Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 111


__ADS_3

Setelah mendengar sendiri bagaimana perlakuan Haris terhadap Zayn selama ini, Ara memilih mengurung diri di kamarnya. Wanita itu sempat menangis sejadi-jadinya tadi, hingga sampai ia terlelap sendiri karena lelah kehabisan tenaga menumpahkan emosinya lewat tangisnya yang membuncah.


Entah mengapa dadanya terasa amat sesak mengingat semua yang terjadi padanya selama ini. Ia sudah berusaha berdamai dengan masa lalunya itu, sehingga tadi meminta pria yang sebenarnya begitu sulit ia lupakan untuk menjauh darinya. Akan tetapi setelah mendengar sendiri alasan sebenarnya pria itu menghilang karena campur tangan papinya, rasa penyesalan itu tiba-tiba muncul dihatinya.


Selama hidupnya, Zayn memanglah sebagai sosok pria pertama yang mampu mencuri hatinya. Bahkan setelah kejadian itu pun Ara sebenarnya belum mampu sepenuhnya bisa melupakannya. Selama ini hatinya selalu berdusta tentang sisa rasa yang masih melekat kuat dihatinya. Tak dipungkiri permintaannya agar pria itu menjauh darinya agar supaya hatinya bisa tenang. Tenang untuk menilai benar tidaknya ia masih mencintai pria itu, setelah pertemuannya kembali dengan Zayn.


Ceklek.


Seseorang mengendap-endap masuk ke kamar Ara yang rupanya terlelap dalam posisi tengkurap. Tanpa ragu ia mulai menaiki ranjang tidur wanita itu lalu seketika mencium pipi Ara begitu lama.


Ara terkesiap. Seketika ia membuka matanya dan menoleh pada sosok malaikat kecilnya yang tiba-tiba saja sudah duduk disebelahnya.


Ziyyan tersenyum manis, begitu pun dengan Ara. Sesaat kemudian bocah itu turut menemani bundanya yang masih berbaring.


"Bunda nangis?" Bocah itu bertanya karena melihat mata Ara yang sudah sembab.


"Tidak. Mata bunda tadi sakit, nggak sengaja bunda kucek-kucek." Tentu Ara harus pandai menutupinya dari anaknya yang begitu peka.


"Bunda jadi jelek, mata bunda jelek!" Kekehnya dengan senyum menggodanya.


"Iya kah?" Beralih Ara meraih ponselnya kemudian bercermin di sana.


"Iya, Ziyyan. Mata bunda jelek banget." serunya begitu melihat sendiri matanya yang sedikit bengkak.


"Tapi bunda tetap cantik kok." Lalu bocah itu kembali mencium pipi Ara.


"Hmm, anak bunda rupanya sudah pintar gombal ya?"


Lantas merekapun terlibat canda gurau khas ibu dan anaknya. Sesekali terdengar tawa riang dari bocah itu karena Ara yang kadang menggelitiknya.


"Eh, tunggu dulu. Kamu bisa masuk kesini sama siapa?" Wanita itu baru teringat kalau tadi ia sempat mengunci pintu kamarnya.


"Ehem..." Suara dehaman seorang wanita tiba-tiba muncul dari arah pintu kamar tersebut.


Ara menoleh ke arah suara itu, terlihat Narsih yang rupanya sedari tadi hanya memperhatikan Ziyyan dan Ara bersenda gurau.


"Ibu, kenapa hanya berdiri disitu?" Tanyanya yang kemudian ia memposisikan tubuhnya duduk di ranjangnya.


Narsih pun mendekat dan turut duduk disebelah Ara. Senyum hangatnya mengembang seiring belaian tangannya di kepala anak angkatnya itu.


"Maaf kalau ibu lancang tiba-tiba masuk ke kamarmu," ucapnya tak enak sendiri.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Ibu tidak perlu sungkan seperti ini. Anggaplah rumah ini seperti rumah ibu, karena aku tetap menjadi anak ibu." Ara meraih tangan keriput Narsih dalam genggamannya.


Wanita tua itu hanya bisa tersenyum tiap kali mendapati Ara yang tak berubah peringai terhadapnya, meski telah kembali kepada orangtua kandungnya.


Beberapa menit sebelum Narsih membawa Ziyyan masuk ke kamar Ara, ia memang telah disuruh Haris untuk bisa menghibur suasana hatinya yang tentu sudah kacau.


Pintu kamar itu memang terkunci, tapi setelah Haris memberi kunci cadangannya tentu Narsih bisa masuk ke kamar tersebut.


Narsih juga sudah berencana ingin mengajak Ara jalan-jalan sekedar bisa menghibur hati, dan tentu itu juga karena usulan dari Haris.


"Ara," sapanya kemudian.


"Iya, Bu."


