Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 83


__ADS_3

Di sebuah gubuk kecil yang berada di pinggiran jalan menuju desa, Ara duduk termenung disitu. Setelah tadi ia menangis sejadi-jadinya karena mendengar kabar papinya sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit, dari Rudy yang tiba-tiba saja bertemu dengannya saat di jalan menuju pulang.


Saat ini gadis itu hanya bisa berpikir sambil termenung. Antara ingin pulang bersama Rudy yang datang menjemputnya, akan tetapi ia masih takut papinya itu tidak akan memaafkannya. Karena tadi Rudi bilang bahwa ia datang menjemputnya atas suruhan maminya, Viona.


"Mari, Neng," ajak Rudi untuk yang kesekian kalinya.


Ara masih tampak ragu, apalagi ini juga berkaitan dengan Ziyyan. Entah keluarganya nanti akan menerima kehadirannya atau tidak, akan tetapi gadis itu tentu tak mau pulang jika tidak membawa Ziyyan pula.


"Aku takut, pak Rud." Suara Ara terdengar pelan.


"Neng Ara gak usah takut. Percaya deh sama saya." Sopir pribadi keluarganya itu mencoba meyakinkannya.


"Tapi bagaimana dengan anakku?"


"Neng Ara," Rudy memberanikan diri memegang pundak Ara.


"Percayalah sama saya. Tuan dan Nyonya pasti akan menerima baik anak Neng Ara. Tapi mungkin mereka butuh waktu saja."


Rudy berani berkata demikian itu karena ia sendiri yang menjadi saksi bahwa Tuannya itu sebenarnya sangat menyayangi Ara dan pasti juga dengan anaknya. Sebab kalau tidak sayang, mana mungkin Haris akan membiayai segala keperluan persalinan Ara dahulu. Meski sampai sekarang gadis itu masih belum mengetahui tentang hal itu.


Ara menghela nafas beratnya. Setelah merasa cukup untuk berpikir akhirnya gadis itu mau untuk di ajak pulang kembali oleh Rudy. Paling tidak jika nanti kedua orangtuanya itu masih belum bisa memaafkannya, dirinya masih bisa melihat wajah kedua orangtuanya itu secara langsung. Meski bisa jadi dirinya akan pergi lagi nanti, jika memang nanti kedua orangtuanya itu masih belum sudi memaafkannya.


Tak lama setelah itu ia dan sopirnya itu menaiki mobil yang dibawa oleh Rudy. Sedang sepeda mini yang semula digunakan olehnya di masukkan ke dalam bagasi mobilnya itu.


.


.


Zayn dan Ziyyan masih berada di perjalanan menuju arah pasar. Pria itu sengaja memelankan laju kendaraannya karena sambil lalu mencari keberadaan Ara. Sedangkan Ziyyan, sedari tadi ia berada di dalam mobil itu merasa sangat senang. Terlihat dari senyum diwajahnya yang tak pernah memudar, mungkin yang dirasa Ziyyan saat ini ialah ia merasa senang karena akhirnya ayahnya itu sudah datang.


Pria itu terus saja mencuri pandang kepada arah Ziyyan yang duduk di sebelahnya. Setelah di cermati lebih lama ternyata wajah anaknya itu mewarisi garis wajahnya. Jika memandangnya seakan Zayn junior terlahir kembali di wajah Ziyyan.


Mendapati semua itu membuat pria itu menyimpan senyum kecilnya. Sama sekali ia tak menduga jika anak yang di kandung Ara akan berwajah mirip dengannya. Entah apa karena gadisnya itu selalu memikirkannya dahulu ketika sedang mengandung Ziyyan, tapi yang pasti Zayn sangat bangga dengan wajah bocah kecil lucu dan menggemaskan itu.


"Ayah, Iyyan nanti mau ikut ayah terus boleh?" Bocah itu mulai bertanya, sedang matanya sedari tadi tetap memandang ke arah pemandangan luar jendela saking senangnya ia di ajak keluar oleh ayahnya.


"Iya." Zayn hanya menyahut singkat.

__ADS_1


Ziyyan menoleh kepadanya, terlihat senyum bahagia itu terpancar dari wajahnya.


"Ziyyan, ayah mau tanya boleh?"


"Tanya apa?" Jawabnya, sedang tangan kecilnya itu sudah mulai fokus dengan mainan yang di pegangnya.


"Bunda pernah cerita ayah nggak sama Ziyyan?"


Sengaja Zayn ingin mengorek hal itu dari Ziyyan, karena sebenarnya ia sangat penasaran dari mana awalnya anaknya itu bisa tepat memanggil dirinya ayah di awal pertemuan itu. Tapi ternyata bocah itu menggelengkan kepalanya.


