Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 92


__ADS_3

"Ziyyan, mandinya udahan yuk, entar kedinginan loh."


Bocah itu sudah hampir setengah jam berendam dan bermain di dalam bathtub kamar mandi Ara. Dari wajahnya terlihat jelas bocah itu sangat senang dengan lingkungan baru yang ia rasakan sekarang.


Apalagi ketika tadi kakek Haris dan nenek Viona berebut untuk bisa memandikan bocah itu, rupanya sangat membuat perasaan Ziyyan merasa sangat di sayang oleh semua orang-orang yang berada di rumah besar itu.


Meski demikian tidaklah membuat dirinya langsung berubah manja. Ia tetap memilih bundanya yang biasa memandikannya.


"Sebentar lagi, Bunda," sahutnya sambil begitu asyiknya meniup-niup busa di tangannya.


"Hmm, ya udah. Kalo gitu Bunda tinggalin Ziyyan aja. Bunda mau main senang-senang di taman belakang."


Ara pura-pura merajuk, ia pun beranjak berdiri dari kamar mandinya itu.


"Iyyan mau ikutan main sama Bunda."


Yes! Berhasil!


Ara langsung membersihkan tubuh anaknya itu. Setelah selesai dengan kegiatannya itu ia pun menggendong tubuh Ziyyan untuk segera memakaikannya pakaian agar tubuh kecilnya itu bisa kembali hangat.


"Gak mau! Iyyan gak mau pake baju itu!"


Bocah itu terus saja menolak di pakaikan beberapa pakaian yang dipilih oleh Ara. Ia terus saja merengek ingin memakai baju yang kemarin dibelikan oleh Zayn.


"Pakai yang ini juga bagus loh." Ara masih berusaha merayu anaknya itu dengan memilihkan pakaian yang menurutnya cocok untuk digunakannya sekarang.


Ziyyan tetap menggeleng, tidak biasanya juga bocah itu menolak pakaian yang dipilih olehnya. Entah mengapa setelah bertemu dengan ayahnya itu ia berubah menjadi sedikit tidak menurut dengan ucapan Ara.


"Huh, baiklah." Akhirnya Ara menurut saja dengan kemauan anaknya itu.


Ara beranjak mengambil beberapa pakaian baru milik Ziyyan yang kemarin dibelikan oleh Zayn. Melihat pakaian yang dibelikan oleh Zayn saja sudah merasa kesal, apalagi nanti jika ia bertemu lagi dengan si pemberinya itu. Mengingat tadi pagi ia menyaksikan sendiri papinya itu sudah memberi sinyal dukungan kepada pria itu, sudah tentu cepat atau lambat pria itu akan kembali datang lagi menemuinya ke rumah ini.


Senyum bahagia Ziyyan terus mengembang tatkala Ara memakaikan pakaian yang dipilihnya itu, bahkan kali ini bocah itu terlihat semakin mirip dengan Zayn. Membuat Ara semakin sulit untuk move on dengan pria itu karena genetik wajahnya yang melekat kuat pada wajah anaknya itu.


"Iyyan ganteng kan, Bunda?" Tanyanya sambil berkaca di cermin rias yang berada di kamar Ara.


"Iya, anak Bunda ganteng." Lalu Ara mencium gemas pipi anaknya itu.


Bocah itu terkekeh, "Ibunya Nabil bilang kalo Iyyan ganteng kayak ayah.. hehe.."


Ara memutar jengah kedua bola matanya, kenapa harus sebut-sebut dia lagi sih?


"Udah yuk, kita sarapan dulu. Setelah itu kita main di taman belakang," ajak Ara kemudian, berusaha mengalihkan pembicaraan anaknya itu.


Kini seluruh penghuni rumah itu telah berkumpul di ruang keluarga untuk segera sarapan pagi bersama. Melihat kemunculan Ziyyan kembali, Haris dan Viona langsung berebut ingin cucunya itu duduk di pangkuannya. Kakek dan nenek baru itu sudah tak lagi mempedulikan tatapan geli dari Inah dan Narsih yang menyaksikan tingkah mereka yang bergurau saling kejar mengejar Ziyyan.


Suasana rumah itu seketika sangat ramai oleh gelak tawa dari Ziyyan dan juga Haris dan Viona. Rasanya kebahagiaan yang telah lama di rindukan oleh keluarga Haris dan Viona itu telah terbayar dengan hadirnya cucu tampannya itu.


Hingga akhirnya kegiatan itu harus berhenti setelah melihat kedatangan seorang pemuda yang bertamu ke rumah itu.


"Masuklah!" Viona melengkungkan senyumnya menyambut hangat kedatangan pemuda itu.


Haris memicingkan matanya begitu mengetahui istrinya itu mengundang pria asing itu pagi-pagi datang ke rumahnya. Mungkinkah pemuda ini yang dipilih Viona untuk menjadi calon suaminya Ara?


