
"Loh, tidur?"
Ara sempat tak percaya setelah melihat Zayn yang rupanya tengah tertidur pulas di ranjangnya. Pantas saja pria itu terkesan menepati ucapannya tadi, padahal ternyata sudah terlelap saja.
Beralih Ara beranjak ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya, karena saat ini dirinya hanya berbalut kimono handuk. Setelah selesai mengenakan pakaiannya wanita itu menyibukkan diri didepan kaca riasnya.
Sejenak Ara kembali terdiam, hanya memandangi tubuh Zayn dari pantulan cerminnya. Rasanya ia masih tak percaya kalau dirinya sudah menjadi istri Zayn. Dan sesaat ia hanya termenung dengan pikirannya yang random.
"Ah, mending aku ke bawah. Kelamaan di sini entar dikiranya aku macam macam." Wanita itu akhirnya keluar dari kamarnya untuk segera makan, seperti pesan Viona tadi.
"Zayn kemana, Ra?" Tanya Haris karena hanya melihat Ara turun seorang diri.
"Tidur," jawabnya singkat.
"Bisa jadi hanya ketiduran saja, Ra," sahut Viona.
Ara tak menyahut lagi. Beralih ia menarik kursi di meja makan itu lalu mendudukinya.
"Cepat bangunkan suamimu. Ajak dia makan bareng." Titah Haris, akan tetapi Ara hanya bergeming.
"Iya, Ra. Kasihan dia, palingan dia tadi tertidur karena kelamaan nunggu kamu ya?"
"Biarkan saja dia tidur, Mi. Orang lagi enak-enak tidur kok mau dibangunin."
Sebenarnya Ara hanya merasa tak siap saja andai nanti Zayn terbangun dan kemudian tak tau lagi harus berbuat apa setelahnya. Wanita itu melirik ke arah jam dinding, waktu masih menunjukkan belum jam tujuh malam. Lebih baik dia terus tertidur saja, daripada dibangunkan dan akhirnya akan membuatnya--
Aaaah..... Ara dibuat frustasi sendiri dengan pikiran randomnya lagi.
Tapi bukankah ini masih belum terlalu malam? Jika dibangunkan sekarang bukankah ia memiliki kesempatan untuk menyuruhnya pulang saja, dari pada nanti harus tidur sekamar dengannya?
Yup, ide bagus!
Beranjak Ara menarik kursinya dan bersiap melangkah menuju kamarnya.
"Mau kemana, Ra?" Viona langsung bertanya.
"Mau bangunkan Zayn" Wanita itu bersuara pelan sambil menunjuk ke arah kamarnya.
"Sudah, biarkan saja dia tidur." Haris mencegahnya, seakan ia sudah tahu dengan pemikiran anaknya yang berencana tidak baik dengan Zayn.
"Loh?" Ara langsung tercengang heran.
"Aneh!" Monolognya, begitu mendengar perkataan Haris yang terkesan plin plan. Semenit lalu menyuruhnya membangunkan Zayn, sekarang malah melarangnya.
"Ya sudah, ayo kita makan." Viona pun kemudian mulai mengisi piring dengan nasi dan lauk untuk disantap bersama.
Dan Ara hanya bisa kembali bergabung dengan perasaan yang sudah entah. Rasanya santapan malam ini terasa hambar di lidah, karena ia melahapnya dengan perasaan tak tenang.
"Kenapa makannya nggak semangat, Sayang? Kamu nggak enak badan?" Viona mencurigai anaknya yang sangat terlihat tak berselera makan.
"Eh, tidak Mi." Dan Ara kembali memasukkan makanannya lagi, masih dengan pikiran yang gelisah.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam bersama, kini dirinya dibuat bingung lagi harus bagaimana setelah ini. Bahkan ia pun baru menyadari bahwa sedari tadi ia tak melihat Ziyyan disekitarnya.
