Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 87


__ADS_3

Zayn langsung melajukan kembali mobilnya ketika mendapati jalanan sudah kembali lancar. Pria itu sudah tidak peduli lagi kecepatan laju mobilnya karena ingin segera sampai di tempat proyeknya.


Dan tak lama kemudian akhirnya ia sudah sampai di tempat proyeknya itu. Ia pun segera turun dari mobilnya untuk mencari keberadaan Ara. Bola matanya berputar awas ke sekeliling, nyatanya tidak ia temukan keberadaan gadisnya itu.


"Pak Zayn." Hanung yang mengetahui kedatangannya langsung menghampirinya.


"Di mana Ara, Nung?" Tanyanya setelah asistennya itu sudah berdiri di depannya.


Hanung sendiri ikut bingung, sebab ia juga baru mengetahui kalau Ara ternyata sudah pergi.


"Kau!" Tangan Zayn seketika mencengkram krah baju Hanung, membuat pria itu sangat kaget mendapati Boss nya yang berubah begitu.


Alur nafas Zayn begitu memburu, sedang sorot matanya sangat nanar akibat menahan amarah dan rasa kecewa yang sudah menjalar di dirinya.


"P-pak... Pak," Hanung bersuara sedikit terbata-bata karena merasa hampir tercekik akibat cengkraman bos nya itu.


Lalu Zayn tersadar akan perbuatannya itu, ia membuang nafasnya secara kasar. "Maaf," ucapnya lesu.


"Anda kenapa, Pak?" Hanung memberanikan diri menanyai kondisi Boss nya itu, sebab terlihat jelas dari rautnya jika Boss nya itu sedang gelisah.


"Ara, Nung," serunya lagi sambil memijit pelan pangkal hidungnya karena rasa pening yang tiba-tiba terasa. Atau bisa di katakan pria itu cukup merasa stress dengan kejadian yang terjadi dengannya selama ini.


"Maaf, Pak, tadi saya sungguh tidak tahu kalau Dek Ara sudah pergi," Hanung mulai menjelaskan.


Zayn terperangah ketika mendengar Hanung menyebut kata 'Dek' kepada Ara. Cuma ia tidak terlalu mengambil pusing hal itu, ia hanya ingin mendengarkan penjelasan dari asistennya itu tentang Ara.


"Tapi yang buat saya curiga tadi Dek Ara kesini datangnya sama Pak Rudy, sopirnya Pak Haris itu loh, Pak," terang Hanung.


"Apa?!"


Kali ini Zayn lebih kaget mendengarnya, asistennya itu tentu tidak mungkin salah orang. Jadi sebenarnya ada hubungan apa antara Ara dan Rudy?


Kaki Zayn mulai melangkah lebar untuk segera pergi dari tempat itu, ia berencana menyusul Ara kembali ke rumah Narsih. Sedangkan Hanung tetap mengekorinya dibelakang, berusaha mencegahnya pergi karena memang sedari tadi Boss nya itu sedang di tunggu oleh klien penting dari perusahaan yang bekerjasama dalam menangani proyek ini.


"Tunggu dulu, Pak." cegah Hanung ketika tangan Zayn sudah siap membuka pintu mobilnya.


"Ada apa lagi, Nung?" Tanyanya tak sabar.


"Anda sudah di tunggu Pak Agung untuk membahas perkembangan proyek ini."


"Kau urus lah. Aku mau keluar!" Lalu Zayn mulai masuk ke dalam mobilnya.


"Hah?"

__ADS_1


Sungguh Hanung tak habis pikir kalau Boss nya itu bisa tidak profesional lagi seperti sekarang, karena sebelumnya setahu Hanung Boss nya itu adalah atasan yang selalu profesional dalam melaksanakan beberapa pekerjaannya. Meski dalam kondisi seperti apapun dulu Zayn adalah tipikal seorang atasan yang patut di contoh dalam profesionalismenya.


Tunggu dulu, Zayn berubah seperti ini karena menanyakan Ara. Sebenarnya ada apa ini? Hanung mulai menaruh curiga besar terhadap Boss nya itu.


"Pak, anda mau menemui Dek Ara?" Pria itu teramat berani menanyakan masalah pribadi Boss nya itu.


Zayn hanya mengangguk, sedangkan tangannya sudah bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya.


"Pak!" Hanung meraih lengan Zayn yang sudah bertengger di gagang kemudinya.


"Ada hubungan apa anda dengan Dek Ara? Kenapa saya lihat anda gelisah sekali?"


Hanung sudah tidak peduli lagi akan di katakan pria tukang kepo atau apalah itu. Ia hanya ingin tahu yang sebenarnya ada apa. Sebab selain dirinya memang memiliki rasa suka terhadap Ara, ia juga harus melaporkan kabar ini kepada Wisnu. Karena Hanung memang di utus menjadi mata-mata oleh Wisnu untuk melaporkan tentang apapun yang bersangkutan dengan kisah asmara Zayn.


