
*Haris flashback on
Setelah berdiam diri yang cukup lama di ruang kerjanya, Haris keluar ingin melihat kondisi Viona yang tadi pingsan karena kepergian Ara. Namun hal itu ia urungkan karena melihat Sisil sedang terlibat obrolan yang cukup serius dengan Viona.
Haris sengaja menguping obrolan mereka dibalik pintu kamarnya yang ia buka sedikit.
"Sebenarnya Ara memang punya pacar, Tante." Terdengar suara Sisil mengakui kebenaran Ara yang punya kekasih kepada Viona.
"Siapa pacarnya Ara, Sil? Dimana ia sekarang?" Viona menanyainya masih dengan buliran air matanya yang menetes.
"Setahuku dia sekarang kerja di Batam. Baru tiga hari kemarin dia pamit pergi."
Viona tertunduk lesu. Ia masih sangat shock mendengar kehamilan Ara, ditambah lagi kini mendengar ternyata kekasih anaknya itu sedang berada di luar pulau.
"Bagaimana sekarang nasib Ara, Sil. Tante sangat cemas. Kenapa Ara tidak cerita kalau dia hamil. Jangan-jangan Ara juga tidak cerita sama pacarnya itu."
Sisil tak bisa menjawabnya. Ia sendiri saja juga kaget mendengar berita itu. "Aku coba hubungi dulu, Tante." Sisil merogoh ponselnya untuk menghubungi Zayn.
"Gak aktif." Sisil menggelengkan kepalanya lesu.
"Bagaimana ini, Sil?" Viona kembali terisak.
"Tante takut pacarnya itu kabur dan tidak mau bertanggung jawab," ungkapnya.
"Entar dulu, kayaknya Zayn memang gak tahu kalau Ara hamil, Tan. Kemarin pas kita pulang dari bandara Ara sempat mampir ke apotik, cuma aku gak nanya dia beli apa. Jangan-jangan waktu itu Ara lagi beli testpack, Tante."
Mendengar pernyataan Sisil, yang ada Viona semakin menangis. Sisil kembali membawa tubuh lemah Viona dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tante yang tenang ya, nanti aku usahakan cari info dari temannya Zayn. Begitu ada info, aku pasti langsung kabari tante." Sisil berucap sambil mengusap pelan punggung Viona.
"ZAYN!"
Rahang Haris mengeras begitu menyebut nama seseorang yang telah merenggut masa depan anaknya itu. Tangannya mengepal erat seakan ingin menonjok sosok Zayn tersebut. Sedang alur nafasnya terasa sangat sesak dipenuhi oleh amarahnya yang tersimpan.
Begitu merasa cukup menguping obrolan antara Sisil dengan istrinya itu, Haris kembali melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Di sana ia akan merasa lebih tenang karena ruang itu sangat privacy dan tak ada satu orang pun yang berani masuk ke dalamnya tanpa seizin darinya. Termasuk Viona dan juga Ara.
Haris kembali duduk di kursi panjang yang ada di ruang kerja tersebut. Sedang sorot matanya sangat nanar mengingat nama kekasih anaknya itu.
Cukup lama ia berpikir tentang bagaimana caranya ia bisa menemukan seorang yang bernama Zayn itu. Karena sebenarnya Haris pun juga ingin anaknya itu bisa kembali secepatnya ke rumahnya, seandainya pacar Ara itu mau datang ke rumahnya dan mengakui perbuatannya itu.
Sebenci-benci dirinya terhadap Ara yang telah mencoreng nama baiknya dan pasti nama baik keluarga besarnya pula. Semarah-marahnya Haris karena telah di kecewakan oleh Ara, akan tetapi gadis sembilan belas tahun itu masih tetap anaknya. Anak semata wayang dan juga kesayangannya. Meski luka dihatinya itu terasa sulit dilupakan karena insiden memalukan ini.
Seketika Haris langsung teringat jika ia memiliki cabang perusahaan di Batam. Mungkin ia bisa mencari info pacar anaknya itu lewat bantuan anak buahnya di sana.