"Yach, tidur di kamar Ziyyan!" Batinnya bersemangat lagi, setelah merasa menemukan cara lain untuk menghindari tidur sekamar dengan Zayn.
"Ziyyan mana, Mi?" Wanita itu celingukan ke sekitar mencari keberadaan anaknya.
"Paling lagi main sama Narsih disamping. Tadi Ziyyan sudah makan dulu."
Langkah Ara langsung menuju arah taman samping rumahnya. Rupanya benar anaknya itu saat ini sedang bercanda dengan Narsih, juga ada Inah dan Rudy di sana.
"Sayang," sapanya saat ia sudah berkumpul dengan mereka.
"Bunda." Ziyyan langsung menghambur mendekat, lalu kemudian duduk dipangkuan Ara, tempat ternyamannya ketika mengobrol dengan bundanya.
"Kenapa masih di sini? Ziyyan tidak mengantuk apa?"
Ziyyan hanya menggeleng. "Ayah mana, Bunda?" Tanyanya, karena hanya melihat bundanya seorang diri.
"Ayah sudah tidur," jawab Ara sambil mencuri cium di pipi anaknya.
"Ziyyan tidur yuk, bunda sudah capek ingin cepat-cepat tidur," ajaknya yang langsung mendapat gelengan kepala dari Ziyyan.
"Bunda tidur saja sama ayah. Iyyan masih belum ngantuk, lagian Iyyan juga mau tidur sama uti malam ini," tolaknya dengan mantap.
"Kenapa tidur sama uti? Biasanya juga tiap malam tidurnya sama bunda." Wanita itu berucap sambil mengerucutkan bibirnya dan juga menatap ke arah Narsih berada.
"Nggak mau! Pokoknya Iyyan mau tidur sama uti!"
Beralih wanita itu menatap Narsih lagi, memintanya pertolongan agar Ziyyan mau menerima ajakannya.
"Biarkan saja Ziyyan tidur sama saya, Nak. Cuma malam ini saja kok," seru Narsih, berbalik dari ekspektasi yang Ara harapkan.
"Kan masih ada malam-malam berikutnya, Bu." Ara masih mencoba menawar, siapa tahu Narsih setuju. Karena ia sangat yakin kalau Zayn besok pasti sudah pulang. Mengingat pernikahannya yang hanya pernikahan siri, maka tak mungkin pula pria itu akan terus terusan berada disini juga.
Narsih hanya tersenyum kecil, lalu ia mengambil Ziyyan dari pangkuan Ara kemudian mendekapnya dalam gendongannya.
"Besok ibu sudah mau balik ke kampung. Malam ini malam terakhir ibu tidur bersama Ziyyan."
Ada setitik buliran bening yang mengembun di sorot mata Narsih. Rasa sedih bercampur haru yang terpaksa harus terpisah jauh dengan Ziyyan dan juga Ara. Dan kali ini wanita itu hanya terdiam tanpa bisa mencegahnya lagi. Sebab sebelumnya hal ini sudah dibahas beberapa hari kemarin, bahwa Narsih akan kembali pulang setelah Ara menikah dengan Zayn.
"Tidak bisakah ibu menunggu sampai tiga minggu lagi?" Tentu Ara juga merasa keberatan harus berpisah dengan ibu angkatnya itu, makanya ia pun menawarkan lagi kepada Narsih agar tak segera pulang sebelum acara resepsinya digelar.
"Ibu pasti usahakan datang. Kalau kamu kangen ibu, main-mainlah ke kampung. Ajak suamimu, jangan malah berangkat sendiri."
Wanita itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sekeras apapun ia mencoba mencegahnya, ujung-ujungnya akan selalu ditolak oleh Narsih yang terlampau berat meninggalkan kampung halamannya itu berlama-lama.
"Sudah, jangan cemberut begitu." Narsih mengusap pelan lengan Ara.