Pemuda itu mengangguk tersenyum kepada Viona, ia lantas mengikuti ajakan Viona melangkah berkumpul ke ruang keluarganya.


"Ara, ada Keanu, Sayang," ucap Viona begitu mereka sudah berada di ruang keluarga itu.


DEG.

__ADS_1


Ara dan Keanu saling melempar tatapan kaget. Apalagi wanita itu, ia sama sekali tak menduga akan kembali bertemu dengan Keanu secepat ini di rumahnya.


Keanu melempar senyum bahagianya kepada wanita yang telah lama di rindukannya, dan Ara juga membalas senyuman itu dengan perasaan sedikit kikuk.


"Hai, apa kabar, Ra?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya kepadanya.


"Aku-- Baik, Ken," sahutnya dan membalas canggung uluran tangan dari Keanu.


"Sudah.. sudah... Selagi ngumpul ayok kita sarapan bareng." Viona langsung berinisiatif mengajak Keanu sarapan bersama juga.


Semalam Viona memang menghubungi Keanu untuk segera datang ke rumahnya. Ia berbuat begitu agar tak kalah cepat oleh kedatangan pria pilihan Haris.


Sedangkan Haris terus saja membisu dengan tatapan sinisnya kepada Keanu. Tentu saja ia sudah bisa menebak kalau pria ini adalah calon yang dipilih Viona, makanya ia tidak terlalu suka dengan kedatangan pria itu.


Tak lama setelah keluarga itu selesai dengan kegiatan sarapan paginya mereka kembali pada kesibukan masing-masing.


Haris langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, sedangkan Viona beralasan akan keluar untuk berkumpul dengan teman-teman arisannya. Padahal itu hanya siasatnya saja agar Ara dan Keanu bisa bebas bernostalgia lagi.


Mereka berdua memilih bercengkrama di taman belakang rumah besar itu, tak luput juga ada Ziyyan yang bermain begitu senangnya di sana.


Ara tetap fokus memandangi Ziyyan yang bermain seorang diri dengan begitu senangnya. Ia bukannya tak tahu kalau pria yang duduk di sampingnya itu sedari tadi memandanginya terus-terusan, makanya ia memilih memandangi Ziyyan saja karena merasa canggung mendapati pandangan dari Keanu itu.


Meski sebenarnya ia juga ingin menanyai dari mana ia tahu kalau dirinya sudah kembali pulang, cuma rasa penasarannya itu ia tahan. Teringat maminya tadi menyambut senang kedatangannya, tentu jawabannya itu ada di maminya.


"Anakmu tampan, Ra," ujar Keanu sambil ikut memandangi Ziyyan yang terkesan cuek dengan kehadirannya.


Ara terkesiap mendengar perkataan Keanu. Bukan karena pujiannya terhadap Ziyyan, melainkan karena gaya bicaranya yang berubah lebih intim kepadanya. Dulu mereka berbicara dengan gaya bahasa anak gaul, lo dan gue, meski mereka pernah berpacaran. Sekarang kenapa tiba-tiba pria ini merubah gaya bicaranya?


"Siapa namanya?" Keanu kembali bertanya.


"Ziyyan," Ara menyahut singkat.


Entah mengapa setelah mendengar nama anaknya Ara itu tiba-tiba muncul perasaan sedikit menyayat di hatinya. Ia yang memang masih memiliki perasaan sayang terhadap Ara, tentu sudah cemburu duluan dengan asumsinya sendiri.


"Nama yang bagus." Keanu berusaha baik-baik saja dengan memuji nama bocah tampan itu. Dan Ara hanya merespon ucapannya dengan senyum getirnya.


.


.


"Kau antar dia langsung masuk ke taman belakang. Kalau dia menanyaiku, bilang saja aku sedang istirahat."


Haris menjawab telpon dari security rumahnya itu. Ia yang sengaja memberi titah kepada securitynya agar melaporkan padanya bila Zayn datang ke rumahnya, tentu sangat senang ketika mendengar pria itu kembali datang ke rumahnya.


"Baik, Tuan." Security itu menutup panggilannya.


Tak lama setelah itu security itu mengantar Zayn pergi ke taman belakang rumah besar itu. Setelah sampai di sana ia segera meninggalkan pria itu berdiri mematung memandang kepada kedua orang insan yang terlibat perbincangan di taman itu.


"Kenapa Keanu ada disini?" Tanyanya merasa heran, cuma ia tak mau terlalu ambil pusing dengan adanya Keanu sekarang.


Memandangi keadaan Ara yang baik-baik saja, tak terasa matanya meneteskan air mata kebahagiaan karena bisa bertemu kembali dengan tambatan hatinya itu. Ia pun melangkah untuk segera menyapa gadisnya itu.


"Ayaaaaaah......"


