
Perjalanan pulang menuju rumah Ara. setelah mereka tadi selesai sarapan nasi goreng buatan Zayn, pria itu begitu kekeh akan mengantar Ara pulang meski tadi kekasihnya itu sempat menolaknya.
Zayn berpikir keras bahwa hari ini ia harus bertemu dengan kedua orangtua Ara dan segera menyampaikan keinginannya untuk menikahi Ara secepatnya.
Meski Zayn sendiri masih belum memperkenalkan Ara kepada keluarganya, tapi ia tetap akan menikahi kekasihnya itu walau apapun rintangannya nanti.
Selama perjalanan pria itu tak pernah melepas genggaman tangannya kepada Ara. Hingga akhirnya mobil yang membawanya itu sudah terparkir di depan pintu gerbang rumah yang cukup besar.
"Makasih ya, Kak, udah antar aku pulang."
Ara menatap penuh senyum kepada Zayn, pasti kekasihnya itu mengira rumah ini adalah rumahnya. Tiba-tiba hatinya merasa takut, takut Zayn akan berubah padanya jika ia berterus terang kepada Zayn tentang hubungannya yang backstreet dari orangtuanya. Makanya ia tadi membiarkan saja saat Zayn mengantarnya ke rumah Sisil.
Zayn hanya tersenyum sambil tangan itu mengusap lembut punggung tangan Ara.
"Aku boleh mampir?"
"Mau ngapain?"
"Yaa.... pingin kenal sama calon mertua." Zayn berucap sambil mengelus lembut puncak kepala Ara.
"Kapan-kapan aja ya?" tolak Ara sambil mengusap lembut pipi Zayn, padahal hatinya tengah berbunga-bunga saat mendengar Zayn menyebut calon mertua untuk kedua orangtuanya.
"Aku maunya sekarang." Zayn sudah bertekad bahwa ia harus menemui orang tua Ara hari ini juga.
Ara terdiam. Bahkan belaian manja di tambah senyumnya yang di buat semanis mungkin itu, ternyata tak bisa menyurutkan kemauan Zayn untuk menemui kedua orangtuanya saat ini juga.
Ara mulai berkutat dengan pikirannya. Sebenarnya ia juga ingin segera memperkenalkan Zayn kepada orangtuanya, hanya jika teringat tentang tiada lampu hijau dari papinya itu, Ara tak berani untuk membawa Zayn ke rumahnya. Bisa-bisa yang ada papinya itu tak akan merestui hubungan mereka, melihat kondisi Zayn yang saat ini masih belum masuk kriteria calon menantu yang di impikan papinya.
Mungkin sebaiknya ia harus berterus terang kepada Zayn saat ini juga. Gadis itu terlihat menghela nafasnya sebelum ia mulai mengakui ketidak jujurannya.
"Mm, sebenarnya ini rumahnya Sisi, Kak." Ara berkata sambil memelankan suaranya.
Zayn memilih tak menyahut, meski sebenarnya hatinya kaget mendengar pengakuan Ara yang selama ini ternyata telah membohonginya tentang alamat rumahnya.
Pria itu hanya memandangi bangunan rumah cukup mewah itu dari dalam mobil yang ia tumpangi. Sekilas ia melirik kepada Ara yang sudah menundukkan kepalanya.
Kenapa tadi Ara tidak mencegahnya kalau ini bukan arah rumahnya? Batin Zayn mulai bertanya-tanya.
"Kalo gitu dimana rumah kamu?"
Zayn kembali menyalakan mesin mobilnya, bersiap-siap untuk berputar arah dan mengantar Ara ke rumahnya langsung.
__ADS_1
"Kak..." Ara mencegah Zayn dengan memperat genggaman kedua tangannya.
"Hem?" Zayn menyahut tak bersemangat. Nampak jelas di wajah pria itu bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.
"Maaf, aku masih belum bisa ngenalin kamu ke orangtuaku." Gadis itu mulai membuka mulut tentang hubungan backstreet nya dengan Zayn.
Zayn merengut menatap Ara. Pikirannya benar-benar terasa penuh hari ini.
"Maaf, kalo sebelumnya aku gak jujur sama kamu kalo sebenarnya aku masih belum boleh pacaran sama papi."
Pria itu mulai menghembus nafas beratnya, merasa harus menerima saja tentang status hubungannya saat ini. Tapi meski demikian tak menyurutkan janji hatinya untuk bertanggung jawab dan akan menikahi kekasihnya itu, meski restu itu masih belum ia raih saat ini.
