Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 38


__ADS_3

"Hei, kenapa menangis?"


Ara duduk dari pembaringannya, ia meraih wajah Zayn membingkainya dengan usapan kedua tangannya.


Zayn pun terbenam dalam pelukan hangat Ara dengan isakan tangisnya yang tak dapat ia tahan lagi. Gadis itu tersenyum dalam diam, sebab setahunya dari beberapa temannya yang bercerita jika seorang lelaki sampai menangis karena cinta, maka sudah tidak di ragukan lagi kedalaman rasa cinta tersebut.


Nyatanya hal itu hanya alibi Ara saja. Tangis Zayn bukan karena sekedar cinta, namun lebih kepada rasa penyesalan dan dusta yang ia simpan dari Ara.


"Kak." Gadis itu mengangkat bahu Zayn yang bersandar dalam pelukannya.


Ia memandang lebih lekat tentang apa gerangan yang membuat kekasihnya itu menangis. Ara terdiam menunggu ucapan itu keluar dari mulut Zayn.


"Maaf, Sayang." Zayn terkesiap sambil mengusap bersih sisa air matanya.


"Kamu kenapa, ada yang mau di omongin ke aku?"


Zayn tak menyahut, pria itu malah ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Ara berbaring tadi, di ikuti pula oleh Ara yang juga memposisikan dirinya berbaring tepat di samping Zayn.


Sejenak mereka saling bertatapan yang cukup lama. Senyum Ara selalu menghias di wajah cantiknya itu, sebuah senyum yang tak lagi bisa di lihat langsung oleh Zayn nanti.


"Aku gak mau jauh dari kamu, seandainya--" Zayn tak lagi melanjutkan bicaranya karena Ara terburu menyela bicaranya.


"Seandainya kamu mau terima tawaran aku kerja di kantor papi, kita pasti gak bakal LDR."


Zayn menggelengkan kepalanya, ia tetap dengan pendiriannya yang tak mau terkesan memanfaatkan orang dalam untuk di terima bekerja di sebuah perusahaan. Seandainya disini ia bisa mendapatkan pekerjaan dengan jabatan yang sama dengan yang di Batam, sudah pasti pria itu memilih disini agar tidak terpisah jarak dengan Ara.


Bukan karena haus dengan jabatan dan gaji yang lumayan, sungguh Zayn hanya membutuhkan biaya yang banyak demi bisa membantu pengobatan ayahnya yang sedang sakit.


Bahkan pria itu sudah berjanji dalam hatinya, jika nanti ayahnya sudah di nyatakan sembuh dan tak lagi membutuhkan biaya, ia benar-benar akan berhenti dari sana untuk kembali bersama dengan kekasihnya, Aurora.


"Kak, rindu itu berat loh. Pokoknya nanti kamu harus VC aku sehari hmmm...... lima kali."


"Banyak banget!" Zayn mencubit manja hidung Ara.


"Hmm.... empat kali?"


"Pagi, siang, sore, trus malam menjelang tidur," lanjutnya dengan nada penuh semangat.


"Kamu mau bikin aku di pecat? Tiap waktu telponin kamu kapan aku kerjanya?"


Ara terlihat berpikir, pernyataan Zayn memang ada benarnya juga.


"Ya udah, tiga kali ya? Gak pake tawar lagi!"


"Kayak minum obat aja, sehari tiga kali." Zayn terkekeh, sedang paras ayu Ara langsung manyun begitu mendengar ucapan Zayn.

__ADS_1


"Aku kan udah bilang, rindu itu berat, pokoknya kamu harus hubungi aku sehari tiga kali, menahan rindu itu sakit loh," cerocosnya yang kemudian di buat terdiam karena Zayn mengecup bibir itu sekilas.


"Kak." Ara baru terkesiap setelah Zayn melepas pagutannya.


Zayn menatap Ara dengan tatapan devilnya, membuat gadis itu menyembunyikan wajahnya dalam selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Kak Zayn jangan mesum ya?" Ara bersuara masih di balik selimutnya ketika Zayn berusaha membuka selimut itu.


"Ya udah!" Zayn pura-pura ngambek.


Gadis itu mengintip sedikit kepada Zayn yang ternyata sudah berbalik memunggunginya.


"Aneh, habis nangis-nangis sekarang ngambek?" Ara hanya bergumam. Lantas ia mencoba mengintip Zayn dari belakang punggungnya.


"Sayang, Sayang, kamu ngambek?" Ara menggoyang punggung pria itu yang masih betah membelakanginya. Tak ada sahutan apapun darinya, terlihat Zayn yang masih memejamkan matanya begitu rapat.


"Kamu tadi belum cerita sama aku kenapa kamu nangis. Cerita dong...." Ara mulai mengelus-elus pipi Zayn dengan jemarinya.


"Kamu gak lapar, katanya tadi mau dibuatin nasi goreng." Zayn menyahut masih dengan posisi yang sama.


"Udah gak mau, aku sekarang ingin makan siomay pedeeees banget."