Ziyyan yang lebih dulu mengetahui kedatangannya, ia berteriak kegirangan memanggil nama seseorang yang begitu ia rindukan. Bocah itu langsung berlari senang sambil merentangkan kedua tangannya menuju Zayn berada.


Ara dan Keanu sama-sama menoleh kepada arah bocah itu berlari. Dan begitu kagetnya mereka setelah melihat Zayn yang tiba-tiba saja sudah berada di sana.


"Zayn?!!"

__ADS_1


Bathin Ara tiba-tiba bergemuruh melihat kedatangan pria masa lalunya itu.


Zayn menyambut anaknya itu dengan memeluk tubuh mungilnya sambil membubuhi kecupan sayang di pipinya. Mereka terlihat sangat bahagia, apalagi dengan Ziyyan yang terlihat bergelayut manja di tubuh ayahnya itu.


Ara hanya terdiam di tempatnya. Perasaannya sedikit berkecamuk tak jelas setelah menyaksikan sendiri reaksi anaknya ketika bertemu dengan ayahnya itu. Ia tak tahu harus merespon seperti apa ketika pria itu menghampirinya nanti. Karena yang ia rasakan kali ini luka itu kembali terasa setelah melihat wajah pria yang pernah memberinya cinta terdalam hingga menyisakan luka terdalam juga padanya.


Sedangkan Keanu merasa sangat marah melihat kemunculan Zayn. Bukan karena merasa hubungannya akan terancam karena adanya pria itu, melainkan rasa kecewa yang berakar menjadi rasa dendam karena perbuatan tercelanya itu yang membuat Ara harus menderita seorang diri.


Keanu melangkah mendekat kepada Zayn berada. Kedua tatapan pria itu sama-sama memandang sinis. Mereka yang dulu pernah menjadi saingan memperebutkan Ara, rasanya tak mudah bagi mereka untuk bisa biasa-biasa saja.


Zayn yang melihat Keanu datang menghampirinya, ia memilih menurunkan Ziyyan dari dekapannya. Karena sepertinya Keanu datang kepadanya dengan amarah yang terpancar dari rautnya.


Mereka sama-sama melempar senyum devil sesaat setelah mereka saling berhadapan. Tak lama setelah itu....


BUG.


Kepalan tangan Keanu mendarat sempurna melayang di wajah Zayn.


"Ayaaaaaah......"


Ziyyan berteriak histeris menyaksikan ayahnya di pukul oleh orang yang tak dikenalnya itu. Ia ingin kembali mendekati ayahnya namun langsung di cegah oleh Ara.


Tubuh Zayn tersungkur ke tanah. Ia sudah tahu kalau Keanu akan melayangkan tinjunya itu, cuma ia tak mau melawannya. Bukan karena ia ingin di kasihani atau mendapatkan simpati dari Ara dan Ziyyan, ia hanya merasa pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang-orang yang begitu menyayangi Ara.


BUG.


Kedua kalinya Zayn menerima pukulan itu, cuma ia tetap tak mau melawan. Sedangkan Ziyyan, bocah itu sudah menangis histeris sambil berteriak memanggil ayahnya itu.


"Sudah! Hentikan!"


Suara Ara terdengar lantang menyuruh Keanu menghentikan aksi brutalnya itu. Ia hanya merasa perbuatan itu tak pantas di lakukan di depan anaknya, bukan karena tak tega melihat Zayn di perlakukan seperti itu.


Keanu tetap tak menggubris ucapan Ara, tangannya lagi-lagi mengepal erat siap melayangkan tinju ketiganya di wajah Zayn. Akan tetapi....


"STOP!!! HENTIKAN!"


Suara lantang Haris membuat Keanu benar-benar menghentikan aksinya.


"Kau pergi dari sini!" Tatapan mata Haris terlihat sangat nanar memandangi pria itu. Ia sudah tak sudi lagi melihat Keanu yang tak bisa mengendalikan emosinya didepan bocah kecil seperti Ziyyan.


Mendapati pernyataan Haris yang mengusirnya pergi akhirnya Keanu terpaksa pergi dari sana. Ia sudah cukup puas memberi Zayn pelajaran darinya.


Terlihat Ziyyan berlari mendekati Zayn lagi. Bocah itu menangis sesenggukan melihat ayahnya di perlakukan seperti tadi.


"Ayah," Ziyyan mendekat kepada Zayn sambil menatap sendu melihat wajah Zayn yang mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.


Zayn hanya tersenyum simpul sambil mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Ziyyan.


"Sudah, jangan menangis. Ayah tidak kenapa-napa kok," ucapnya berusaha meyakinkan anaknya lagi.


"Ziyyan, sini sama kakek." Haris langsung mengangkat tubuh cucunya itu.


"Ara!" sapa Haris dengan nada suaranya yang dingin.


"Kau bantu obati dia." Titahnya lalu kemudian pergi sambil membawa Ziyyan dalam dekapannya.


"Hah?!"


*

__ADS_1


__ADS_2