Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 45


__ADS_3

Motor yang dilajukan Zayn sudah masuk ke pelataran rumah yang pernah ditempatinya semasa kuliah kemarin. Ia masih bisa bebas masuk ke rumah milik neneknya Tommy itu lantaran dirinya masih di percayai untuk menempati rumah tersebut saat kembali lagi ke Jakarta.


Zayn terlihat sangatlah lelah, perjalanan udara yang di tempuh selama satu jam setengah dari Batam menuju Jakarta dirasa sangat melelahkan tubuhnya yang akhir-akhir ini mudah sakit. Kalau tak pandai-pandai dirinya mengistirahatkan tubuhnya walau sesaat, bisa jadi rasa mualnya akan kembali kambuh. Seperti yang mulai dirasakannya saat ini.


Pria itu berlari begitu saja menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya tanpa menghiraukan Ara yang mengikutinya cemas.


Hueeek.... hueeek.....


Keringat dingin kembali terasa di sekujur tubuh Zayn. Setelah sekian menit berhasil mengeluarkan segala isi perutnya itu, Zayn segera membaringkan tubuhnya yang sudah lemas di atas ranjang miliknya.


Pria itu terlihat menghela nafasnya berulang-ulang, dan sesekali menatap sendu kepada Ara yang turut menemaninya duduk di tepi ranjang itu.


"Kamu sakit?" Ara menanyainya sambil menyeka tetesan keringat yang membasahi wajah tampan Zayn dengan tangan kosongnya.


Zayn menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap gadisnya. "Aku cuma kecapekan." Pria itu berucap sekenanya.


Seketika Ara langsung menghambur memeluk tubuh Zayn yang masih berbaring. "Lain kali kamu gak perlu payah-payah buat kesini. Cukup sering video call aja aku dah seneng banget. Aku gak mau lihat kamu sakit kayak gini lagi."


Zayn diam saja, ia hanya menikmati pelukan hangat dari kekasihnya itu lewat mengusap-usap lembut punggung Ara.


Ara melerai pelukannya. Ia menatap lekat pada wajah Zayn yang kembali berbinar tak sepucat seperti tadi. "Hmm, Sayang mau makan apa, biar aku buatin," tawarnya begitu semangat.


"Belikan aku asinan saja di ujung jalan depan sana." Sudah menjadi jajanan favorit Zayn tiap kali selesai muntah, ia selalu kebingungan ingin memakan asinan yang dirasa bisa menyegarkan seleranya kembali.


"Gak mau ah! Habis muntah-muntah gini perut kamu pasti sudah kosong, malah mau makan yang masam. Entar yang ada kamunya malah sakit perut," tolak Ara.


"Ya udah." Zayn terlihat pasrah saja meski sebenarnya dirinya sudah terlanjur ngeces duluan membayangkan memakan asinan tersebut.


"Apa benar ini juga bagian dari syndrom couvade? Gue mual, kadang pusing juga, dan yang sekarang apakah ini termasuk ngidam? Pokoknya hari ini gue harus pastikan hal ini kepada Ara." Zayn berkutat sendiri dengan pikirannya.

__ADS_1


"Sayang." Ara mengguncang bahu Zayn yang terlihat melamun.


"Ada apa?" Zayn beranjak duduk.


"Hmm, gak jadi deh."


"Bikin penasaran saja. Ada apa sih?" Pria itu membingkai wajah Ara dengan kedua tangannya, sangat gemas.


"Kita gak jadi ke cafenya." Ara mengucapkannya dengan pelan, seperti sedang menahan sesuatu yang disembunyikannya.


"Kenapa gak jadi? Aku sudah gak kenapa-kenapa kok."


Ara menggelengkan kepalanya lemas, bibir gadis itu terlihat memucat. "Perutku mules," ucapnya sambil menekan perutnya sendiri.


"Oh, cepet gih." Zayn mengisyaratkan pandangannya ke arah kamar mandi.


"Bukan." Ara semakin terlihat kesakitan. Terlihat sesekali ia menggigit bibir bawahnya tak kuat menahan rasa nyeri yang dirasa semakin menjadi.