"Kamu suruh orang buat cari info pemuda atas nama Zayn. Kabarnya ia masih baru ini bekerja di sana. Kamu cari dia bekerja di perusahaan mana pun. Setelah itu kamu laporkan ke saya."
"Baik, Pak. Secepatnya saya akan kabarkan begitu saya sudah menemukan seseorang yang bapak sebut tadi." Seru Ridwan. Ridwan adalah termasuk kaki tangan Haris yang di mandat langsung untuk mengelola perusahaannya di Batam.
Haris langsung menyudahi panggilannya itu. Dirinya kembali termenung, sebab ada rasa menyesal yang mulai menggerogoti hatinya atas tindakannya telah mengusir Ara. Ia pun merutuki dirinya yang amat besar ego. Sebenarnya kejadian ini bisa ditanyainya terlebih dahulu dan perlu membicarakannya dengan kepala dingin.
Satu kata yang mulai muncul dihatinya, yaitu 'menyesal'. Tapi meski demikian Haris tetap angkuh hati untuk memaafkan putrinya itu secepat ini. Ia hanya perlu memberi pelajaran penting dihidup Ara. Mungkin saja nanti putrinya itu akan menyesali perbuatannya dan dapat mengambil hikmah apapun itu selama ia berada di kota asing tempat ia menyembunyikan diri.
Dua hari berlalu, namun Ridwan belum juga memberinya kabar tentang seseorang yang dicarinya itu. Haris menunggunya dengan resah bercampur amarah. Pikirannya sudah semakin kalut, takut-takut kekasih anaknya itu benar-benar sedang lari dari tanggung jawabnya.
Sudah sering pula Haris menghubungi Ridwan menanyai perkembangannya, namun selalu mendengar kabar masih belum ada penemuan.
__ADS_1
Viona hanya bisa mencermati pergerakan Haris yang begitu kentara sedang gelisah. Ia yang sengaja tak bicara dengan suaminya itu semenjak kepergian Ara tempo hari, tentu tak berani menanyai apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Meski rasa penasarannya sebenarnya ada.
Ponsel Haris seketika berdering. Ia langsung menjawab panggilan dari seseorang yang memang ia tunggu.
"Bagaimana, Ridwan?" Tanya Haris tak sabaran. Ia memilih masuk ke ruang kerjanya karena takut percakapannya di dengar oleh Viona.
"Orang suruhan saya barusan memberi info atas nama Zayn. Sayangnya orang yang anda cari itu sedang dirawat di rumah sakit, Pak."
"Kenapa?!" Haris masih tak paham dengan ucapan Ridwan itu.
"Begini, Pak. Tempo hari memang ada laka beruntun disini, dan salah satu korbannya atas nama Zayn. Dokter di sana bilang kalau baru semalam ia sadarkan diri." Jelas Ridwan.
"Kamu tidak salah orang kan?" Haris masih tidak mempercayai kabar itu.
"Sepertinya tidak, Pak. Karena dilihat dari info orang suruhan saya dia sepertinya memang bukan orang asli sini. Sebab tak ada satu orang pun dari keluarganya yang mengunjunginya, Pak. Kemungkinan besar keluarganya juga tidak tahu kejadian yang menimpanya, Pak."
Haris hanya dapat menghela nafasnya. Seseorang yang ia cari sudah berada digenggaman tangan. Cuma begitu miris rasanya mendengar info dari anak buahnya itu tentang Zayn.
"Kamu urus dia, Ridwan. Bila perlu kamu tanggung semua biaya rumah sakitnya. Aku ingin orang itu merasa mempunyai hutang budi yang banyak hingga ia tak mampu melunasinya dengan apapun." Perintah Haris sebelum ia mengakhiri panggilannya dengan Ridwan.
Pandangan Haris masih menerawang jauh. Sebenarnya ia tak pernah selicik ini dalam membantu orang. Hanya karena keadaan yang mendesak membuatnya harus bertindak diluar kata hatinya sendiri.
.
.
*Bersambung
__ADS_1