Zayn terhenyak, ia berbalik lagi menghadap kepada Ara. Terlihat gadis itu mengukir senyumnya begitu mendapati Zayn yang bersemangat setelah mendengar kemauannya yang di buat-buat.


"Aku juga ingin makan soto babat banyakin perasan jeruk nipisnya, minumnya boba vanilla sama es jeruk. Hmm...... nikmatnya...." Ara semakin membual karena melihat Zayn yang menatapnya begitu serius.


"Iya, hujan-hujan gini enak kan makan yang hangat dan pedas."


Zayn segera beranjak duduk. "Mau kemana?" Ara mencegahnya dengan pegangan tangannya.


"Mau beli yang kamu bilang tadi."


Sumpah, degup jantung Zayn terasa memacu lebih cepat setelah mendengar kata ngidam yang sebenarnya hanya bualan semata dari Ara. Antara sedih bercampur rasa bersalah jika benar Ara sudah mengandung anaknya saat ini.


"Gak usah, Kak, tadi aku cuma bercanda kok. Sumpah!"


"Tapi tadi kamu bilang ngidam?"


"Siapa yang ngidam?" Suara Tommy tiba-tiba memecah di antara mereka yang sangat membuat kaget dengan kedatangannya yang tak di sadari oleh mereka.


"Aku." Ara menyahut sekenanya.


Tommy menatap lekat kepada Ara dan Zayn dengan kerutan kening penuh tanda tanya.


"Tapi bo'ong!" Ara tertawa kecil mendapati Zayn dan Tommy yang terkena prank.

__ADS_1


Zayn menghela nafasnya, sedang Tommy hanya menggelengkan kepalanya kemudian mengambil kaos oblong dari dalam lemarinya dan secepatnya pria itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya juga.


Zayn memilih keluar dari kamar itu di ikuti Ara yang mengekor di belakangnya. Pria itu menuju ke dapur meracik bahan-bahan untuk membuat nasi goreng, sedang Ara hanya menonton kegiatan kekasihnya itu yang ternyata cukup lihai juga dalam hal memasak.


Tak menunggu lama nasi goreng udang buatan Zayn sudah tersaji. Pria itu membuat tiga porsi untuk dirinya,Ara dan juga Tommy.


"Waauw...." Tommy bergumam setelah menyadari penampilan Ara yang benar-benar seksi dengan paha putihnya yang terekspos nyata.


"Sini, cepat di makan." Ara menyapa Tommy yang hanya berdiri mematung dengan handuk yang masih melingkar di lehernya.


"Ehem.... Jaga mata!" Zayn membuyarkan ketepersonaan Tommy menatap tubuh seksi Aurora.


Tommy hanya bergeming, lalu pria itu turut bergabung dengan mereka sambil menyantap lahap nasi goreng udang buatan Zayn.


"Kalian dari mana saja kok bisa--"


"Kehujanan." Zayn langsung menyela maksud pertanyaan Tommy.


"Ooh...." Tommy kembali memasukkan suapan yang terakhir ke mulutnya. Meski di benaknya sudah banyak sekali kecurigaan antara hubungan Zayn dan Aurora yang di rasa pernah terjadi hal di luar kendali, ia pun semakin yakin setelah mendapati raut shocked Zayn ketika mendengar kata ngidam tadi. Jangan-jangan malam itu.....


Ah, Tommy tak mau menduga-duga lagi. Ia sendiri sudah di buat pusing dengan acara pertunangannya yang ia tak mau. Belum lagi masalah nasibnya dengan Sisil, jadi masa bodo lah dengan apa yang terjadi dengan Zayn dan Ara.


"Tom, gue pinjem mobil lo entar, mau ngantar Ara pulang."


"Gue ikut."


"Ngapain?" Zayn dan Ara sama-sama bertanya.


"Gue mau sekalian main ke rumah Sisil," jawabnya enteng.


Zayn dan Ara sekilas saling tatap, kebetulan memang Zayn akan mengantar Ara pulang ke rumah Sisil, seperti kebiasaannya sebelumnya.


"Boleh lah." Zayn menjawab setelah sekian detik memikirkannya.


Tommy segera berlari mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Tak lama mereka bertiga sudah dalam perjalanan menuju rumah Sisil.


"Tom, anter gue ke Mall dulu." Zayn berucap yang di balas tatapan jengah dari Tommy yang bertugas mengendarai mobilnya, seakan mereka lah majikannya dan Tommy sebagai sopirnya.


Zayn berencana untuk membelikan pakaian yang layak untuk Ara kenakan setelah tiba di rumah Sisil nanti. Pria itu tak sanggup berlama-lama harus menatap tubuh seksi Ara dengan penampilannya sekarang. Apalagi ketika mendapati Tommy yang sering ketahuan mencuri pandang juga menatap tubuh Ara.


"Fokus lihat depan." Zayn menjitak kepala belakang Tommy yang ketahuan mencuri-curi pandang lagi kepada Ara.


"Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?" Yang ada Tommy malah berdakwah.


*

__ADS_1


* Bersambung.


__ADS_2