Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 65


__ADS_3

Setelah kurang lebih delapan jam menempuh perjalanan darat, kini mobil yang sudah beralih di kemudikan oleh Hanung sudah mulai memasuki wilayah pedesaan tempat proyek yang akan ditangani oleh Zayn nanti.


Bebatuan kerikil sudah mulai terasa di jalanan sebuah perkampungan yang terkenal dengan wisata kebun teh. Membuat Zayn yang semula terlelap menjadi terbangun.


Pria itu sesekali membuka kaca mobilnya lebar-lebar, menghirup udara sejuk disana. Rasa lelahnya karena menempuh perjalanan darat yang lumayan jauh seakan terbayarkan oleh indahnya panorama alam disana.


Pagi sudah menjelang siang, Namun rupanya Zayn masih sedikit mengantuk. Semilir udara sejuk khas pedesaan itu sukses merambat masuk ke tubuh lelah Zayn, hingga membuat pria itu tak terasa kembali terlelap.


Hanung melirik sekilas kepada Zayn lewat kaca spion depan. Rupanya Bossnya itu begitu cepat terlelap kembali, membuatnya sedikit mengembangkan senyumnya tatkala melihat wajah tenang dari bossnya yang terkesan selalu berwajah serius tiap kali dihadapkan dengan pekerjaannya.


Saking asyiknya terlena dengan wajah tenang Zayn yang jarang ia temui, membuat dirinya kurang fokus melihat situasi didepan.


ASTAGHFIRULLAH!!!


Hanung berucap seraya mengelus dadanya sendiri. Sedang nafasnya terasa sangat ngos-ngosan akibat kelalaiannya yang hampir mencelakai anak kecil yang tiba-tiba muncul didepan.


Ciiiiiiitttttt...........


Mobil yang di kemudikan oleh Hanung tiba-tiba berhenti mendadak. Membuat Zayn yang terlelap seketika terbangun kaget.


"Ada apa, Nung?" Tanyanya penasaran.


Hanung masih terdiam. Ia masih saja menatap anak kecil yang sangat asyik bermain dengan mainannya itu. Padahal bahaya itu baru saja hampir mengintainya, andai Hanung tak segera sigap menghentikan laju mobilnya.


"Nung!" Zayn menepuk pundaknya.


"Hampir saja saya menabrak anak kecil, Pak." Akunya dengan nada yang sedikit gemetar.


"Yang benar kau, Nung? Ceroboh sekali sih kamu!" Zayn mengintip ke depan melalui kaca mobilnya yang terbuka lebar. Yang ia lihat ternyata anak itu tidak kenapa-napa.


"Turun kau!" Sergahnya. Dan Hanung langsung menurut perintah bossnya itu.


Terlihat Hanung mendekat ke arah bocah kecil yang sangat fokus dengan mainan yang dipegangnya. Sedangkan Zayn memilih tetap berada didalam mobilnya karena merasa kepalanya sedikit pening, efek terbangun yang mendadak tadi.


"Adek main apa?" Sapa Hanung sambil menyeimbangi posisi duduknya dengan bocah itu. Bukannya menyahuti sapaan darinya, bahkan menoleh kepadanya pun tidak.


"Adek mainnya dipinggir saja ya, kalau agak menengah begini bisa berbahaya loh, Dek."


Hanung berusaha mengangkat tubuh kecil bocah itu, bermaksud memindahnya ke tepi jalan. Yang ternyata bocah kecil itu menolak dan membuat beberapa orang yang kebetulan lewat di jalanan itu berhenti sambil menatap curiga padanya. Mungkin mereka berpikir Hanung akan mencuri bocah kecil itu.


"S-saya tidak bermaksud apa-apa Pak, Buk. Tadi anak ini mainnya sedikit ke tengah." Jelasnya namun tetap tak mengurangi tatapan kecurigaan dari mereka.


Hanung menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sesekali ia menoleh ke arah Zayn meminta pertolongan, nyatanya Bossnya itu begitu acuh terhadapnya. Terlihat jelas ketika Zayn menutup kacanya rapat-rapat saat menyadari tatapan darinya.

__ADS_1


"Rese banget sih! Bantuin napa?" Umpatnya yang tak berani ia keluarkan.


Bukannya Zayn tak mau membantunya, ia memang sengaja memberi pelajaran terhadap asistennya itu agar tak lagi lalai dalam berkendara.


Seorang wanita yang sepantasnya menjadi nenek bocah kecil itu keluar dari rumah makan yang sedikit condong ke belakang dari tepi jalanan itu, sambil sedikit berlari ke arah Hanung berada.


"Cucu Ibu?" Sapa Hanung yang langsung diangguki oleh wanita tersebut.


Dan Hanung kali ini bisa bernafas lega setelah kedatangan nenek dari bocah itu. Karena beberapa orang yang tadi melihatnya berangsur pergi.


"Ayo, Nak, Uti temanin main didalam ya?" ajaknya namun langsung mendapat penolakan dari bocil tersebut.


"Maaf ya, tadi saya kurang awas melihat cucu saya bermain, sam...."


"Saya yang salah, Bu. Maafkan!" Hanung langsung menyela ucapannya.


Sesaat mereka pun sama-sama tersenyum. Karena semuanya sama-sama mengaku bersalah, akhirnya masalah ini cepat terselesaikan.


Zayn menunggu gelisah didalam mobilnya, karena satu jam lagi dirinya harus mengadakan meeting bersama beberapa koleganya di proyek pembangunan resort yang akan ia tangani nanti. Sedangkan yang dilihatnya nyatanya Hanung masih terlibat obrolan panjang dengan wanita paruh baya itu.


