kemana?" Tanyanya pada Ziyyan.
"Uti," Ziyyan malah turun dari pangkuan Zayn, ia berjalan mencari keberadaan eyang putrinya berada.
Tak lama kemudian muncullah Narsih sambil membawa secangkir kopi panas dalam nampannya, dan Ziyyan yang juga mengekor dibelakangnya.
"Bunda nya Ziyyan lagi Ibu suruh ke pasar beli obatnya Ziyyan, Nak. Seharusnya sudah datang, gak tau kok lama ya." tutur Narsih tanpa di tanya oleh Zayn sebelumnya. Mungkin Ziyyan menyampaikan pertanyaannya itu kepadanya tadi.
Zayn hanya mengangguk kecil. Lalu ia melihat Ziyyan kembali mendekat kepadanya dan tanpa malu lagi bocah itu langsung duduk di pangkuan Zayn lagi.
"Hey, Ziyyan. Duduk disini, didekat Uti."
Narsih menepuk kursi kosong disebelahnya, akan tetapi langsung mendapat penolakan dari cucunya itu dengan gelengan kepalanya yang berulang-ulang.
"Gak mau! Iyyan mau pegang ayah. Kalau tidak di pegang nanti ayah pergi lagi," ujarnya begitu posesive. Sedang tangan kecilnya itu bergelayut manja di leher Zayn, menguncinya agar pria itu tak lagi pergi dari rumahnya.
"Biarkan saja, Bu. Tidak kenapa-napa kok." Suara Zayn terlihat begitu pasrah mau di apakan saja oleh Ziyyan sekarang.
"Maafkan cucu Ibu, Nak."
Hanya kata maaf yang dapat Narsih ucapkan kepada pria baik seperti Zayn, yang telah sudi mengikuti kemauan Ziyyan dengan menuruti semua kemauannya itu.
Bertanya tentang ibunya Ziyyan sudah. Sekarang ayahnya? Zayn juga sangat penasaran dengan kemana ayahnya Ziyyan selama ini.
"Sebenarnya dimana ayahnya Ziyyan, Bu? Maaf jika saya lancang menanyakan hal ini."
Narsih hanya menanggapinya dengan senyum hangatnya, lalu kemudian ia pun menceritakan semua itu persis seperti yang pernah ia ceritakan juga kepada Hanung beberapa waktu sebelumnya.
Dan Zayn hanya bisa menatap iba kepada bocah yang masih berada di pangkuannya itu, setelah mendengar cerita pilu dari Narsih tentang kronologi awal cucunya itu menganggapnya sebagai ayahnya.
Tiba-tiba saja ponsel Zayn berdering, tertera nama Hanung yang menghubunginya. Karena kemarin ia telah memberi kabar kepada asistennya itu jika ia akan kembali ke proyeknya, makanya Hanung menanyainya karena khawatir dengan Zayn yang tak kunjung sampai ke tempat tujuan.
Setelah selesai menjawab telepon dari Hanung itu, Zayn beralih ingin mematikan layar ponselnya. Tapi tak di sangka setelah itu....
"Aah, Bunda?"
*
__ADS_1