"Kamu PMS?" Tanyanya yang berharap gadisnya itu sedang mengalami itu.


Ara tak menyahut apa-apa, ia merangkak naik ke ranjang itu, merebahkan tubuhnya yang tak kuat lagi untuk duduk. Bergantian Zayn kini yang menatap cemas pada kekasihnya itu.


Ara masih merintih kesakitan, rasa nyeri yang di alaminya saat ini sungguh berbeda dari rasa ketika dirinya sedang mengalami PMS. Tangan Zayn ikut tergerak untuk mengelus-elus perut Ara, tak tega rasanya melihat gadisnya merintih kesakitan.


Ara terlihat membaik setelah pria itu mengelus perutnya. Zayn juga menyadari hal itu, meski sebenarnya ia merasa heran, tapi yang terpenting hari ini gadisnya sudah baik-baik saja.


"Gimana, udah enakan?" Zayn menanyai gadisnya yang terlihat menghela nafas, merasakan keajaiban setelah mendapatkan usapan lembut tangan Zayn di perutnya.


"Sudah." Wajah Ara terlihat memerah. Bagaimana mungkin perut mulesnya bisa sembuh karena usapan tangan Zayn? Bahkan sampai sekarangpun tangan pria itu masih tak beranjak dari atas permukaan perut rata miliknya.

__ADS_1


"Kamu lagi dapet?" Zayn menanyainya lagi, pria itu terus akan bertanya sebelum mendapatkan kepastiannya hari ini juga.


Ara hanya menggeleng, lantas ia terlonjak duduk sambil meraih ponselnya yang berada di dalam saku celananya.


Gadis itu begitu cermat memandangi kalender di ponsel miliknya. Tatapannya terlihat sedang berpikir, seketika ia teringat akan pesan dokter Rima, dokter yang memeriksanya ketika sakit kemarin.


"Kalau ada waktu datanglah ke rumah sakit. Ada hal yang ingin saya katakan." Bahkan pesan singkat yang dikirim oleh dokter Rima ke ponsel Ara masih belum di balas olehnya.


"Besok siang jam 11 aku akan menemui dokter." Ara membalas pesan dokter Rima yang sudah menjadi dokter andalan keluarga Haris Rahardian.


"Lagi chat_an sama siapa?" Zayn mulai kepo.


"Dokter Rima." Ara menyahut sambil tetap fokus memandangi kalender di layar ponselnya itu.


"Kamu yang mau periksa?" Zayn meraih wajah Ara agar kembali menatapnya.


Ara mengangguk singkat. "Kenapa? Karena sakit yang barusan?" Zayn benar-benar sudah kepo maksimal.


"Cuma konsultasi biasa aja kok." Ara terlihat memaksakan senyumnya, Zayn dapat merasakan perubahan itu.


Tangan Zayn terulur mengelus pucuk kepala Ara sebelum ia mencium lembut di kening kekasihnya itu. Ara hanya terdiam, entah kenapa saat ini lebih baik ia terpejam saja dari pada memikirkan hal yang belum tentu benar.


Zayn menatap penuh bersalah pada gadisnya yang telah terlelap begitu cepat. Lantas ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping gadisnya itu sambil membawanya masuk dalam pelukan tubuhnya.


Ara terbangun, netra mereka saling beradu cukup lama. Merasakan kehangatan yang menjalar di sekujur tubuh dua pasang anak manusia tersebut. Menikmati pelukan rindu dari orang terkasih.


"Jangan pernah menyembunyikan hal apapun dari aku. Ceritakan apapun itu, aku selalu ada buat kamu." Zayn menghujani kening Ara lagi dengan ciuman hangatnya.


Ara hanya mengangguk sambil kemudian membenamkan wajahnya pada dada bidang Zayn yang merengkuhnya erat.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka pun telah masuk pada suasana alam yang berbeda. Terbawa mimpi indah akan hubungan mereka kedepannya yang sama-sama melantunkan do'a untuk bisa menjadi jodoh yang telah di tulis oleh tuhan dalam takdirnya.


*


__ADS_2