Akhirnya Zayn memilih keluar dari mobilnya, bermaksud mencari solusi terbaik dari hal yang dibincangkan Hanung dengan wanita tersebut.


"Ini Boss saya, Bu." Hanung memperkenalkan Zayn kepada wanita itu, yang kemudian mereka sama-sama melebarkan senyum.


Hanung menggeleng ragu, sambil matanya itu melirik ke arah bocah tadi yang tak mau beranjak dari tempatnya.


Zayn hanya bisa mendengus kesal. Hanya menghadapi anak kecil saja ternyata Hanung tak bisa di andalkan.


Zayn turut duduk membungkuk, menyeimbangi duduknya juga dengan bocah itu.


"Ziyyan." Sapa nenek dari bocah itu lagi.


Bocah itu hanya menoleh sekilas, lalu kembali fokus dengan mainan mobil-mobilan kesayangannya yang sebenarnya sudah sedikit rusak dan ada beberapa bagian yang terlepas.


"Nanti mainannya Om ganti yang baru ya, ini sudah rusak." Zayn mengambil mainan tersebut dari tangan kecil bocah lelaki itu.


"Ayah!" pekik bocah itu setelah menoleh kepada Zayn.


Zayn, Hanung, bahkan nenek dari bocah itu terlonjak kaget mendengar ucapannya itu.


"Maaf kan cucu saya, Nak." Neneknya itu langsung mengangkat tubuh Ziyyan, membawanya dalam gendongannya.


Zayn hanya menggelengkan kepalanya, meski sebenarnya ia sangat kaget tadi mendengar bocah kecil itu memanggilnya dengan sebutan ayah.

__ADS_1


"Ayah...."


Lagi-lagi bocah yang bernama Ziyyan itu memanggil Zayn dengan sebutan itu. Yang membuat keadaan semakin terharu disaat Ziyyan mengulurkan kedua tangannya berharap ingin digendong oleh Zayn.


Zayn menyambut uluran tangan kecil itu, meski sebenarnya perasaannya sedikit kikuk. Seketika Ziyyan melingkarkan tangan kecilnya dileher Zayn begitu erat. Menyandarkan kepalanya dibahunya, begitu tubuh kecilnya sudah berada dalam dekapan pria yang disebutnya ayah tadi.


"Maafkan cucu saya, Nak." Neneknya Ziyyan berucap dengan raut wajah yang berubah sendu. Terlihat dari sorot matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Ziyyan sangat merindukan sosok ayahnya, sampai-sampai ia menganggap orang ini sebagai ayahnya. Kasihan kamu, Nak." Lirih hati Narsih.


"Sini, Nak, Ziyyan gendong Uti ya?" Rayunya lagi yang langsung dapat penolakan dari Ziyyan.


Zayn melirik kepada Hanung. Ternyata asistennya itu diam-diam terkekeh melihat kenyataan yang sedang terjadi sekarang.


"Sial kau, Nung!" Umpatnya kesal sambil membulatkan bola matanya menatap Hanung.


"Eh, eh, Ziyyan." Hanung turut merayu bocah tersebut.


"Ziyyan sama Utinya dulu, Ayahnya harus berangkat kerja dulu soalnya."


Ternyata ucapan Hanung kali ini cukup ampuh. Buktinya bocah itu langsung menurut ketika diambil oleh neneknya.


"Kapan Ayah datang lagi?" Tanyanya polos.


"Nanti. Kalau pekerjaannya sudah selesai." Lagi-lagi Hanung berhasil membuat bocah itu menurut.


Hanung begitu santai dengan ucapannya, tanpa menghiraukan ekspresi Zayn yang sudah sangat kesal. Bisa-bisanya asistennya itu meladeni pengakuan bocah kecil itu yang menganggapnya sebagai ayahnya.


"Awas saja kau, Nung!" Zayn melirik tajam kepada asistennya itu.


Tak lama kemudian, akhirnya Zayn dan Hanung berhasil pergi dari situasi kikuk tadi. Meninggalkan bocah kecil yang terus memandangnya lekat meski mobil yang membawa Zayn dan Hanung pergi sudah terlihat nun jauh diseberang.


Narsih mengelus lembut punggung Ziyyan yang masih berada dalam gendongannya dengan penuh kasih. Seandainya nanti ia menceritakan hal ini kepada Ara, mungkin anaknya itu juga akan menangis. Seperti Narsih saat ini, yang tak terasa menitikkan air matanya begitu teringat Ziyyan seperti tadi.


"Uti, Ayah Iyyan pulang," ucapnya lagi, yang tak mampu lagi Narsih menyahuti perkataannya itu.


Sorot mata kecil itu begitu berbinar setelah bertemu dengan pria asing yang diakunya sebagai ayahnya. Padahal sebelumnya Ziyyan tak pernah demikian. Meski sudah terlampau sering Ziyyan bertemu dengan lelaki asing yang sering berlalu lalang di rumah makannya, Ziyyan tak pernah memanggil salah satunya dengan sebutan ayah. Hanya pria itu tadi.


Sesekali Narsih memberanikan diri menatap wajah Ziyyan. Yang sepintas baru ia sadari kalau memang wajah Ziyyan ada kemiripan dengan pria tadi.


"Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya ya? Kenapa Wajahnya terasa tak asing lagi?"


Narsih hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


*


__ADS_2