
*Narsih flashback on.
Siang itu di sebuah rumah sakit swasta yang berada di pusat perkotaan, Ara masih berada di ruang ICU tidak sadarkan diri pasca melahirkan secara operasi caesar dua hari yang lalu. Dan Seperti biasanya saat ini wanita yang sudah bergelar sebagai nenek itu datang menjenguknya sambil menggendong cucu lelakinya, meski hanya bisa melihat dari luar jendela ruangan tersebut.
Narsih sengaja datang sambil membawa bayi lelaki yang masih belum diberi nama itu bertujuan agar anak angkatnya itu bisa segera sadarkan diri. Entah ini akan berhasil atau tidak, yang pasti Narsih akan melakukan cara apapun agar supaya anaknya itu bisa lekas sadarkan diri.
"Mbak suster, bagaimana perkembangan kondisi anak saya?"
Wanita itu langsung menanyai suster yang kebetulan keluar dari ruangan Ara di rawat. Di lihat dari ekspresi wajah suster itu sepertinya Ara tidak dalam kondisi yang fatal.
"Sejauh ini sudah menunjukkan adanya perkembangan yang bagus, Bu. Nanti Ibu bisa bertanya langsung sama dokter." Tuturnya sambil tersenyum ramah.
"Kita berdoa saja, Bu, semoga putri Ibu lekas sadarkan diri. Kita doakan Mamamu ya, Dek." Suster itu berucap lagi sambil menyentuh pipi mungil bayi yang berada di gendongan Narsih.
Entah karena apa seketika bayi itu menangis, mungkin karena haus atau terusik tidurnya saja. Yang pasti bayi itu menangis semakin kencang saja.
"Cup... cup... cup.... Nak...."
Narsih berusaha menenangkan bayinya itu, namun tetap bayinya itu masih menangis.
"Ada apa ini ya Allah..."
Wajah Narsih seketika berubah panik. Berbagai pikiran negatif mulai tumbuh di benaknya. Ia sangat takut jangan-jangan tangis bayinya itu akan menjadi pertanda buruk dengan kondisi Ara.
"Ya Allah... Nak, Kenapa kamu menangis begini?"
Narsih dan juga suster itu mencoba memberi susu formula kepada bayinya, namun hal itu tak cukup membuat tangisnya mereda.
"Selamatkan anakku ya Allah. Lindungilah dia." Lirih hatinya. Sedang dari sorot matanya sendiri sudah mulai berkaca-kaca.
Seorang pemuda kebetulan lewat di dekat Narsih yang terlihat kerepotan dan gelisah untuk menenangkan bayinya. Entah karena merasa iba atau bagaimana, pemuda tersebut mendekati Narsih.
Tangannya terulur untuk menyentuh pipi lembut bayinya itu. Melalui sentuhan tangannya itu, seketika tangis bayi itu mereda secara perlahan.
"Anak pintar," ujar pemuda tersebut setelah mendapati bayi itu sudah berhenti menangis.
Narsih pun hanya dapat tersenyum lega mendapati cucunya yang sudah terlelap saja akibat sentuhan pemuda tersebut.
"Terimakasih, Nak, sudah membantu Ibu," ucapnya kemudian.
Pemuda tersebut hanya menyimpulkan senyum kecilnya. "Saya permisi, Bu," pamitnya kemudian.
Terlihat pemuda tersebut pergi ke sebuah ruangan administrasi yang berada di rumah sakit tersebut. Langkahnya tidak terlalu bersemangat, sedang di sebelah tangannya membawa beberapa berkas yang mungkin akan ia urus di ruang admistrasi tersebut.
Narsih mulai merasa lega kembali, karena melihat cucu yang dalam gendongannya itu tetap terlelap dengan pulas.
*Narsih flashback off.
"ASTAGHFIRULLAH....."
Narsih mengusap-usap wajahnya. Sebab ia baru teringat dengan kejadian empat tahun yang lalu itu, saat cucunya itu menangis histeris dan bisa terdiam karena sentuhan pemuda asing itu.
__ADS_1
"Ternyata dia memang ayahnya Ziyyan," gumamnya sendiri.
Pantas saja Narsih merasa sudah tidak asing lagi saat pertama bertemu dengan Zayn, ternyata pemuda yang dahulu pernah menenangkan tangis Ziyyan di rumah sakit itu adalah ayah kandung Ziyyan.
"Ya Allah..." rintihnya lagi, sambil tak terasa air mata itu mulai menetes.
Kini wanita itu merasa bingung sendiri. Antara ingin menyampaikan kabar baik ini atau lebih baik diam saja, menunggu Zayn yang bertemu dengan Ara sendiri nanti.
Suara deru mesin mobil terdengar berhenti di depan halaman rumahnya. Seketika Narsih beranjak keluar, berharap yang datang adalah Ziyyan dan ayahnya.
"Assalamu alaikum, Mbak yu," sapa Rudy sambil tersenyum sumringah kepada Narsih yang berdiri mematung di ambang pintu rumahnya.
"Wa alaikum salam," jawabnya, sambil ikut melangkah mendekat kepada adiknya yang tiba-tiba datang tanpa memberi kabar sebelumnya.
Ara turut keluar dari dalam mobil tersebut, dan hal ini tentu membuat Narsih merasa senang sekaligus bercampur gelisah. Senang karena ternyata Ara baik-baik saja, gelisah karena selama ini ia selalu khawatir takut suatu saat nanti anak angkatnya itu akan di jemput pulang kembali oleh keluarganya.
Dan kedatangan Rudy kali ini sangat membuat Narsih merasa gamang. Ia takut apa yang selama ini di takutkan akan terjadi juga.
"Tumben kamu kesini nggak ngasih kabar dulu, Rud," sapanya pada Rudy, setelah adiknya itu sudah duduk di ruang tamunya.