"Kalau tidak pernah cerita, trus Ziyyan tahu ayah dari mana?"


"Dari hape nya Bunda," jawabnya polos.


"Ooh..." Tangan Zayn terulur untuk mengusap lembut pucuk kepala anaknya itu.


Dari itu Zayn dapat mengambil kesimpulan sendiri. Mungkin karena Ziyyan sering memainkan ponsel milik Ara dan tak sengaja menemukan foto dirinya bersama Ara, makanya bocah itu beranggapan kalau foto laki-laki yang di ponselnya Ara itu adalah ayahnya. Dan kebetulan ingatan bocah itu sangat tajam, makanya ia langsung memanggil dirinya ayah di hari pertama bertemu itu.


"Tapi bunda marah kalo Iyyan mainin hape nya." Akunya, dengan mulut yang mulai mengerucut.


Bocah itu menggeleng lagi. "Pantas saja Bunda marah sama Ziyyan. Jangan di ulangi lagi ya?" ujar Zayn.


"Iya, Ayah," sahutnya patuh.


Mata Zayn kembali awas memandang sekitar, sambil laju mobilnya itu tetap berjalan pelan. Semakin jauh ia pergi, ternyata yang dicarinya itu belum di temukan. Wajah Zayn kembali gusar. Hatinya mulai di landa kecemasan karena tak jua menemukan keberadaan Ara.


Sesekali ia menoleh kepada anaknya, dilihatnya sepertinya anaknya itu sudah mulai merasa jenuh terus-terusan berada di dalam mobil berjalan seakan tanpa tujuan.


"Ziyyan kenapa?"


"Pasarnya masih jauh, Yah?" Benar saja, ternyata anaknya itu sudah mulai jenuh. Mungkin efek tak biasa menaiki mobil terlalu lama.


"Mm, Ziyyan lapar? Atau Ziyyan mau beli es krim dulu nggak?"


Bocah itu langsung mengangguk semangat. Mendapati itu akhirnya Zayn melajukan mobilnya sedikit lebih kencang. Ia ingin segera sampai di tempat tujuan dan segera mencarikan es krim untuk anaknya itu.


.

__ADS_1


.


"Pak Rud, kalau misalnya aku ajak Ibu Narsih juga kira-kira mau nggak ya?" Tanya Ara ditengah perjalanan menuju rumahnya.


Gadis itu sangat berharap jika Narsih juga ikut serta. Selain karena Narsih sudah seperti ibu kandung Ara sendiri, tentu juga nanti Narsih bisa membantu menjaga Ziyyan dari keluarganya yang mungkin saja masih belum bisa menerima kehadiran anaknya itu.


"Dicoba saja, Neng, siapa tahu mau," sahut Rudy.


Perasaan Ara mulai merasa berdebar. Mungkin karena ia terlalu nerveus karena akan kembali pulang. Meski begitu ia tetap mencoba biasa-biasa saja didepan sopirnya itu.


"Tuhan... Ada apa ini? Tenangkan aku." Gumam Ara sambil memegang dada kirinya yang terasa semakin berdebar di luar kendalinya.


"Ziyyan!" Seketika pula ia teringat anaknya itu.


Entah bagaimana kondisinya sekarang. Niatnya tadi ia pergi ke pasar untuk membelikan obat buat Ziyyan yang sedang demam, malah ia berlama-lama berbincang dengan Rudy tadi.


Pergerakan tangannya mulai tak tenang, terlihat sesekali ia meremas tak sadar kantong plastik yang dipegangnya, yang berisikan obat milik Ziyyan.


"Kenapa, Neng?" Rudy mulai panik, karena memang wajah anak majikannya itu terlihat sedikit pucat.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ziyyan." Ia mulai berbicara sendiri.


"Pak Rud, bisa lebih cepat lagi?" pintanya kepada Rudy, dan sopir itu langsung menambah kecepatan laju mobil yang dibawanya.


"Maafka Bunda, Ziyyan." lirihnya dalam hati.


Wuusss.....


Dua mobil mewah saling berlawanan arah di jalan desa itu. Mobil berwarna hitam metalic itu melaju dari arah desanya, sedang mobil mewah satunya adalah yang di kendarai oleh Rudy yang melaju kencang menuju rumah kakaknya, Narsih.


*


Kira-kira dimana ya mereka nanti bertemunya?


Jangan lupa komentarnya yaa...


Author tunggu...😉

__ADS_1


__ADS_2