"Kamu pernah dengar aku bilang sudah punya calon istri kan?" Zayn malah mengingatkan memori malam itu ketika ia dan Hanung bercengkrama santai di taman villa.


Hanung tentu masih mengingatnya, dan ia pun menganggukkan kepalanya.


"Ara itu calon istriku yang hilang!" Zayn menjelaskannya dengan tegas.


"Hah?!" Kali ini Hanung sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya seakan terkunci rapat-rapat setelah mendengar kabar mengejutkan itu dari Zayn. Bahkan ketika melihat Boss nya itu telah benar-benar pergi, sungguh ia hanya terdiam mematung.


Patah hati, mungkin itu yang di rasakan Hanung saat ini. Ternyata perempuan yang akhir-akhir ini ia dekati adalah calon istri Bossnya yang di katakan hilang itu.


Pria itu berbicara sendiri sembari menatap langit yang perlahan berubah warna karena sore sudah menjelang.


.


.


Zayn sudah sampai di depan rumah Narsih. Setibanya di sana ternyata keadaan rumah itu seperti kosong tidak berpenghuni, di lihat dari kondisi rumah yang tetap gelap tanpa penerangan cahaya lampu dari dalam rumah tersebut.


Tok tok tok....


"Assalamu alaikum, Ibu Narsih," salam Zayn terucap sambil sesekali mengintip melalui jendela rumah tersebut.


"Ziyyan, ini Ayah, Nak," kata Zayn lagi sambil terus mengetuk pintu kayu tersebut.


"Orangnya sudah pergi semua."


Seorang lelaki sekitar lima tahun lebih tua darinya menyapa Zayn.


"Hah? Pergi ke mana?" Zayn melangkah mendekati pria yang hanya berdiri berjauhan dengannya.

__ADS_1


Lelaki tersebut memandang cermat kepada Zayn, lalu ia mengangguk yakin setelah puas mencermati wajah Zayn itu.


"Kamu pasti ayahnya Ziyyan," tebak pria itu.


"Iya, saya memang ayahnya Ziyyan." Zayn langsung mengakui, yang membuat pria asing itu langsung tersenyum ketika mendengarnya.


"Mmm, tadi anda bilang mereka sudah pergi. Memangnya pergi kemana?"


"Sebentar ya..."


Pria itu berlari masuk ke rumahnya, tak lama kemudian ia keluar lagi sambil membawa secarik kertas dari tangannya.


"Tadi Bik Narsih titip ini sama aku. Dia menyuruhku ngasih alamat kerjanya Rudy sama ayahnya Ziyyan. Dia juga bilang kalau ayahnya-- Mm, maksud aku kamu mau mencari mereka, kamu bisa datang ke alamat ini." Pria yang bernama Iwan itu menjelaskan persis seperti yang di katakan Narsih padanya sebelum pergi tadi.


Zayn meraih kertas itu, ia membacanya dengan cermat. "Jakarta? Baiklah, sejauh apapun akan aku susul kamu, Ra," ucapnya hanya dalam hati.


"Terimakasih, Pak." Zayn menjabat tangan pria itu, lalu setelahnya ia langsung pergi dari tempat itu.


'Apa kamu pergi karena sengaja ingin menghindariku, Ra?'


'Aku memang tak pantas lagi mendapatkan maaf darimu, tapi ku mohon dengarkanlah dulu penjelasanku. Karena sedetikpun tidak ada niatan aku untuk menghilang darimu dahulu.'


'Ziyyan, tolong ayah, Nak. Bantu ayah meluluhkan hati Bunda. Ayah janji tidak akan mengecewakan kalian lagi.'


Suara hati Zayn terucap seiring harapannya yang ia sematkan dalam do'anya.


Dengan tekad yang bulat akhirnya Zayn pergi menyusul Ara dan Ziyyan ke Jakarta. Ia sudah tak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya yang sebenarnya merasa lelah karena seharian ia tidak mengistirahatkan tubuhnya walau sejenak.


Bayangan tentang senyum bahagia Ziyyan jika bertemu dengannya nanti selalu melintas di benaknya, tak luput pula dengan bayangan senyum indah dari wanita pujaannya. Meski rasanya kali ini akan sangat mustahil ia akan mendapatkan senyuman itu lagi, mengingat saat ini wanita itu sengaja pergi menjauh dari jangkauannya.


*


Hai readersku tercinta...🤗


Kalian tentu sudah sangat tidak sabar ingin Ara dan Zayn segera bertemu kan?


Nah, makanya tetap pantengin Love Of Aurora yaa...


Banyakin komentarnya dong biar Author semangat up nya😁


Karena setelah ini akan banyak scene mengejutkan buat kalian😉


Terimakasih buat readers setia Love Of Aurora🙏

__ADS_1


Salam sayang dari Author MAY.s😘


__ADS_2