
"Kamu cemburu?"
Zayn malah cengengesan didepan Ara, membuat istrinya itu semakin sebal dan ingin menimpuknya saja dengan ponsel yang digenggamnya.
"Kamu cemburu sama Bella?" Pria itu bertanya lagi, kali ini kedua telapak tangannya menangkup pipi Ara.
"Tinggal jelasin aja ribet amat!" Ara menyahut kesal.
"Nggak mau jelasin. Sebelum kamu jujur sama perasaan kamu sendiri." Pria itu masih tak merubah posisinya, menangkup gemas pipi istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan kala sedang cemburu.
"Iya, aku cemburu. Puas!!" Akunya terpaksa.
Zayn tersenyum tipis. Ia tahu kalau istrinya itu terpaksa berkata begitu agar dirinya segera menjelaskan bagaimana yang sebenarnya. Tentu istrinya itu sudah terlanjur mencurigainya kemana-mana, dilihat dari foto itu yang menunjukkan dirinya masuk bersama ke dalam ruangan ini.
"Aku sama Bella tidak ada hubungan apa apa. Kalau kamu tetap nggak percaya, kamu boleh langsung tanya ke Wisnu."
Yah, Zayn sengaja mengalihkan semuanya kepada Wisnu. Sebab karena dia lah yang merencanakan kedatangan Bella menemuinya saat itu.
"Wisnu?" Kening Ara berkerut. Ia masih tidak terlalu paham dengan yang dimaksud Zayn.
"Iya. Aku coba hubungi dia ya..?" Beralih tangan Zayn sibuk berselancar dilayar ponselnya mencari nomor telpon Wisnu.
"Itu pasti akal-akalan kamu kan?" Ara merebut ponsel Zayn.
"Kenapa harus bertanya sama Wisnu? Kenapa kamu nggak mau menjelaskan sendiri?" Ara masih saja mencercanya.
"Karena aku dijebak sama dia. Bella datang kesini itu karena disuruh sama dia."
"Dijebak?"
"Huuuft...." Zayn mendesah berat. Bayangan tentang apa yang pernah dilakukannya dengan Bella, seketika terngiang kembali dan itu membuatnya sangat jijik dan kalau perlu tidak mau bertemu lagi dengan Bella dikemudian hari.
"Ada apa? Kamu terjebak bagaimana? Jangan jangan....?" Ara semakin menatap curiga kepada Zayn.
"Jangan jangan kamu sudah berbuat hal yang tidak senonoh sama Bella. Makanya kamu nggak ngebolehin aku mencari bukti itu di sini." Wanita itu menunjuk ke arah laptop yang masih teronggok di atas meja, sedang dari matanya sudah mengembun, pertanda emosinya sedang meletup-letup.
"Sayang, bukan itu maksud aku?" Zayn kebingungan, tetapi ia harus bisa menenangkan perasaan istrinya itu.
"Trus apa? Kamu sendiri nggak mau menunjukkan itu, bagaimana aku bisa percaya sama kamu!" Setitik buliran bening lolos menetes dari sudut mata Ara, akan tetapi wanita itu langsung mengusapnya kasar.
Zayn menggaruk kasar rambutnya yang tak gatal. Ia frustasi. Ia sudah menjelaskannya, akan tetapi untuk menunjukkan rekaman itu tentu akan menjadi boomerang bagi dirinya nanti.
Drrrt..... Drrrrrt.....
"Tunggu dulu," ujarnya ketika mendapati ponselnya bergetar pertanda ada sebuah panggilan masuk.
__ADS_1
"Hallo, Pi?"
Beruntungnya Haris menelponnya saat ini. Dan otomatis membuat Zayn mempunyai kesempatan untuk menanyakan tentang kebenaran itu kepadanya.
"Ara menemuimu?" Haris bertanya.
"Iya, Pi. Dia mau bermalam di sini." Zayn berkata sekenanya. Tidak mempedulikan tatapan Ara yang semakin sebal karenanya.
"Oh, ya sudah. Kalian jangan pedulikan Ziyyan, dia baik-baik saja di sini." Haris tentu sangat mendukung keputusan mereka.
Zayn tersenyum lega mendengarnya. Seketika muncul idenya yang sedikit nakal, andai nanti istrinya itu terus mendesak ingin melihat rekaman itu.
Ara menarik-narik kain celana yang dipakai Zayn, menyuruhnya untuk segera menyudahi obrolannya. Karena masalah tentang Bella masih belum dijelaskan, membuat dirinya sudah tak sabar ingin mendengarnya secara langsung.
"Oh ya, Pi. Ini Ara curiga terus sama aku. Dia cemburu sama Bella. Itu.... Cewek yang pernah disewa Wisnu buat menjebakku." Zayn berkata begitu gamblang. Tak lagi peduli dengan siapa ia mengobrol saat ini. Karena ia pun sudah tahu jika Wisnu begitu karena atas perintahnya.