"Kita jalan-jalan yuk. Ibu ingin tahu bagaimana kota Jakarta sore hari."


"Asssyiiiiiik.... Iyyan ikut ya, Bunda?" Bocah itu langsung berantusias kegirangan.


Tak berpikir lama wanita itu langsung mengangguk setuju. Dan kemudian ia pun mulai bersiap-siap.


.


.


.


"Kok malah nyerah gitu sih? Katanya cinta, tapi sekali disuruh menjauh lo nya pasrah aja? Gak gentle lo!"


Tommy langsung mencerca Zayn yang bercerita tentang nasib percintaannya dengan Ara. Pria itu terlihat sangat sebal setelah mendapati Zayn yang mudah pasrah dan terkesan tak mau berjuang demi meraih cintanya kembali.


"Ya mau gimana lagi Tom. Dianya merasa lebih tenang seperti ini. Dari pada gue terus ngejar tapi pada akhirnya dia tertekan dan nggak bahagia?" Zayn mencoba membela diri.


"Nggak paham gue sama jalan pikiran lo!"


Tommy tentu sangat kesal melihat Zayn yang memilih jalan menyerah dengan Ara. Karena secara tidak langsung ini juga bisa berpengaruh dengan masalah percintaannya. Ia sudah tak sabar ingin segera menyelesaikan masalah Ara dan Zayn, sebab gadisnya itu telah berjanji akan menjawab lamarannya jika masalah Ara sudah selesai.


Andai posisi Tommy tidak mendukung Zayn dengan Ara bersatu kembali, tentu ia tak akan merasa jengkel separah ini. Akan tetapi karena diantara mereka sudah ada Ziyyan, makanya Tommy sangat mendukung mereka bersatu kembali. Meski sebelumnya Sisil pernah berkata Ara akan dijodohkan dengan Keanu, tetap Tommy akan mendukung Zayn supaya bisa merebut posisi itu dari Keanu atau siapapun.


"Trus setelah ini lo mau gimana?" Tommy kembali bersuara setelah sekian menit hanya saling diam.


"Kembali kerja lah," jawabnya enteng.

__ADS_1


"Di kantor papinya Ara lagi?"


Zayn hanya mengangguk. Berbeda dengan Tommy yang menatapnya heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana pria itu tidak akan heran, Zayn memilih menyerah tak mau mendekati Ara lagi akan tetapi Zayn masih akan bekerja dengan papinya Ara. Ada apa ini? Pria itu makin tak percaya dengan jalan pemikiran sahabatnya itu.


"Udah, nggak usah bingung gitu." Zayn sudah bisa menduga kalau Tommy sedang bingung dengan masalah rumitnya dengan Ara.


"Semakin nggak paham gue sama apa yang sebenarnya lo rencanakan." Tommy semakin kesal.


"Gue nggak ada rencana apa-apa meski gue kerja bareng papinya Ara. Yang ada tuh papinya Ara yang punya rencana macam-macam."


"Maksud lo apa? Jangan malah bikin gue tambah pusing! Masalah lo itu sudah menggadaikan masalah asmara gue sama Sisil, Zayn."


"Iya, Sorry." Zayn malah cengengesan nggak jelas.


"Sebenarnya pak Haris dari dulu sudah berniat menjodohkan gue sama anaknya. Awalnya gue nolak, karena gue nggak tahu kalau anaknya itu Ara. Sampai semalam aja dia masih nyuruh gue cepat-cepat nikahin dia bulan ini juga."


"Lah, trus kenapa lo malah jauhin Ara kalau papinya saja sebenarnya sudah merestui lo?"


Zayn hanya tersenyum licik. Sekilas ia kembali teringat pada wanitanya itu, saat semalam ia menciumnya yang ternyata tiada penolakan darinya.


"Malah senyum-senyum." Tommy membuyarkan lamunan Zayn.


"Tom, lo pasti pernah dengar istilah tarik ulur kan?"


Tommy hanya mengangkat kedua bahunya isyarat tak mengerti.


"Ah, ya sudah lah. Lo nggak paham gitu." Zayn malah menggantung bicaranya.


Dan Tommy hanya bisa mendengus kesal kepada sahabatnya yang malah semakin terkesan lebih santai dari pada dirinya yang sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan masalahnya juga.


"Nah, trus yang Sisil bilang Ara sudah dijodohin sama Keanu itu siapa yang meminta?"


"Mungkin maminya yang minta."


"Waduh, bisa berat urusannya nih." Tommy terlihat menggaruk kepalanya sambil berpikir kembali.


Berbeda dengan Zayn yang terlihat lebih santai setelah merasa yakin jika rencananya itu akan berhasil. Sekerjap matanya membentur sosok orang yang sedang mereka bahas turut masuk ke restoran tempat mereka berbincang saat ini.


"Ara?"


*

__ADS_1


__ADS_2