"Sana, temani suamimu. Ingat tanggung jawabmu sebagai istri, Nak, sekarang status kamu sudah bukan wanita single lagi. Kasihan Zayn kalau kamu tinggal sendiri di rumah ini. Dia pasti masih terlalu malu untuk berbaur dengan orang-orang di rumah ini." Pesan Narsih.
"Dia juga udah tidur kok, Bu."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu tidur juga sana," titah Narsih yang akhirnya pergi begitu saja sambil membawa Ziyyan juga.
Ara masih tercengang seorang diri. Ia sangat enggan melangkah masuk ke rumahnya, karena kembali dihantui hal-hal yang random dipikirannya. Maka ia pun memilih duduk saja di taman itu, mungkin ia terus akan berada di sana semalaman, hingga sampai tidak ada seorang pun yang akan menemukannya nanti.
Tak terasa sudah tiga jam lamanya ia seorang diri berada di taman itu. Matanya pun sudah tidak bisa diajak kompromi untuk begadang, meski sudah diusahakan untuk tetap binar dengan memainkan ponselnya sedari tadi.
Huaaaam....
Berulang-ulang mulutnya menguap, pertanda ngantuk berat sudah melanda. Dengan langkah gontai akhirnya ia pun memilih masuk lagi kerumahnya, ingin segera merebahkan tubuhnya di kamar Ziyyan.
"Ara, mau kemana?" Viona yang kebetulan keluar dari kamarnya langsung menegur Ara yang sudah bersiap memegang handle pintu kamar Ziyyan.
"Mau tidur, Mi," sahutnya sudah tak bergairah.
"Tidur kok di kamar Ziyyan!"
Maminya itu melangkah cepat mendekati Ara, sebelum anaknya itu benar-benar masuk ke kamar Ziyyan.
"Tidur di kamarmu! Aneh-aneh saja kamu ini!" Ucapnya sambil menarik tangan Ara menuju kamarnya berada.
"Tapi, Mi--" Wanita itu berusaha menolak, akan tetapi sudah percuma karena Viona sudah mendorongnya masuk ke dalam kamarnya.
"Mau mami kunci, hah?" Viona menggertaknya dengan berpura-pura mengambil kunci pintu kamar Ara.
"Jangan!" Ara meraih kuncinya dari genggaman Viona, lalu ia pun kemudian hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Ceklek.
Suara pintu kamar itu sudah ditutup oleh Viona. Tinggallah Ara yang masih belum beranjak sambil bersandar di daun pintu kamarnya.
Sudah pasti semua wanita akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasa Ara saat ini. Perasaan gugup yang tak bisa terukirkan, sudah pasti melanda pada tiap pasangan pengantin baru.
Karena ngantuknya yang sudah tak tertahankan lagi, ia pun mulai memberanikan diri masuk ke kamarnya lebih dalam. Langkahnya dibuat sepelan mungkin agar tak mengusik tidur seseorang yang rupanya masih sangat terlelap di atas ranjangnya.
Perlahan Ara mengintip Zayn dari jarak yang lumayan dekat, ingin memastikan lagi kalau pria itu benar-benar sedang tidur nyenyak atau tidak.
Haaahhhh....
Tarikan nafasnya berhembus lega begitu memastikan bahwa Zayn sudah tidur dengan sangat-sangat nyenyak.
Sejenak ia menoleh ke arah sofa yang juga berada didalam kamarnya, ia berpikir mungkin lebih baik malam ini ia tidur di sofa itu saja.
Maka tanpa ragu lagi ia segera beranjak kearah sofa dan langsung menghempas tubuhnya begitu saja. Karena sudah dilanda rasa kantuk yang begitu akut, maka tak membutuhkan waktu yang lama untuk membawa wanita itu terbawa dalam mimpi panjang ditidur malamnya.
Hingga pada akhirnya tidurnya itu harus terusik dengan suara halus yang terdengar begitu dekat dari belakang tubuhnya.
"Sayang...."
.
*Bersambung...
__ADS_1