"Dasar. Menantu nggak tahu malu! Sukanya ngadu sama papi!" Ara meracau samar, akan tetapi masih bisa didengar oleh Zayn.
"Oooh.... Itu?" Seketika Haris tertawa lepas dari sana. Ara tentu mendengarnya, karena Zayn juga mengeraskan volumenya.
"Bisa papi jelaskan sama Ara. Biar nggak cemberut terus dia. Sekarang aja aku nggak dilepas sama dia, sebelum menjelaskannya..," mohon Zayn, sambil melirik nakal ke tangan Ara yang masih menarik-narik kain celananya.
"Ara. Zayn sudah jujur sama kamu. Memang papi yang salah. Papi sengaja menjebaknya semata untuk mengujinya, apakah Zayn masih setia sama kamu apa tidak?" Perlahan Haris mulai menjelaskan.
"Sekarang maafkanlah suamimu itu. Tak lama lagi resepsi kalian sudah mau digelar. Masa kamu masih mau seperti ini? Semua orang memiliki masa lalu, baik itu buruk atau tidak. Kamu dan Zayn pun juga memiliki masa lalu dengan orang lain. Papi rasa kamu bisa dewasa memaklumi ini, Nak."
"Sayang, maafin aku. Maaf kalau sampai buat kamu begini. Tapi aku berani sumpah, aku beneran nggak ada hubungan apa apa sama Bella." Zayn mengangkat kedua jarinya menyimbolkan huruf V.
Ara mendesah pasrah. Ia ingin mempercayainya, akan tetapi dilarang untuk melihat rekamannya itu membuatnya makin penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Hei, kok cuma diem? Jadi beneran aku masih belum dimaafkan?"
Ara hanya meresponnya dengan lirikannya yang tajam.
"Oke. Aku harus apa biar kamu maafin aku?" Pria itu mencoba menghangatkan suasana.
"Aku mau lihat rekamannya. Setelah itu mungkin aku bisa memaafkan kamu."
Deg.
Gimana ini?
Aah, iya!
"Oke. Tapi aku juga punya syarat."
__ADS_1
"Syarat?"
"Setelah aku kasi tahu rekamannya, aku mau meminta hak ku." Zayn menaik-naikkan sebelah alisnya, sambil tersenyum licik kepada Ara.
"Iiih.... Mesum!" Ara melengos, akan tetapi gerakannya begitu cepat meraih laptop itu lagi, menyalakannya kembali, dan mencaritahu lagi.
"Pliss jangan dilihat. Nanti kamu nggak bakal kuat. Aku saja sudah nggak kuat nahannya." Zayn memandang aneh kepada Ara.
"Aah... Apa kamu sudah?" Ara terkesiap, memahami maksud dari perkataan Zayn.
Cup.
Sebuah kecupan hangat seketika mendarat di bibir ranum Ara. Zayn mellumatnya rakus. Menelusuk setiap inci rongga mulutnya dengan lidahnya yang bergerilya nakal. Merubuhkan tubuh Ara di sofa itu, hingga membuat kegiatannya itu semakin brutal.
Mmmpph.....
Ara berusaha melepas diri dari sesapannya. Akan tetapi suaminya itu terlampau rakus dan begitu menikmati alur permainannya.
Mmmmph....
Wanita itu memukul-mukul dada bidang Zayn dengan kepalan tangannya, membuat pria itu melepas pagutannya untuk menghirup nafas sejenak.
"Kamu?"
Zayn tak menyahut, ia hanya menatap lekat netra Ara, begitu dekat dengan posisinya yang mengungkung tubuh Ara.
"Kamu pernah mencium Bella?" Ara bertanya ragu-ragu.
"Iya. Tapi aku tidak tergoda."
"Tidak tergoda tapi pernah menciumnya. Perkataan macam apa itu?" Sekali lagi Ara memukuli dada Zayn.
"Karena saat itu dia memberiku obat. Beruntungnya aku tetap tidak tergoda. Karena satu-satunya yang membuatku tergoda cuma kamu."
Kedua kalinya Zayn mellumat bibir itu lagi.
"Sayang." Pria itu sudah bersuara berat.
"Kamu sudah selesai kan?" Tanyanya ambigu.
Ara hanya mengerutkan kening, sama sekali tak paham dengan maksud pertanyaannya.
"Ini sudah selesai kan?"
"Aah....!!"
__ADS_1
Seketika Ara menutup mulutnya begitu menyadari maksud pertanyaan Zayn itu. Karena memang suaminya itu bertanya sambil menyentuh dan juga mengusap lembut sesuatu miliknya yang terselip dibawah sana.
Huuuft.... Bersambung dulu yah😆