"Iya, Mbak yu. Aku kesini memang mendadak. Nyonya menyuruh ku jemput Neng Ara." Rudy menjelaskan. Sedang pada kalimat terakhirnya itu, ia sengaja memelankan suaranya agar kakaknya itu tidak terlalu shock saat mendengarnya.
Seketika Narsih terdiam, dari raut wajahnya sudah jelas kalau wanita itu sangat sedih. Ternyata apa yang memang bukan menjadi milik kita, suatu saat akan kembali juga kepada pemiliknya. Dan Narsih harus menerima hal itu.
"Ibu, Ziyyan kemana?"
Sedari tadi Ara sudah mencari anaknya itu hampir di seluruh ruangan rumah kecilnya, namun tak jua menemui keberadaan anaknya itu.
"Apa dia main di rumahnya Nabil ya, Bu?" Langkah kaki Ara mulai beranjak untuk menuju rumah Nabil, teman bermain Ziyyan di dekat rumahnya.
"Ziyyan lagi keluar." Narsih mulai membuka suara.
Seketika Ara mengurungkan langkahnya. Gadis itu menoleh kepada Narsih, terlihat jelas dari wajah Ibu angkatnya itu kalau ia sedang menyimpan sesuatu darinya.
Rudy menyadari suasana yang mulai terasa canggung itu, makanya ia memilih keluar saja beralasan ingin sekedar menyapa tetangga sekitar di dekat rumahnya.
"Duduklah sebentar, ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu," ucapnya kemudian. Lalu Ara memilih duduk bersebelahan dengan Narsih.
"Aku juga ada yang ingin di bicarakan sama Ibu." Wanita itu pun mulai membuka suara juga.
Suasana kembali hening lagi. Kedua wanita itu sepertinya sama-sama sedang berpikir untuk memulainya dari mana.
"Baiklah, kamu dulu yang bicara." Narsih akhirnya memilih menundanya sebentar.
Terdengar helaan nafas Ara yang berhembus keluar. Wanita itu menatap lekat kepada Ibu angkatnya itu sebelum ia membuka suaranya terlebih dahulu.
"Ibu, aku mau pulang. Pak Rudy datang kesini untuk menjemputku pulang. Papi aku sakit, Bu." Ara sedikit memberi jeda bicaranya.
"Tapi aku tidak mau pulang kalau Ibu juga tidak ikut pulang bersama Ara," ucapnya begitu yakin.
Seketika Narsih tercengang, bukan karena kaget mendengar Ara akan kembali pulang. Ia hanya tak menduga saja kalau anak angkatnya itu juga mengajaknya untuk ikut serta bersamanya.
__ADS_1
"Ibu mau ikut aku kan?" Tanyanya penuh harap.
"Tapi, Nak--" Wanita itu tentu masih bimbang. Antara ingin ikut karena memang tidak mau berpisah dengan Ara dan Ziyyan, tetapi ia masih ragu untuk meninggalkan rumah serta kampung tercintanya itu.
"Tolong lah, Bu, ikutlah bersamaku. Ini demi Ziyyan juga Bu," pintanya lagi.
Dari sorot mata itu Narsih sudah bisa menduga kalau Ara memang sangat membutuhkan dirinya untuk ikut menjaga Ziyyan di rumahnya.
Meski kemungkinan nanti akan ada pengasuh profesional yang akan menjaga Ziyyan di sana, akan tetapi Narsih tahu bagaimana karakter cucunya itu. Ziyyan tak akan bisa berpisah berlama-lama dengan dirinya.
Mungkin lebih baik ia menyetujui dulu ajakan Ara, nanti setelah ia bisa mengambil hati Ziyyan ia akan pergi kembali ke rumahnya ini. Karena ia tak sampai hati meninggalkan selamanya rumah yang penuh dengan kenangan terindah tentang keluarganya yang dahulu.
"Baiklah, Ibu akan ikut kamu pulang. Tapi kalau nanti Ibu tidak betah di sana, Ibu boleh pulang kesini lagi kan?"
Ara mengangguk senang mendengarnya. Biarlah, ia tak terlalu menghiraukan perkataan Narsih yang akan kembali pulang kesini. Saat ini ia hanya sangat merasa senang mendengar persetujuan dari Narsih.
"Terimakasih, Bu," ucapnya sambil mendekap erat tubuh renta Ibu angkatnya itu.
Dan Narsih hanya bisa mengusap lembut kepala Ara yang bersandar manja di bahunya.
"Ibu tadi mau bicara apa? Pasti masalah Ziyyan kan?"
Ara melepas dekapannya, terlihat Narsih menganggukkan kepalanya penuh ragu.
"Ck, anak itu! Pasti bikin ulah lagi sama Mas Hanung. Ziyyan pasti ngerepotin Mas Hanung lagi. Iya nggak, Bu?"
Narsih menggeleng pelan. "Ini tentang ayahnya Ziyyan, Nak."
Kening Ara seketika berkerut. Sebenarnya ia sudah kebingungan sendiri harus menjelaskan bagaimana lagi kepada anaknya itu agar tidak menganggap bos dari Hanung adalah ayahnya.
"Tadi ayahnya Ziyyan kesini."
"Ooh...," Wanita itu hanya membulatkan mulutnya. Karena ia hanya beranggapan mungkin tadi bos dari Hanung itu datang kemari.
"Nak Ara, tadi Zayn datang kesini." Narsih semakin memperjelas maksud ucapannya.
"Apa! Zayn?"
.
.
*
Hayo loh.... Gimana-gimana😄
Yuk ah banyakin komentarnya dong readers...
Biar Author semangat up lagi☺
Jangan lupa Like nya juga yaa...
__ADS_1
See you next part all...🤗😘