"Jadi sampai kapan hubungan kita backstreet?"
Ara hanya menggeleng kepala tak yakin. Tidak mungkin juga ia berterus terang kepada Zayn tentang kriteria calon menantu idaman papinya itu, ia takut kekasihnya itu akan minder dengan statusnya yang hanya dari kalangan biasa-biasa saja.
Andai saat ini Zayn sudah menjadi pengusaha atau pebisnis handal yang di impikan papi Ara sebagai calon suaminya kelak, pastilah Ara akan segera memperkenalkan Zayn kepada orangtuanya.
Ia bukan tak yakin dengan pilihan hatinya menjatuhkan cintanya pada Zayn, ia hanya tak mau kehilangan Zayn jika pada akhirnya restu itu akan membuat mereka terpisah. Biarlah, mungkin lebih baik backstreet saja dulu.
"Aku pasti akan datang ke rumahmu, menemui orang tua kamu secepatnya."
Ara ternganga mendengar pernyataan Zayn. "Ja--"
Spontan Ara menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya. Gadis itu benar-benar dibuat senam jantung saat mendengar lamaran Zayn padanya.
Zayn meraih tubuh Ara dan kemudian memeluknya erat.
"Aku benar-benar serius ingin menikah sama kamu, kita hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak. Saat ini aku memang belum punya apa-apa, tapi aku akan terus berusaha untuk bisa bahagiakan kamu, sebisa mungkin aku gak akan mengecewakan orang tua kamu, supaya mereka tidak merasa ragu membiarkanmu menjadi pendamping hidupku," ucapnya masih dalam pelukan eratnya terhadap Ara.
Ara tersenyum bahagia dalam pelukan kekasihnya itu. Perempuan mana yang tak ingin berjodoh dengan pujaan hatinya, perempuan mana yang akan menolak bila menerima lamaran dari seseorang yang begitu di cintainya?
Tapi semua itu bukan untuk saat ini. Ara menengadah menatap serius wajah pria yang baru saja melamarnya itu.
"Aku mau menikah sama kamu, aku mau jadi istri kamu, jadi ibu dari anak-anak kamu, tapi tidak saat ini dulu ya?"
"Kenapa?" Zayn melepas pelukannya,beralih menatap Ara lebih intens.
"Aku masih 19 tahun, Kak." Ara membubuhi cubitan gemas di pipi Zayn.
"Masak iya kamu tega hancurin segala impian aku. Aku masih harus selesai kuliah dulu." Lanjutnya.
__ADS_1
Zayn terdiam. Pria itu benar-benar dibuat merasa bersalah mendengar pernyataan Ara padanya. Andai ia tahu kalau dirinya memang telah benar-benar membuatnya kehilangan masa depannya? Zayn mengumpat marah pada dirinya yang benar-benar telah menjadi pengecut besar.
Lagi-lagi Zayn merengkuh tubuh Ara dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Ara," ucapnya begitu lirih.
"Aku juga minta maaf, Kak."
Ara terbawa dalam pelukan Zayn, yang dirasa sangat aneh mulai dari semenjak dirinya terbangun tadi.
"Ehm, aku masuk dulu ya." Ucapnya sambil melepas pelukan yang telah membuatnya sedikit sesak akibat Zayn terlalu lama memeluk erat tubuhnya.
"Kamu baik-baik ya?"
"Iya." Ara mengangguk tersenyum.
"Jaga kesehatan, kalo nanti kamu merasa gak enak badan, pusing atau apapun itu bilang sama aku. Jangan bohong."
"Uluh....uluh.... so sweet nya sayangku." Tangan Ara mulai membingkai wajah tampan Zayn.
"Aku serius, Ra."
"Aku takut nanti kamu akan mengandung anakku," batin Zayn berbicara.
"Kamu nanti pulang naik apa?" Ara baru teringat kalau Zayn mengantarnya menggunakan mobilnya.
"Aku naik taksi."
Cup.
Satu kecupan mendarat di pipi kiri Zayn.
Zayn menatap nakal kepada Ara yang tengah tersipu malu.
"Kamu jangan menggodaku ya?"ucapnya sambil tangan itu mulai menggelitik nakal di area pinggang Ara, yang membuat gadis itu terpingkal-pingkal menahan geli.
.
.
'Saat ini aku melihatmu tertawa bahagia, esok aku tetap ingin melihatmu tertawa bahagia, meski dalam keadaan yang sudah berbeda. Maafkan aku Aurora....'
__ADS_1
*